CARIAN ILMU DI JOMFAHAM :

KONGSIKAN

Jumaat, 9 November 2018

SEJARAH AWAL SAMBUTAN MAULIDUL RASUL



Para pengingkar maulid Nabi yakni wahabi-salafi di bulan mulia ini yakni Rabiul Awwal, mereka seperti cacing kepanasan yang ditaburi garam. Mereka teriak susah karenanya banyaknya kaum muslimin yang melakukan perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Saya jadi teringat ucapan Ibn Mukhlid dalam tafsirnya berikut ini :

أن إبليس رن أربع رنات: رنة حين لعن، ورنة حين أهبط الى الأرض، ورنة حين ولد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ورنة حين أنزلت فاتحة الكتاب
“ Sesungguhnya Iblis berteriak sambil menangis pada empat kejadian : pertama ketika ia dilaknat oleh Allah, Kedua ketika ia diusir ke bumi, ketiga ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dan keempat ketika surat al-Fatehah diturunkan “.[1]
Dan wahabi-salafi, tanpa sadar mereka telah mengikuti sunnah Iblis dengan teriak susah ketika tiba hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ini.




Kali ini kami akan menulis bantahan ilmiyyah atas dusta wahabi-salafi yang menuduh bahwa Maulid pertama kali diadakan oleh Syi’ah Fathimiyyun. Kami juga akan membongkar kecurangan mereka dengan menggunting ucapan syaikh al-Maqrizi terhadap teks yang menampilkan keagungan perayaan Maulid Nabi yang diselerenggarakan para raja yang adil dan para ulama besar dari kalangan empat madzhab.

Tidak sedikit artikel wahabi yang mengcopy paste dusta tersebut termasuk syaikh al-Fauzan dalam fatwanya. Berikut salah satu artikel dusta wahabi di :

http://artikelassunnah.blogspot.com/2012/01/ternyata-maulid-nabi-berasal-dari-syiah.html
Jika kita menelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak kita temukan pada masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan empat Imam Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad), padahal mereka adalah orang-orang yang sangat cinta dan mengagungkan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling paham mengenai sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling semangat dalam mengikuti setiap ajaran beliau.

Perlu diketahui pula bahwa -menurut pakar sejarah yang terpercaya-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Sebagai buktinya adalah penjelasan berikut ini.

Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)

Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun). (Dinukil dari Al Maulid, hal. 20)

Jawaban kami :

Pernyataan di atas tidak benar sama sekali. Dan jauh dari fakta kebenarannya…

Pertama : Memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari segi mengagungkan hari di mana Nabi dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah yaitu berpuasa.

Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab :

ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت اوانزل علي فيه
“ Hari itu hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku “ (HR. Muslim)

Ini merupakan dalil nyata bolehnya memperingati hari kelahiran (maulid) beliau yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan salah satu macam ibadah yaitu berpuasa. Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah pertama kali yang mengangungkan hari kelahirannya sendiri dengan berpuasa. Maka mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari acara maulid Nabi.

Kedua : Merayakan, mengagungkan dan memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi dengan berbagai cara dan program sudah sejak lama diikuti oleh para ulama dan raja-raja yang shalih. Kita kupas sejarahnya di sini :

1. Ibnu Jubair seorang Rohalah [2] (lahir pada tahun 540 H) mengatakan dalam kitabnya yang berjudul Rihal :

يفتح هذا المكان المبارك أي منزل النبي صلى الله عليه وسلم ويدخله جميع الرجال للتبرّك به في كل يوم اثنين من شهر ربيع الأول ففي هذا اليوم وذاك الشهر ولد النبي صلى الله عليه وسلم
“ Tempat yang penuh berkah ini dibuka yakni rumah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, dan semua laki-laki memasukinya untuk mengambil berkah dengannya di setiap hari senin dari bulan Rabi’ul Awwal. Di hari dan bulan inilah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan “[3]

Dari sini sudah jelas bahwa saat itu perayaan maulid Nabi merupakan sudah menjadi tradisi kaum muslimin di Makkah sebelum kedatangan Ibnu Jubair di Makkah dan Madinah dengan acara yang berbeda yaitu membuka rumah Nabi untuk umum agar mendapat berkah dengannya. Ibnu Jubair masuk ke kota Makkah tanggal 16 Syawwal tahun 579 Hijriyyah. Menetap di sana selama delapan bulan dan meninggalkan kota Makkah hari Kamis tanggal 22 bulan Dzul Hijjah tahun 579 H, dengan menuju ke kota Madinah al-Munawwarah dan menetap selama 5 hari saja.

2. Syaikh Umar al-Mulla seorang syaikh yang shalih yang wafat pada tahun 570 H, dan shulthan Nuruddin Zanki seorang pentakluk pasukan salib. Kita simak penuturan syaikh Abu Syamah (guru imam Nawawi) tentang dua tokoh besar di atas :

قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره
“al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[4]

Ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tarikh pada bab Hawadits 566 H. al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan tentang syaikh Umar ash-Shalih ini : “

وقد كتب الشيخ الزاهد عمر الملاّ الموصلي كتاباً إلى ابن الصابوني هذا يطلب منه الدعاء
“Dan sungguh telah menulis syaikh yang zuhud yaitu Umar al-Mulla al-Mushili sebuah tulisan kepada Ibnu ash-Shabuni, “ Ini orang meminta ddoa darinya “.[5]

Adz-Dzahabi dalam kitab lainnya juga mengatakan :

وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضية بها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث
“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[6]

Al-Hafidz Ibnu Katsir menceritakan sosok raja Nuruddin Zanki sebagai berikut :

أنّه كان يقوم في أحكامه بالمَعدلَةِ الحسنة وإتّباع الشرع المطهّر وأنّه أظهر ببلاده السنّة وأمات البدعة وأنّه كان كثير المطالعة للكتب الدينية متّبعًا للآثار النبوية صحيح الاعتقاد قمع المناكير وأهلها ورفع العلم والشرع
“ Beliau adalah seorang raja yang menegakkan hokum-hukumnya dengan keadilan yang baik dan mengikuti syare’at yang suci. Beliau menampakkan sunnah dan mematikan bid’ah di negerinya. Beliau seorang yang banyak belajar kitab-kitab agama, pengikut sunnah-sunnah Nabi, akidahnya sahih, pemusnah kemungkaran dan pelakuknya, pengangkat ilmu dan syare’at “.[7]

Ibnu Atsir juga mengatakan :

طالعت سِيَرَ الملوك المتقدمين فلم أر فيها بعد الخلفاء الراشدين وعمر بن عبد العزيز أحسن من سيرته, قال: وكان يعظم الشريعة ويقف عند أحكامها
“ Aku telah mengkaji sejarah-sejarah kehidupan para raja terdahulu, maka aku tidak melihat setelah khalifah rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz yang lebih baik dari sejarah kehidupannya (Nurruddin Zanki). Beliau pengangung syare’at dan tegak di dalam hokum-hukumnya “.[8]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Jika seandainya Maulid Nabi itu bid’ah dholalah yang sesat dan pelakunya disebut mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan terancam masuk neraka, apakah anda akan mengatakan bahwa syaikh Umar al-Mulla dan raja yang adil Nuruddin Zanki adalah orang-orang pelaku bid’ah dan terancam masuk neraka ?? padahal para ulama sejarawan sepakat (ijma’) bahwa syaikh Umar adalah orang shalih dan zuhud, raja Nuruddin adalah raja yang adil, berakidah sahih, pecinta sunnah bahkan menampakkanya dan juga pemusnah bid’ah di negerinnya, sebagaimana telah saya buktikan faktanya di atas…

Bagaimana mungkin para ulama sejarawan di atas, mengatakan penzahir (penampak) sunnah Nabi dan pemusnah bid’ah jika ternyata pengamal Maulid Nabi yang kalian anggap bid’ah sesat ?? ini bukti bahwa Maulid Nabi bukanlah bid’ah. Renungkanlah hal ini wahai para pengingkar Maulid Nabi…

3. Kemudian berlanjut perayaan tersebut yang dilakukan oleh seorang raja shaleh yaitu raja al-Mudzaffar penguasa Irbil, seorang raja orang yang pertama kali merayakan peringatan maulid Nabi dengan program yang teratur dan tertib dan meriah. Beliau seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah wal jama’ah.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الاجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد له آثار حسنة…. وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار وقد طالت مدته في الملك في زمان الدولة الصلاحية وقد كان محاصر عكا وإلى هذه السنة محمود السيرة والسريرة قال السبط حكى بعض من حضر سماط المظفر في بعض الموالد كان يمد في ذلك السماط خمسة آلاف راس مشوى وعشرة آلاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين ألف صحن حلوى
“ Beliau adalah putra Zainuddin Ali bin Tabkitkabin salah seorang tokoh besar dan pemimpin yang agung. Beliau memiliki sejarah hidup yang baik. Beliau yang memakmurkan masjid al-Mudzhaffari….dan beliau konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar. Masa kerajaannya begitu panjang di zaman Daulah shalahiyyah. Beliau pernah mengepung negeri ‘Ukaa. Di tahun ini beliau baik kehidupannya lahir dan bathin. As-Sibth mengatakan, “ Seorang yang menghadiri kegiatan raja al-Mudzaffar pada beberapa acara maulidnya mengatakan, “ Beliau pada perayaan maulidnya itu menyediakan 5000 kepala kambing yang dipanggang, 10.000 ayam panggang, 100.000 mangkok besar (yang berisi buah-buahan), dam 30.000 piring berisi manisan “.[9]

Adz-Dzahabi juga mengatakan tentang sifat-sifat beliau :

وَكَانَ مُتَوَاضِعاً، خَيِّراً، سُنِّيّاً، يُحبّ الفُقَهَاء وَالمُحَدِّثِيْنَ، وَرُبَّمَا أَعْطَى الشُّعَرَاء، وَمَا نُقِلَ أَنَّهُ انْهَزَم فِي حرب
“ Beliau adalah orang yang rendah hati, sangat baik, seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah, pecinta para ahli fiqih dan hadits, terkadang suka memberi hadiah kepada para penyair, dan tidak dinukilkan bahwa beliau kalah dalam pertempuran “[10]

Pertanyaan buat para pengingkar Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :

Adakah para ulama sejarawan di atas menyebutkan raja Mudzaffar adalah seorang pelaku bid’ah dholalah karena melakukan perayaan Maulid Nabi ?? justru mereka menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja adil, rendah hati, pemberani dan berakidahkan Ahlus sunnah. Renungkanlah hal ini wahai wahabi…

Ketiga : Seandainya Fathimiiyun juga membuat perayaan Maulid Nabi sebagaimana para pendahulu kami, maka hal ini bukanlah suatu keburukan karena kami hanya menolak kebathilan para pelaku bid’ah dholalah, bukan menolak kebenaran mereka yang sesuai dengan Ahlus sunnah.

Keempat : Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan mengunting teks (nash) dari al-Maqrizi. Mereka tidak menampilkan redaksi atau teks berikutnya yang dinyatakan oleh al-Maqrizi dalam kitabnya tersebut. Lebih lanjutnya beliau menceritkan bahwasanya para khalifah muslimin, mengadakan perayaan maulid yang dihadiri oleh para qadhi dari kalangan empat madzhab dan para ulama yang masyhur, berikut redaksinya yang disembunyikan dan tidak berani ditampilkan wahabi :

فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج
“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[11]

Kisah yang sama ini juga diceritakan oleh seorang ulama pakar sejarah yaitu syaikh Jamaluddin Abul Mahasin bin Yusufi bin Taghribardi dalam kitab Tarikhnya “ an-Nujum az-Zahirah fii Muluk Mesir wal Qahirah “ pada juz 12 halaman 72.

Hal yang serupa juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar secara ringkas dalam kitabnya Anba al-Ghumar sebagai berikut :

وعمل المولد السلطاني المولد النبوي الشريف على العادة في اليوم الخامس عشر، فحضره البلقيني والتفهني وهما معزولان، وجلس القضاة المسفزون على اليمين وجلسنا على اليسار والمشايخ دونهم، واتفق أن السلطان كان صائما، فلما مد السماط جلس على العادة مع الناس إلى إن فرغوا، فلما دخل وقت المغرب صلوا ثم أحضرت سفرة لطيفة، فاكل هو ومن كان صائما من القضاة وغيرهم
“ Dan perayaan maulid shulthan yaitu Maulid Nabi yang Mulia seprti biasanya (tradisi) pada hari kelima belas, dihadiri oleh syaikh al-Balqini dan at-Tifhani, keduanya mantan qadhi. Para qadhi lainnya duduk di sebalah kanan beliau, dan kami serta para masyaikh duduk di sebelah kiri. Disepakati bahwa shulthan saat itu dalam keadaan puasa, maka ketika dibentangkanlah seprei makanan, beliau duduk seperti biasanya bersama prang-orang sampai selesai. Maka ketika masuk waktu maghrib, mereka sholat kemudian dihidangkanlah hidangan makanan yang lembut, maka beliau makan bersama orang-orang yang berpuasa dari para qadhi dan lainnya “[12]

Dengan ini jelas lah sudah bahwa wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan tidak menampilkan redaksi (teks) selanjutnya yang membicarakan perhatian para raja dan ulama besar terhadap perayaan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam saat itu. Ini merupakan tadlis, talbis dan penipuan besar di hadapan public…naudzu billah min dzaalik.

Kesimpulannya :

1. Perayaan Maulid Nabi, esensinya telah dicontohkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yaitu saat beliau mengangungkan dan memperingati hari kelahiran beliau dengan melakukan satu ibadah sunnah yaitu puasa. Maka pada hakekatnya perayaan Maulid Nabi adalah sunnah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Perayaan Maulid Nabi yang dilanjutkan dengan para raja yang adil dan para ulama yang terkenal adalah dalam rangka menghidupkan sunnah Nabi yaitu memperingati hari kelahiran Nabi, namun dengan metode dan cara yang berbeda yang berlandaskan syare’at seperti membaca al-Quran, bersholawat dan bersedekah. Metode ini sama sekali tidak bertentangan dengan syare’at Nabi.

3. Tuduhan wahabi bahwa yang melakukan Maulid pertama kali adalah dari Syi’ah Fathimiyyun adalah dusta belaka dan bertentangan dengan fakta kebenarannya.

4. Wahabi telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan menggunting dan tidak menampilkan teks al-Maqrizi yang menceritakan perhatian para raja adil dan ulama terkenal dari kalangan empat madzhab terhadap Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

Ustadzah Shofiyyah an-Nuuriyyah & Ust. Ibnu Abdillah Al-Katibiy
Kota Santri, 6 Rabiul Awwal 1435 H / 08-Januari-2014

[1] Ini disebutkan oleh syaikh Ibnu Muflih dari Ibn Mukhlid yang mengisahkan kisah ini dari Hasan al-Bashri. Bisa juga dilihat di kitab Syarh kitab Tauhid di : http://islamport.com/w/aqd/Web/1762/961.htm
[2] Seorang penjelaja tempat-tempat dan daerah-daerah jauh.
[3] Rihal, Ibnu Jubair : 114-115
[4] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.
[5] Tarikh al-Islam, adz-Dzahabi : 41 / 130
[6] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532
[7] Tarikh Ibnu Katsir : 12 / 278
[8] Tarikh Ibnu Atsir : 9 / 125
[9] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136
[10] Siyar A’lam an-Nubala : 22 / 336
[11] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167
[12] Anba al-Ghumar : 2 / 562


Sumber : http://www.aswj-rg.com
Baca juga di http://pondokhabib.wordpress.com/2014/01/14/sejarah-awal-mula-perayaan-maulid-nabi/

Sumber : http://www.muslimedianews.com/2014/01/inilah-sejarah-yang-benar-tentang-awal.html#ixzz5WJrbXyA3

Isnin, 5 November 2018

Kesepakatan Para Ulama Atas Sambutan Maulid Nabi

Kesepakatan Para Ulama Atas Kebolehan Perayaan Maulid Nabi

Maulidur Rasul
Para pengingkar Maulid Nabi hanyalah bagaikan setetes air dibandingkan luapan samudera. Karena praktek peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mendapat legalitas dari Syare’at dan rekomendasi dari jumhur ulama Ahlu sunnah baik mutaqaddimin atau pun mutakhkhirin, baik kalangan rajanya, penguasa adil, orang shalih maupun awamnya. Sejak dahulu hingga sekarang mereka sepakat atas kebolehannya Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejak dahulu hingga sekarang para pelaku Maulid Nabi tidak pernah bekurang malah semakin bertambah jumlahnya. Berikut nama-nama ulama besar Ahlus sunnah yang melegalkan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum wahabi yang membid’ah-bid’ahkan para pelaku maulid bahkan menyesat-nyesatkannya bahkan ada yang sampai memmusyik-musyrikkannya, maka sama saja mereka membid’ahkan, menyesatkan dan memusyrikkan para ulama berikut ini, naudzu billahi min dzaalik..
1. Syaikh Umar al-Mulla dari Maushul (W 570 H). Seorang syaikh yang sholih lagi zuhud, setiap tahunnya menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dihadiri para ulama, fuqaha, umara, dan shulthan Nuruddin Zanki, seorang raja yang adil dan berakidahkan Ahlus sunnah. Abu Syamah (guru imam Nawawi) berkata tentang dua tokoh besar di atas :
قال العماد: وكان بالموصل رجل صالح يعرف بعمر الملاَّ، سمى بذلك لأنه كان يملأ تنانير الجص بأجرة يتقوَّت بها، وكل ما عليه من قميص ورداء، وكسوة وكساء، قد ملكه سواه واستعاره، فلا يملك ثوبه ولا إزاره. وكن له شئ فوهبه لأحد مريديه، وهو يتجر لنفسه فيه، فإذا جاءه ضيف قراه ذلك المريد. وكان ذا معرفة بأحكام القرآن والأحاديث النبوية.كان العلماء والفقهاء، والملوك والأمراء، يزورونه في زاويته، ويتبركون بهمته، ويتيمنَّون ببركته. وله كل سنة دعوة يحتفل بها في أيام مولد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحضره فيها صاحب الموصل، ويحضر الشعراء وينشدون مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم في المحفل. وكان نور الدين من أخص محبيه يستشيرونه في حضوره، ويكاتبه في مصالح أموره
“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada seorang yang shalih yang dikenal dengan sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a) ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia miliki berupa gamis, selendang, pakaian, selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka beliau memberikannya kepada salah satu muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu untuknya, maka jika ada tamu yang datang, murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang yang memiliki pengetahuan tentang hokum-hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering menziarahi beliau di padepokannya, mengambil berkah dengan sifat kesemangatannya, mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau setiap tahunnya mengadakan peringatan hari kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa sallamyang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para penyair pun juga datang menyenandungkan pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin adalah salah seorang pecintanya yang merasa senang dan bahagia dengan menghadiri perayaan maulid tersebut dan selalu berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap urusannya “.[1]
Adz-Dzahabi mengatakan :
وكان ذلك تحت إمرة الملك العادل السُّنِّيِّ نور الدين محمود زنْكِي الذي أجمع المؤرخون على ديانته وحسن سيرته، وهو الذي أباد الفاطميين بمصر واستأصلهم وقهر الدولة الرافضيةبها وأظهر السنة وبني المدارس بحلب وحمص ودمشق وبعلبك وبنى المساجد والجوامع ودار الحديث
 Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud Zanki, yang para sejarawan telah ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama dan kehidupannya. Beliaulah yang telah memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir sampai ke akar-akarnya, menghancurkan kekuasaan Rafidhah. Menampakkan (menzahirkan) sunnah,membangun madrasah-madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’ dan pesantren hadits “[2]
2. Al-Imam Abul Khaththab Ibnu Dihyah (W 633 H). Beliau telah mengarang sebuah kitab Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau namakan “ at-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “ dan dihadiahkan kepada seorang raja adil, shalih, Ahlsus sunnah yakni al-Mudzaffar.
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :
وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلارحمه الله وأكرم مثواه وقد صنف الشيخ أبو الخطاب ابن دحية له مجلدا في المولد النبوي سماه التنوير في مولد البشير النذير فأجازه على ذلك بألف دينار
“ Dan raja konon mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan perayaan yang meriah, dan beliau adalah seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa, berakal, alim dan adil –semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha itu oleh raja sebesar seribu dinar.”[3]
3. al-Imam Abu Syamah (W 665 H), guru al-Imam al-Hafidz an-Nawawi. Beliau mengatakan :
ومن احسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق لمولده صلى  الله عليه وآله وسلم من الصدقات، والمعروف، وإظهار الزينة والسرور, فإن  ذلك مشعر بمحبته صلى الله عليه وآله وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكرا لله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذي أرسله رحمة للعالمين
“ Di antara bid’ah hasanah yang paling baik di zaman kita sekarang ini adalah apa yang dilakukan setiap tahunnya di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan bersedekah dan berbuat baik serta menampakkan perhiasan dan kebahagiaan. Karena hal itu merupakan menysiarkan kecintaan kepada Nabi shallahu ‘alahi wa sallam dan penganggungan di hati orang yang melakukannya. Sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas anugerah-Nya berupa mewujudkannya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam “[4]
4. al-Hafidz Ibnul Jauzi (W 597 H). Beliau mengatakan tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :
إنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام
“ Sesungguhnya mauled (hari kelahiran) Nabi adalah sebuah keamanan di tahun itu dan kaar gembira yang segera dengan tercapainya cita-cita dan taujuan “[5]
5. al-Imam al-Allamah Shadruddin Mauhub bin Umar al-Jazri (W 665 H). Beliau mengatakan tentang hokum peringatan Maulid Nabi :
هذه بدعة لا بأس بها، ولا تكره البدع إلا إذا راغمت السنة، وأما إذا لم تراغمها فلا تكره، ويثاب الإنسان بحسب قصده
“ Ini adalah bid’ah yang tidak mengapa, dan bid’ah tidaklah makruh kecuali jika dibenci sunnah, adapun jika sunnah tidak membencinya maka tidaklah makruh dan manusia akan diberi pahala (atas bid’ah mauled tersebut) tergantung tujuan dan niatnya “.
6. Syaikh Abul Abbas bin Ahmad  al-Maghribi (W 633 H). Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan tentangnya :
كان زاهدًا إمامًا مفنّنًا مُفْتِيًّا ألَّفَ كتاب المولد وجوّده
“ Beliau seorang yang zuhud, imam, menguasai semua fan ilmu, sorang mufti dan mengarang kitab maulid dan memperbagusnya [6]

7. Syaikh Abul Qasim bin Abul Abbas al-Maghribi. Az-Zarkali mengatakan tentangnya :
كان فقيها فاضلا, له نظم أكمل الدر المنظم , في مولد النبي المعظّم من تأليف أبيه أبى العباس بن أحمد
“ Beliau seorang ahli fiqih yang utama, memiliki nadzham (bait) yang bernama “ Akmal ad-Durr al-Munadzdzam fi Maulid an-Nabi al-Mu’adzdzam “ dari tulisan ayahnya Abul Abbas bin Ahmad “[7]
8. al-Hafidz Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (777-842 H). Beliau mengarang kitab Maulid dengan berjilid-jilid sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyfu adz-Dzunun : 319. Di antaranya :Jami’ al-Aatsar fi Maulid an-Nabi al-Mukhtar dan al-Lafdz ar-Raiq fi Maulid Khairul Khalaiq danMaurid ash-Shadi fi Maulid al-Hadi.
9. al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Abbad (W 805 H).
وسئل الولي العارف بالطريقة والحقيقة أبو عبد الله بن عباد رحمه الله ونفع به  عما يقع في مولد النبي صلى الله عليه وسلم من وقود الشمع وغير ذلك لأجل  الفرح والسرور بمولده عليه السلام.
فأجاب: الذي يظهر أنه عيد من أعياد المسلمين، وموسمٌ من مواسمهم، وكل  ما يقتضيه الفرح والسرور بذلك المولد المبارك، من إيقاد الشمع وإمتاع  البصر، وتنزه السمع والنظر، والتزين بما حسن من الثياب، وركوب فاره  الدواب؛ أمر مباح لا ينكر قياساً على غيره من أوقات الفرح، والحكم بأن هذه الأشياء لا تسلم من بدعة في هذا الوقت الذي ظهر فيه سر الوجود، وارتفع فيه علم العهود، وتقشع بسببه ظلام الكفر والجحود، يُنْكَر على قائله، لأنه مَقْتٌ وجحود.
“ seorang wali yang arif dengan thariqah dan haqiqah Abu Abdillah bin Abbad rahimahullah ditanya mengenai apa yang terjadi pada peringatan Maulid Nabi dari menyalakan lilin dan selainnya dengan maksud berbahagia dengan hari kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau menjawab :
“ Yang tampak adalah bahwa Maulid Nabi termasuk ‘id dari hari raya muslimin dan satu musim dai musim-musimnya. Dan semua yang mengahruskan kebahagiaan dengan malid Nabi yang berkah itu semisal menyalakan lilin, mempercanti pendengaran dan penglihatan, berhias dengan pakaian indah, dan kendaraan bagus adalah perkarah mubah yang tidak boleh diingkari karena mengkiyaskan dengan lainnya dari waktu-waktu kebahagiaan. Menghukumi bahwa semua perbuatan ini tidak selamat dari bid’ah di waktu ini, yang telah tampak rahasia wujud, terangkat ilmu ‘uhud, tercerai berai dengan sebabnya segala gelapnya kekufuran dan kedzaliman, maka itu diingkari bagi pengucapnya, karena itu adalah kebencian dan pengingkaran.[8]
10. Syaikh Islam Sirajuddin al-Balqini (724 – 805 H). AL-Maqrizi mengatakan :
فلما كانت أيام الظاهر برقوق عمل المولد النبويّ بهذا الحوض في أوّل ليلة جمعة من شهر ربيع الأول في كلّ عام فإذا كان وقت ذلك ضربت خيمة عظيمة بهذا الحوض وجلس السلطان وعن يمينه شيخ الإسلام سراج الدين عمر بن رسلان بن نصر البلقيني ويليه الشيخ المعتقد إبراهيم برهان الدين بن محمد بن بهادر بن أحمد بن رفاعة المغربيّ ويليه ولد شيخ الإسلام ومن دونه وعن يسار السلطان الشيخ أبو عبد الله محمد بن سلامة التوزريّ المغربيّ ويليه قضاة القضاة الأربعة وشيوخ العلم ويجلس الأمراء على بعد من السلطان فإذا فرغ القراء من قراءة القرآن الكريم قام المنشدون واحدًا بعد واحد وهم يزيدون على عشرين منشدًا فيدفع لكل واحد منهم صرّة فيها أربعمائة درهم فضة ومن كلّ أمير من أمراء الدولة شقة حرير فإذا انقضت صلاة المغرب مدّت أسمطة الأطعمة الفائقة فأكلت وحمل ما فيها ثم مدّت أسمطة الحلوى السكرية من الجواراشات والعقائد ونحوها فتُؤكل وتخطفها الفقهاء ثم يكون تكميل إنشاد المنشدين ووعظهم إلى نحو ثلث الليل فإذا فرغ المنشدون قام القضاة وانصرفوا وأقيم السماع بقية الليل واستمرّ ذلك مدّة أيامه ثم أيام ابنه الملك الناصر فرج
“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya. Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan para syaikh ilmu, juga para penguasa yang duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah selesai membaca al-Quran, maka beridrilah para nasyid satu persatu membawakan sebuah nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid, masing-masing diberikan sekantong uang yang di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra. Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah yang dimakan oleh semuanya dan dibawa pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan manisan yang juga dimakan semuanya dan para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan dengan nasyid pada munsyid dan nasehat mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi dan mereka kembali pulang. Dan diperdengarkan sebuah senandung pujian di sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-Nahsir Faraj “.[9]

11. al-Hafidz al-Iraqi (725-808 H), guru al-Hafidz Ibnu Hajar. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maurid al-Hani fi al-Maulid as-Sani “. Beliau mengtakan :
إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة
“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[10]
12. Syaikh Islam, al-Hafidz, ahli hadits dunia, imam para pensyarah hadits yaitu Ibnu Hajar al-Atsqalani. Beliau mengatakan :
أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كانت بدعة حسنة
“ Asal / dasar perbuatan Maulid adalah bid’ah yang tidak dinaqal dari ulama salaf yang salih dari tiga kurun, akan tetapi demikian itu mengandung banyak kebaikan dan juga keburukannya. Barangsiapa yang menjaga dalam melakukannya semua kebaikan dan mejauhi keburukannya maka menjadi bid’ah hasanah “[11]
13. al-Imam al-Allamah, syaikh al-Qurra wal muhadditsin, Qadhil Qudhah, Syamsuddin Muhamamd Abul Khoir bin Muhammad bin al-Jazri ( W 833 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang berjudul “ ‘Arfu at-Tarif bil Maulid asy-Syarif “.
قال ابن الجزري : فإذا كان هذا أبولهب الكافر الذي زل القرآن بذمه ، جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي ( ص ) به ، فما حال المسلم الموحّد من أمته عليه السلام ، الذي يسر بمولده ، ويبذل ما تصل اليه قدرته في محبته ؟ لعمري ، إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله العميم جنات النعيم
“ Ibnul Jazri mengatakan, “ Jika Abu Lahab yang kafir ini yang al-Quran telah mencacinya, diringankan di dalam neraka sebab kebahagiaannya dengan kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan keadaan Muslim yang mengesakan Allah dari umarnya ini ? yang berbagaia dengan kelahiran Nabi, mengerahkan dengan segenap kemampuannya di dalam mencintainya, sungguh balasan dari Allah adalah memasukannya ke dalam surge-Nya yang penuh kenikmatan “[12]
14. al-Imam al-Hafidz as-Sayuthi (849-911 H). Beliau pernah ditanya tentang hokum memperingati Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :
سئل عن عمل المولد النبوى في شهر ربيع الأول ،ما حكمه من حيث الشرع
هل هو محمود أو مذموم وهل يثاب فاعله أو لا؟
والجواب : عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدإ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك
من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف
“Suatu ketika beliau ditanya tentang peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan pada bula Rabiul awwal. Bagaimana hukumnya dalam perspektif syara’, dan apakah termasuk kebaikan atau keburukan, serta apakah orang yang memperingatinya akan mendapatkan pahala?
Jawabannya, menurutku (as-Suyuthi)  pada dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya manusia, membaca apa yang dirasa mudah dari al-Qur’an, riwayat hadis-hadis tentang permulaan perintah Nabi serta hal-hal yang terjadi dalam kelahiran Nabi, kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka pulang setelah menikmatinya tanpa ada tambahan-tambahan lain, hal tersebut  termasuk  bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena bertujuan untuk mengagungkan kedudukan Nabi dan menampakkan rasa suka cita atas kelahiran yang mulia Nabi Muhammad Saw”.[13]
15. Al-Imam al-Hafidz asy-Syakhawi (831-902 H). Beliau menulis sebuah kitab Maulid berjudulal-Fakhr al-Ulwi fi al-Maulid an-Nabawi. Beliau juga mengatakan :
عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعد، ثم لا زال أهل الإسلام في سائر الأقطار والمدن الكبار يحتفلون في شهر مولده صلى الله عليه وسلم بعمل الولائم البديعة، المشتملة على الأمور البهجة الرفيعة، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويظهرون السرور ويزيدون في المبرات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم، ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم
“ Praktek Maulid yang mulia tidak ada nukilannya dari seorang salaf pun di kurun-kurun utama. Sesungguhnya itu terjadinya setelahnya. Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[14]
16. Al-Allamah syaikh Muhamamd bin Umar al-Hadhrami ( W 930 H). Beliau mengatakan :
فحقيقٌ بيومٍ كانَ فيه وجودُ المصطفى صلى الله عليه وسلم أَنْ يُتَّخذَ عيدًا، وخَليقٌ بوقتٍ أَسفرتْ فيه غُرَّتُهُ أن يُعقَد طالِعًا سعيدًا، فاتَّقوا اللهَ عبادَ الله، واحذروا عواقبَ الذُّنوب، وتقرَّبوا إلى الله تعالى بتعظيمِ شأن هذا النَّبيِّ المحبوب، واعرِفوا حُرمتَهُ عندَ علاّم الغيوب، “ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“ Sungguh layak satu hari dimana Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan untuk dijadikan ‘id. Dan pantas munculnya waktu keberuntungan. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai hamba Allah, berhati-hatilah dari kesudahan dosa, bertaqarrublah kepada Allah dengan pengagungan kepada Nabi yang tercinta ini. Kenalilah kehormatannya di sisi Allah yang Maha Gaib “ Demikian itu barangsiapa yang mengagungkan kehormatan Allah maka itu termasuk tanda taqwa dalam hati “.[15]
17. al-Allamah al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami (W 975 H). beliau mengatakan :
والحاصل أن البدعة الحسنة متفق على ندبها وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك أي بدعة حسنة
“ Kesimpulannya bahwa bid’ah hasanah sepakat atas kanjurannya, dan amalan Maulid serta berkumpulnya manusia untuknya demikiannya juga dinilai bid’ah hasanah “[16]
18. al-Imam asy-Syihab Ahmad al-Qasthalani (). Beliau mengatakan :
ولازال أهل الاسلام يحتفلون بشهر مولده عليه السلام ، ويعملون الولائم ، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات ، ويظهرون السرر ويزيدون في المبرّات ويعتنون بقراءة مولده الكريم ، ويظهر عليهم من بركاته كلّ فضل عميم
“ Kemudian terus dilangsungkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, baik desa maupun kota di dalam merayakan maulid di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dengan resepsi yang megah yang terdiri dari perkara-perkara mewah. Mereka bersedekah di malam-malamnya dengan berbagai macam sedekah, menampakkan kebahagiaan dan meningkatkan kebaikan, memperhatikan dengan membaca kelahiran Nabi Mulia, dan nampaklah atas mereka keberkaharan Nabi yang menyeluruh “.[17]
19. al-Imam az-Zarqani. Beliau menukilkan ucapan al-Hafidz al-Iraqi :
إن اتخاذ الوليمة وإطعام الطعام مستحب في كل وقت فكيف إذا انضم إلى ذلك الفرح والسرور بظهور نور النبي صلى الله عليه وآله وسلم في هذا الشهر الشريف ولا يلزم من كونه بدعة كونه مكروها فكم من بدعة مستحبة بل قد تكون واجبة
“ Sesungguhnya membuat resepsi dan memberikan makanan itu dianjurkan di setiap waktu, lalu bagaimana jika terkumpul dengan kebahagiaan dan kesenangan dengan tampaknya cahaya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam di bulan mulia ini. Status kebid’ahannya tidak mengharuskannya menjadi makruh, berpa banyak yang bid’ah itu mustahab (dianjurkan) bahkan kadang menjadi wajib “.[18]
20. al-Imam al-Hafidz Wajihuddin bin Ali bin ad-Diba’ asy-Syaibani (866-944 H). Beliau memiliki kitab Maulid yang cukup tekenal yaitu Maulid ad-Diba’i
21. al-Hafidz Mulla Ali al-Qari (W 1014 H).Asy-Syaukani mengatakan tentangnya :
أحد مشاهير الأعلام ومشاهير أولي الحفظ والإفهام وقد صنف في مولد الرسول{ صلى الله عليه وآله وسلم }كتابا قال صاحب اكشف الظنون اسمه (المورد الروي في المولد النبوي
“ Salah satu ulama termasyhur, memiliki hafalan dan pemahaman kuat, beliau telah menulis sebuah karya tulis tentang Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang dikatakan oleh shahi Kasyf dz-dzunun dengan sebutan “ al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid –an-Nabawi “[19]
22. al-Imam Ibnu Abidin al-Hanafi. Seorang ulama yang ucapannya dipegang dalam Madzhab Hanafi. Beliau mengtakan ketika menysarah kitab Maulid Ibnu Hajar :
اعلم أن من البدع المحمودة عمل المولد الشريف من الشهر الذي ولد فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم
“ Ketahuilah, sesungguhnya termasuk bid’ah terpuji adalah praktek Maulid Nabi yang mulia di bulan kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.
23. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Beliuu mengatakan :
والاستماع إلى صوت حسن في احتفالات المولد النبوي أو أية مناسبة دينية أخرى في تاريخنا لهو مما يدخل الطمأنينة إلى القلوب ويعطي السامع نوراً من النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى قلبه ويسقيه مزيداً من العين المحمدية
“ Mendengarkan suara indah di dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi atau ayat yang sesuai agama yang bersifat ukhrawi di dalam sejerah kami adalah termasuk menumbuhkan ketenangan dalam hati, dan akan memberikan cahaya dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam kepada pendengarnya ke hatinya dan mencurahkan tambahan dari sumber Muhammadiyyahnya “[20]

24. al-Imam al-Hafidz al-Munawi. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ Maulid al-Munawi “, silakan lihat kitab al-Barahin al-Jaliyyah halaman 36.
25. al-Imam Muhammad ‘Alyasy al-Maliki. Beliau memiliki kitab berjudul “ al-Qaul al-Munji fi Maulid al-Barzanji “.
26. Ibnul Hajj. Beliau mengatakan :
فكان يجب أن نزداد يوم الاثنين الثاني عشر في ربيع الأول من العبادات والخير شكرا للمولى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وأعظمها ميلاد المصطفى صلى الله عليه وآله وسلم
“ Maka suatu hal yang wajib bagi kita di hari senin 12 Rabul Awwal lebih meningkatkan berbagai macam ibadah dan kebaikan sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah menganugerahi nikmat-nikmat agung ini, dan yang paling agungnya adalah kelahiran Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam “.[21]
27. al-Imam al-Khathib asy-Syarbini. Beliau memiliki kitab Maulid berjudul “ al-Maulid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi “.
28. al-Imam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ Tuhfah al-Basyar fi Maulid Ibnu Hajar “
.
29. al-Hafidz asy-Syarif al-Kattani. Beliau memiliki kitab maulid berjudul “ al-Yumnu wa al-Is’ad bi Maulid Khairil Ibad “.
Dan masih banyak lagi ratusan ulama lainnya yang tidak kami sebutkan di sini misalnya, syaikh Musthofa bin Muhammad al-Afifi, syiakh Ibrahim bin Jama’ah al-Hamawi, Abu Bakar bin Muhammad al-Habasyi yang wafat tahun 930 Hijriyyah, syaikh al-Barzanji, syaikh Ibnu Udzari, syaikh al-Marakisyi, syaikh Abdushsomad bin at-Tihami, syaikh Abdul Qadir bin Muhammad, syaikh Muhammad al-Hajuji, syaikh Ahmad ash-Shanhaji, al-Imam Marzuqi, al-Imam an-Nahrawi, syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan dan lainnya.

[1] Ar-Roudhatain fii Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah, pada fashal (bab) : Hawadits (peristiwa) tahun 566 H.
[2] Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi : 20 / 532
[3] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir : 13/ 136
[4] Al-Baits ‘ala inkaril bida’ wal-Hawadits : 23
[5] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/271476762_10201216862329647_2027166840_n
[6]Tabshir al-Muntabih : 1/253
[7] Al-A’lam : 5 / 223
[8] Al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa ahli Afriqiyyah wal Maghrib : 11/278
[9] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar : 3 / 167
[10] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :
[11] Al-Hawi lil Fatawi : 229
[12] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/27
[13] Al-Hawi lil Fatawa, as-Suyuthi : 1/189
[14] Al-Maurid ar-Rawi fi al-Maulid an-Nabawi, Mulla Ali al-Qari : 12, bisa juga lihat di as-Sirah al-Halabiyyah : 1/83
[15] Hadaiq al-Anwar wa Mathali’ al-Asrar fi sirati an-Nabi al-Mukhtar : 53
[16] Al-Fatawa al-Hadtisiyyah : 202
[17] Al-Mawahib al-Ladunniyyah : 1/148
[18] Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah :
[19] Al-Badr ath-Thali’ :
[20] Madarij as-Salikin : 498
[21] Al-Madkhal : 1/361

Ahad, 12 Ogos 2018

Bolehkah Anak Zina Dibinkan Bapa Biologi ?



MEMELIHARA NASAB DARIPADA KEKOTORAN ZINA
TANGGAPAN TERHADAP FATWA MUFTI PERLIS

Nasab adalah nikmat yang dikurniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat manusia agar manusia dapat hidup mulia (al-Furqan: 54). Nasab adalah tunjang institusi keluarga dan sebahagian daripada identiti yang mendefinisikan seseorang manusia. Dengan terpeliharanya nasab maka kehormatan seseorang terpelihara. Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam sendiri berbangga dengan nasabnya yang luhur, Baginda bersabda: “Aku adalah yang terbaik daripada yang terbaik”, kerana Baginda lahir daripada keluarga terhormat yang merupakan sebahagian kabilah Quraish yang dihormati. Seseorang yang mempunyai nasab yang baik akan dipandang tinggi oleh masyarakat. Sebaliknya seseorang yang bernasab dengan nasab yang tidak baik atau dinafikan daripada bernasabkan kepada bapanya dan dibuang daripada keluarganya adalah suatu penghinaan yang besar dan dianggap telah hilang kehormatan dan kemuliaan diri. Tiada manusia yang rela kehilangan nasab, kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kebanggaan kepada nasab sebagai suatu fitrah dalam diri manusia.

Pemeliharaan nasab (hifz al-nasab atau al-nasl) adalah salah satu daripada Maqasid Shari’ah yang lima. Pemeliharan nasab dan keturunan adalah antara sebab dan alasan mengapa Islam mensyari’atkan perkahwinan dan mengharamkan zina. Dengan perkahwinan yang sah maka nasab atau keturunan seseorang terpelihara daripada tuduhan zina dan kehormatan setiap orang yang terlibat (Ibu, Bapa dan anak) terjaga. Islam sangat teliti dalam penentuan nasab. Telah turun ayat khas yang merubah kebiasaan orang Arab yang menasabkan anak angkat kepada Bapa angkatnya. Hal ini telah berlaku kepada Nabi sendiri yang telah mengambil Zaid bin Harithah sebagai anak angkat sehingga beliau pernah dikenali sebagai Zaid bin Muhammad. Setelah ayat ini turun (al-Ahzab: 4&5). Rasulullah merubahnya dan menetapkan agar umat Islam membuang kebiasaan di zaman jahiliyyah itu. Tujuannya adalah agar kebenaran mengenai nasab seseorang terpelihara, dan tiada kepalsuan dan kezaliman berlaku mengenai nasab seseorang. Telah disepakati oleh para ulama’ bahawa zina bukan sebab untuk menentukan nasab anak zina. Ini kerana Shari’ah Islam tidak mengiktiraf perzinaan tetapi hanya mengiktiraf perkahwinan yang sah. Nikmat nasab hanya diperolehi dengan ketaatan, bukan dengan maksiat. Perzinaan tidak boleh diiktiraf kerana ia bertentangan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan boleh menhancurkan institusi keluarga. Pada umumnya semua agama-agama besar dunia mengharamkan zina dan menganggapnya suatu dosa dan perbuatan terkutuk yang perlu dijauhi. Islam bukan hanya mengharamkan zina tetapi menetapkan hukuman yang berat terhadap pelaku zina, termasuk di antara hukuman ini adalah larangan menasabkan anak zina kepada lelaki yang menyebabkan kelahiran anak zina ini.

Baru-baru ini timbul kekeliruan mengenai hukum menasabkan anak hasil perbuatan zina (anak luar nikah) atau anak tidak sah taraf kepada lelaki yang menyebabkan kelahiran anak ini. Penulis merujuk kepada fatwa yang dikeluarkan oleh Mufti Negeri Perlis Dr Mohd Asri Zainal Abidin yang diwartakan pada tahun 2013, sedangkan fatwa di negeri-negeri lain seperti Negeri Sembilan (1991), Selangor (2005) dan Majlis Fatwa Kebangsaan (MKI 1998 dan 2003) telah menetapkan bahawa anak zina tidak boleh dinasabkan kepada lelaki penzina. Isu ini semakin hangat diperkatakan apabila mahkamah rayuan pada tahun 25 Julai 2017 membenarkan anak tidak sah taraf berbinkan kepada bapanya dan menegaskan bahawa tindakan JPN menolak permohonan untuk menukar nama daripada bin Abdullah kepada nama bapanya adalah tidak sah di sisi undang-undang. Penulis juga merujuk kepada satu temu bual Mufti Perlis Dr. Mohd Asri Zainal Abidin yang disiarkan Utusan Malaysia pada 11 Jun 2017 yang membicarakan fatwa negeri Perlis di atas dan menekankan kebaikan dan maslahat yang tercapai apabila seorang anak luar nikah dinasabkan kepada lelaki yang menyebabkan kelahirannya.

Fatwa Mufti Perlis bersandarkan kepada ijtihad yang dilakukan oleh segelintir ulama’ iaitu Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim dan pandangan ini diikuti oleh Yusuf al-Qaradawi dan Ibn Uthaymin. Ijtihad Ibn Taymiyyah ini bertentangan dengan pandangan majoriti ulama’ Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, empat mazhab dan bahkan mazhab Zahiriyyah.

Ijtihad Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim serta pengikutnya berkisar kepada 5 hujah berikut:

1. Ibn Taymiyyah berpendapat bahawa hadith yang selalu digunakan oleh jumhur ulama’ itu khusus kepada kes di mana ibu anak zina itu berkahwin, adapun dalam kes di mana ibu itu tidak berkahwin maka anak itu boleh dinasabkan kepada lelaki penzina. Hadith tersebut berbunyi: الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

Maksudnya: “Nasab anak kepada perkahwinan yang sah. Sedangkan bagi penzina adalah kekecewaan.”

Menurut Ibn Taymiyyah (Majmu’ Fatawa, 32: 113) hadith ini tidak begitu kuat untuk dijadikan hujah kerana yang menjadi persoalan adalah dalam kes di mana ibu tidak memiliki suami, maka “jika seorang wanita tidak bersuami maka hadith tersebut tidak berlaku” dengan demikian anak hasil zina boleh dinasabkan kepada ayah zinanya jika si ayah tidak mengahwini ibunya. Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim telah mentakwilkan hadith tersebut yang dianggap tidak berlaku kepada ibu yang tidak berkahwin.

Melihat kepada teks hadith tersebut jelas bahawa Ibn Taymiyyah hanya menumpukan kepada bahagian pertama hadith iaitu “anak dinasabkan kepada ayah yang mengahwini ibunya”, dan melupakan bahagian kedua iaitu “bagi penzina adalah kekecewaan” yang bermaksud lelaki yang berzina tidak layak untuk mendapat penghormatan sebagai bapa kepada anak hasil zinanya dan dinasabkan kepadanya.

Adapun melihat kepada konteks hadith tersebut, di mana telah berlaku pertikaian di antara Ibn Zam’ah (anak kepada suami yang mengahwini si ibu) dan Saad yang mewakili saudaranya Utbah (yang mengaku sebagai bapa kandung anak tersebut), hujah Saad cukup kuat kerana anak itu lebih mirip kepadanya berbanding Ibn Zam’ah, keputusan Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam untuk menasabkan si anak kepada suami yang mengahwini ibunya (Zam’ah) dan melarang untuk menasabkan kepada ayah zinanya (Utbah) adalah keputusan yang umum, tidak terhad kepada kes tertentu sahaja, bahkan berlaku kepada setiap anak yang lahir hasil perzinahan. Jelas di sini bahawa Rasulullah ingin menghukum penzina dengan larangan tersebut. Ibn Taymiyyah tidak memiliki alasan yang kuat untuk menghadkan larangan Rasulullah yang umum ini. Lihat Ahkam al-Qur’an oleh Abu Bakar al-Jassas (3:396).

Jika yang dihujahkan oleh Ibn Taymiyyah adalah hadith itu tidak berlaku kepada ibu yang tidak berkahwin maka pandangan bahawa anak zina boleh dibinkan kepada lelaki penzina tidak berasas kerana hujah di atas adalah khusus kepada ibu yang tidak berkahwin sedangkan ijtihad beliau adalah umum tidak mengira sama ada ibu tersebut berkahwin ataupun tidak.

Lebih menghairankan lagi apabila Ibn Uthaymin untuk memperkuat hujahnya mengatakan bahawa ayah penzina merupakan ayah biologi kepada anak zina dan ini telah menjadi hukum kawni (penciptaan) dan ketentuan Allah maka penasaban ini adalah sesuai dengan Sunnah kawniyyah (Fath zil Jalal 12:318). Beliau dan para pendokong pandangan ini lupa bahawa selain hukum kawni terdapat hukum shar’i. Banyak agama itu hukum kawni, tetapi mengikut agama yang benar itu hukum shar’i. Kerana itu tidak wajar seseorang beranggapan bahawa Allah SWT menciptakan (membiarkan wujudnya) banyak agama, kerana itu semua agama ini benar tidak wajib bagi manusia mengikuti agama yang benar di sisi Allah. Anggapan ini jelas tersasar dan keliru. Demikian juga berlakunya banyak perzinaan dan lahirnya ramai anak luar nikah adalah hukum kawni, tetapi itu tidak bermakna hukum Shari’ah tidak perlu ditegakkan kepada mereka. Kerana seorang Muslim itu tertakluk kepada suruhan dan perintah Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam surah al-A’raf: 54.

2. Hujah kedua adalah tindakan yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn al-Khattab yang dikatakan telah menasabkan anak-anak yang lahir di zaman jahiliyyah kepada bapa-bapa mereka. Hujah ini jelas sangat lemah kerana ia tidak berkaitan secara langsung dengan isu penasaban anak zina. Justeru apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar adalah sesuatu yang normal berdasarkan kepada kaedah bahawa keIslaman seseorang menghapuskan apa yang berlaku sebelumnya. Sehingga kini pun keadaan seseorang itu sebelum Islam tidak diambil kira setelah ia masuk Islam, seorang Muallaf tidak menanggung kesilapan-kesilapan yang dilakukan di zaman sebelum Islam. Sedangkan apa yang dibincangkan adalah setelah seseorang itu menganut agama Islam maka sewajarnya hukum Islam berlaku ke atasnya yang mana di dalam hal ini telah banyak nas (hadith-hadith Nabi) yang menjelaskannya.

3. Hujah ketiga yang digunakan oleh pendapat yang membenarkan adalah kisah Juraij, seorang ahli ibadah di zaman sebelum Islam, yang difitnah berzina dengan seorang perempuan yang membawa anak zinanya sebagai bukti. Setelah melakukan solat sunat dan memohon pertolongan daripada Allah, sebagai karamah dan pertolongan Allah anak bayi yang baru lahir itu menjawab soalan Juraij bahawa ayahnya adalah pengembala kambing (al-ra’i) dan bukannya Juraij. Kisah ini dijadikan hujah dengan anggapan bahawa shari’ah sebelum Islam boleh menjadi sebahagian shari’ah Islam selagi tidak ada nas yang menyanggahnya. Akan tetapi maksud pertanyaan Juraij adalah siapakah lelaki yang bertanggunjawabmenyebabkan kelahiran anak zina ini, jawapan kepada pertanyaan ini tidak sama sekali menyentuh tentang isu yang sedang dibicarakan iaitu kebenaran untuk menasabkan anak zina kepada lelaki penzina. Jelas bahawa hujah ini tidak kuat. Tambahan lagi hujah ini mungkin boleh dipertimbangkan jika tiada nas yang menegaskan larangan penasaban anak zina kepada lelaki penzina, akan tetapi nas yang melarang menasabkan anak zina kepada lelaki penzina cukup banyak dan jelas sebagaimana akan diterangkan kemudian.

4. Hujah keempat adalah hujah akal (qiyas). Mereka berpandangan bahawa jika anak itu boleh dinisbahkan kepada ibunya dan boleh mewarisinya, maka mengapa tidak hal yang sama berlaku kepada ayah kandungnya, sedangkan kedua-dua mereka telah melakukan dosa zina yang sama. Hujah ini tampaknya boleh diterima oleh akal rasional, akan tetapi di dalam Shari’ah akal manusia tidak boleh dijadikan sumber hukum khususnya jika hujah akliah itu bertentangan dengan nas wahyu. Imam al-Shatibi menegaskan bahawa akal bukan penentu Shari’ah, ia hanya digunakan untuk menyokong nas bukan untuk menyaingi atau menjadi sumber yang berdiri sendiri secara berasingan daripada nas (lihat al-Muwafaqat).

5. Mereka juga berhujah bahawa terdapat banyak maslahah (kebaikan) yang boleh tercapai dengan menasabkan anak zina kepada lelaki penzina. Dengan penasaban ini stigma dan rasa malu yang ditanggung oleh anak luar nikah akan hilang dan ia dapat hidup seperti manusia biasa dan ini sesuai dengan semangat Islam yang rahmatan li al-‘alamin. Dengan demikian ia akan mengurangkan anak-anak luar nikah ini daripada terjebak dengan jenayah dan gejala sosial. Hujah ini juga sangat rapuh dan tidak dapat dipertahankan dengan baik. Kita boleh bertanya: apakah maslahat yang boleh dicapai melalui penipuan dan kezaliman? Menyamakan anak luar nikah dengan anak hasil perkahwinan yang sah adalah suatu kezaliman dan penipuan. Adalah lebih baik jika pasangan seseorang itu tahu dan menerima hakikat bahawa pasangannya adalah seorang anak luar nikah daripada menyembunyikan fakta ini. Biarlah pemilihan jodoh dibuat berdasarkan kriteria akhlak dan agama seseorang bukan hanya berdasarkan nasabnya. Nasab sahaja tidak menjamin kebahagiaan rumah tangga. Dengan kefahaman yang baik tentang Islam ia akan faham bahawa seorang anak tidak mewarisi dosa dan perangai ibu bapanya, kerananya, tiada masalah mengahwini seorang anak luar nikah asalkan ia seorang yang baik agamanya dan berakhlak mulia. Adapun untuk mengelakkan anak luar nikah daripada terlibat dengan jenayah dan gejala sosial, ibu bapa perlu mengambil peranan serius dalam mendidik anak-anak dengan baik, sebaliknya dengan menyembunyikan fakta dan melakukan pemalsuan Ibubapa telah memberikan contoh yang tidak baik.

Apakah nas dan dalil yang menjadi sandaran majoriti ulama’?

Terdapat banyak hadith sahih yang menyokong pandangan jumhur ulama’, sebagaimana berikut:

1. Hadith yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (6818, 7182), Muslim (1457), Tirmizi (2120), Abu Daud (2273), al-Nasa’I (3486), Ahmad (2:235).

Daripada A’isyah radiya’Llah ‘anha berkata:

كَانَ عُتْبَةُ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعْدٍ: أَنَّ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ مِنِّي، فَاقْبِضْهُ إِلَيْكَ، فَلَمَّا كَانَ عَامَ الفَتْحِ أَخَذَهُ سَعْدٌ، فَقَالَ: ابْنُ أَخِي عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ ، فَقَامَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ، فَقَالَ: أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَتَسَاوَقَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْنُ أَخِي، قَدْ كَانَ عَهِدَ إِلَيَّ فِيهِ، فَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ: أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي، وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ، الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ» ثُمَّ قَالَ لِسَوْدَةَ بِنْتِ زَمْعَةَ: «احْتَجِبِي مِنْهُ» لِمَا رَأَى مِنْ شَبَهِهِ بِعُتْبَةَ، فَمَا رَآهَا حَتَّى لَقِيَ اللَّهَ

Maksudnya: Adalah ‘Utbah telah mewasiatkan dengan bersungguh-sungguh kepada saudaranya Sa’d bahawa anak yang dilahirkan oleh hamba perempuan Zam’ah adalah anaknya. Justeru, ambillah dan peliharalah. Tatkala tahun pembukaan kota Mekah, Sa’d mengambilnya seraya berkata, “Ini anak saudaraku yang diminta kepadaku untuk memeliharanya.”Kemudian ‘Abd bin Zam’ah bangkit dan berkata, “Dia adalah saudaraku dan anak isteri ayahku.” Kemudian kedua-duanya berlumba-lumba menuju kepada Nabi SAW. Maka kata Sa’d, ‘Ya Rasulullah, dia anak saudaraku yang diwasiatkan kepadaku untuk memeliharanya.’ Kemudian Abd bin Zam’ah mencelah, ‘Dia adalah saudaraku dan anak isteri ayahku yang dilahirkan pada masa perkahwinan.’ Maka jawab Nabi salla’Llah ‘alayhi wasallam:

هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ، الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

Maksudnya: “Dia bagi kamu wahai ‘Abd bin Zam’ah. Ini kerana nasab anak kepada perkahwinan yang sah. Sedangkan bagi penzina adalah kekecewaan.”

Kemudian sabda Baginda salla’Llah ‘alayhi wasallam kepada Saudah binti Zam’ah, ‘Hendaklah kamu berhijab daripadanya. Ini kerana Rasulullah SAW mendapati anak tersebut amat menyerupai ‘Utbah. Maka tidaklah anak tersebut melihat Saudah sehingga bertemu Allah atau mati.

Dalam menerangkan hadith ini Imam al-Nawawi berkata: yang dimaksudkan dengan al-‘ahir adalah penzina, bagi penzina al-hajar bermaksud tiada lain baginya melainkan al-khaybah, kerugian dan kekecewaan, tiada hak baginya terhadap anak zina itu (Sharh Sahih Muslim, 10:37). Ibn Hajar pula dalam Fath al-Bari menjelaskan bahawa menurut Imam al-Shafi’i terdapat dua keadaan, pertama anak itu dinasabkan kepada Bapa yang mengahwini ibunya, jika ia tidak menolaknya adapun jika ia menolaknya maka berlaku hukum li’an. Dalam keadaan kedua, apabila Bapa yang mengahwini ibunya bertelagah dengan bapa biologi yang menyebabkan kelahiran anak zina, maka anak itu dinasabkan kepada Bapa yang mengahwini ibunya sedangkan bagi bapa biologi anak zina dihukumkan pengharaman daripada menjadi bapa kepada anak biologinya. (Fath al-Bari, 12:36)

Yang dimaksudkan dengan al-firash pula adalah perkahwinan yang berlaku di antara lelaki dan perempuan, di mana lelaki mempunyai hak ke atas isterinya.

Oleh kerana hadith ini cukup jelas dan disepakati kesahihannya maka para ulama’ fiqh telah bersepakat bahawa anak zina tidak dinasabkan kepada lelaki penzina. Ibn al-Athir di dalam al-Shafi fi Sharh Musnad al-Shafi’i menegaskan bahawa ia adalah perkara yang telah diijma’kan oleh para ulama’ (5:49) demikian juga al-Mawardi di dalam al-Hawi al-Kabir berkata telah ijma’ ulama’ menafikan nasab anak zina walaupun lelaki penzina itu mengakui perbuatan zinanya (8:455, 9:219). Imam al-Ghazali dalam al-Wasit (4:31). Begitu juga di dalam kitab al-Majmu’ (16:222); Bidayat al-Mujtahid 4:142); al-Mabsut dalam mazhab Hanafi (17:154), Bada’i’ al-Sana’I’ (6:243), al-Mudawwanah dalam mazhab al-Maliki (2:556), Asna al-Matalib (3:20), al-Mughni (6:228 dan 345), al-Muhalla (10:142), bahkan fatwa al-lajnah al-da’imah Arab Saudi juga menfatwakan bersesuaian dengan pandangan jumhur ulama’ (20:387).

Di dalam al-Mughni, Ibn Qudamah ada menerangkan pandangan minoriti yang dipelopori oleh Ibn Taymiyyah namun beliau sendiri tidak mengambil pandangan tersebut. Ibn al-Qayyim menyebut bahawa pendapat ini adalah pendapat Ishaq bin Rahawayh bahawa “seorang anak zina jika dilahirkan tidak dalam perkahwinan (firash) kemudian diakui oleh lelaki penzina maka ia dinisbahkan kepadanya”. Beliau mengatakan ia adalah mazhab Hasan al-Basri dan Urwah bin Zubair dan Sulaiman bin Yasar (Zad al-Ma’ad, 5:381).

Jika diteliti daripada kenyataan Ibn Qayyim ini secara mudahnya adalah berkenaan isu anak yang lahir di mana ibunya tidak berkahwin dengan sesiapa, bukan anak yang lahir dalam sebuah perkahwinan. Dengan itu pandangan ini tidak boleh dijadikan sandaran untuk menasabkan anak luar nikah kepada lelaki penzina yang berkahwin dengan ibunya. Ia adalah dua kes yang berbeza yang mana menurut Jumhur ulama’ dalam kedua-duanya penasaban anak zina kepada lelaki penzina adalah tidak dibenarkan. Sebagaimana dijelaskan di atas, pandangan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim yang membenarkan penasaban anak zina kepada lelaki penzina adalah bertentangan dengan hadith yang menegaskan bahawa “nasab anak kepada perkahwinan yang sah. Sedangkan bagi penzina adalah kekecewaan”. Dengan penasaban anak zina kepada lelaki penzina jelas bahawa lelaki penzina tidak mengalami kerugian dan kekecewaan sebagaimana yang diingini oleh Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam.

Tambahan lagi Ibn Qayyim tidak menjelaskan dari mana pandangan ini diambil, hanya sekadar mendakwa ia adalah pandangan Ishaq Rahawayh, Hasan al-Basri tidak cukup untuk mensabitkan dakwaan tersebut. Dengan kata lain tiada bukti yang menunjukkan bahawa ia memang benar-benar pandangan dua ulama’ besar tersebut apalagi untuk menisbahkan kepada Sahabat Nabi yang mulia.

Pandangan Ibn Taymiyyah dalam beberapa hal adalah keliru dan salah. Pandangan beliau yang salah tidak boleh diikuti.

2. Hadith kedua diriwayatkan oleh Imam Ahmad (6660), Abu Daud (2265), Ibn Majah (2746) yang berbunyi:

أَيُّمَا مُسْتَلْحَقٍ اسْتُلْحِقَ بَعْدَ أَبِيهِ الَّذِي يُدْعَى لَهُ ادَّعَاهُ وَرَثَتُهُ ، قَضَى : إِنْ كَانَ مِنْ حُرَّةٍ تَزَوَّجَهَا أَوْ مِنْ أَمَةٍ يَمْلِكُهَا فَقَدْ لَحِقَ بِمَا اسْتَلْحَقَهُ . وَإِنْ كَانَ مِنْ حُرَّةٍ أَوْ أَمَةٍ عَاهَرَ بِهَا : لَمْ يَلْحَقْ بِمَا اسْتَلْحَقَهُ ، وَإِنْ كَانَ أَبُوهُ الَّذِي يُدْعَى لَهُ هُوَ ادَّعَاهُ ، وَهُوَ ابْنُ زِنْيَةٍ لِأَهْلِ أُمِّهِ مَنْ كَانُوا حُرَّةً أَوْ أَمَةً

Maksudnya: “Setiap anak yang dinisbahkan kepada ayahnya yang mendakwa bahawa ia adalah anaknya dan pewarisnya maka diputuskan: jika ia adalah hasil persetubuhan dengan seorang perempuan merdeka yang dikahwininya atau daripada hamba sahaya yang dimilikinya maka ia dinisbahkan kepadanya. Adapun jika ia daripada perempuan merdeka atau hamba sahaya yang berzina dengannya maka anak itu tidak dinisbahkan kepadanya walaupun ayahnya itu mendakwa ia anaknya, ia adalah anak zina kepada keluarga ibunya, sama ada ibunya itu perempuan merdeka atau hamba sahaya”.

Meskipun Ibn Qayyim mengatakan ia hadith yang da’if, tetapi beliau mengatakan bahawa jika hadith ini adalah sahih maka pendapat yang benar adalah yang dinyatakan oleh hadith ini, maka mengapa dua hadith sebelum ini yang sahih tidak diambil kira? Justeru kesemua hadith ini memperkuat satu sama lain dan menjelaskan perkara-perkara yang kurang jelas. Beliau juga mengakui telah diijma’kan bahawa nasab itu disabitkan kepada perkahwinan (firash) (Zad al-Ma’ad 5:368).

3. Hadith yang diriwayatkan oleh Abu Daud (2264), daripada Ibn Abbas bahawa Rasulullah bersabda:

لَا مُسَاعَاةَ فِي الْإِسْلَامِ ، مَنْ سَاعَى فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَدْ لَحِقَ بِعَصَبَتِهِ ، وَمَنْ ادَّعَى وَلَدًا مِنْ غَيْرِ رِشْدَةٍ : فَلَا يَرِثُ وَلَا يُورَثُ

Maksudnya: “Tiada perzinaan di dalam Islam (tidak diiktiraf). Barang siapa yang berzina di zaman jahiliyyah maka ia dinisbahkan kepada keluarganya, dan barang siapa yang mendakwa seorang anak zina adalah anaknya maka ia tidak menjadi waris dan tidak mewarisi”.

Terdapat hadith sahih yang serupa yang diriwayatkan oleh al-Tirmizi (2113), Shawkani (6:184), al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir (2960), Ibn Hajar, Takhrij Mishkat al-Masabih, (3:233) sebagai berikut:

أيما رجلٍ عاهَر بحرَّةٍ أو أمةٍ ، فالولدُ ولدُ زنًا ، لا يَرِثُ و لا يُورَثُ

Yang bermaksud: “Mana-mana lelaki yang berzina dengan seorang perempuan merdeka atau hamba sahaya, maka anak itu adalah anak zina, ia tidak menjadi waris dan tidak mewarisi”.

Meskipun kedua-dua penzina telah bertaubat akan tetapi tidak bermakna bahawa tiada kesan daripada perbuatan mereka di kemudian hari. Berdasarkan ketentuan Shari’ah para ulama’ menegaskan bahawa kesan daripada perbuatan zina itu amat besar kepada kehidupan anak zina, antaranya seperti berikut:

1. Anak zina hanya boleh dibinkan kepada Abdullah atau menggunakan Asma’ al-Husna yang lain.

2. Anak zina tidak mewarisi harta lelaki yang menyebabkan kelahirannya.

3. Jika anak zina itu perempuan maka ayah zina tidak boleh menjadi wali pernikahannya.

4. Jika ayah zina meninggal abang juga tidak boleh menjadi wali pernikahannya.

Pandangan para ulama’ dari kesemua empat mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam hal ini boleh dirujuk kepada al-Umm (6:36), al-Majmu’ (17:169), Rawdat al-Talibin (2:43), Nihayat al-Muhtaj (5:108), al-Mughni (9:114), al-Buhuti, Sharh Muntaha al-Iradat (4:547), al-Bahr al-Ra’iq (4:129), al-Bayan wa al-Tahsil (6:405), Radd al-Muhtar (4:371), Asna al-Matalib (9:359) dan lain-lain.

Pandangan yang membenarkan penasaban anak zina (anak luar nikah, anak tidak sah taraf) kepada bapa kandungnya, yang menyebabkan kelahiran anak zina ini, tidak mengambil kira hukum-hukum fiqh di atas yang telah disepakati oleh para ulama’ mazhab fiqh yang muktabar yang sudah tentu akan memberi kesan yang besar kepada tatanan sosial dan institusi keluarga.

Kesimpulan daripada perbincangan di atas adalah seperti berikut:

1. Pandangan Ibn Taymiyyah yang ditaqlid oleh para pengikutnya, iaitu Ibn Qayyim, Yusuf al-Qaradawi, Ibn Uthaymin (ulama’ Arab Saudi), tidak disokong oleh nas al-Qur’an dan al-Sunnah sama sekali. Malah pandangan mereka telah membelakangkan hadith-hadith sahih yang disepakati oleh para muhaddithin besar iaitu Imam al-Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hanbal, al-Nasa’i, Tirmizi, Abu Daud dan lain-lain. Ijtihad mereka ini tidak sah kerana bertentangan dengan hadith-hadith sahih. Kaedah fiqh ada menyebut tiada ijtihad apabila terdapat nas. Justeru pandangan jumhur ulama’ adalah pandangan yang benar kerana bersandarkan kepada nas atau dalil yang sahih lagi kuat.

2. Pada intinya pandangan minoriti hanya bersandarkan kepada akal rasional yang menolak perbezaan di antara ibu dengan ayah, jika ia boleh untuk si ibu mengapa tidak boleh untuk si ayah sedangkan kedua-duanya merupakan penzina. Pendekatan seperti ini berbahaya, khususnya jika hadith dan perintah Nabi SAW telah jelas tidak membenarkan penasaban anak zina kepada lelaki penzina. Pendekatan seperti ini malah berlawanan dengan dakwaan pengikut Ibn Taymiyyah (yang dikenali dengan Salafiyyah) bahawa mereka mengutamakan al-Qur’an dan hadith berbanding akal rasional.

3. Dakwaan bahawa terdapat maslahah (kebaikan) yang besar dalam ijtihad mereka ternyata tidak benar. Maslahah tidak dapat ditegakkan dengan kepalsuan dan penipuan. Justeru banyak mafsadah (kerosakan) yang akan muncul akibat daripada kebenaran untuk menasabkan anak zina kepada lelaki penzina. Ini kerana pensyari’atan sesuatu hukuman dalam Islam mengandungi maslahah yang besar kepada umat manusia, hukum hudud dan qisas contohnya dapat mengurangkan jenayah dan dengan demikian masyarakat akan hidup aman harmoni. Hukuman yang ringan pula tidak akan dapat menghalang penjenayah daripada terus melakukan jenayah. Larangan menasabkan anak zina kepada lelaki penzina oleh Rasulullah salla’Llah ‘alayhi wasallam adalah satu hukuman kepada penzina agar ia sedar kesilapan yang dilakukan dan meskipun mungkin telah bertaubat terdapat kesan yang berterusan yang perlu menjadi pengajaran kepada dirinya dan orang lain. Dengan ketiadaan hukuman ini, ditambah lagi dengan ketiadaan pelaksanaan Shari’ah yang menyeluruh, maka sudah tentu perzinaan akan semakin berleluasa.

4. Mufti tidak sepatutnya membelakangi pandangan jumhur ulama’ yang kuat. Ia tidak boleh sewenang-wenangnya mengambil suatu pandangan berdasarkan sentiment peribadi, apalagi taassub kepada tokoh ulama’ tertentu yang mana pandangannya ternyata tidak kuat bahkan bertentangan dengan nas Shara’. Ibn Taymiyyah bukan seorang yang maksum, pandangan beliau tidak semua benar, khususnya apabila pandangan beliau itu bertentangan dengan pandangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah yang lain maka kemungkinan pandangan beliau silap amat besar, contohnya dalam isu ziarah kubur Nabi salla’Llah ‘alayhi wasallam, kefana’an neraka, sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan beberapa isu lain.

5. Mufti perlu mengambil peranan sebagai faktor pemersatu umat Islam dan bukan faktor pemecah belah. Ia tidak sepatutnya mengeluarkan pandangan-pandangan yang mengelirukan orang awam yang bertentangan dengan fatwa-fatwa yang telah diterima pakai dan disepakati di negara ini zaman berzaman, bahkan di negara umat Islam umumnya.

Wallahu a’lam bi al-sawab.

Profesor Madya Dr. Khalif Muammar A Harris.

Pengarah CASIS

UTM