CARIAN ILMU DI JOMFAHAM :

Memuatkan ...

Isnin, 13 Julai 2015

AMALAN ZIARAH KUBUR MENURUT ULAMAK AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH




KUBURIYYUN (penyembah kubur) - Gelaran berbentuk pengkafiran dan pensyirikan oleh Wahhabi terhadap Salafussoleh dan majoriti ulamak serta umat Islam.

Wahhabi menuduh umat Islam yang berziarah kubur, berdoa dengan cara bertawassul, membaca al Quran, mengusap kubur dengan gelaran kuburiyyun. Bahkan ada yang menyatakan ziarah kubur pada hari raya sama seperti Nasrani dan Yahudi. Na'uzubillahi min zalik !

Benarkah dakwaan Wahhabi ini ?

ZIARAH KUBUR - sunnah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam

1. Para ulama sepakat mengatakan bahawa sunat bagi lelaki menziarahi kubur orang-orang Islam berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Buraidah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya:

“Dahulu aku melarang kamu menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahlah.”

(Hadits riwayat Muslim)

ZIARAH KUBUR DI WAKTU HARI RAYA

Mufti al-Azhar, Kairo, memperbolehkan ziarah seperti ini:



وَمِنْ هُنَا نَعْلَمُ أَنَّ زِيَارَةَ النَّاسِ لِلْمَقَابِرِ عَقِبَ صَلَاةِ الْعِيْدِ إِنْ كَانَتْ لِلْمَوْعِظَةِ وَتَذَكُّرِ مَنْ مَاتُوْا وَكَانُوْا مَعَهُمْ فِى الْأَعْيَادِ يُنَعَّمُوْنَ بِحَيَاتِهِمْ ، وَطَلَبِ الرَّحْمَةِ لَهُمْ بِالدُّعَاءِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ أَبَدًا … (فتاوى الأزهر – ج 8 / ص 391)
“Dari sini kita mengetahui bahwa umat Islam melakukan ziarah kubur setelah hari raya, jika untuk menjadi pelajaran dan mengingat orang yang telah mati, yang dahulu mereka bersamanya saat hari raya dan merasa senang dengan kehidupannya, serta memintakan rahmat dan doa untuk mereka, maka hukumnya boleh, selamanya…” 

(Fatawa al-Azhar, 8/391)

Sebagian ulama Salaf dari Tabiin pun juga telah melakukan ziarah setelah hari raya:



عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ صَلَّيْتُ الْفَجْرَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فِي يَوْمِ الْفِطْرِ فَإِذَا أَبُوْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ مَعْقِلٍ فَلَمَّا قَضَيْنَا الصَّلَاةَ خَرَجَا وَخَرَجْتُ مَعَهُمَا إِلَى الْجَبَانَةِ. (4) مصنف ابن أبي شيبة – (ج 2 / ص 70)
“Dari Atha’ bin Saib ia berkata: “Saya salat Subuh di masjid ini di hari raya fitri, ternyata bertemu Abu Abdirrahman dan Abdullah bin Ma’qil. Setelah kami melakukan salat, keduanya keluar, saya juga keluar bersamanya, menuju ke kuburan” 

(Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 1/70)


ZIARAH KUBUR PADA WAKTU/HARI TERTENTU

1.

عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان
“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman.

(HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).

Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

2. Atsar Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha


عن محمد بن علي قال كانت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم تزور قبر حمزة كل جمعة
“Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin berkata: “Fathimah putrid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at.”

(HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [6713]).

3.


 عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات

“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.”

(HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

4. Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ. رواه البخاري.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sampaikanlah hadits kepada manusia setiap hari Jum’at. Jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali dalam sepekan. Jika masih kurang banyak, maka tiga kali dalam sepekan. Jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada al-Qur’an ini.

(HR. al-Bukhari [6337]).

MEMBACA AL QURAN DI KUBUR - merupakan amalan yang diajar oleh salafussoleh

1. Ibn Hibban dalam kitab sahihnya meriwayatkan hadith Jundab bin AbdiLLah, RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda yang bererti :



"Surah al Baqarah adalah tulang belakang al Quran, ia diturunkan oleh lapan puluh malaikat dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat kursi diturunkan dari bawah Arsy'. kemudian ia dikumpulkan dengan ayat-ayat surah al Baqarah. Surah Yasin pula adalah hati al Quran, tidak ada orang yang membacanya dengan mengharap redha ALlah dan pahala akhirat melainkan dia akan mendapat ampunan dari-Nya. Bacalah surah Yasin untuk saudara-saudara kamu yang telah meninggal dunia."

(Ditakhrij oleh Ibn Hibban di dalam Kitab Sahihnya pada bab Fadhilat Surah al Baqarah. Demikian juga al Haithami meriwayatkannya di dalam kitab Mawarid al Dzam'an, (jilid V, h 397). Imam Ahmad juga meriwayatkannya di dalam al Musnad dari Ma'qal bin Yasar (jilid v h 26). Al Haithami mengulas hadith tersebut di dalam kitab Majma' al Zawaid, "Hadith tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di dalamnya ada salah seorang perawi yang tidak disebut namanya, bagaimanapun perawi perawi lainnya adalah sahih (jilid VI h 311)

2. Imam Syafi’i :


قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت

“asy-Syafi’i berkata : aku menyukai seandainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit”

(Lihat : Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi)

Juga disebutkan oleh al-Imam al-Mawardi, al-Imam an-Nawawi, al-Imam Ibnu ‘Allan dan yang lainnya dalam kitab masing-masing yang sebagai berikut :



قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمه اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَ أَ عِ ندَه شيء مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْده كانَ حَسناً
“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’an disisi quburnya maka itu bagus”

(Lihat : Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya)

3. Imam Nawawi berkata :


"Adalah sunnah hukumnya bagi para penziarah kubur untuk mengucapkan salam kepada mereka (penghuni kubur), mendoakan kepada orang yang diziarahi dan juga kepada ahli kubur semuanya. Lebih utama lagi, jika penziarah itu membaca doa-doa yang telah diterangkan dalam al hadith. Dan hukumnya sunnah pula membaca ayat-ayat al Quran dan setelah itu mendoakan para penghuni kubur. Ini semua adalah nas (pendapat) dari Imam al Syafie dan disepakati oleh murid-muridnya (para pengikutnya)

Imam al Nawawi, al majmu' syarh al muhazzab jilid V h 286.

4. Majoriti para ulamak antaranya Imam Ahmad Ibnu Hambal dalam salah satu pendapatnya, Muhammad Ibnu Hassan, Imam Abu Hanifah dalam satu pendapatnya, para ulamak mutaakhirin Malikiyah dan As SYafi'eyyah berpendapat bahawa membaca al Quran di kuburan setelah mayat dikubur boleh (ad Duur al Muhtar wa raddu al Muhtar I/884. Fath al Qadir I/473. Syarh al Risalah I/289, Mughniy al Muhtaj III/69-70, Al Mughniy II/566-570, Kasyaf al Qona' II/191, al Muhadzab I/464, al Syarh al Saghir I/568)

MENGUSAP KUBUR - pernah dibuat oleh salafussoleh

1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bertanya kepada ayahnya tentang seorang lelaki yang mengusap kubur Nabi s.a.w. dan mimbar, lalu Imam Ahmad menjawab:


“Tidak mengapa begitu”.

[Iqthida’ As-Sirat Al-Mustaqim m/s 401]

Sahabat Abu Ayyub al Ansori telah diriwayatkan mencium makam Nabi :


“Dawud ibn Salih berkata: pada suatu hari Marwan melihat seorang laki-laki menaruh wajahnya di atas makam Nabi sall llahu ‘alayhi wasallam. Marwan menegurnya, “Kau tahu apa yang kau lakukan?” Ketika Marwan sampai di dekatnya, orang tersebut menoleh dan memperlihatkan wajahnya ternyata orang tersebut adalah Abu Ayyub al-Ansari [salah seorang sahabat besar dari golongan Ansar). Sayyidina Abu Ayyub Al-Ansari radiyAllahu ‘anhu. berkata: “Ya, Aku datang kepada Nabi, bukan mendatangi batu. Aku mendengar Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda "Jangan tangisi agama apabila diurus oleh ahlinya. Akan tetapi tangisilah apabila diurus oleh bukan ahlinya"

(Hadits riwayat Ibn Hibban dalam Shahihnya, Ahmad (5:422), Tabrani dalam Mu’jamul Kabir (4:189), Awsat, Ibnu Hajar Haythami dalam al-Zawa’id (5:245), al-Hakim dalam kitab Mustadrak (4:515), Tabrani dan al-Hakim, al-Subki dalam Syifa’ al-siqam (p. 126), hadits ini dishahihkan oleh IBNU HAJAR AL ASQALANI dan ADZ DZAHABI)

BERDOA DENGAN CARA BERTAWASSUL KEPADA RASULULLAH, SALAFUSSOLEH, ULAMAK , ORANG SOLEH YANG TELAH MENINGGAL DUNIA - juga dilakukan oleh salafussoleh.

Al Allamah al Muhaddith al Arif billah, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki telah membahas perkara tawassul ini dengan panjang lebar di dalam kitab beliau bertajuk Mafahim Yajibu an Tushahhah (lihat Muhiqq At Taqawwul fi Mas'alah at Tawassul dalam Rasa'il Hammah wa Mabahith Qayyimah, ms 397)

Kemudian beliau menyenaraikan nama-nama para A'immah dan Huffaz yang membolehkan tawassul antaranya :

1. Al Imam Al Hafiz, Abu AbduLlah al Hakim dalam Al Mustadrak. (Di dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan Nabi Adan bertawassul dengan Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam dan mensahihkannya)

2. Al Imam Al Hafiz, Abu Bakar al Baihaqi dalam Dala'il an Nubuwwah (Beliau juga menyebut tentang hadith Nabi Adam bertawassul dengan Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan hadith-hadith yang berkaitan dengan tawassul.)

3. Al Imam al Hafiz, Jalal ad Din as Sayuthi dalam Al Khasha'ish al Kubra (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul).

4. Al Imam al Hafiz, Abu Al Farj Ibn Al Jauzi dalam Al Wafa (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul dan hadith-hadith berkaitan.

5. Al Imam Al Hafiz Al Qadhi Iyadh dalam Asy Syifa' fi at Ta'rif bi Huquq al Mushtofa.

6. Al Imam, Syaikh Nur ad Din al Qari al Ma'ruf bin Mulla Ali Qari dalam Syarhnya kepada kitab Asy Syifa'.

7. Al Allamah Ahmad Syihab ad Din al Khaffaji dalam Nasim ar Riyadh (Kitab syarah kepada Asy Syifa')

8. Al Imam Al Hafiz, Al Qisthillani dalam Al Mawahib al Ladunniyyah (Beliau menyebutnya di awal kitab)

9. Al Allamah Syaikh Muhammad Abd al Baqi az Zarqani dalam Syarh (1/44) nya ke atas Al Mawahib.

10. Al Imam Syaikh al Islam, Abu Zakaria Yahnya An Nawawi dalam Al Idhah (Bab keenam, m.s 498. Lihat juga Al Majmu', 8/272)

11. Al Allamah Ibn Hajar al Haitami dalam Hasyiah (m/s 499) nya atas Al Idhah dan beliau menulis risalah khas tentang tawassul berjudul Al Jauhar al Munazzham.

12. Al Hafiz Syihab ad Din Muhammad bin Muhammad bin Al Jazari ad Dimasyqi Iddah al Husn al Hashin (disebutkan dalam tajuk Kelebihan Doa)

13. Al Allamah al Imam Muhammad bin Ali asy Syaukani dalam Tuhfah az Zakirin (m/s 761)

14. Al Allamah al Imam al Muhaddith Ali bin abd al Kafi as Subki dalam Syifa' as Siqam fi Ziyarah Khair al Anam (lihat Bab Kelapan, m/s 161)

15. Al Hafiz Imad ad Din Ibn Kathir dalam Tafsir al Qur'an al Azhim dalam Tafsir al Quran al Azhim.

16. Al Imam Al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fath al Bari (Beliau menyebutkan kisah seorang lelaki yang datang ke kubur RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan bertawassul dengan baginda dan mengatakan sanadnya sahih dalam Fath al bari (Lihat 2/495)

17. Al imam Al Mufassir Abu Abdullah al Qurthubi dalam Al Jami' li Ahkam al Quran (lihat 5/265)

18. Asy Syaikh Yusuf Khator Muhammad di dalam kitabnya Al Mausu'ah al Yusufiyyah fi Bayan Adillah ash Shufiyyah, menambah lagi nama-nama para ulama' selain daripada nama-nama di atas yang membolehkan tawassul atau yang menukilkan dalil-dalil daripada para A'immah di dalam kitab-kitab mereka termasuklah. (m/s 122-123)

19. Imam Syafie

20. Imam Ahmad bin Hanbal

21. Imam Malik. Seperti yang disebutkan oleh Al Allamah Ibn Hajar dalam Al Jauhar al Munazhzham dan Al Asqolani dalam Al Mawahib al Laduniyyah, dan As Samhudi dalam Khulashah al Wafa' dan al Qadhi Iyadh dalam asy Syifa' dengan sanad yang sahih dan selain dari mereka pun menyebutkan perkara yang sama.

22. Al Allamah Asy Syihab ar Ramli Asy Syafie.

23. Al Allamah Syaikh Ibn Muflih al Hanbali.

24. Al Allamah Syaikh Ala' ad Din Ali al Mardawi al Hanbali (lihat kitab al Inshaf 2/456)

25. Al Allamah Syaikh Ahmad al Mardawi.

26. Syaikh Yusuf an Nabhani.

27. Al Allamah Syaikh as Samiri (pengarang at Talkhish) (Lihat Kasyf al Qina', 2/29)

28. Syaikh Muhammad al Hamid (lihat Rudud ala Abathil, m/s 25-26)

Ulamak terkini yang membolehkan :

29. Mufti Brunei (rujuk : http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2001/ic80_2001.htm )

30. Prof Dr Ali Jum'ah (lihatAl Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim)

31Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buti Hafizahulla (lihat Al- Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Mazhaba Islami (1996), ms.155, 156).)

32. Sheikh Dr Abdul Malik Abd Rahman al-Sa’di (al-Bid’ah fi al-Mafhum al-Islami al-Daqiq)

33. Prof Dr Wahbah Az Zuhaili (lihat "فتاوى معاصرة" di muka surat 355)

Dan ramai lagi..

MELETAKKAN BUNGA DAN MENYIRAM AIR DI KUBUR

Firman Allah :

Bertasbih kepada Allah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi 

(Surah at Taghabun 64:1)

1. Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menyarankan agar di atas kuburan diletakkan pelepah kurma sebagaimana dalam sebuah hadits

"Ingatlah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa tetapi bukan kerana melakukan dosa besar. Seorang dari padanya disiksa kerana dahulu dia suka membuat fitnah dan seorang lagi disiksa kerana tidak menghindari diri daripada percikan air kencing. Kemudian baginda mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu baginda menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: Semoga pelepah ini dapat meringankan seksanya selagi ia belum kering." 

(Riwayat Bukhari, no: 1378 dan Muslim, no: 292)

2. Para Ulama menngqiyaskan/menyamakan pelepah kurma dalam hadits di atas dengan segala macam tumbuh-tumbuhan yang masih basah sebagaimana yang di jelaskan oleh Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbini dalam kitab Mughni Al-Muhtaj



ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب ولا يجوز للغير أخذه من على القبر قبل يبسه لأن صاحبه لم يعرض عنه إلا عند يبسه لزوال نفعه الذي كان فيه وقت رطوبته وهو الاستغفار ( و ) أن يوضع ( عند رأسه حجر أو خشبة ) أو نحو ذلك لأنه صلى الله عليه وسلم وضع عند رأس عثمان بن مظعون صخرة وقال أتعلم بها قبر أخي لأدفن إليه من مات من أهلي رواه أبو داود وعن الماوردي استحباب ذلك عند رجليه أيضا

“Disunnahkan menaruh pelepah kurma hijau (basah) di atas kuburan, begitu juga tumbuh-tumbuhan yang berbau harum dan semacamnya yang masih basah dan tidak boleh bagi orang lain mengambilnya dari atas kuburan sebelum masa keringnya karena pemiliknya tidak akan berpaling darinya kecuali setelah kering sebab telah hilangnya fungsi penaruhan benda-benda tersebut dimana selagi benda tersebut masih basah maka akan terus memohonkan ampunan padanya

3. Dalam kitab Fatawa al Hadithiah m/s 196 disebutkan :



" Para ulama beristinbath daripada perbuatan Nabi SallaLlahu 'alaihi wasallam mencacakkan dua pelepah tamar di atas kubur, untuk bolehnya mencacak pokok dan bunga tetapi mereka tidak menerangkan caranya. Walau bagaimanapun, di dalam hadits sahih disebutkan bahawa Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam mencacak satu cacakan pada setiap kubur, maka bolehlah diambil pelajaran, ia merangkumi semua bahagian kubur. Maka tujuan yang boleh diambil daripadanya ialah di mana-mana bahagian kubur pun boleh. Abdul bin Humaid dalam Musnadnya bahawa Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam meletakkan pelepah itu di atas kubur di sisi kepala mayat di kubur tersebut "

4. Syeikh Atiyah Saqar (iaitu seorang Mufti Lajnah Fatwa al-Azhar) berkata:

“Ini adalah masalah antara golongan mengharuskan dan golongan yang menegah. Saya melihat tiada tegahan pada perkara ini selagi mana ia beriktikad (menyakini) bahawa yang memberi manfaat dan mudarat itu hanyalah Allah SWT. Apa yang kita hadiahkan kepada si mati seperti doa, sedekah dan lain-lain lagi adalah ‘min babil asbab’ semata-mata mengharapkan rahmat Allah SWT.

Justeru, perbuatan menaburkan bunga sebagai menggantikan pelepah dan ranting basah adalah harus. Bagaimanapun, jika bunga itu dibeli dengan harga mahal semata-mata untuk melakukan perbuatan itu, dibimbangi ia akan jatuh kepada haram disebabkan membazir.

5. Menyiram air di atas kuburan dan meletakkan daun-daunan yang hijau (segar) hukumnya sunnah, khususnya untuk kuburan yang baru ditimbun. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw memerciki kuburan puteranya tercinta Ibrahim dengan air dan meletakkan daun-daunan yang segar di atasnya

(Riwayat Imam Syafi'i, Nailul Authar : 4/84).

6. Di bolehkan menaburkan bunga-bunga segar yang masih basah di atas kuburan2 ,‘karena hal ini(menaburi bunga) dapat meringankan siksaan mayat akibat bacaan tasbih tanaman/bunga diatas pusara tersebut.Lihat ; I’aanah at-Thoolibiin : II/120



يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.

(I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)

Wallahua'lam bissowab

Sumber :

1. Muhadir bin Haji Joll, Persoalan Khilafiyyah & Penjelasan Ulama Inilah Jawapannya.., m.s 335-338, Cetakan Pertama 2011, Mawleed Publishing Sdn Bhd, Kuala Lumpur.

2. http://akitiano.blogspot.com/2010/11/pembelaan-terhadap-wahbah-al-zuhayli.html

3. http://drasmadinet.blogspot.com/2009/09/isu-tawassul.html

4. Ustaz Abu Muhammad : bahrusshofa.blogspot.com/2006/10/tunggu-kubur.html

5. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa'adi, Salah Faham Terhadap Bid'ah, al Bid'ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu'man, 2002, Kuala Lumpur.

6. K.H Sirajuddin, 40 Masalah Agama, Cet 37 2001, Pustaka Tarbiyah Jakarta.

7. Al Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, “Penjelasan Terhadap Masalah-masalah Khilafiah”. Prof Dr Ali Jum’ah, 2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor

8. Drs. K.H.M Sufyan Raji Abdullah Lc, Menyikapi Masalah-masalah Yang Dianggap Bid'ah, Cet 1 2010, Jilid 2, Pustaka Al Riyadhi, Indonesia

9. http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2010/bil18-2010.pdf

10. http://www.aswj-rg.com/2015/07/beberapa-amalan-tradisi-menyambut-hari-raya-di-nusantara.html

11.  http://www.idrusramli.com/2014/dalil-tradisi-yasinan-dan-tahlilan/

Wallahua'lam bissowab

SEBARKAN !

Ahad, 5 Julai 2015

Apakah Aqidah Yang Benar Lagi Sahih Mengikut Salafussoleh ?

Inilah Aqidah yang sohih. aqidah yang benar sebagaimana manhaj salafussoleh. Yang selamat dari menyerupakan Allah dengan makhlukNya (mujassimah/musyabbihah).


1. Kalam Imam Malik mengenai 'istawa' dengan sanad yang sahih .

2. Manhaj Ulama' Salaf dan Khalaf dalam bab ayat Mutasyabihat .

3. Dalil daripada Al-Qur'an dan Hadis yang menafikan zat Allah 'berada' di langit .

4. Hadith Yang Mutawattirah adalah mengucap 2 kalimah syahadah untuk menentukan seseorang itu Islam.

5. Hadith jariyah yang menyatakan Allah di langit tidak diletakkan dalam bab AQIDAH. Tetapi di letakkan di dalam bab solat (pengharaman bercakap dalam solat) - Imam an Nawawi

6. Pencerahan yang sangat cemerlang dan menyelamatkan umat Islam dari fahaman mujassimah dan musyabbihah yang membawa kepada menyerupakan Allah dengan makhlukNya.



Sabtu, 4 Julai 2015

Apakah Dalil-dalil Ulamak Dalam Mengkhususkan Hari-hari/Waktu/Masa Tertentu Untuk Melakukan Amal Ibadah ?


Apakah dalil-dalilnya ?

Jawapan oleh Ustaz Idrus Ramli

Berikut ini dalil-dalil bolehnya menetapkan waktu-waktu tertentu untuk melakukan kebaikan dan ibadah.

1) Dalil pertama, hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَفْعَلُهُ. رواه البخاري
“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi Masjid Quba’ setap hari sabtu, dengan berjalan kaki dan berkendaraan.” Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga selalu melakukannya. 

(HR. al-Bukhari, [1193]).

Hadits di atas menjadi dalil bolehnya menetapkan waktu-waktu tertentu secara rutin untuk melakukan ibadah dan kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan hari Sabtu sebagai hari kunjungan beliau ke Masjid Quba’. Beliau tidak menjelaskan bahwa penetapan tersebut, karena hari Sabtu memiliki keutamaan tertentu dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Berarti menetapkan waktu tertentu untuk kebaikan, hukumnya boleh berdasarkan hadits tersebut.

Karena itu al-Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah berkata:



وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم
“Hadits ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari, dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara rutin. Hadits ini juga mengandung dalil, bahwa larangan berziarah ke selain Masjid yang tiga, bukan larangan yang diharamkan.” 

(Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 69).

2) Hadits Sayidina Bilal radhiyallahu ‘anhu



وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ: «يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِيْ بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي اْلإِسْلاَمِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ فِي الْجَنَّةِ» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاً أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ أَنِّيْ لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُوْرًا فِيْ سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : قَالَ لِبِلاَلٍ: «بِمَ سَبَقْتَنِيْ إِلَى الْجَنَّةِ؟ قَالَ: مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِيْ حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ وَرَأَيْتُ أَنَّ للهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «بِهِمَا» أَيْ نِلْتَ تِلْكَ الْمَنْزِلَةَ». رواه البخاري (1149) ومسلم (6274) وأحمد (9670) والنسائي في فضائل الصحابة (132) والبغوي (1011) وابن حبان (7085) وأبو يعلى (6104) وابن خزيمة (1208) وغيرهم.
“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Bilal ketika shalat fajar: “Hai Bilal, kebaikan apa yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam, karena aku telah mendengar suara kedua sandalmu di surga?”. Ia menjawab: “Kebaikan yang paling aku harapkan pahalanya adalah aku belum pernah berwudhu’, baik siang maupun malam, kecuali aku melanjutkannya dengan shalat sunat dua rakaat yang aku tentukan waktunya.” Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bilal: “Dengan apa kamu mendahuluiku ke surga?” Ia menjawab: “Aku belum pernah adzan kecuali aku shalat sunnat dua rakaat setelahnya. Dan aku belum pernah hadats, kecuali aku berwudhu setelahnya dan harus aku teruskan dengan shalat sunat dua rakaat karena Allah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dengan dua kebaikan itu, kamu meraih derajat itu”.

(HR. al-Bukhari (1149), Muslim (6274), al-Nasa’i dalam Fadhail al-Shahabah (132), al-Baghawi (1011), Ibn Hibban (7085), Abu Ya’la (6104), Ibn Khuzaimah (1208), Ahmad (5/354), dan al-Hakim (1/313) yang menilainya shahih.).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah menyuruh atau mengerjakan shalat dua rakaat setiap selesai berwudhu atau setiap selesai adzan, akan tetapi Bilal melakukannya atas ijtihadnya sendiri, tanpa dianjurkan dan tanpa bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya, bahkan memberinya kabar gembira tentang derajatnya di surga, sehingga shalat dua rakaat setiap selesai wudhu menjadi sunnat bagi seluruh umat. Dengan demikian, berarti menetapkan waktu ibadah berdasarkan ijtihad hukumnya boleh. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata ketika mengomentari hadits tersebut:



ويستفاد منه جواز الاجتهاد في توقيت العبادة لأن بلالا توصل إلى ما ذكرنا بالاستنباط فصوبه النبي صلى الله عليه و سلم

 “Dari hadits tersebut dapat diambil faedah, bolehnya berijtihad dalam menetapkan waktu ibadah. Karena sahabat Bilal mencapai derajat yang telah disebutkan berdasarkan istinbath (ijtihad), lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.” 

(Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 34).

3) Hadits Ziarah Tahunan



عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان
“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. 

(HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).

Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

4) Atsar Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha



عن محمد بن علي قال كانت فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم تزور قبر حمزة كل جمعة
“Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin berkata: “Fathimah putrid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam Hamzah setiap hari Jum’at.” 

(HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf [6713]).


عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات
“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.”

 (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

5) Atsar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:



عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ. رواه البخاري.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sampaikanlah hadits kepada manusia setiap hari Jum’at. Jika kamu tidak mau, maka lakukan dua kali dalam sepekan. Jika masih kurang banyak, maka tiga kali dalam sepekan. Jangan kamu buat orang-orang itu bosan kepada al-Qur’an ini. 

(HR. al-Bukhari [6337]).

Keterangan:

Menetapkan hari-hari tertentu dengan kebaikan, telah berlangsung sejak masa sahabat. Karena itu para ulama di mana-mana, mengadakan tradisi Yasinan setiap malam Jum’at atau lainnya, dan beragam tradisi lainnya. Hal ini telah berlangsung sejak masa salaf.

6) Atsar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu



عَنْ شَقِيقٍ أَبِى وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللهِ يُذَكِّرُنَا كُلَّ يَوْمِ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّا نُحِبُّ حَدِيثَكَ وَنَشْتَهِيهِ وَلَوَدِدْنَا أَنَّكَ حَدَّثْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ. فَقَالَ مَا يَمْنَعُنِى أَنْ أُحَدِّثَكُمْ إِلاَّ كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ. إِنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِى الأَيَّامِ كَرَاهِيَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا. رواه البخاري ومسلم

“Syaqiq Abu Wail berkata: “Abdullah bin Mas’ud memberikan ceramah kepada kami setiap hari Kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepada beliau: “Wahai Abu Abdirrahman, sesungguhnya senang dengan pembicaraanmu dan selalu menginginkannya. Alangkah senangnya kami jika engkau berbicara kepada kami setiap hari?” Ibnu Mas’ud menjawab: “Tidaklah mencegahku untuk berbicara kepada kalian, kecuali karena takut membuat kalian bosa. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kami dalam hari-hari tertentu, khawatir membuat kami bosan.” 

(HR. al-Bukhari [70], dan Muslim [7305]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki waktu tertentu untuk berceramah kepada para sahabatnya, kecuali dalam khutbah Jum’at dan hari raya secara rutin. Beliau memberikan nasehat kepada mereka kadang-kadang saja, atau ketika ada suatu hal yang perlu diingatkan kepada mereka. Kemudian setelah beliau wafat, para sahabat menetapkan hari-hari tertentu untuk menggelar pengajian. Hal ini membuktikan bahwa menetapkan hari-hari tertentu untuk kebaikan hukumnya boleh.

7) Fatwa Syaikh Nawawi Banten rahimahullah



والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب، ولا يتقيد بكونه سبعة أيام أو أكثر أو أقل، وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان، وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاد شيخنا يوسف السنبلاويني. (الشيخ نووي البنتني، نهاية الزين ص/281).

Bersedekah untuk orang meninggal dengan cara yang syar’i itu dianjurkan. Hal tersebut tidak terbatas dengan tujuh hari, lebih atau kurang. Membatasi sedekah dengan sebagian hari, termasuk tradisi saja sebagaimana fatwa Sayyid Ahmad Dahlan. Tradisi masyarakat telah berlangsung dengan bersedekah pada hari ketiga kematian, ketujuh, keduapuluh, keempat puluh, keseratus, dan sesudah itu dilakukan setiap tahun hari kematian, sebagaimana dijelaskan oleh guru kami Yusuf al-Sunbulawaini. 

(Syaikh Nawawi Banten, Nihayah al-Zain, hlm 281).

Sumber : http://www.idrusramli.com/2014/dalil-tradisi-yasinan-dan-tahlilan/

Isnin, 29 Jun 2015

IBU MENGANDUNG BERBUKA PUASA ,WAJIBKAH QADHA' PUASA ?




Syeikh Nuruddin Marbu al-Banjari ditanya:Bagaimanakah keadaan ibu yang mengandung berbuka puasa?

1) Jawapan Syeikh Nuruddin Marbu al-Banjari:


Ibu yang mengandung berbuka puasa kerana khuatir tentang diri dan anak dalam kandungan DIKEHENDAKI MENGQADHA'KAN PUASA DAN MEMBAYAR FIDYAH.Jika dia hanya khuatir tentang dirinya sahaja,dia DIKEHENDAKI MENGQADHA'KAN PUASA SAHAJA.

(Rujukan Soalan 186; Q & A Bersama Syeikh Nuruddin mukasurat 244)

2) Dalam kitab Matan Abi Syuja',Imam Abu Syuja' Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad al-Asfahani Rodiyallahu 'Anhu menegaskan dalam Bab Qada' dan Kaffarah,Kitab As Siyam:


والحامل والمرضع إن خافتا على أنفسهما : أفطرتا وعليهما القضاء
وإن خافتا على أولادهما أفطرتا وعليهما القضاء والكفارة عن كل يوم مد وهو رطل وثلث بالعراقي
"Sekiranya orang hamil dan menyusui bayi khuatir dengan dirinya,dia BOLEH BERBUKA PUASA DAN WAJIB MENGGANTINYA.
Sekiranya orang hamil dan menyusui bayi khuatir dengan bayinya,dia boleh berbuka puasa.Kemudian,dia WAJIB MENGGANTINYA dan MEMBAYAR KAFFARAH UNTUK SETIAP HARI YANG DITINGGALKANNYA DENGAN SATU MUD.Ia bersamaan dengan satu ritel dan satu pertiga ritel Iraq

(Rujukan kitab Matan Abi Syuja',Imam Abu Syuja' Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad al-Asfahani Rodiyallahu 'Anhu menegaskan dalam Bab Qada' dan Kaffarah,Kitab As Siyam,cetakan PTS,mukasurat 103)

3) Syeikh Daud al-Fatoni Rodiyallahu 'Anhu ditanya: Adakah diwajibkan qada' dan fidyah ke atas orang yang berbuka puasa semata2 kerana hendak menolong orang lain yang dalam keadaan bahaya sama ada manusia mahupun haiwan,atau ia BERBUKA KERANA BIMBANGKAN KESIHATAN ANAK DI DALAM KANDUNGANNYA BAGI PEREMPUAN YANG MENGANDUNG ATAU YANG SEDANG MENYUSUI BAYINYA? Adakah diwajibkan qada' sahaja tanpa fidyah atau kedua2nya,dan mereka yang berbuka semata2 kerana bimbangkan keselamatan diri? Adakah hanya diwajibkan qada' sahaja atau bagaimana?

Jawapan Syeikh Daud al-Fatoni Rodiyallahu 'Anhu:

WAJIB KE ATASNYA QADA' BESERTA FIDYAH,berlainan jika ia bimbangkan keselamatan dirinya (perempuan yang mengandung) maka IA HANYA DIWAJIBKAN QADA' SAHAJA TANPA FIDYAH.Begitu juga bimbangkan keselamatan anak yang dikandungnya maka ia hanya DIWAJIBKAN QADA' SAHAJA TANPA FIDYAH

(Rujukan Kitab Furu' al-Masail,Syeikh Daud al-Fatoni,Kitab Puasa,Bab Fidyah Puasa,mukasurat 737,Bahasa Moden cetakan Telaga Biru)

4) Habib Zein Bin Ibrahim bin Sumait dalam kitabnya Hidayah At-Tolibin Fi Bayan Muhimmat ad-Din atau terjemahannya Syarah Hadis Jibril pada Bab Puasa menyatakan:


والحامل والمرضع عليهما القضاء فقط إن خافتا على أنفسهما ولو مع الولد
والقضاء مع الفدية إن خافتا على ولديهما فقط

"Bagi perempuan yang mengandung dan perempuan yang menyusukan anak,maka WAJIB KE ATAS MEREKA QADA' SAHAJA sekiranya keduanya takut mudharat ke atas diri mereka,mahupun beserta anak tersebut,dan WAJIB KE ATAS MEREKA BERDUA QADA' DAN MEMBAYAR FIDYAH sekiranya ditakuti mudharat ke atas anak sahaja"

(Rujukan Buku Syarah Hadis Jibril,Habib Zein bin Sumait,mukasurat 220)

5) Jawapan Dr Asmadi Mohamed Naim​ : 

Ibu hamil dan menyusu wajib qada sahaja, atau qada dan bayar fidyah bila meninggalkan puasa.

Ada diposkan oleh sesetengah org kata-kata Ibn Abbas yang mengatakan ibu hamil dan menyusu hanya wajib bayar fidyah tanpa wajib qada puasa.

Pendapat ni sebenarnya pendapat lemah kerana bertentangan dengan dalil Syarak iaitu dalil Quran, sebab ibu hamil dan mengandung tidak dimasukkan dalam kumpulan orang-orang tua, tetapi diklasifikasi dengan golongan sakit.

Imam-imam 4 mazhab menolak pandangan ini, sebab bukan kerana mereka tak tahu kata-kata ni, tetapi di atas pertimbangan menggunakan dalil-dalil yang lebih kuat.

Fatwa Mufti Saudi Bin Baz pun menolak kata-kata Sahabat, bila bertentangan dengan nas Quran.

Ni nasnya dlm Bahasa Arab oleh Syeikh Bin Baz:

ج : الصواب في هذا أن على الحامل والمرضع القضاء، وما يروى عن ابن عباس وابن عمر أن على الحامل والمرضع الإطعام هو قول مرجوح مخالف للأدلة الشرعية، والله سبحانه يقول: وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ، والحامل والمرضع تلحقان بالمريض وليستا في حكم الشيخ الكبير العاجز بل هما في حكم المريض فتقضيان إذا استطاعتا ذلك ولو تأخر القضاء، وإذا تأخر القضاء مع العذر الشرعي فلا إطعام بل قضاء فقط، أما إذا تساهلت الحامل أو المرضع ولم تقض مع القدرة فعليها مع القضاء الإطعام إذا جاءها رمضان الآخر ولم تقضها تساهلاً وتكاسلاً، فعليها القضاء مع الإطعام، أما إذا كان التأخير من أجل الرضاعة أو الحمل لا تكاسلاً فإن عليها القضاء فقط ولا إطعام، وما أنفقت من الإطعام فهو في سبيل الله ولك أجره، ويكفي عن الإطعام الواجب في القضاء إذا كنت تساهلت في القضاء، وعليك القضاء تصومين حسب الطاقة ولا يلزمك التتابع، تصومين وتفطرين حتى تكملي ما

Pasal Athar Ibn Abbas dan Ibn Umar, telah sabit Ibn Abbas menarik balik pandangan hanya perlu fidyah (tanpa qada). Sebaliknya beliau telah berubah kpd berpuasa, atau berpuasa dan bayar fidyah sebagaimana pandangan jumhur.

Lagipun, kata-kata Sahabi bukan hujah bila berlawanan dengan kata-kata sahabat yg lain. Tak boleh juga, mengeluarkan hukum berdasarkan satu kata-kata sahabat.

Pembacaan di bawah boleh membantu kawan-kawan yg boleh berbahasa Arab. Pandangan Jumhur ulama lebih dekat dgn dalil Quran, sunnah dan amalan sahabat dan Tabiin.

Wallahu ta'ala a'lam.

ذكر أهل العلم أنه ثبت رجوع ابن عباس وابن عمر عن هذا القول ، فلم يعد يقل به أحد من الصحابة ، فلايصح نسبته إليهما وقد رجعا عنه
في كتاب (الصوم والإفطار لأصحاب الأعذار ) طبع دار العاصمة
الصفحة 152 _ 153
( ج) من المعلوم أن قول الصحابي لا يكون حجة إذا عارضه قول صحابي آخر ، كيف وقد نقل عنهما نفسيهما وجوب القضاء عليهما في زمن الاستطاعة وهو الذي يتفق مع قول الجمهور
فقد روى البيهقي في السنن الكبرى بالسند المتصل عن ابن عمر أن امرأة حبلى صامت في رمضان فاستعطشت ، فسئل عنها ابن عمر : فأمرها أن تفطر وتطعم كل يوم مسكينا مدا ثم لا يجزيها فإذا صحت قضته (2 )
(2) السنن الكبرى (4/230)
أما ابن عباس ، فقد ذكر عبد الرزاق بسنده وجوب القضاء ولفظه (( عن الثوري وابن جريج عن عطاء عن ابن عباس قال : تفطر الحامل والمرضع في رمضان وتقضيان صياما ولا تطعمان )) (1)
(1) مصنف عبد الرزاق (4/218)
ثم قال هذا ما نقل عن ابن عمر وابن عباس في وجوب القضاء عليهما وقد نقل عنهما عدم وجوبه أيضا بيد أن المصير إلى الرواية التي تتفق مع الجمهور هو المتعين وهو الذي عليه جمهور التابعين والذين نقل عنهم عدم القضاء نقل عنهم القضاء أيضا
__________________
عبدالرحمن بن عمر الفقيه الغامدي
مكة بلد الله الحرام

Kredit :

1. Ustaz Haniff Talib​
2. Dr Asmadi Mohamed Naim.

Khamis, 25 Jun 2015

Alternatif kepada pesakit athma dan menggunakan inhaler dan nebulizer untuk berpuasa.

Alternatif lain untuk pesakit astma

Oleh : Muhammad Tajuddin Al-Jawiy






Astma atau lelah adalah sejenis penyakit pernafasan yang berpunca daripada kesempitan saluran pernafasan (bronkus dan bronkiol) yang berada di dalam paru-paru..hal Ini disebabkan berlakunya pengecutan otot-otot licin bronkiol, pembengkakan (radangan) mukosa dan pengeluaran kahak yang berlebihan dan mengakibatkan pesakit mendapat Astma..

keadaan ini menyukarkan bagi orang yang ada Astma untuk bernafas kerana salur pernafasan sudah menjadi sempit sama ada sempit itu disebabkan berlakunya pembengkakan di salur pernafasan atau banyak kahak yang berkumpul di salur pernafasan,

maka sebab itu lah untuk mengurangkan bengkak di salur pernafasan dan juga mengurangkan kahak ini, doktor yang terlibat akan memberi rawatan nebulizer dan inhaler bagi memudahkan pesakit bernafas dengan baik..

tetapi jika pesakit berpuasa, hal itu membatalkan puasanya kerana kandungan yang ada pada cecair ketika nebulizer itu akan masuk melepasi tekak, dan batal puasanya..begitu jua inhaler, ijma' ulama mengatakan batal puasa kerana ada 'ain sama ada cecair atau pun serbuk yang masuk ke dalam mulut dan melepasi tekak yakni rongga terbuka, disebut dalam kitab fiqh sebagai al Jauf, maka batal puasanya..

jadi, untuk mengelakkan daripada mengambil nebulizer atau inhaler di ketika berpuasa di siang hari, pesakit boleh mengambil ubat tablet prednisolone..

prednisolone bertindak mengurangkan radangan dan kebengkakan saluran pernafasan dan kahak..

dan seseorang yang mengambil tablet prednisolone ketika bersahur, kebiasaannya dia boleh bertahan sehingga ke buka puasa, kerana prednisolone adalah long term action iaitu tindak balas yang lama, ia bukan sekejap..

itu kebiasaannya, jika pesakit tidak terdedah dengan keadaan asap dan habuk, tidak ada mengambil ais, insya Allah, pesakit boleh bertahan beberapa jam sehingga berbuka puasa..

dan satu lagi cara adalah pesakit Astma boleh berbincang dengan doktor untuk menggunakan "symbicort" inhaler, iaitu sejenis ubat bagi inhaler, kerana ia adalah long term action, pesakit yang menggunakannya ketika waktu sahur, dia boleh bertahan sehingga 6-7 jam, kalau inhaler jenis ubat lain, kebiasaannya hanyalah 1-2 jam sahaja..

dan boleh juga cadangkan pesakit guna ubat montelukast, telan ubat itu sebiji sebelum tidur, insya Allah, dia boleh bertahan lama ketika berpuasa di siang hari..

ini antara cadangan buat saudara kita yang ada penyakit Astma dan hendak berpuasa dengan aman, boleh guna cara ini, insya Allah, dengan kesungguhan kita itu, mudah mudahan Allah permudahkan ibadat puasa kita,

wallahua'lam..


Ahad, 14 Jun 2015

Hadith Dhoief - Ijmak Ulamak Membenarkan Beramal Dengannya

IJMAK ULAMAK MEMBENARKAN BERAMAL DENGAN HADITH DHOIEF

Oleh : Ustaz Danang Kuncoro Wicaksono :

1. Imam Al Bukhari

Beberapa ulama menyebutkan bahwa penyandaraan pendapat yang menolak hadits dhaif untuk fadhail terhadap Imam Bukhari adalah kurang tepat, karena beliau juga menjadikan ∙hadits∙ dhaif untuk hujjah. Ini dapat dilihat dari kitab beliau Al Adab Al Mufrad, yang bercampur antara ∙hadits∙ shahih dan dhaif. Dan beliau berhujjah dengan∙hadits∙ itu, mengenai disyariatkannya amalan-amalan. Ini boleh dilihat dari judul bab yang beliau tulis.

Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah :

Beliau telah menulis masalah ini dalam komentar beliau terhadap kitab Dhafar Al Amani, karya Imam Al Laknawi (hal. 182-186), dengan merujuk kitab Fadhullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Al Mufrad, karya Syeikh Fadhlullah Al Haidar Al Abadi Al Hindi, ulama hadits dari India yang wafat pada tahun1399 H.

Tidak hanya dalam Al Adab Al Mufrad, dalam Shahihnya pun perkara hampir serupa terjadi. Ibnu Hajar Al Asqalani menyebutkan dalam Hadyu As Sari (2/162), saat menyebutkan perawi bernama Muhammad bin Abdurrahman At Tufawi, yang oleh Abu Zur’ah dikatakan “mungkarul ∙hadits∙” beliau mengatakan bahwa dalam Shahih Al Bukhari ada 3 ∙hadits∙ yang diriwayatkan oleh perawi tersebut dan semuanya dalam masalah riqaq (∙hadits akhlak dan motivasi), dan ini tergolong gharaib dalam Shahih Al Bukhari, hingga Ibnu Hajar mengatakan,”Seolah-olah Bukhari tidak memperketat, karena termasuk ∙hadits∙ targhib wa tarhib”.

2. Imam Muslim

Adapun perkataan Imam Muslim dalam muqadimah As Shahih, tidak boleh diertikan sebagai larangan mutlak atas penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Imam Muslim mengatakan dalam muqadimah Shahih beliau,”

Dan ketahuilah-wafaqakallah-bahwa wajib bagi siapa saja untuk membezakan antara shahih riwayat dan saqimnya, serta orang-orang tsiqah yang menukilnya daripada mereka yang tertuduh (memalsukan). Tidak meriwayatkan darinya (periwayatan), kecuali yang diketahui keshahihan outputnya dan yang terjaga para periwatnya, serta berhati-hati terhadap periwayatan mereka yang tertuduh, dan para ahli bid’ah yang fanatik.”

(Muslim dengan Syarh An Nawawi (1/96)

Syeikh Dr. Mahmud Said, ulama hadits dari Mesir mengomentari perkataan Imam Muslim di atas. Dalam At Ta’rif (1/99) beliau mengatakan,”maknanya, wajib bagi siapa saja yang ingin menyendirikan hadits shahih dan mengetahui perbezaan antara shahih…” Artinya, himbauan Imam Muslim di atas untuk mereka yang ingin menyendirikan hadits shahih.

Beliau juga memandang bahwa tidak seorang hafidz pun yang telah melakukan rihlah (mencari ∙hadits∙) meninggalkan periwayatan para perawi dhaif, hatta Imam Muslim. Karena itu, Imam Muslim memasukkan perawi lemah dan matruk, yang menurut Muslimatergolong jenis khabar kelompok ketiga, ke dalam Shahih Muslim untuk mutaba’ah dan syawahid. Dengan demikian, pernyataan Muslim di atas tidak berlaku mutlak.

Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu Fatawanya:

والضعيف: الذي رواه من لم يعلم صدقه إما لسوء حفظه وإما لاتهامه، ولكن يمكن أن يكون صادقا فيه فإن الفاسق قد يصدق والغالط قد يحفظ

"Dan (hadits) dho'if: yang diriwayatkan oleh orang yang belum diketahui kebenarannya (kejujuran), baik itu karena buruk hafalannya atau karena diduga (berdusta), akan tetapi mungkin juga dia benar (jujur) di situ, karena orang yang fasik adakalanya jujur dan orang yang keliru adakalanya hafaz."

3. Imam Suyuthi berkata dalam Tadribur Rowi tentang hadits ghair maqbul (tidak diterima):

معناه لم يصح إسناده على الشرط المذكور لا أنه كذب في نفس الأمر لجواز صدق الكاذب وإصابة من هو كثير الخطأ

"Maknanya: tidak shahih sanadnya berdasarkan syarat yang telah disebutkan, bukan berarti ia adalah kedustaan secara nyata, karena masih ada peluang kejujuran seorang pendusta dan kebenaran orang yang sering salah."

4. Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu' (3/226)



وقد قدمنا اتفاق العلماء على العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال دون الحلال والحرام
"Telah kami paparkan kesepakatan para ulama mengenai(bolehnya) beramal dengan hadits dha'if dalam Fadha'il A'mal (keutamaan amalan), bukan halal dan haram."

Dalam Mawahib Al-Jalil (1/17) disebutkan:

فقد اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال
“Para ulama telah bersepakat mengenai bolehnya beramal dengan hadits dha’if dalam hal Fadha’il A’mal.”

5. Mulla Ali Al-Qari berkata dalam Al-Hazh Al-Aufar sebagaimana dalam Al-Ajwibah Al-Fadhilah karangan Al-Laknawi hal. 36:

الحديث الضعيف معتبر في فضائل الأعمال عند جميع العلماء من أرباب الكمال
“Hadits dha’if itu dijadikan I’tibar dalam Fadha’il A’mal menurut seluruh ulama…”

Ia juga berkata:


الضعيف يعمل به في فضائل الأعمال اتفاقا
"(Hadits) dhaif diamalkan dalam hal fadhoil (keutamaan) amal secara ittifaq (kesepakatan ulama)."

6. Ibnu Hajar Al Haitami berkata:



قد اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف فى فضائل الأعمال؛ لأنه إن كان صحيحا فى نفس الأمر، فقد أعطى حقه من العمل به، وإلا لم يترتب على العمل به مفسدةُ تحليل ولا تحريم ولا ضياع حق للغير
“Para ulama telah bersepakat tentang kebolehan beramal dengan hadits dhaif dalam hal keutamaan amal, karena seaindainya hadits itu ternyata shahih, maka ia telah memberikan haknya yaitu berupa amal, dan jika tidak, maka beramal dengannya tidak berdampak penghalalan atau pengharaman atau hilangnya hak orang lain.”

Ia juga berkata:

وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا
“Telah tetap bahwa hadits dhaif, mursal, munqathi’, mu’dhol dan mauquf diamalkan dalam hal keutamaan amal secara ijma’.”

Ia juga berkata:


فإن قلت هذا الحديث المذكور سنده ضعيف فكيف يحتج به ؟ قلت : الذي أطبق عليه أئمتنا الفقهاء والأصوليون والحفاظ أن الحديث الضعيف حجة في المناقب كما أنه بإجماع من يعتد به حجة في فضائل الأعمال، وإذا ثبت أنه حجة في ذلك لم تبق شبهة لمعاند ومطعن لحاسد بل وجب على كل من فيه أهلية أن يقر هذا الحق في نصابه
“Jika anda bertanya: hadits tersebut sanadnya dhoif, bagaimana dijadikan hujjah? Maka saya jawab: Yang menjadi ketetapan para imam kita baik dari kalangan Fuqoha, Ushuliyin dan Huffazh yaitu hadits dhoif hujjah dalam hal manaqib (biografi) sebagaimana ia juga hujjah dalam hal keutamaan amal menurut ijma para ulama. Jika telah tetap bahwa ia hujjah dalam hal itu, tidak tersisa lagi syubhat bagi orang yang menentang atau hujatan bagi orang yang hasad. Bahkan wajib bagi setiap orang yang memiliki keahlian mengakui kebenaran ini sesuai kadarnya.”

Wallahua'lam bissowab

Sumber : https://www.facebook.com/danang.kuncoro.wicaksono?fref=ufi

Sabtu, 13 Jun 2015

AMALAN PARA SALAFUSSOLEH DAN ULAMAK DI BULAN RAMADHAN

Mujahadah Para Salaf dan Ulama di Bulan Ramadhan

Oleh : Ustaz Thoriq



Benarlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tentang keunggulan generasi salaf: “Sebaik-baik zaman adalah di zamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (atba’ tabi’in).” 

(Riwayat Bukhari).

Mujahadah salaf selama bulan Ramadhan membuktikan kebenaran sabda Rasulullah di atas. Khususnya dalam melakukan amalan shalat dan membaca Al Qur`an, mujahadah mereka amat susah untuk ditandingi oleh umat Islam generasi terakhir. Bahkan bisa jadi mereka menilai bahwa amalan itu mustahil dilakukan!

Dalam beberapa literatur Islam, seperti Hilyah Al Auliya karya Al Hafidz Abu Nu’aim dan Thabaqat Al Qura`n, karya Imam Ad Dzahabi, mujahadah para salaf, khususnya para tabi’in, terakam dengan baik. Bahkan dalam Al Hilyah, periwayatan itu disertai dengan sanad lengkap.

Nah, bagaimana sebenarnya mujahadah mereka selama bulan Ramadhan? Serta seperti apa persiapan mereka dalam menyambut bulan itu? Tulisan kali ini akan mengupas bagamana para salaf dan ulama bermujahadah di bulan mulia itu.


Salaf Khatamkan Al Qur`an dalam Dua Rakaat!

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalam membacakan Al Qur`an kepada Rasulullah SAW, dan itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.

Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Al Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemuliaan bulan itu. (Fath Al Bari,9/52).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan dengan didasari keimanan dan keikhlasan, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Al Bukhari).

Karena itulah, para salaf dan ulama amat memperhatikan amalan tilawah, qiyam Ramadhan, serta pengkajian keilmuan, sehingga mereka siap bermujahadah dalam melakukan amalan-amalan itu.

Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.

Tidak hanya bermujahadah dalam menghatamkan Al Qur`an, dalam ibadah shalat, Imam Adz Dzahabi menyebutkan bahwa tabi’in ini melakukan shalat 6 ratus rakaat dalam sehari semalam. (Al Ibar wa Al Idhadh, 1/86).

Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini mengkhatamkan Al Qur`an sekali tiap bulan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau mengkhatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).

Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia mengkhatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).

Sedangkan Said bin Jubair, dalam Mir’ah Al Jinan, Al Yafi’i menyebutkan sebuah riwayat, bahwa di suatu saat tabi’in ini membaca Al Qur`an di Al Haram, lalu beliau berkata kepada Wiqa’ bin Abi Iyas pada bulan Ramadhan: “Pegangkan Mushaf ini”, dan ia tidak pernah beranjak dari tempat duduknya itu, kecuali setelah mengkhatamkan Al Qur`an.

Diriwayatkan juga dari Said bin Jubair, beliau pernah mengatakan: “Jika sudah masuk sepuluh hari terakhir, aku melakukan mujahadah yang hampir tidak mampu aku lakukan.”

Beliau juga menasihati: “Di malam sepuluh terakhir, jangan kalian matikan lentera.” Maksudnya, agar umat Islam menghidupkan malamnya dengan membaca Al Qur`an.

Thabaqat Fuqaha Madzhab An Nu’man Al Mukhtar, yang dinukil oleh Imam Laknawi dalam Iqamah Al Hujjah (71,72) disebutkan periwayatan bahawa dalam bulan Ramadhan Said bin Jubair mengimami shalat dengan dua qira`at, yakni qira`at Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit.

Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terakam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini. Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu mengkhatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu mengkhatamkan Al Qur`an sekali dalam sahari semalam. (Al Hilyah, 3/57).

Tidak ketinggalan pula Imam Mujahid, salah satu tabi’in yang pernah berguru langsung dengan Ibnu Abbas juga amat mashyur dengan mujahadahnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang shahih, bahwa tabi’in ahli tafsir ini juga menghatamkan Al Qur`an pada bulan Ramadhan di antara maghrib dan isyak.

Sebahagian besar ulama berpendapat bahwa Abu Hanifah termasuk pada golongan tabi`in, karena telah bertemu dengan sahabat Anas bin Malik. Banyak riwayat yang menegaskan bahawa beliau adalah ulama yang ahli ibadah. Yahya bin Ayub, ahli zuhud yang semasa dengan beliau mengatakan: Tidak ada seorangpun yang datang ke Makkah, pada zaman ini lebih banyak shalatnya dibanding dengan Abu Hanifah.

Karena itu beliau dijuluki Al Watad (tiang) karena banyak shalat (Tahdzib Al Asma, 2/220). Lalu, bagaimana amalan ulama ahli ibadah ini dalam bulan Ramadhan?

Orang yang melakukan shalat fajar dengan wudhu isya selama 40 tahun ini menghatamkan Al Qur`an 2 kali dalam sehari di bulan Ramadhan, pada waktu siang sekali, dan pada waktu malam sekali (Manaqib Imam Abu Hanifah, 1/241-242).

Bahkan disebutkan oleh Imam Al Kardari bahwa Abu Hanifah termasuk 4 imam yang bisa menghatamkan Al Qur`an dalam 2 rakaat, mereka adalah Utsman bin Affan, Tamim Ad Dari, Said bin Jubair, serta Abu Hanifah sendiri.

Persiapan Para Salaf Menghadapi Ramadhan

Jika di Bulan Ramadhan para salaf mampu melakukan amalan-amalan “berat”. Bagaimana persiapan mereka sebelum memasuki bulan suci ini? Ternyata para salaf sudah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Ini bisa dilihat dari mujahadah mereka sebelum Ramadhan.

Habib bin Abi Tsabit mengatakan: “Bulan Sya’ban adalah bulan qura` (para pembaca Al Qur`an)”. Sehingga pada bulan itu, para salaf konsentrasi terhadap Al Qur`an. Salah satu diantara mereka adalah Amru bin Qais, ahli ibadah yang wafat tahun 41 Hijriyah ini, ketika Sya’ban tiba, ia menutup tokonya dan tidak ada aktivitas yang ia lakukan selain membaca Al Qur`an.

Bulan Ramadhan di pandangan para salaf adalah bulan mulia yang amat dinanti-nanti, sehingga mereka mempersiapkan jauh-jauh untuk menyambut “tamu idaman” ini, yakni dua bulan sebelum bulan suci datang. Sudahkah mempersiapkannya sebagaimana para salaf bersiap-siap?


Ramadhan Para Ulama

Diungkap dengan gamblang di tulisan sebelumnya, gambaran mujahadah Ramadhan para salaf, khususnya para tabi’in. Lalu bagaimana dengan generasi sesudahnya? Ternyata masih ada juga dari kalangan ulama yang meneruskan “tradisi baik” ini.

Sebagai contah, Imam Syafi’i (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa mengkhatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an enam puluh kali dalam sebulan (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/ 45)

Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktiviti beliau agak berbeza dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majlis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jama’ah dengan wudhu isya’. Sekan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra, 6/10).

Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu mengkhatamkan Al Qur’an 90 kali, dan di hari biasa beliau mengkhatamkan sekali dalam sehari. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/294).

Adapun untuk mempersiapkan Ramadhan, kita bisa belajar dari Taqi Ad Din As Subki (756 H). Beliau memiliki kebiasaan dikala datang bulan Rajab, yakni tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk melakukan shalat wajib(fardhu), dan hal itu terus berjalan hingga Ramadhan tiba. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 10/168).

Ini ditempuh supaya beliau lebih bisa konstrasi(khusyuk) beribadah, sehingga ketika Ramadhan telah tiba, fizikal dan batin sudah memiliki kesiapan untuk melakukan dan meningkatkan mujahadah dalam beribadah.

Selain itu, adapula Khatib As Syarbini (977 H), ulama Mesir penulis Mughni Al Muhtaj, juga memiliki cara tersendiri agar bisa konsentrasi(khusyuk) melakukan ibadah ketika Ramadhan tiba. Yakni, tatkala terlihat hilal Ramadhan, beliau bergegas dengan perbekalan yang cukup untuk ber’itikaf di masjid Al Azhar, dan tidak pulang, kecuali setelah selesai menunaikan shalat ied. (lihat, biografi singkat As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj, 1/5)

Bukan hal yang mustahil

Dan informasi amalan salaf itu sulit untuk ditolak, karena periwatan tentang kabar mujahadah para salaf juga menyertakan sanad yang semua perawinya tsiqah, bahkan hingga kini sebagian tradisi itu masih tetap hidup di beberapa wilayah.

Di India pada abad 13 H atau kebiasaan shalat tarawih dengan mengkhatamkan 30 juz dalam semalam masih dilestarikan. Hal itu diketahui dari fatwa Imam Laknawi, ulama madzhab Hanafi dari India yang wafat 1304 H, mengenai bolehnya menghatamkan Al Qur`an 30 juz dalam semalam di waktu tarawih, guna merespon pertanyaan-pertanyaan mengenai kebiasaan umat Islam mengkhatamkan Al Qur`an dalam tarawih di zaman itu. (Iqamat Al Hujjah, 154)

Bahkan hingga kini di Mesir, khususnya di wilayah Hay (distrik) As Syafi’i Kairo, para huffadz Al Qur`an berkumpul untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid Ibad Ar Rahman, yang dimulai setelah Isya’ dan baru selesai ketika tiba waktu sahur, karena sang imam mengkhatamkan Al Qur`an hingga 30 juz, dengan bacaan yang agak cepat, tanpa mengabaikan tajwid dan makharij al huruf (tempat-tempat keluarnya huruf). Tentu, amat berat untuk bisa mengikuti shalat tarawih hingga selesai di masjid ini, kecuali bagi mereka yang punya azam tinggi dan telah hafal Al Qur`an 30 juz.

Bertentangan dengan Perbuatan Rasulullah?

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apakah perbuatan para ulama dan salaf, seperti menghatamkan Al Qur`an dalam sehari lebih dari sekali, meninggalkan tidur untuk qiyam lail, serta mujahadah lain tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu ‘anha? Yang berbunyi: “Aku tidak mengetahui Nabi Allah membaca Al Qur’an hingga pagi.” (Riwayat Ibnu Majah).

Begitu pula hadits dari Abdullah bin Amru, dimana Rasulullah bersabda: “Tidakkah aku dikabari bahwa engkau menghabiskan malam untuk shalat dan berpuasa di siang hari?” Aku menjawab, “benar.” Beliau mengatakan,”Sesungguhnya jika engkau melakukan hal itu matamu akan rusak dan hatimu akan lemah. Karena badanmu dan keluargamu memiliki hak, berpuasalah dan berbukalah, shalatlah dan tidurlah” .(Riwayat Al Bukhari).

Imam Laknawi menjelaskan bahwa nabi tidak melakukan amalan-amalan yang berat, karena takut memberatkan umatnya. Sebagaimana diterangkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha: ”Jika Rasulullah meninggalkan sebuah amalan yang beliau sukai, itu dikarenakan beliau takut jika manusia mengamalkannya, dan hal itu menjadi fardhu bagi mereka.” (Riwayat Al Bukhari).

Adapun mengenai hadist Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW mengetahui keadaan Abdullah, jika ia melakukannya maka justru akan membuatnya bosan dalam beribadah dan lalai terhadap kewajiban yang lain. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menasehatinya.

Kesimpulannya, amalan memperbanyak ibadah tetap dibolehkan, selama tidak melalaikan kewajiban lain. Karena dalam hadits riwayat Al Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw. melakukan shalat malam hingga kaki beliau bengkak. Di kesempatan lain beliau juga memerintahkan kepada beberapa sahabat agar malakukan amalan sesuai dengan kemampuan. Tentu, kemampuan masing-masing pribadi berbeda-beda. Dan Rasulullah SAW juga memerintahkan kita untuk mengikuti para sahabat beliau. Dan banyak sahabat beliau yang melakukan mujahadah dalam Ibadah, dan itu tidak diingkari oleh sahabat lain.

Ramadhan di Yaman: Khatamkan Shahih Al Bukhari

Yaman, walau terletak di wilayah yang “kurang strategik”, seperti Hijaz, yang selalu dikunjungi umat Islam dari seluruh negeri untuk haji dan ziarah serta tanahnya yang tandus, sehingga jarang disinggahi pedagang, tetapi Yaman memiliki “nuansa” tersendiri bagi para penuntut ilmu. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani adalah salah satu dari mereka yang tertarik , hingga beliau mengunjungi negeri ini untuk menimba ilmu.

Itu disebabkan karena di Yaman banyak terdapat ulama, dan memiliki tradisi keilmuan yang cukup kental, sehingga memberi kontribusi (sumbangan) besar lahirnya para ulama fiqh dan hadits. Imam Al Umrani (558 H), penulis Al Bayan, Al Quraidhi Al Lahji (576 H), penulis Al Mustashfa, As Shan’ani (1182 H) penulis Subul Al Salam, Imam As Syaukani (1250 H), penulis Nail Al Authar, atau Abdurrahman Al Ahdal Al Yamani (1258 H) penulis Hasyiyah Syarh Al Madhal, semuanya termasuk deretan ulama negeri itu, yang tidak diragukan kapasitasnya, baik dalam fiqih maupun hadits. Maka benarlah sabda Rasulullah Saw.:”Iman dari orang Yaman, Fiqih dari orang Yaman, Hikmah Yaman.” (Riwayat Al Bukhari)

Hal ini tidaklah mengherankan, karena, baik ulama maupun awam mereka memiliki perhatian terhadap ilmu, terutama Sunnah, apalagi terhadap Shahih Al Bukhari. Mereka semangat mengkaji, berlomba-lomba menghafal dan memperoleh sanad. Sehingga aktivitas menyimak Shahih Al Bukhari “menghidupkan” masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan rumah-rumah penduduk.

Shahih Al Bukhari diprioritaskan, karena diakui oleh para ulama bahwa kitab ini memiliki derajat lebih tinggi dibanding kitab hadits lain.

Pada tahap selanjutnya, menyebarlah “tradisi positif” di berbagai wilayah Yaman, yakni dengan menjamurnya halaqah Shahih Al Bukhari di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.

Imam Al Ahdal menjelaskan beberapa alasan, kenapa dipilih Rajab sebagai waktu permulaan halaqah. Karena bulan itu sudah mendekati Ramadhan, yang mana di dalamnya syariat puasa, zakat, qiyam lail digalakkan, sehingga umat Islam lebih memahami amalan-amalan itu. Apalagi setelah itu diikuti amalan haji yang menyangkut manasik dan safar. (Al Mustashfa,15)

Disamping itu, dengan adanya halaqah ini, maka mereka sudah terbudaya dengan aktiviti positif, yakni thalabul ilmi(menuntut ilmu) , sehingga setelah memasuki bulan Ramadhan, waktu tetap terisi dengan amalan mulia.

Membaca Shahih Al Bukhari yang dilakukan untuk menyambut Ramadhan ini mulai muncul di awal masa pemerintah Bani Rasul pada tahun 625 H. Dimana penguasa itu memiliki perhatian besar terhadap keilmuan, khususnya hadits dan memulyakan para ulamanya.

Al Hazraji pernah merekam aktiviti ini pada tahun 881 H, dimana di awal bulan Rajab, para fuqaha berkumpul di daerah Zabid, Yaman. Lalu mereka bersama-sama menuju Ibnu Yaqub As Syairazi agar ia bersedia membacakan Shahih Al Bukhari. Di kota yang mendapat julukan madinah ilmi itu para ulama yang hadir untuk menyimak Shahih Al Bukhari mencapai 800 orang. (Al ‘Uqud Al Lu’lu’iyah, 2/249,250).

Selain di Zabid, di kota Al Marawa’ah juga terdapat halaqah Shahih Al Bukhari yang telah dirintis oleh Al Ahdal Ali bin Umar (607 H), dan hingga kini “tradisi” itu juga masih hidup, khususnya halaqah yang dimulai bulan Rajab.

Kota Bait Faqih pun tidak ketinggalan, halaqah Shahih Al Bukhari di wilayah itu dirintis oleh keluarga Alu Jam’an, yang dikenal sebagai keluarga yang amat mencintai ilmu, periwayatan hadits dan fatwa.

Sedangkan di kota Adn, halaqah kitab yang dinilai paling shahih setelah Al Qur’an itu lebih mudah ditemui, karena terdapat di lebih dari satu tempat. Yakni di masjid Syeikh Abdullah Al Amudi (697 H), masjid Husain Sidiq Al Ahdal (903 H), masjid Al Atsqalani yang dinisbatkan kepada Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani yang pernah tinggal di kota ini selama 6 bulan. Di masjid itu Syeikh Al Muhadits Al Bijani (1391 H) juga mengajarkan Shahih Al Bukhari, sehingga saat ini masjid itu dikenal dengan masjid Al Bijani. Di kota Abyat Husain juga masih terdapat halaqah ini.

Halaqah Shahih Al Bukhari seperti jamur di musim hujan, beberapa kota seperti Zaidiyah, Dhuha, Al Hadidah, dan Ta’z juga masih hidup. Halaqah itu juga biasa dijumpai di komuniti Hadrami.

Oleh karena itu, banyak Muslim Yaman yang memiliki sanad yang menyambung hingga Imam Al Bukhari, dan sanad itu masih terus tersambung sampai zaman ini, yang merupakan lanjutan dari rantai periwayatan para ulama dan hufadz ternama di setiap zaman.

Sesuai dengan perkataan para salaf ,”Bulan Rajab untuk menanam, Sya’ban untuk menyiram dan Ramadhan untuk menyemai”. Rupanya, umat Islam Yaman tidak hanya menyemai pahala amalan pada bulan itu, karena banyak pula ilmu yang berhasil mereka “reguk” selama tiga bulan. Sehingga ilmu dan amal selalu beriringan.

Sumber : https://almanar.wordpress.com/2008/12/17/mujahadah-para-salaf-dan-ulama-di-bulan-ramadhan/

Ahad, 17 Mei 2015

JAWAPAN KEPADA ISU-ISU BERKAITAN KIT ANTI HISTERIA MANARA



Oleh : Dr Mahyuddin Ismail 

Tanpa disangka, pelancaran Kit Anti-Histeria telah mencetuskan ‘histeria’ dalam masyarakat. Pelbagai komen, positif dan negatif, diutarakan dalam pelbagai aspek. Setiap orang ada hak untuk memberikan komen, dan setiap orang bertanggungjawab di hadapan Allah atas apa yang diluahkan.

ISU TEKNOLOGI DALAM PENGHASILAN KIT

Idea untuk menghasilkan kit ini bermula dari kes histeria di Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Tanjung Lumpur, Kuantan sekitar tahun 2008. Warga Kuantan pasti tahu betapa haru-birunya keadaan masa itu kerana kes tersebut berlarutan. Kejadian yang serupa turut berlaku di beberapa sekolah di seluruh negara sehingga ke hari ini. Pelbagai kaedah, sama ada yang betul mahupun yang salah, telah digunakan. Menyedari masalah ini, satu penyelesaian perlu dicari.

Pada 2012, kertas cadangan kajian yang memperincikan permasalahan yang dihadapi, telah dibentangkan kepada panel penilai projek penyelidikan UMP. Dengan kesedaran bahawa isu ini memerlukan suatu bentuk penyelesaian yang kreatif, maka Universiti Malaysia Pahang (UMP) meluluskan geran penyelidikan dalaman berjumlah RM 15,000.00. Dengan dana itulah, maka saya menjelajah ke beberapa buah negeri di Malaysia untuk mengutip data di sekolah-sekolah yang pernah mengalami histeria. Itu adalah permulaan proses mengutip data secara rasmi dan tersusun. Selama 10 tahun sebelum itu, saya turut terlibat untuk menangani histeria di sekolah-sekolah, tetapi tanpa catatan terperinci dan tanpa dana dari mana-mana pihak.

Dengan kerjasama Pusat Rawatan al-Manarah, saya diberikan kebenaran untuk memodifikasi kaedah dan pendekatan yang diguna pakai selama 20 tahun bagi merawat individu yang terkena gangguan makhluk halus. Melalui modifikasi ini, kaedah rawatan tersebut ditambah baik dengan penggunaan bahan yang selamat dan mudah-kendali.

Kajian tersebut telah berjaya disiapkan mengikut jadual. Kali pertama ia dibawa kepada pengetahuan umum dalam Malaysian Technology Expo (MTE). Kit ini diletakkan dalam kategori peralatan paramedik. Namun perbezaan pandangan juri yang kurang terdedah dengan dunia alam metafizik telah menyebabkan ia ditolak mentah-mentah. Dari situ, saya menyedari bahawa laluan kit ini pasti berliku.

Dengan panduan Al-Quran dan hadis, saya mempunyai keyakinan yang tinggi bahawa terdapat pelbagai rahsia berkaitan alam metafizik yang mampu kita terokai dengan bantuan peralatan teknologi. Jika selama ini teknologi hanya tertumpu kepada bidang kejuruteraan dan mesin, maka sampai masanya teknologi untuk sesuatu yang bersifat tidak ketara (intangible) perlu diteroka. Revolusi industri yang dipelopori pihak Barat telah meninggalkan kita sejauh 150 tahun ke belakang. Namun, dalam aspek spiritual, peluang masih ada untuk kita menjadi pemandu kepada mereka. Di Jepun, agensi yang mengkaji perkara ini telah wujud seperti Hado Institute Tokyo. Oleh yang demikian, tidak mustahil kit ini menjadi perintis kepada kajian-kajian dalam bidang metafizik yang berasaskan teknologi.

ISU JUAL AGAMA

Apabila isu menjual agama dibangkitkan, saya berpendapat bahawa setiap orang ada hak untuk memberikan komen, dan setiap orang bertanggungjawab di hadapan Allah atas apa yang diluahkan.
Apabila dilantik sebagai pengarah di Pusat Islam UMP, perkara yang berkaitan akidah dan syariat menjadi agenda utama kepada saya untuk diperjuangkan. Salah satu aspek yang diberikan tumpuan ialah aspek perubatan tradisional dan pengubatan Islam yang turut diresapi unsur-unsur yang bersalahan dengan akidah dan syariah. Maka pelbagai usaha untuk menyelamatkan akidah umat Islam dilakukan termasuklah melalui penyelidikan, penulisan, penerbitan, ceramah, bengkel dan hebahan.

Banyak isu dan permasalahan telah diketengahkan sama ada kepada pihak berkuasa mahupun secara personal kepada individu-individu yang bertanya. Mungkin perkara ini menimbulkan rasa tidak puas hati dalam kalangan pengamal perubatan yang terlibat dengan amalan khurafat. Produk ini diperkenalkan dengan matlamat utama untuk membantu menyelamatkan akidah masyarakat. Isu menjual agama tidak timbul dalam hal ini, bahkan produk ini sebenarnya menyelamatkan akidah dan syariat seseorang muslim.

Apabila ada syor agar isu kit ini dibawa kepada Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia, maka ia adalah cadangan yang baik kerana ada banyak lagi penyelewengan dan bid'ah dalam perubatan Islam yang perlu diputuskan hukumnya yang terdapat dalam fail simpanan saya.

Menyamakan kit ini dengan kaedah yang digunakan dalam sesetengah agama lain merupakan analogi yang tidak tepat. Perbuatan sedemikian lebih mirip kepada perbuatan pihak gereja di zaman gelap Eropah yang menyekat perkembangan ilmu sains teknologi. Paderi menuduh ianya sebagai amalan bid’ah dan ia adalah cabang ilmu sihir. Jika sikap begini diamalkan oleh agamawan kita, sudah pasti akan membawa kepada kemunduran dan rigid dalam agama Islam. Sepatutnya pihak berkaitan meminta pencerahan (tabayun) tentang isu ini, bukannya meletakkan foto dan membiarkan orang awam meneka tanpa ilmu. Sekiranya betul, maka selamatlah. Jika salah, maka dosa fitnah atas perbuatan tersebut perlu ditanggung.

ISU PERBEZAAN SUDUT PANDANG TERHADAP HISTERIA

Semangat "Berani Berbeza" yang diterapkan kepada warga UMP oleh YH Dato NC kami memberi dorongan kepada saya untuk memandu kajian rentas dalam bidang bersangkutan alam fizikal dengan alam metafizik. Cabaran untuk menemukan titik persetujuan antara kedua-dua bidang ini dalam persekitaran UMP yang berteraskan teknologi memerlukan saya untuk berfikir dengan lebih kreatif. Sikap terbuka pentadbiran UMP dalam mendepani masalah ummah melalui pendekatan teknologi memberikan kekuatan kepada saya.

Kajian tentang histeria dan kit ini adalah suatu sampingan sahaja. Bidang tujahan saya ialah tentang perundangan berkaitan sihir. Saya sendiri mengetuai Jawatankuasa Mengkaji Penggubalan Undang-undang Jenayah Sihir Malaysia yang dianggotai oleh lebih kurang 39 orang ahli panel dari pelbagai bidang. Kajian yang dilakukan oleh jawatankuasa ini merupakan satu bentuk kajian rentas bidang (trans-boundaries) yang mencantumkan beberapa bidang ilmu iaitu undang-undang jenayah, undang-undang acara, undang-undang keterangan, sains forensik, perubatan moden, perubatan tradisional dan ilmu berkaitan mistik dan okultisme. Kesemua bidang ini digabungkan untuk menghasilkan satu kaedah yang praktikal bagi tujuan pembuktian kesalahan melibatkan ilmu sihir.

Kit histeria juga dihasilkan atas dasar yang sama. Saya mengambil kira pelbagai aspek bidang berkaitan dalam usaha untuk menangani kejadian histeria termasuk bidang psikatrik. Oleh yang demikian, apabila pakar psikatrik mengatakan bahawa histeria hanya boleh disembuhkan melalui perubatan psikatrik, maka ia adalah satu kenyataan yang perlu dipertimbangkan. Ilmu Allah itu terlalu luas dan jalan untuk sampai kepada kebenaran itu terlalu banyak.

Saya memberikan penghormatan yang tinggi kepada sumbangan dan pencapaian bidang psikiatri. Ada masa, saya berdepan dengan kes kerasukan yang hanya mampu ditangani oleh pakar psikiatri sahaja, dan ada masa saya berdepan dengan kes histeria yang pakar psikiatri sendiri tidak mampu menghadapinya. Pada hemat saya, ilmu dan kepakaran yang kita miliki ini perlu dipadukan untuk tujuan kebaikan kepada masyarakat, bukan untuk mendabik dada bahawa kita adalah champion dalam bidang itu. Garis panduan pengurusan Histeria oleh Kementerian Pendidikan Malaysia, saya kira sudah cukup baik kerana banyak aspek psikiatri yang diguna pakai. Namun, ketiadaan intervensi spiritual semasa kejadian histeria merupakan kelompangan yang perlu diisi melalui sikap terbuka terhadap bidang yang kita tidak tahu.

ISU EVIDENCE BASED

Ramai orang mengutarakan bahawa kajian sebegini perlu berpaksikan kepada evidence-based medicine. Saya juga ingin menegaskan bahawa kajian ini adalah berdasarkan real-case scenario. Tinjauan rambang yang saya dilakukan ke atas sekolah-sekolah menengah di Pahang pada tahun 2012 menunjukkan hampir 61% sekolah menengah di Pahang pernah mencatatkan kejadian histeria. Jika saintis menggunakan makmal untuk menjalankan ujikaji, maka makmal saya ialah lokasi histeria itu sendiri. Saya telah menjejakkan kaki selama 11 tahun di lokasi-lokasi histeria. Sepanjang tempoh itu, saya menyiasat dan menganalisi punca berlakunya histeria serta menguji keberkesanan kaedah dan bahan yang digunakan. Kit ini telah diuji pakai dengan jayanya di 11 buah institusi pengajian dan jabatan kerajaan yang mengalami gangguan histeria dan kerasukan pada tahun 2014.

Bagi pengkaji seperti saya yang telah berdepan kes histeria lebih dari 11 tahun, saya menyaksikan impak negatif akibat kejadian histeria terutama mass hysteria. Jika di sekolah, proses pembelajaran terganggu sehingga ada institusi yang terpaksa ditutup sementara waktu bagi memulihkan keadaan. Selain menganggu emosi, ada juga kes histeria dan kerasukan yang menyebabkan kecederaan dan kehilangan nyawa.

Pengalaman menyaksikan kaedah perubatan yang bertentangan dengan akidah dan syariah seperti membuang ancak, menangkap dan memindahkan jin, menggunakan tangkal, menjamu makhluk halus menguatkan tekad untuk saya meneruskan kajian ini.

Justeru, dengan adanya Kit Anti-Histeria Manara akan dapat membantu pihak-pihak berkaitan untuk menangani kes-kes histeria yang berlaku dengan mudah, cepat dan selamat. Ia juga secara tidak langsung dapat menyelamatkan umat Islam dari terjebak amalan khurafat. Justeru, mengatakan produk ini adalah agenda tersembunyi yahudi adalah sesuatu yang tidak logik. Dalam hal ini, pendirian saya tetap sama. Setiap orang ada hak untuk memberikan komen, dan setiap orang bertanggungjawab di hadapan Allah atas apa yang diluahkan.

ISU BERKAITAN DALIL TERHADAP BAHAN YANG DIGUNAKAN

Laporan media menyebutkan bahawa Naib Canselor UMP mengatakan terdapat dalil dari al-Quran dan hadis yang menunjukkan bahawa jin dan syaitan takut kepada garam, lada hitam dan limau nipis. Laporan tersebut ada dua kesilapan. Yang pertama, Naib Canselor tidak pernah menyatakan yang sedemikian. Yang kedua, kami tidak pernah menyebut adanya dalil sedemikian. Yang sebetulnya ialah, melalui pengalaman dan pemerhatian, dan telah dibuktikan dalam banyak kes yang dihadapi bahawa makhluk halus yang meresap dalam tubuh mangsa tidak tahan atau alah dengan bahan yang mempunyai salah satu dari 3 sifat berikut iaitu masam (seperti cuka dan limau nipis), pedas (seperti lada dan lada hitam) dan masin (seperti garam). Memang tidak ada nas yang menyebutkan demikian. Namun dapat dilihat bahawa garam pernah digunakan oleh Rasulullah untuk menghilangkan bisa terkena sengatan kala jengking, maka penggunaannya tidak menjadi sesuatu yang menyalahi akidah dan syariah. Banyak lagi rahsia dan manfaat garam yang kita tidak tahu.

Penggunaan bahan bersifat pedas pula merupakan hasil pemerhatian kami kepada gejala yang dialami oleh mangsa histeria. Dalam beberapa kes yang dirawat, mangsa histeria yang dalam kerasukan meminta hidangan ayam yang dimasak tawar, tidak pedas, sebagai syarat untuk keluar. Selain itu, pengalaman melihat petua orang-orang tua dahulu yang menyemburkan mata orang kerasukan dengan lada hitam. Selain itu, mata manusia adalah antara sasaran utama syaitan untuk menimbulkan khayalan dan rasukan sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam kisah Nabi Musa berdepan dengan ahli sihir Firaun. Maka, pada hemat saya, penggunaan bahan tersebut bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan akidah dan syariat terutama apabila mangsa histeria bersifat agresif sehingga mahu terjun dari bangunan tinggi.

Begitu juga penggunaan sesuatu yang masam seperti cuka dan limau nipis. Memang telah diketahui bahawa bahan-bahan ini mempunyai khasiat tertentu. Cuma dalam kit Anti-Histeria ini, cuka getah atau asid formik digunakan untuk kawasan yang dikenal pasti ‘keras’. Dalam kebanyakan kes yang dikaji, mangsa histeria mendakwa melihat istana, mahligai, perkampungan dan lembaga-lembaga yang aneh di kawasan sekolah. Besar kemungkinan kawasan itu menjadi kediaman makhluk halus yang merasuk mangsa. Cara paling mudah untuk menghapuskan penempatan ini ialah dengan menyembur asid formik di persekitaran kawasan tersebut.

Kesemua bahan ini bebas unsur metafizik atau mistik. Ianya boleh digunakan oleh sesiapa sahaja dengan syarat telah menjalani kursus penggunaannya.Penggunaan Kit adalah berdasarkan kepada prinsip ABC iaitu ANALISIS-BERTINDAK-CEGAH.

ISU HARGA KIT ANTI HISTERIA

Antara isu yang menjadi bahan kritikan ialah berkaitan harga. Sememangnya bahan yang terdapat dalam kit ini boleh didapati dengan mudah di pasaran. Jika dinilai harga kos bahan, alat kelengkapan dan pembungkusannya, nilainya mungkin tidak mencecah angka RM1,000.00 pun. Bahkan, sesiapa sahaja boleh mendapatkannya di kedai-kedai atau di dapur-dapur rumah. Namun, melalui pengalaman selama 11 tahun berdepan dengan kes histeria, ia bukanlah semudah membeli sebiji panadol untuk sakit demam. Pelbagai kemungkinan akan kita hadapi.

Sebagai penyelidik yang menjalankan kajian field work secara holistik, menangani histeria bukanlah suatu cerita berbentuk teori dan prinsip semata-mata, tetapi mesti ditangani secara realistik. Setelah mengambil kira aspek persediaan sebelum kejadian, kesan impak setelah kejadian dan risiko yang bakal ditanggung oleh mereka yang terlibat, maka satu implikasi kewangan yang merangkumi segala kemungkinan ini disediakan. Oleh yang demikian, aplikasi kit ini sebenarnya bukan terletak hanya pada bahan, tetapi cara pengendalian yang betul adalah lebih penting. Kepentingan perkara ini telah dikaji dengan sedalamnya bagi mengurangkan kos dan risiko, dan memaksimakan keberkesanannya. Anda pasti terkejut apabila saya katakan bahawa, berdasarkan rekod, ada perawat yang mengenakan bayaran antara RM 5,000 hingga RM 30,000.00 kononnya untuk memindahkan jin dari kawasan tersebut. Apabila kes berulang, mereka berlepas tangan. Sudahlah amalan itu bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, kes masih tidak selesai dan duit hangus.

Penjualan kit ini adalah terkawal. Ia hanya akan dijual kepada institusi, bukan kepada individu. Dengan pembelian kit ini, 2 orang kakitangan institusi tersebut akan diberikan kursus dan latihan. Ini bagi memastikan ianya digunakan secara betul dan mengikut prosedur. Segala kos termasuk bahan kursus, logistik, bayaran fasilitator dan makan minum sepanjang kursus telah diserap ke dalam pakej kit.

Kes histeria ini mempunyai pelbagai variasi dan beragam. Oleh kerana kit ini adalah kit pertolongan cemas, maka ianya sesuai digunakan bagi kes-kes yang dalam jangkaan. Sekiranya kes yang dihadapi itu bersifat di luar jangka, maka pakar rawatan dari Al-Manarah akan turun sendiri untuk melihat situasi sebenar sehingga masalah benar-benar selesai. Maka kos perjalanan, masa, tenaga dan kepakaran perawat perlu diambil kira.

Begitu juga sekiranya histeria itu melibatkan kes-kes kronik seperti penyakit genetik atau saka keturunan. Rawatan menggunakan kit anti-histeria adalah tidak memadai. Oleh yang demikian, mangsa dan keluarganya perlu diberikan rawatan secara intensif di pusat rawatan al-Manarah.
Harga pakej ini juga merangkumi kos pengurusan risiko. Ini kerana terdapat bahan-bahan yang berbahaya dalam kit ini seperti asid formik. Maka pengurusan risiko seperti rekod penggunaan dan butiran pengguna perlu disimpan dan ia pasti melibatkan kos. Ianya adalah sebagai langkah berhati-hati sekiranya berlaku sesuatu yang tidak diingini. Kami turut menyediakan khidmat nasihat atas talian bagi membantu pihak institusi untuk berdepan dengan kes histeria.

Prinsip dan etika sebagai penyelidik ialah mengkaji suatu masalah dan menyediakan suatu penyelesaian holistik dengan mengambil kira segala sudut dan kemungkinan yang akan berlaku. Penyediaan kit ini bukanlah suatu kerja sehari dua atau sebulan dua. Justeru, jika ada pihak yang mempertikaikan harga, maka itu terpulang kepada persepsi masing-masing.Setiap orang ada hak untuk memberikan komen, dan setiap orang bertanggungjawab di hadapan Allah atas apa yang diluahkan. Mereka juga mempunyai hak dan peluang untuk menyediakan sendiri kit ini tanpa bantuan kami. Cuma, sejauh mana keberkesanannya, terpulang kepada kepakaran masing.

PUNCA KONFLIK

Antara punca isu ini digembar gemburkan ialah tajuk yang disensasikanoleh media iaitu ‘penunduk setan’ dan ‘penghalau makhluk halus’. Sebagai penyelidik, kami mengelakkan dari menggunakan perkataan-perkataan yang bersifat demikian. Apa yang ditekankan ialah Kit Anti Histeria. Tetapi media menggunakan istilah yang lebih provokatif. Media tidak bersalah kerana itu adalah antara resepi untuk menarik perhatian pembaca. Apa yang ingin saya tekankan ialah, kit ini bukan kit penunduk setan atau penghalau makhluk halus, tetapi adalah kit bantuan untuk mengatasi masalah histeria.

Pada 15 Mei 2014, saya berkesempatan membentangkan kertas kerja berkaitan masalah rasukan bersama Profesor Dr. Mohamad Hatta Shaharom, pakar psikiatri di Cyberjaya University College of Medical Sciences yang juga Timbalan Presiden, Pertubuhan IKRAM Malaysia. Beliau mengingatkan bahawa saya akan berdepan dengan dua golongan yang mempertikaikan kajian yang saya lakukan. Satu pihak iaitu pengamal perubatan klinikal yang sekular dan tidak menghiraukan aspek religio-spiritual dan menolak amalan-amalan kerohanian seperti doa dan munajat. Satu pihak lagi ialah pengamal perubatan spiritual yang hanya menekankan aspek kerohanian sahaja tanpa mengambil kira aspek biologikal, psikologikal dan sosial.

Pada pendapat saya, boleh jadi ‘histeria terhadap kit anti-histeria’ yang muncul ini ada kemungkinan dicetuskan oleh golongan yang sukar menerima teknologi dalam perubatan spiritual lalu merebak menjadi epidemik dan berjangkit kepada orang awam yang tidak bersalah sehingga ada yang menjerit dan meracau dalam media sosial. Bagi saya, setiap orang ada hak untuk memberikan komen, dan setiap orang bertanggungjawab di hadapan Allah atas apa yang diluahkan.

PERKEMBANGAN POSITIF

Di sebalik kontroversi kit histeria ini, ada juga maklum balas dan respon positif terutama dari mereka yang hadir mendengar pembentangan saya dan Tuan Guru Dr Haji Jahid Sidek semasa sesi pelancarannya. Ada yang menyatakan bahawa usaha ini suatu yang bagus dan boleh membantu mereka untuk berdepan dengan kes histeria. Beberapa agensi kerajaan dan swasta serta NGO berminat untuk mengadakan sesi penerangan kaedah mengatasi histeria dan mengadakan penyelidikan bersama dalam bidang paranormal secara lebih saintifik. Insya Allah, kajian dalam bidang ini akan diteruskan. Sebenarnya, ada banyak lagi produk seumpama ini yang akan dilancarkan dan didedahkan kepada umum.

Ketika melakukan kajian tentang undang-undang sihir, situasi yang sama turut berlaku. Orang yang tidak tahu menahu tentang undang-undang lebih banyak memberi komen berbanding pengamal undang-undang. Tetapi apabila kajian tersebut siap dan dibentangkan kepada jawatankuasa teknikal undang-undang syarak dan sivil JAKIM, maka ia bukanlah suatu yang mustahil. Malah pihak media turut menunjukkan minat terhadap isu ini.

Tentang cadangan agar penyelidik dianugerahkan Nobel Prize, ianya suatu cadangan yang baik walaupun berbentuk sinikal. Setiap orang ada hak untuk memberikan komen, dan setiap orang bertanggungjawab di hadapan Allah atas apa yang diluahkan. Jauh di lubuk hati saya, mendapat kurniaan Allah dalam bentuk ilmu untuk dimanafaatkan bagi kesejahteraan insan itu adalah suatu anugerah yang lebih bernilai dari mana-mana anugerah.

Sekian sahaja. Mohon maaf kerana Kit Anti-Histeria ini, anda terkena ‘histeria’.

Dr Mahyuddin Ismail
4 Mei 2015.

Sumber : https://www.facebook.com/mahyuddin.ismail.3/posts/1127801367245607?fref=nf&pnref=story

Sabtu, 9 Mei 2015

Ringkasan Tentang Hadrah Sufiyyah (Zikir dalam Gerakan)

Oleh : Ustaz Raja Ahmad Mukhlis

Hadrah Sufiyyah atau berzikir dalam suatu gerakan yang tersusun samada berdiri ataupun duduk, merupakan suatu amalan yang sangat terkenal diamalkan oleh sesetengah golongan sufi, yang berkembang dari suatu zaman ke suatu zaman. Ia bukan suatu perkara baharu tetapi telah dibahaskan oleh para ulama' sejak zaman dahulu. Sesetengah para ulama' membahaskannya dalam bab al-sama' wal wajd dengan pelbagai dalil-dalil yang syar'ie daripada al-Qur'an (surah Ali Imran: 191), hadis nabawi (antarany hadis orang habsyi yang menari sambil menyebut Muhammad (shollallahu 'alaihi wasallam) hamba (Allah) yang soleh dan sebagainya) dan perkataan para ulama' muktabar.

Sememangnya, para ulama' berselisih pendapat mengenai perinciannya, antara yang membenarkan dan melarangnya. Bahkan, dalam kalangan para ulama' yang membenarkannya pun, mereka menggariskan adab ketika melakukannya dan memberi keuzuran kepada gerakan yang berlebihan disebabkan wajd (dapatan rohani). Pergerakan tersebut dikenali juga sebagai al-Tawajud (atau gerakan tubuh untuk mendapatkan kehadiran hati terhadap hal daripada zikir).

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat ke-191 yang bermaksud:

(Iaitu) orang-orang Yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): "Wahai Tuhan kami! tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini Dengan sia-sia, Maha suci engkau, maka peliharalah Kami dari azab neraka.

Jika bergoyang atau bergerak ketika berzikir secara duduk dibenarkan sebagaimana ianya sering dilakukan, bagaimana pula pergerakan ketika berzikir secara berdiri justeru diharamkan pula? Ia suatu neraca dan ukuran yang tidak jelas.

Justeru, dalam masalah tawajud ini, hatta al-Sheikh Ibn Qayyim al-Jauziyyah sendiri menyebutkan:

صاحب التواجد إن تكلفه لحظ وشهوة ونفس لم يسلم له وإن تكلفه لاستجلاب حال أو مقام مع الله سلم له وهذا يعرف من حال المتواجد وشواهد صدقه وإخلاصه
Adapun empunya al-tawajud (orang yang melakukan tawajud) jika memberatkannya (faktor penyebabnya adalah) perhatian dan syahwat nafsu, maka tidak sejahtera/baik untuknya (melakukannya). Namun jika yang mendorongnya itu adalah untuk mendapat tarikan hal atau maqam bersama Allah SWT, maka baik/sejahtera baginya. Maka ini diketahui daripada hal orang yang bertawajud dan tanda-tanda kejujuran dan keikhlasannya. [Madarij al-Salikin 3/413]

Maka, kita dapati al-Imam Ibn 'Abidin dalam Hasyiyyahnya (begitu juga ianya disebut oleh al-Izz bin Abd al-Salam al-Shafi'e) menyebutkan:


ما في التواجدِ إن حققتَ من حـــــرجٍ *** ولا التمايلِ إن أخلصتَ من باسِ
Maksudnya: Tiada pada tawajud itu jika anda benar (mencari hal hubungan rasa kepada Allah SWT) daripada kesalahan,
Sebagaimana tiada masalah pada goyang jika anda ikhlas (mencari fokus kehadiran hati kepada Allah SWT)

Selain dalil-dalil umum yang disebutkan oleh para ulama' daripada al-Qur'an dan Hadis, Al-Imam Ibn al-Jauzi (dalam kitab al-Tabsirah) dan al-Imam IBn Kathir (dalam al-Bidayah wa al-Nihayah), pernah meriwayatkan daripada Abu Arakah, bahawa ketika beliau solat bersama Saidina Ali RA, beliau melihat para sahabat RA berzikir lalu antara ungkapan beliau:

فإذا أصبحوا فذكروا الله مادوا [أي تحركوا] كما يميد الشجر في يوم الريح

Maksudnya: Ketika mereka berpagi-pagian, maka mereka berzikir kepada Allah SWT, mereka bergerak-gerak seperti geraknya pokok pada hari angin bertiup.

Setelah al-Imam al-Hafiz al-Suyuti menerangkan tentang keharusan berzikir berdiri berdasarkan dalil al-Qur'an dan Hadis, lalu beliau menyambung perbahasannya:

وإن انضم إلى هذا القيام رقص أو نحوه فلا إنكار عليهم ، فذلك من لذات الشهود أو المواجيد

Maksudnya: Walaupun jika bercampur pada berdiri tersebut (zikir dalam keadaan berdiri tersebut) tarian atau seumpamanya, maka tiada ingkar ke atas mereka. Ia kerana itu daripada kelazatan penyaksian (Allah SWT dengan hati) atau mawajid (dapatan rasa hati yang indah) [al-Hawi lil Fatawi]

Maka, Hadrah Sufiyyah atau gerakan dalam berzikir sebagaimana yang dipegang oleh majoriti ulama' termasuk sufi perlu dilakukan dalam keadaan yang menjaga adab dan tertib, tidak berlaku perkara-perkara yang diharamkan padanya seperti percampuran antara lelaki dan perempuan ,dan sebagainya. Adapun jika berlaku pergerakan yang di luar kawalan, maka ia dimaafkan sebagaimana disebut oleh ramai ulama'.

Sebagai penutup, dinukilkan nukilan al-Imam al-Safarini al-Hanbali ini sebagai pelajaran:

نقل إبراهيم بن عبد الله القلانسي أن الإمام أحمد قال عن الصوفية: لا أعلم أقواماً أفضل منهم قيل: إنهم يستمعون ويتواجدون، قال: دعوهم يفرحون مع الله ساعة.
Maksudnya: Dinukilkan oleh Ibrahim bin 'Abdillah al-Qallanisi bahawa al-Imam Ahmad berkata tentang golongan Sufi: "Saya tidak tahu suatu kaum lebih mulia daripada mereka". Dikatakan: "Mereka mendengar nasyid-nasyid dan bertawajud (bergerak-gerak sambil mendengarnya)." Beliau (Imam Ahmad) berkata: "Biarkanlah mereka bergembira dengan Allah SWT sejenak." [Kitab Ghiza' al-Albab] 

Wallahu a'lam...

Sumber  : https://www.facebook.com/notes/raja-ahmad-mukhlis/ringkasan-tentang-hadrah-sufiyyah-zikir-dalam-gerakan/1090818464278664?pnref=story


Bacaan Tambahan : Analisis Ilmiyyah 10 Kesilapan Artikel Dr Zulkifli Al Bakri Isu Zikir Menari

KONGSIKAN

Jom Ikut Kuliah Agama Secara Online!

Jom Menuntut Ilmu !

Ahli Aqidah/Usuluddin/Tasawuf

Ahli Tafsir/Usul Feqh/Feqh/Feqh Perbandingan

Ahli Hadith

Ahli Mazhab Syafie

Ahli Perubatan Islam

Ahli Psikologi/Kaunseling

Ahli Perbandingan Agama

Ahli Bahasa Arab

Ahli Qira'at / Tajwid

Ahli Pemikir Islam

Ahli Kajian Dan Penyelidikan