CARIAN ILMU DI JOMFAHAM :

Sabtu, 28 September 2013

Berhati-hati Dengan Buku Dr Aidh Al Qarni Yang Berisikan Pengkafiran Terhadap Ulamak dan Umat Islam

Dr Aidh Al Qarni adalah seorang penulis dakwah yang berjaya melariskan buku-buku beliau dengan 'penulisannya' dengan menarik ramai pembaca untuk membelinya. Melalui kajian yang telah kami lakukan setelah membeli buku-bukunya kami dapati terdapat bukti yang banyak beliau terlibat dalam mengatakan kafir dan bid'ah sesat tanpa hak terhadap ulamak dan umat Islam.

Menghukum kafir tanpa hak ke atas ulamak dan umat Islam adalah dilarang di dalam Islam sebagaimana yang telah dijelaskan oleh RasuluLLah sallaLlahu 'alaihi wasallam dalam hadith beliau yang terdapat dalam Sahih Bukhari no 5752 yang bererti :

"Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya dengan Wahai Kafir, maka kekafiran itu kembali kepada salah satunya "

Dalam sahih Bukhari pada hadith nombor 2227 disebutkan bahawa Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam telah bersabda yang bererti :

"Barangsiapa yang melaknat seorang Mukmin maka itu seperti membunuhnya dan barangsiapa yang menuduh seorang Mukmin dengan kekafiran maka itu seperti membunuhnya."


Contoh buku Dr Aidh Al Qarni yang diterjemah ke Bahasa Malaysia bertajuk : Malam Pertama di Alam Kubur




Persoalan menaburkan bunga pada kuburan ada sandarannya dari Rasulullah sallaLLahu 'alaihi wasallam :
Hukum Menjirus Air Di Kubur dan Meletakkan Bunga Di Kuburan 

Dalam 'berdakwah' sempat juga diselitkan perkataan yang mengkafirkan amalan umat Islam ya ?

Contoh bukunya yang lain menghasut umat Islam agar jangan membaca kitab-kitab ulamak muktabar yang terdiri dari ahli hadith seperti Abu Nu'aim, Imam Ibnu al Jauzi yang diperakui dan diiktiraf oleh alim ulamak dari dahulu hingga kini :





Add caption
Tasawwuf diiktiraf, diperakui dan dipuji oleh salafussoleh seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik Imam Ahmad bin Hambal. Imam Asy Syafie serta ramai para alim ulamak seperti Imam An Nawawi, Imam Izzuddin bin Abdissalam. Namun 'pendakwah' ini menghasut untuk membencinya ? Na;uzubillahi min zalik.

Antara pengiktirafan salafussoleh terhadap tasawwuf boleh rujuk :  Pujian Tasawwuf Oleh Salafussoleh 

Selain dari itu dalam bukunya yang bertajuk :




Zikir Allah.. Allah dibolehkan oleh ramai salafussoleh dan ulamak mutaqaddimin seperti :

1. Abu al-Husain an-Nuri (295H)
2. Az-Zubaidi (Pengarang "al-Jam'u baina as-Sahihain")
3. Abu Hamid al-Ghazali
4. Fakhruddin ar-Razi
5. Ibn Rajab al-Hanbali
6. Ibn 'Abidin
7. Zakaria al-Ansari
8. al-Manawi
9. ar-Ramli
10. Ibn Hajar al-Haithami

Jawapan mengenainya boleh dibaca di sini : Hukum Berzikir Allah.. Allah

Kesimpulan : 

1. Mengkafirkan ulamak dan umat Islam tanpa hak adalah dilarang keras oleh Allah dan RasulNya. 

2. Menyelitkan perkataan-perkataan yang berbau hasutan dan tidak amanah dalam memperkatakan sesuatu hukum bukan sikap seorang pendakwah yang seharusnya mewarisi sifat dakwah Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam iaitu siddiq, amanah, tabligh dan fatonah. 

3. Menghasut umat Islam membenci tasawwuf semakin menjauhkan umat Islam dari beramal dengan sunnah-sunnah Rasulullah dan jauh dari amalan salafussoleh.

Dr Aidh al Qarni - pendakwah atau pendakyah ? Berkatalah benar walaupun pahit !

Selasa, 17 September 2013

Benarkah Kenduri Arwah Haram Di Dalam Mazhab Asy Syafie ?



MUQODDIMAH

Mengusik amalan seseorang Muslim dengan menukil pernyataan Ulama dari kitab Muktabar secara serampangan (mengguting-gunting kalimat) merupakan perbuatan keji dan sangat tidak berakhlak. Selain termasuk telah menyembunyikan kebenaran, juga termasuk telah memfitnah Ulama yang perkataannya telah mereka nukil, merendahkan kitab Ulama dan juga telah menipu kaum Muslimin. Dakwah mereka benar-benar penuh kepalsuan dan kebohongan. Mengatas namakan Madzhab Syafi’I untuk menjatuhkan amalan Tahlil, sungguh mereka keji juga dengki.

Kitab I’anatuth Thalibin (إعانة الطالبين) adalah kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyatiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in, Kitab ini sangat masyhur dikalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh diseluruh dunia. Namun, sayang, ada sebagain kecil kalangan yang tidak bermadzhab Syafi’i (anti Madzhab), mengaku pengikut salaf, mencomot-comot isi kitab ini untuk mengharamkan Tahlilan yang merupakan amalan sudah masyhur dikalangan pengikut madzhab Syafi’i. Bukannya berdakwah secara benar namun yang mereka lakukan, malah menunjukkan kedengkian hati mereka dan ketidak jujuran mereka dalam menukil perkataan ulama. Ini hanya salah satu kitab yang kami coba luruskan dari nukilan tidak jujur yang telah mereka lakukan, masih banyak lagi kitab Ulama yang dicomot serampangan oleh mereka, seperti kitab Al-Umm (Imam Syafi’i), Al-Majmu’ Syarah Muhadzab Imam An-Nawawi, Mughni al-Muhtaaj ilaa Ma’rifati Ma’aaniy Alfaadz Al Minhaj, dan kitab-kitab ulama lainnya.

*PEMBAHASAN

Setidak-tidaknya ada 5 pernyataan yang kami temukan, yang mereka comot dari kitab I’anah at-Thalibin secara tidak jujur dan memelintir (mensalah-pahami) maksud dari pernyataan tersebut untuk mengharamkan Tahlilan. Ini banyak dicantumkan disitus-situs mereka dan dikutip oleh sesama mereka secara serampangan pula. Berikut ini yang mereka nukil secara tidak jujur, yang punya kitab i'anah at-tholibin silahkan di teliti langsung.
1. Teks arabnya ; (نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر) 
Ya, apa yang dilakukan manusia, yakni berkumpul di rumah keluarga si mayit, dan dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkarah, yang akan diberi pahala bagi orang yang mencegahnya, dengannya Allah akan kukuhlah kaidah-kaidah agama, dan dengannya dapat mendukung Islam dan muslimin” (I’anatuth Thalibin, 2/165)

2. Teks arabnya ;
وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة 
“Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu: Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.

3. Teks arabnya ; وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم “Dalam Kitab Al Bazaz : Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.

4. “Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146).

5. “Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146).

Point kelima  itulah yang mereka comot secara serampangan dan menterjemahkannya dengan memelintir maknanya. Kami akan mulai membahas point-point diatas, sebagai berikut :
=========================================================== 

POINT PERTAMA (1) : Nukilan diatas merupakan bentuk ketidakjujuran, dimana orang yang membacanya akan mengira bahwa berkumpul di tempat ahlu (keluarga) mayyit dan memakan makanan yang disediakan adalah termasuk bid’ah Munkarah, padahal bukan seperti itu yang dimaksud oleh kalimat tersebut. Mereka telah menggunting (menukil secara tidak jujur) kalimat tersebut sehingga makna (maksud) yang dkehendaki dari kalimat tersebut menjadi kabur. Padahal, yang benar, bahwa kalimat tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya. Itu sebabnya, kalimat yang mereka nukil dimulai dengan kata “na’am (iya)”. 

~Berikut teks lengkapnya;
وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟ 
“Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي مكة المشرفة) tentang apa yang dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitu mengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa), tentang kebiasaan (urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal, kemudian para pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية) dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?

أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
“Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده, Ya .. Allah aku memohon kepada-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”.Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islam serta umat Islam”
Betapa apa yang dikehendaki dari pernyataan diatas telah keluar konteks saat pertanyaannya dipotong sebagaimana nukilan mereka dan ini yang mereka gunakan untuk melarang Tahlilan. 

Ketidak jujuran ini yang mereka dakwahkan untuk menipu umat Islam atas nama Kitab I’anatuth Thalibin dan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i.

Dalam pertanyaan dan jawaban diatas, yang sebenarnya termasuk bagian dari bid’ah Munkarah adalah kebiasaan pentakziyah menunggu makanan (بأنهم ينتظرون الطعام) di tempat ahlu (keluarga) yang terkena mushibah kematian, akal sehat pun akan menganggap bahwa kebiasaan itu tidak wajar dan memang patut untuk di hentikan. Maka, sangat wajar juga bahwa Mufti diatas menyatakan kebiasaan tersebut sebagai bid’ah Munkarah, dan penguasa yang menghentikan kebiasaan tersebut akan mendapat pahala. Namun, karena keluasan ilmu dari Mufti tersebut tidak berani untuk menetapkan hukum “Haram” kecuali jika memang ada dalil yang jelas dan sebab-sebabnya pun luas.
Tentu saja, Mufti tersebut kemungkinan akan berkata lain jika membahasnya pada sisi yang lebih umum (bukan tentang kasus yang ditanyakan), dimana pentakziyah datang untuk menghibur, menyabarkan ahlu (keluarga) mayyit bahkan membawa (memberi) bantuan berupa materi untuk pengurusan mayyit dan untuk menghormati pentakziyah yang datang.

Pada kegiatan Tahlilan orang tidak akan datang ke rumah ahlul mushibah dengan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak tuan rumah. Jika tuan rumah merasa berat tentu saja tidak perlu mengadakan tahlilan dan tidak perlu mengundang. Namun, siapa yang lebih mengerti dan paham tentang “memberatkan” atau “beban” terhadap keluarga mayyit sehingga menjadi alasan untuk melarang kegiatan tersebut, apakah orang lain atau ahlu (keluarga) mayyit itu sendiri ? tentu saja yang lebih tahu adalah ahlu (keluarga) mayyit. Keinginan ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan dan mengundang tetangga atau orang lain untuk datang ke kediamannya merupakan pertanda ahlu (keluarga) mayyit memang menginginkannya dan tidak merasa keberatan, sementara para tetangga (hadirin) yang diundang sama sekali tidak memaksa ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan. Ahlu (keluarga) mayyit mengetahui akan dirinya sendiri bahwa mereka mampu dan dengan senang hati beramal untuk kepentingan saudaranya yang meninggal dunia, sedangkan hadirin hanya tahu bahwa mereka di undang dan memenuhi undangan ahlu (keluarga) mayyit.

Sungguh betapa sangat menyakitkan hati ahlu (keluarga) mayyit jika undangannya tidak dipenuhi dan bahkan makanan yang dihidangkan tidak dimakan atau tidak disentuh. Manakah yang lebih utama, melakukan amalan yang “dianggap makruh” dengan menghibur ahlu (keluarga) mayyit, membuat hati ahlu (keluarga) mayyit senang atau menghindari “yang dianggap makruh” dengan menyakiti hati ahlu (keluarga) mayyit ? Tentu saja akan yang sehat pun akan menilai bahwa menyenangkan hati orang dengan hal-hal yang tidak diharamkan adalah sebuah kebaikan yang berpahala, dan menyakiti perasaannya adalah sebuah kejelekan yang dapat berakibat dosa.

Disisi yang lain antara ahlu (keluarga) mayyit dan yang diundang, sama-sama mendapatkan kebaikan. Dimana ahlu (keluarga) mayyit telah melakukan amal shaleh dengan mengajak orang banyak mendo’akan anggota keluarga yang meninggal dunia, bersedekah atas nama mayyit, dan menghormati tamu dengan cara memberikan makanan dan minuman. Pada sisi yang di undang pun sama-sama melakukan amal shaleh dengan memenuhi undangan, mendo’akan mayyit, berdzikir bersama, menemani dan menghibur ahlu (keluarga) mayyit. Manakah dari hal-hal baik tersebut yang diharamkan ? Sungguh ulama yang mumpuni benar-benar bijaksana dalam menetapkan hukum “makruh” karena melihat dengan seksama adanya potensi “menambah kesedihan atau beban merepotkan”, meskipun jika seandainya hal itu tidak benar-benar ada.

Adanya sebagian kegiatan Tahlilan yang dilakukan oleh orang awam, yang sangat membebani dan menyusahkan, karena ketidak mengertiannya pada dalam masalah agama, secara umum tidak bisa dijadikan alasan untuk menetapkan hukum haram atau terlarang. Bagi mereka lebih pantas diberi tahu atau diajari bukan di hukumi.

Selanjutnya,

Point Kedua (2) : Juga bentuk ketidak jujuran dan mensalah pahami maksud dari kalimat tersebut. Kata yang seharusnya merupakan status hukum namun diterjemahkan sehingga maksud yang terkandung dari pernyataan tersebut menjadi berbeda. Ungkapan-ungkapan ulama seperti akrahu” (saya membenci), “makruh” (dibenci), “yukrahu” (dibenci), “bid’ah munkarah” (bid’ah munkar), “bid’ah ghairu mustahabbah” (bid’ah yang tidak dianjurkan), dan “bid’ah mustaqbahah” (bid’ah yang dianggap jelek), semua itu mereka pahami sebagai larangan yang berindikasi hukum haram mutlak. Padahal didalam kitab tersebut, berkali-kali dinyatakan hukum “makruh” untuk kegiatan berkumpul di rumah ahlu (keluarga) mayyit dan dihidangkan makanan,terlepas dari hokum-hukum perkara lain seperti takziyah, hokum mendo’akan, bersedekah untuk mayyit, dimana semua itu dihukumi sunnah.

~Terjemahan “mereka” :“Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu: Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.

~Berikut teksnya (yang benar) وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
“Dan kebiasaaan dari ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) menusia kepadanya, ini bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh), sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir ra, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan (untuk mereka) setelah dikuburnya (mayyit) <adalah bagian dari meratap>

Mereka secara tidak jujur menterjemahkan status hukum “Makruh” pada kalimat diatas dan hal itu sudah menjadi tuntutan untuk tidak jujur bagi mereka sebab mereka telah menolak pembagian bid’ah. Karena penolakan tersebut, maka mau tidak mau mereka harus berusaha memelintir maksud bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh) tersebut.

Padahal bid’ah juga dibagi menjadi lima (5) status hukum namun mereka tolak, sebagaimana yang tercantum dalam kitab al-Imam an-Nawawi yaitu Syarah Shahih Muslim ;

أن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة

“Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi 5 macam ; bid’ah yang wajib, mandzubah (sunnah), muharramah (bid’ah yang haram), makruhah (bid’ah yang makruh), dan mubahah (mubah)” [Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]

Bila ingin memahami perkataan Ulama madzhab Syafi’I, maka pahami juga istilah-istilah yang ada dan digunakan didalam madzhab Syafi’i. Penolakan mereka terhadap pembagian bid’ah ini, mengandung konsekuensi yang besar bagi mereka sendiri saat dihadapkan dengan kitab-kitab ulama Madzhab Syafi’iyyah, dan untuk menghidarinya, satu-satunya jalan adalah dengan jalan tidak jujur atau mengaburkan maksud yang terkandung dari sebuah kalimat. Siapapun yang mengikuti pemahaman mereka maka sudah bisa dipastikan keliru.

Status hokum yang disebutkan pada kalimat diatas adalah “Makruh”. Makruh adalah makruh dan tetap makruh, bukan haram. Dimana pengertian makruh adalah “Yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi, yaitu mendapat pahala apabila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila di lakukan”. Makruh yang disebutkan diatas, juga terlepas dari hokum takziyah itu sendiri.

Kemudian persoalan “an-Niyahah (meratap)” yang pada hadits Shahih diatas, dimana hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah ;

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ: كُنَّا نَرَى اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ

“Kami (para sahabat) memandang berkumpul di ahlu (keluarga) mayyit dan membuat makanan termasuk bagian dari meratap”“An-Niyahah” memang perbuatan yang dilarang dalam agama. Namun, bukan berarti sama sekali tidak boleh bersedih atau menangis saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia, sedangkan Rasulullah saja menangis mengeluarkan air mata saat cucu Beliau (Fatimah) wafat. Disaat Beliau mencucurkan air mata, (sahabat) Sa’ad berkata kepada Rasulullah ; 

فَقَالَ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا فَقَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

“..maka Sa’ad berkata ; Ya .. Rasulullah (يَا رَسُولَ اللَّهِ) apakah ini ? “Ini (kesedihan ini) adalah rahmat yang Allah jadikan di hati para hamba-Nya, Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang mengasisihi (ruhama’)” [HR. Imam Bukhari No. 1284]Rasulullah juga menangis saat menjelang wafatnya putra Beliau yang bernama Ibrahim, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf,  

فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“..maka Abdurrahmah bebin ‘Auf berkata kepada Rasulullah, “dan anda wahai Rasulullah ?, Rasulullah berkata, “wahai Ibnu ‘Auf sesungguhnya (tangisan) itu rahmat, dalam sabda yang lain beliau kata, “sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata, dan hati bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang menjadi keridhaan Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih karena perpisahanku dengan Ibrahim”. [HR. Imam Bukhari No. 1303]

Rasulullah juga menangis di makam ibunda beliau sehingga orang yang bersamanya pun ikut menangis sebagaimana diriwayatkan di dalam hadis-hadis shahih [lihat Mughni al-Muhtaaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj, Al-Allamah Al-Imam Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Dar el-Fikr, juz 1, hal. 356).

Maka meratap yang sebenarnya dilarang (diharamkan) yang disebut sebagai “An-Niyahah” adalah menangisi mayyit dengan suara keras hingga menggerung apalagi diiringi dengan ekspresi berlebihan seperti memukul-mukul atau menampar pipi,menarik-narik rambut, dan lain sebagainya.

Kembali kepada status hokum “Makruh” diatas, sebagaimana juga dijelaskan didalam Kitab al-Mughniy ;

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

“Maka adapun bila ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk orang, maka itu Makruh, karena bisa menambah atas mushibah mereka, menambah kesibukan mereka (merepotkan) dan meniru-niru perbuatan Jahiliyah” [Al-Mughniy Juz
II/215]

Makruh bukan haram, dan status hokum Makruh bisa berubah menjadi Mubah (Jaiz/boleh) jika keadaannya sebagaimana digambarkan dalam kitab yang sama, berikut ini ;

وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى والأماكن البعيدة ويبيت عندهم ولا يمكنهم إلا أن يضيفوه
“Dan jika melakukannya karena ada (sebab) hajat, maka itu diperbolehkan (Jaiz), karena barangkali diantara yang datang ada yang berasal dari pedesaan, dan tempat-tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tidak bisa (tidak mungkin) kecuali mereka mesti di jamu (diberi hidangan)” [” [Al-Mughniy Juz II/215] 

Selanjutnya,

Point Ketiga (3) : Penukilan (pada point 3) ini juga tidak tepat dan keluar dari konteks, sebab pernyataan tersebut masih terikat dengan kalimat sebelumnya. Dan mereka juga mentermahkan status hukum yang ditetapkan dalam kitab Al-Bazaz.

~Terjemahan Mereka : “Dalam Kitab Al Bazaz: Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.”


~Berikut teks lengkapnya yang benar : 
وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة. اه. وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ

“Dan (juga) berkata; “dan dimakruhkan penyediaan jamuan besar (الضيافة) dari Ahlu (keluarga) mayyit, karena untuk mengadakankegembiran (شرع في السرور), dan ini adalah bi’dah. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang dshahih, dari Jarir bin Abdullah, berkata ; “kami (sahabat) menganggap berkumpulnya ke (tempat) ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan bagian dari merapat”. Dan didalam kitab Al-Bazaz, “diMakruhkan menyediakan makanan pada hari pertama, ke tiga dan setelah satu minggu dan (juga) dikatakan (termasuk) makanan (yang dibawa) ke kuburan pada musiman”  

Apa yang dijelaskan didalam kitab Al-Bazaz adalah sebagai penguat pernyataan Makruh sebelumnya, jadi masih terkait dengan apa yang disampaikan sebelumnya. Namun sayangnya, mereka menukil separuh-separuh sehingga maksud dari pernyataan tersebut melenceng, parahnya lagi (ketidak jujuran ini) mereka gunakan untuk melarang Tahlilan karena kebencian mereka terhadap kegiatan tersebut dan tidak menjelaskan apa yang sebenarnya dimakruhkan.

Yang dimakruhkan adalah berupa jamuan besar untuk tamu (“An-Dliyafah/الضيافة”) yang dilakukan oleh ahlu (keluarga) mayyit untuk kegembiraan. Status hukum ini adalah makruh bukan haram, namun bisa berubah menjadi jaiz (mubah) sebagaimana dijelaskan pada point 2 (didalam Kitab Al-Mughniy).

Selanjutnya,

Point Ke-Empat (4) : Lagi-lagi mereka menterjemahkan secara tidak jujur dan memenggal-menggal kalimat yang seharunya utuh. 

~Terjemahan mereka ;  “Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram.” (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146). Mereka telah memotong kalimatnya hanya sampai disitu. Sungguh ini telah pembohongan publik, memfitnah atas nama ulama (Pengarang kitab I’anatuth Thabilibin). 

~Berikut teks lengkapnya (yang benar) ; 

وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك
.

“Dan didalam kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al-Minhaj (karangan Al-‘Allamah asy-Syekh Sulaiman al-Jamal) ; “dan sebagian dari bid’ah Munkarah dan Makruh mengerjakannya, yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita, berkumpul dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang (haram), atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya” 

Begitu jelas ketidak jujuran yang mereka lakukan dan penipuan terhadap umat Islam yang mereka sebarkan melalui website dan buku-buku mereka.

Kalimat yang seharusnya di lanjutkan, di potong oleh mereka. Mereka telah menyembunyikan maksud yang sebenarnya dari ungkapan ulama yang berasal dari kitab aslinya. Mereka memenggal kalimat secara “seksama” (penipuan yang direncanakan/disengaja) demi tercapainya tujuan mereka yaitu melarang bahkan mengharamkan Tahlilan, seolah olah tujuan mereka didukung oleh pendapat Ulama, padahal hanya didukung oleh tipu daya mereka sendiri yang mengatas namakan ulama. Bukankah hal semacam ini juga termasuk telah memfitnah Ulama ? menandakan bahwa pelakunya berakhlak buruk juga lancang terhadap Ulama ? Ucapan mereka yang katanya menghidupkan sunnah sangat bertolak belakang dengan prilaku penipuan yang mereka lakukan.

Selanjutnya,

Point Ke-Lima (5) : Terjemahan mereka : “Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146) Kalimat diatas sebenarnya masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya, oleh karena itu harus dipahami secara keseluruhan.

~Berikut ini adalah kelanjutan dari kalimat pada point ke-4 :  

. وقد قال رسول الله (ص) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا. ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا. وقال (ص): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح، فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر. وويل لعبد جعله الله مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.

“Dan sungguh Rasulullah bersabda kepada Bilal bin Harits (رضي الله عنه) : “wahai Bilal, barangsiapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku setelah dimatikan sesudahku, maka baginya pahala seperti (pahala) orang yang mengamalkannya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka (orang yang mengamalkan) dan barangsiapa yang mengada-adakan (membuat) bid’ah dhalalah dimana Allah dan Rasul-Nya tidak akan ridha, maka baginya (dosa) sebagaimana orang yang mengamalkannya dan tidak dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. dan Nabi bersabda ; “Sesungguhnya kebaikan (الخير) itu memiliki khazanah-khazanah, khazanah-khazanah itu ada kunci-kuncinya (pembukanya), Maka berbahagialah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka untuk kebaikan dan pengunci keburukan. Maka, celakalah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka keburukan dan pengunci kebaikan”

ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.

“dan tidak ada keraguan bahwa mencegah manusia dari bid’ah Munkarah ini, padanya termasuk menghidupkan as-Sunnah, dan mematikan bagi bid’ah, dan membuka pada banyak pintu kebaikan, dan mengunci kebayakan pintu keburukan.. Maka jika manusia membebani (dirinya) dengan beban yang banyak, itu hanya akan mengantarkan mereka kepada perkara yang diharamkan.

Jika hanya membaca sepintas nukilan dari mereka, akan terkesan seolah-olah adanya pelarangan bahwa berkumpulnya manusia dan makan hidangan di tempat ahlu (keluarga) mayyit adalah diharamkan sebagaimana yang telah mereka nukil secara tidak jujur dipoint-4 atau bahkan ketidak jelasan mengenai bid’ah Munkarah yang dimaksud, padahal pada kalimat sebelumnya (lihat point-4) sudah dijelaskan dan status hukumnya adalah Makruh, namun memang bisa mengantarkan pada perkara yang haram jika membebani dengan beban yang banyak (تكلفا كثيرا) sebagaimana dijelaskan pada akhir-akhir point ke-5 ini dan juga pada point-4 yaitu jika (dibiayai) dari harta yang terlarang , atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya.



PENUTUP

Demikian apa yang bisa kami sampaikan sedikit ini untuk meluruskan nukil-nukilan tidak jujur dari “pendakwah salaf” yang katanya “pengikut salaf” namun sayang sekali prilaku mereka sangat bertolak belakang dengan prilaku salaf bahkan lebih buruk.
Kami menghimbau agar jangan terlalu percaya dengan nukilan-nukilan mereka, sebaiknya mengecek sendiri atau tanyakan pada ulama atau ustadz tempat antum masing-masing agar tidak menjadi korban internet dan korban penipuan mereka. Masih banyak kitab ulama lainnya yang mereka pelintir maksudnya. Maka berhati-hatilah, demikian dulu, Wallahu a'lam bis showab..

Khamis, 22 Ogos 2013

Isu Surau Di Sedili : Dr Asri Jadilah Orang Yang Menyelidik Bukan Memfitnah.

Rujuk ulasan Dr Asri yang terbaharu di sini :

1. http://antarapos.com/v1/index.php?q9nan56SpKPkoObnaNGXpVvZn7Wkb5djag=%3D

2. http://www.starproperty.my/index.php/articles/property-news/owner-has-right-to-let-private-places-of-worship-be-shared-says-ex-perlis-mufti/


Pesanan untuk Umat Islam agar tidak terburu-buru menerima komen yang tidak menyelidik tetapi suka menghukum seperti yang dibuat oleh  Dr Asri ini :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ (٦)

Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.
(Surah al Hujaarat: Ayat 6)|

Jawapan dari Ahli Majlis Fatwa Negeri Johor :




Jangan diikut perangai suka menuduh dan memfitnah ajaran Dr Asri :

1. Hakikat Kebenaran Tugas Membela Mufti Yang DiFitnah 

2. Bila 'Pakar Hadith' Berbohong, Mengapa Masih Ada Yang Mengikutinya ?

3. Dr Asri Zainal Abidin, Berhati-hatilah Ketika Mengkritik Ulamak

Isnin, 5 Ogos 2013

Persoalan Khatamun Nubuwwah, Nur Muhammad Dan Ayat Ruqyah (Manzil)






Alhamdulillah, penjelasan dari Ustaz Mohd Khafidz bin Soroni (Jabatan Hadith KUIS) mengenai :

1. Khatamun Nubuwwah
2. Nur Muhammad.
3. Ayat Ruqyah (Manzil)

Sila muat turun 'download' di sini :

http://sawanih.blogspot.com/2013/08/sedikit-perkongsian-ilmu-sila-muat-turun.html

Jumaat, 26 Julai 2013

Benarkah Bulan Ramadhan Dibahagi Kepada Tiga Fasa Iaitu Awalnya Rahmat, Pertengahannya Keampunan dan Terakhir Pembebasan Dari Neraka ?



Jawapan :

Dalam satu bulan (Qamariyah) sebanyak 29 hingga 30 hari. Apabila dikelompokkan maka ia akan menjadi tiga iaitu 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari ketiga iaitu terakhir. 

Nabi SallaLlahu 'alaihi wasallam telah menyebutkan ketiga-tiga fasa tersebut kerana memang dalam satu bulan bila dikelompokkan kepada 10 hari. 10 hari pertama, 10 hari kedua dan 10 hari terakhir. Nabi SallaLlahu 'alaihi wasallam menganjurkan pada fasa yang ketiga iaitu 10 hari terakhir agar lebih meningkatkan ibadah pada malam harinya. Kerana di antara malam-malam ganjil akan turun malam yang lebih baik dari 1000 bulan yang dikenali sebagai Lailatul Qadar. 

Pada fasa yang ketiga iaitu 10 hari terakhir Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam memperbanyakkan ibadah sunnah dan i'tikaf, juga membangunkan ahli keluarganya. 

Aishah RadiyaLlahu 'anha berkata : Bahawa sesungguhnya RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam apabila telah masuk (fasa ketiga Bulan Ramadhan)  sepuluh hari terakhir beliau bangun dan solat sepanjang malam dan membangunkan keluarganya serta tidak mencampuri isterinya (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim) . Nailul Authar IV/270 dan Mukhtasor Sahih Bukhari hal 383. 

Dan dalam riwayat Ahmad dan Muslim dari Aisyah RadiyaLlahu 'anha : "Adalah Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam bersemangat memperbanyakkan ibadah pada sepuluh hari terakhir berbeza dengan sebelumnya. (Nailul Author Juz IV/270)

Hadith tersebut sudah jelas, bahawa RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam menyebutkan fasa-fasa tersebut. Kalau hadith tersebut menyebutkan ada fasa terakhir iaitu fasa ketiga, bererti ada fasa pertama dan fasa kedua. Hadith berikut ini juga menegaskan adanya tiga fasa tersebut dan justeru itu 10 hari (fasa) pertama disebut rahmat, fasa kedua iaitu 10 hari kedua Maghfirah dan fasa ketiga iaitu 10 hari terakhir disebut itqun minannaar (pembebasan dari neraka). 

Diceritakan dari Salman RadiyaLlahu 'anhu, ia berkata :

Nabi Muhammad sallaLlahu 'alaihi wasallam memberikan khutbah kepada kami pada akhir hari bulan Sya'ban, baginda bersabda : "Wahai manusia, telah hampir datang bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari ibadah seribu bulan. Bulan yang dijadikan oleh Allah, puasa pada siang harinya suatu kewajipan dan solat pada malamnya (selain solat fardhu) sebagai solat sunnah. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan amal kebaikan, pahalanya laksana orang yang melakukan kewajipan pada selain bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melakukan kewajipan di bulan tersebut, pahalanya laksana pahala orang yang melaksanakan tujuh puluh kewajipan di lain bulan suci Ramadhan. Ia adalah bulan sabar, bagi orang yang bersabar tidak lain balasannya syurga, dan merupakan bulan toleransi, dan bulan ditambahkannya rezeki bagi orang Mukmin, orang yang memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka dan baginya pahala seperti pahala orang yang diberinya berbuka puasa tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya. 
 Mereka bertanya : "Wahai RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam, tidaklah semua kami ini mampu memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang lain ? Maka RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam bersabda : "Allah akan memberikan pahala tersebut bagi orang yang memberikan makanan bagi orang yang berpuasa sekalipun hanya dengan satu biji kurma atau seteguk minuman air putih atau sepotong susu kering. Dan adalah Bulan Ramadhan awwalnya (10 hari pertama) rahmat, pertengahannya (10 hari kedua) keampunan dan akhirnya (10 hari terakhir) pembebasan dari neraka. 
Barangsiapa meringankan hamba sahayanya pada bulan itu Allah mengampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka. Maka perbanyakkanlah di Bulan Ramadhan 4 hal. Dua hal kamu mendapat redha Tuhanmu dan dua hal kamu tidak akan merasa puas dengannya. Adapun dua hal yang membuatkan kamu diredhai Allah adalah : Mengucapkan dan bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah, dan kamu mohon keampunan kepada-Nya. Adapun dua hal yang kamu tidak akan merasa puas dengannya adalah : Kamu minta syurga kepada-Nya dan minta perlindungan dari api neraka. 
Dan barangsiapa yang memberi minum orang yang berbuka puasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, sekali minum sahaja tidak akan haus selamanya sehingga masuk ke syurga ". Hadith riwayat Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya, kemudian berkata hadith ini sahih. dan diriwayatkan dari jalan al Baihaqi, dan diriwayatkan Abu Asy Syaikh Ibnu Hibban dalam at Tsawwab dengan ringkas (at Targhib wa at Tarhib II/94) dan Al Feqh Al Islamiy Wa Adillatuh (2/572)

Sumber Rujukan : Drs. KH. M. Sufyan Raji Abdullah LC. Menyikapi Masalah-masalah yang dianggap Bid'ah, Cet Pertama 2010, Pustaka Al Riyadl, Jakarta

Khamis, 25 Julai 2013

Fadhilat Sahih Membaca Surah Yaasin



Alhamdulillah, Umat Islam di Malaysia sudah lama menghidupkan sunnah dengan membaca Surah Yaasin samada dalam program tahlil atau bacaan Yaasin dan melazimkan bacaannya pada malam Jumaat.

Antara dalil dari hadith sahih fadhilat membaca Surah Yaasin ditulis dalam Tafsir Ibnu Kathir dan al Fawaid al Majmu'ah fi al Ahadiths al Maudhu'ah :

1. Sabda Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam (yang bererti) :

 "Barangsiapa yang membaca Surah Yaasin pada malam hari, maka pagi harinya ia diampuni oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surah ad Dukhan, maka ia diampuni Allah (Hadith Riwayat Abu Ya'la)


Menurut al Hafiz Ibnu Kathir, hadith ini sanadnya jayyid (sahih). Komentar Ibnu Kathir ini juga diakui oleh Imam asy Syaukani dalam tafsirnya Fath al Qadir bahawa sanad hadith tersebut jayyid (Sahih).

2. Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam bersabda (yang bererti) :

Barangsiapa yang membaca Surah Yaasin pada malam hari kerana mencari redha Allah, maka Allah akan mengampuninya (Hadith Riwayat Ibnu Hibban dalam sahihnya)


Hadith ini disahihkan oleh Imam Ibnu Hibban dan diakui oleh al Hafiz Ibn Kathir dalam tafsirnya. Al Hafiz Jalaluddin al Suyuthi dalam Tadrib Rawi, dan Imam Asy Syaukani dalam tafsir Fath al Qadir dan al Fawaid al Majmu'ah. Asy Syaukani berkata dalam al Fawaid al Majmu'ah sebagai berikut :

Hadith "Barangsiapa membaca surah Yaasin kerana mencari redha Allah, maka allah akan mengampuninya". Diriwayatkan oleh al Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu' dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadith sahih. Hadith tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan al Khatib. Sehingga tidak ada alasan menyebut hadith tersebut dalam kitab-kitab al Maudhu'at (tidak benar menganggapnya sebagai hadith maudhu')". (asy Syaukani, al Fawaid al Majmu'ah fi al Ahadith al Maudhu'ah, hal 302-303)


3. Ibn Hibban dalam kitab sahihnya meriwayatkan hadith Jundab bin AbdiLLah, RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda yang bererti :

"Surah al Baqarah adalah tulang belakang al Quran, ia diturunkan oleh lapan puluh malaikat dengan membawa satu persatu ayat. Sedangkan ayat kursi diturunkan dari bawah Arsy'. kemudian ia dikumpulkan dengan ayat-ayat surah al Baqarah. Surah Yasin pula adalah hati al Quran, tidak ada orang yang membacanya dengan mengharap redha ALlah dan pahala akhirat melainkan dia akan mendapat ampunan dari-Nya. Bacalah surah Yasin untuk saudara-saudara kamu yang telah meninggal dunia."


(Ditakhrij oleh Ibn Hibban di dalam Kitab Sahihnya pada bab Fadhilat Surah al Baqarah. Demikian juga al Haithami meriwayatkannya di dalam kitab Mawarid al Dzam'an, (jilid V, h 397). Imam Ahmad juga meriwayatkannya di dalam al Musnad dari Ma'qal bin Yasar (jilid v h 26). Al Haithami mengulas hadith tersebut di dalam kitab Majma' al Zawaid, "Hadith tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di dalamnya ada salah seorang perawi yang tidak disebut namanya, bagaimanapun perawi perawi lainnya adalah sahih (jilid VI h 311)

Bacaan tambahan :

1. Hukum Membaca Surah Yaasin Pada Malam Jumaat 


Selasa, 23 Julai 2013

Hukum Bacaan Yaasin Di Kuburan

Oleh : Ustaz Abu Muhammad

Baca Yaasin Di Kuburan

Dalam bulan Ramadhan terutama sekali di hujung - hujungnya dan pada hari lebaran nanti, ramailah saudara-saudara kita mendatangi tanah - tanah perkuburan tempat persemadian insan-insan yang mereka sayangi. Bukanlah maksudnya bahawa menziarahi kubur itu hanya dihukumkan sunnat pada masa-masa tersebut sahaja. Ianya lebih kepada faktor masa yang terluang atau faktor suasana yang syahdu di hari yang mulia menghimbau ingatan kepada mereka-mereka yang telah tiada. Oleh itu, pada ketika itulah penuh segala pusara dengan para penziarah. Dalam ziarah biasanya akan dibaca surah Yaasin dan tahlil sebagai hadiah dan barakah kepada segala arwah tersebut. Jumhur ulama daripada keempat-empat mazhab Ahlus Sunnah wal Jama`ah, termasuklah mazhab asy-Syafi`iyyah dan al-Hanabilah, menghukumkan baik, mustahab, bahkan sunnat untuk membacakan al-Quran di sisi kubur. Syaikh al-Imam al-`Allaamah  Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safaarini al-Hanbali rahimahullah (w. 1188H) dalam karya beliau "al-Buhur az-Zaakhirah fi `Uluum al-Akhirah" menyatakan, antara lain sebagai berikut:-


Tanbih: Pembacaan al-Quran di kubur dipandang sebagai mustahab oleh para ulama Mazhab Syafi`i dan ulama lain. Imam an-Nawawi menyatakan dalam "Syarah al-Muhadzdzab" bahawa dimustahabkan bagi penziarah kubur untuk membaca apa-apa yang mudah daripada al-Quran dan mendoakan bagi mereka. Hal ini merupakan nas atau pandangan yang datang daripada Imam asy-Syafi`i sendiri. Di tempat lain, yakni dalam karangan lain, ditambah bahawa jika dikhatamkan sekalian al-Quran itu di atas kubur tersebut, maka ianya adalah afdhal. Dan adalah imam kita, Imam Ahmad RA, pada permulaannya mengingkari amalan sedemikian, namun kemudian beliau telah menarik balik pandangannya tersebut setelah sampai hadis yang menjadi sandaran amalan ini kepada beliau.
Tokoh yang menjadi panutan puak Wahabi, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, murid Ibnu Taimiyyah al-Harrani telah menukilkan sebuah kisah mengenai pembacaan yaasin di kubur dalam karyanya "ar-Ruh" pada halaman 18 sebagai berikut:-
Telah mengkhabarkan kepadaku oleh al-Hasan bin al-Haitsam yang berkata: "Aku telah mendengar Abu Bakar bin al-Athrusy bin Bint Abi Nashr bin al-Tammar berkata: "Ada seorang lelaki yang selalu datang menziarahi kubur ibunya pada hari Jumaat lalu membaca surah Yaasin. Pada sebahagian hari-hari yang dia datang menziarahi kubur ibunya, dia akan membaca surah Yaasin. Selepas membaca Yaasin, dia berdoa: "Ya Allah, seandainya Engkau memberi pahala atas pembacaan surah ini, maka jadikannya bagi segala penghuni perkuburan ini". Tatkala datang Jumaat berikutnya, datang seorang wanita kepada si lelaki tadi seraya berkata: "Adakah engkau si fulan anak si fulanah?" Dia menjawabnya: "Ya." Wanita tersebut berkata lagi: " Adalah anak perempuanku telah meninggal dunia dan aku telah bermimpi melihatnya duduk di tepi kuburnya, lalu aku menyapanya: "Kenapa engkau duduk di sini?" Dia menjawab: "Sesungguhnya si fulan anak si fulanah telah datang menziarahi kubur ibunya dan membaca surah Yaasin serta menjadikan pahalanya bagi segala ahli kubur, maka kami telah diberi kesenangan daripada yang sedemikian atau kami telah diampuni atau yang seumpamanya (yakni para ahli kubur tersebut mendapat kesenangan daripada hadiah pahala bacaan surah Yaasin tersebut atau mendapat keampunan atau yang seumpamanya)."
Oleh itu, janganlah kita membenci perbuatan saudara-saudara seagama yang membaca sesuatu daripada al-Quran di sisi kubur atau menghadiahkannya kepada mereka-mereka yang telah berpulang ke rahmat Allah. Rahmat Allah itu amat luas dan banyak jalan atau sebab untuk meraihnya.

Sumber : http://bahrusshofa.blogspot.com/2013/07/baca-yaasin-di-kuburan.html

Jumaat, 19 Julai 2013

Isu Air minum Yang Dicelup Rambut Rasulullah SAW



Apabila menjadi artis yang berhijrah untuk mendalami, lebih menyintai agama itu adalah perkara yang amat positif. Namun itu bukan tiket untuk terus menjadi mufti, atau mujtahid jadian, atau bercakap mengenai hukum yang kita jahil mengenainya. Berhati-hati apabila membicarakan sesuatu 'isu' berkaitan hukum yang anda bukan ahlinya.

Jawapan berkenaan dengan isu air minum yg dicelup rambut Rasulullah SAW - Oleh Ustaz Muhadir bin Hj Joll

Perbuatan itu dinamakan sebagai tabarruk.

Apakah makna tabarruk?

Tabarruk berasal dari perkataan barakah. Makna tabarruk ialah mengharapkan keberkatan daripada Allah dgn sesuatu yg mulia dlm pandanganNya.

Dipetik dari kitab Mafahim Yajibu an Tushahah oleh Dr. Sayyid Muhammad al Maliki, mafhumnya :

"Sewajarnya kita mengetahui bhw tabarruk itu tidak lain hanya suatu tawassul (jalan) menuju kpd Allah SWT samada ia suatu atsar (peninggalan), tempat atau orang perseorangan. Adapun org yg diberkati Allah hendaklah diyakini bhw dia mempunyai fadilat & taqarrubnya kpd Allah dgn keyakinan bhw dia tetap tidak mampu mendatangkan kebaikan atau menolak kejahatan (bala) kecuali dgn izin Allah SWT. Adapun atsar (peninggalan spt barang-barang dsbnya), maka adalah ia ada hubungan dgn org yg soleh yg diberkati tadi, maka ia adalah mulia kerana kemuliaan yg diberikan kpd org yg menggunakannya tadi. Ia menjadi mulia, diagung, dicintai kerana kemuliaan yg diberikan Allah SWT. Adapun tempat-tempat peninggalan, maka tidaklah ada kelebihan padanya hanya kerana zatnya yg ia semata mata tempat. Keutamaan & kemuliaan disebabkan oleh kebaikan & amal bakti yg selalu dilakukan di tempat itu."

Dalil yg menunjukkan boleh bertabarruk :

Allah SWT berfirman mengenai ucapan Nabi Yusuf a.s, mafhumnya : "Pergilah dgn membawa bajuku ini, kemudian letakkan pd muka ayahku supaya dia dpt melihat." (Surah Yusuf : 93)

Selepas bertabarruk dgn baju Nabi Yusuf a.s, maka dgn izin Allah mata ayahnya yakni Nabi Yaaqub a.s pulih semula (dpt melihat)

Disebut dalam Musnad Imam Ahmad, mafhumnya :

"Daripada Abdullah, maula Asma bin Abu Bakar berkata :Asma mengeluarkan (menunjukkan) kepadaku sehelai pakaian ada dua lubang yg berjahit. Lalu Asma berkata : Ini adalah pakaian Rasulullah SAW. Ia dahulu pernah disimpanoleh Aisyah, ketika Aisyah wafat, aku menyimpannya. Kami akan mencelupkannya ke dlm air untuk menjadi ubat kpd org sakit di kalangan kami."

Juga boleh rujuk dalil lain dalamsurah al Baqarah : 248, surah Hud : 48, surah an Naml : 8, surah as Saffat :113, surah Maryam : 31, surah Ali Imran : 98, surah al Isra' : 1, surah al Qasas : 30, dan beberapa surah lain.

Kebenaran daripada Rasulullah untuk bertabarruk :

Disebutkan dalam hadith : "Rasulullah SAW membahagi bahagikan rambut Baginda kpd para sahabat supaya mereka bertabarruk dengannya (rambut)." ( HR Bukhari & Muslim)

Hadith daripada Anas r.a : "Ketika Rasulullah SAW melihat Jamrah, Baginda SAW berkorban kemudian Baginda SAW meletakkan pencukur di rambut sebelah kanan lalu mencukurnya, lalu memberikannya (rambut) kpd Abu Talhah. Kemudian Baginda SAW meletakkan pencukur di sebelah kiri lalu mencukurnya, lalu berkata : Bahagi bahagikan kpd org ramai ( Riwayat at Tirmidzi)

Ubaidah r.a berkata. "Kalaulah aku memiliki sehelai rambut Baginda SAW, maka itu lebih berharga bagiku daripada dunia dan segala isinya." (Riwayat al Bukhari)

Abu Bakar r.a berkata "Aku melihat Khalid al Walid meminta rambut bahagian depan Rasulullah dan dia menerimanya. Dia biasa meletakkannya di atas matanya dan menciumnya."
Diketahui bhw kemudian dia meletakannya di 'qalansuwah' (penutup kepala yg dililit serban) miliknya & selalu menang dlm peperangan (Riwayat al Waqi dlm al Maghazi & Ibn Hajr dlm al Ishabah fi Tamyiz as Sahabah)

Contoh dpd para sahabat bertabarruk dgn atsar Rasulullah SAW :

Para sahabat berebut-rebut mengambil wudhu Rasulullah SAW & mengusap usapkannya ke wajah & kedua dua tgn mereka. Bagi mereka yg tidak sempat mendapatkannya, mereka mengusap daripada basahan tubuh sahabat lain yg terkena bekas wudhu Rasulullah SAW lalu mengusapkan ke wajah & tgn mereka." (Riwayat al Bukhari)

Ummu Salamah memiliki beberapa helai rambut Nabi SAW dlm sebuah botol perak & org akan pergi & mendapat berkat melalui rambut-rambut itu dan mereka sembuh. (Riwayat al Hafiz al Aini dalam Umdah al Qari)

(Jawapan oleh al Fadhil Ustaz Muhadir bin Haji Joll, Pensyarah UIA di Jabatan Ilmu Wahyu dan Warisan Islam)

Isnin, 15 Julai 2013

Penentuan Imsak Waktu Sahur



Terdapat anggapan bahawa menentukan waktu imsak untuk waktu sahur adalah bid'ah, kerana tidak ada contoh dari Nabi SallaLlahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Jawapan :

Penentuan Waktu Imsak dalam bulan suci Ramadhan adalah untuk memudahkan orang yang makan sahur. Iaitu supaya orang yang akan makan sahut mengetahui batas akhir waktu sahur, sehingga sebelum masuk waktu subuh sudah selesai makan sahur.

Penetapan imsakiyah ini sangat membantu mempermudahkan orang yang sahur. Semua ini dilakukan untuk lebih berhati-hati demi sempurnanya ibadah. Menentukan waktu imsak bukan Bid'ah kerana al Quran telah menentukan dan memberikan gambaran batasan waktu sahur, seperti dalam firman Allah :

فَٱلۡـَٔـٰنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا ڪَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡ‌ۚ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِ‌ۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِ‌ۚ

Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (maghrib) (Surah al Baqarah : 187)

Ayat tersebut menjelaskan tentang batasan waktu sahur atau yang dikenal sebagai imsak iaitu sampai muncul fajar. Dan Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam juga menetapkan waktu imsak iaitu antara selesai makan sahur dan azan subuh kira-kira selama orang membaca ayat al Quran sebanyak 50 ayat dengan bacaan tartil.

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال : تسحرنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ثم قام إلى الصلاة فقيل له : كم كان بين الأذان والسحور ؟      قال : قدر خمسين آية  - رواه البخاري   - مختصر صحيح البخاري ص 368 - 369

Zaid ibn Thabit radiyaLlahu 'anhu berkata : Kami sahur bersama Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam, kemudian melakukan solat, maka ditanyakan kepadanya : Apa yang menjadi batas waktu antara sahur dan azan Subuh (imsak) ? Jawabnya : "Batasnya (jarak waktunya) iaitu kira-kira cukup untuk membaca 50 ayat al Quran " Hadith riwayat Bukhari (Mukhtasar sahih Bukhari (368-369)

Sumber Rujukan : Drs. KH. M. Sufyan Raji Abdullah LC. Menyikapi Masalah-masalah yang dianggap Bid'ah, Cet Pertama 2010, Pustaka Al Riyadl, Jakarta

Tambahan Bacaan : Adakah Waktu Imsak Dalam Islam ?