Hukum Mengucapkan Madad Ya Rasulallah : Pencerahan Buat Abu Anas Madani
17/08/201413,551 viewer | Posted by aswj-rg.com
Share Button
Pin It
Artikel pada kali ini kami merespon terhadap status facebook Abu Anas Madani yang boleh dikira sebagai berbahaya kepada masyarakat kerana boleh menjerumuskan kepada budaya takfir mentakfir, kami mengharapkan supaya Abu Anas Madani lebih teliti dan ilmiah ketika mengulas sesuatu isu apatah lagi jika implikasinya adalah syirik dan takfir, Jika tidak mampu berbuat secara ilmiah, berdiam diri adalah lebih baik dari menimbulkan kerosakan kepada masyarakat. Selepas ini kami akan mula menghadapkan para penyelidik kami untuk mengoreksi beberapa lagi tulisan abu anas madani di facebook atau laman web beliau (jika ada) kerana terlalu banyak aduan yang diterima pihak kami dari masyarakat bahawa Abu Anas Madani mengelirukan masyarakat dengan penulisan-penulisan beliau. Wallahualam. Status facebook yang dimaksudkan boleh dilihat disini:
https://www.facebook.com/AbuAnasMadani/posts/942200195806615:0
Tawassul dan istighatsah kepada para nabi atau orang shalih yang sudah wafat telah diamalkan sejak masa ulama salaf yang shalih. Dalam berbagai macam redaksi tawassul dan istighatasah, terus dipraktekkan dari generasi salaf hingga saat ini oleh mayoritas umat muslim di berbagai belahan dunia ini, tak ada yang mengingkarinya kecuali segelintir kaum yang tidak memahami subtansi tawassul dan istighatsah dengan baik dan benar sesuai pemahaman ulama salaf yang shalih.
1476762_10201216862329647_2027166840_n
Berikut di antara kekeliruan segelintir kaum itu dalam memahami redaksi istighatsah dengan teks “ al-Madad atau adrikni “ :
Dr Abu Anas mengatakan :
Sebahagian melaungkan qasidah ini tanpa ada niat memohon pertolongan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, dan kita berharap inilah yang diyakini kebanyakan mereka yang membaca Qasidah itu. Akan tetapi terdapat sebahagian mereka yang benar-benar meyakini bahawa boleh meminta tolong daripada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam selepas kewafatan baginda kerana mereka berpegang bahawa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup di alam kubur, dan mampu mendoakan umatnya sebagaimana ketika baginda sallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.
Kami jawab :
Yang kedua pun tak salah menurut ajaran Ahlus sunnah wal Jama’ah. Karena meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas kewafatannya, juga tidak meyakini sumber atau penciptaan pertolongan maupun madhorot dari dzat Rasulullah sendiri melainkan meyakini bahwa pertolongan, bantuan, manfaat ataupun madharat (bahaya) hanyalah dari Allah semata yang menciptakannya. Hal ini sesuai pemahaman mayoritas ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah sejak masa Nabi, sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga masa kita sekarang ini dan dipegang oleh mayoritas umat muslim di seluruh penjuru dunia ini.
Sebelum kami menjelaskan secara detail, ada baiknya Dr Abu Anas merenungi hadits-hadits sahih berikut ini :
إن لله ملائكةً في الأرض سوى الحفظة يكتبون ما يسقط من ورق الشجر، فإذا أصاب أحدكم عرجة بأرض فلاة فليناد: أعينوا عباد الله
“ Sesungguhnya Allah memiliki malaikat di bumi selain Hafadzah yang menulis daun-daun yang jatuh dari pohonnya, maka jika kalian ditimpa kesulitan di suatu padang, maka hendaklah mengatakan : “ Tolonglah aku wahai para hamba Allah “.[1]
Dengan jelas hadits ini menunjukkan seruan yang meminta pertolongan kepada orang yang tidak hadir di hadapannya, entah itu wali Allah atau pun malaikat dan ini merupakan bagian dari istighatsah (meminta pertolongan). Nabi telah mengajarkannya pada umat Islam dan ini pun telah diamalkan oleh ulam salaf di antaranya imam Ahmad bin Hanbal dan juga para ulama setelahnya seperti para guru imam Nawawi. Bahkan dalam riwayat yang lain hadits seperti di atas, dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Albani mengomentari bahwasanya imam Ahmad beristighatsah dengan malaikat. Apakah imam Ahmad bin Hanbal telah musyrik karena beristighatasah dengan malaikat sebagaimana keterangan al-Albani dalam kitab as-Silsilah adh-Dhaifah ?
وَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الأُذُنِ ، فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ ، ثُمَّ بِمُوسَى ، ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ
“ Dan berkata : “ Sesungguhnya matahari akan mendekat di hari kiamat hingga keringat mencapai telinga, ketika keadaan mereka seperti itu, maka mereka beristighatsah dengan Nabi Adam, kemudian kepada Musa kemudian kepada nabi Muhammad “. (HR. Bukhari)
Jika meminta pertolongan kepada nabi yang sudah wafat dilarang, lalu kenapa mereka beristighatsah kepada para nabi di atas dan tidak beristighatsah kepada Allah langsung ? atau apakah syirik boleh dilakukan di akherat dan tidak boleh dilakukan di dunia ?? seandainya meminta pertolongan kepada Nabi yang sudah wafat itu haram dan syirik, sepatutnya juga syirik jika dilakukan di akherat nanti. Kecuali jika mereka menghukumi syirik di dunia dan tidak syirik di akherat.
Nabi juga pernah mengucapkan :
اللهم اسقنا غيثا مغيثا مريئا مريعا نافعا غير ضار عاجلا غيرآجل
“ Ya Allah, turunkanlah hujan yang menolong, menyelamatakan, enak, yang subur, memberi manfaat dan tidak mendatangkan bahaya, segera dan tidak ditunda “. (HR. Abu Dawud : 988 dengan sanad yang sahih)
Dalam hadits yang berupa doa tersebut, Nabi menyebut dan menamakan hujan sebagai Mughits (penolong), Nafi’ (pemberi manfaat) dan Ghair Dhaarrin (Tidak mendatangkan bahaya).
Apakah Nabi kita vonis musyrik dengan ucapannya itu ? Apakah berarti Nabi telah meyakini bahwa hujan itu merupakan penolong, penyelamat dan pemberi manfaat ?? Atau apakah Nabi ingin mengajarkan kesyirikan kepada umatnya ??
Makna ucapan “ al-Madad atau Adrikni Ya Rasulallah “.
Ucapan di atas masuk dalam kategori tawassul dan istighatasah. Kedua ucapan di atas mengandung seruan (nida’ ; Ya Rasulallah) dan tawassul dengan ungkapan “ al-Madad “ atau “ adrikni “. Maka maknanya adalah, “ kami memohon pertolongan dengan perantaraanmu wahai Rasulallah “.
Pada hakekatnya kaum muslimin yang bertawassul atau beritighatsah dengan nabi atau orang shaleh sama ada yang wafat atau yang masih hidup, adalah mereka hanyalah memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah semata, dan pertolongan atau bantuan itu termasuk yang Allah mampukan kepada nabi atau orang shalih itu dan Allah kasihkan kepada mereka. Maka ucapan seorang yang bertawassul atau beristighatsah misal : “ Wahai nabi Allah, sembuhkanlah aku, tunaikanlah hutangkau “, maka sesungguhnya ia hanyalah menginginkan : “ Bantulah aku dengan syafa’at dan pertolonganmu agar aku sembuh, dan doakanlah agar hutangku terlunasi, bertawajjuhlah kepada Allah dalam urusanku ini “. Maka mereka kaum muslimin tidaklah meminta kecuali apa yang Allah mampukan dan berikan pada mereka berupa doa dan syafa’at atau pertolongan.
Penisbatan al-madad (pertolongan), al-‘aun (bantuan) kepada Rasulullah atau makhluk lainnya hanyalah majaz (bukan hakekatnya) dan penisbatan semacam ini dibenarkan dalam hadits dan al-Quran sendiri. Dan kaum muslimin pun tidak meyakini pertolongan dan bantuan diciptakan oleh Rasulullah atau makhluk lainnya, melainkan kaum muslimin meyakini pertolongan, manfaat ataupun bahaya hanyalah dari Allah semata.
Contoh sebagaimana yang telah kami tampilkan di awal hadits Nabi berikut :
اللهم اسقنا غيثا مغيثا مريئا مريعا نافعا غير ضار عاجلا غيرآجل
“ Ya Allah, turunkanlah hujan yang menolong, menyelamatakan, enak, yang subur, memberi manfaat dan tidak mendatangkan bahaya, segera dan tidak ditunda “. (HR. Abu Dawud : 988 dengan sanad yang sahih)
Dalam hadits yang berupa doa tersebut, Nabi menyebut dan menamakan hujan sebagai Mughits (penolong), Nafi’ (pemberi manfaat) dan Ghair Dhaarrin (Tidak mendatangkan bahaya).
Mungkinkah Nabi menyebut Hujan sebagai penolong, pemberi manfaat secara hakekatnya dan bukan majaz ?? jelas Nabi tidak bermaksud secara hakekatnya melainkan secara majaz, sebab jelas jika meyakini hujan sebagai pemberi pertolongan dan manfaat secara independen, maka hukumnya mensyirikkan Allah dengan makhluk-Nya. Maka sudah tentu yang Nabi maksudkan adalah secara majaz bukan hakikatnya.
Jika hujan saja boleh disebut al-ghouts secara majaz, maka demikian pula makhluk Allah termulia yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah banyak sebab perantara beliau umatnya bahkan seluruh alam mendapatkan banyak nikmat, pertolongan dan rahmat dari Allah Ta’ala, lebih layak disebut al-ghauts atau al-madad secara majaz.
Contoh, dalam al-Quran disebutkan :
إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا
“ Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu (wahai Maryam), untuk aku berikan padamu seorang anak yang cerdas “. (QS. Maryam : 19)
Apakah Jibril yang memberikan seorang anak untuk Maryam ?? tentu tidak, yang memberikan dan menciptakan seorang anak hanyalah Allah semata. Maka menisbatkan kata “ AHABA (Aku memberikan) “, adalah bersifat majaz bukan hakikatnya.
Dalam al-Quran Nabi Isa juga mengatakan :
أني أخلق لكم من الطين كهيئة الطير فانفخ فيه فيكون طيرا بإذن الله
“ Aku membuat untuk kamu dari tanah sebagai bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah “ (QS. Ali Imran : 49 )
Apakah nabi Isa yang menciptakan burung dari tanah liat karena beliau sendiri yang mengatakan mencitpakan dan meniupkan menjadi hidup ?? tidak, akan tetapi kata penciptaan dan peniupan adalah majaz bukan hakikatnya
.
Demikian juga ucapan “ al-Madad Ya Rasulullah “ atau “ adrikni Ya Rasullah “, bukanlah secara hakikatnya melainkan secara majaz saja, adapun hakikatnya yang memberi pertolongan adalah hanyala Allah semata bukan yang lain-Nya. Dan Rasulullah sendiri pun telah menegaskan kepada umatnya :
وإِنما أنا قاسم والله يعطي
“ Sesungguhnya saya hanyalah pembagi sedangkan Allah lah yang memberi “. (HR. Bukhari)
Allah Ta’ala pun telah berfirman :
وإذْ تَقولُ للذي أَنْعَمَ اللهُ عليهِ وأنْعَمْتَ عليه
“ Dan ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau juga telah memberi nikmat kepadanya…” (QS. Al-Ahzab : 37)
Apakah berarti Rasulullah juga mampu memberikan nikmat sebagaimana Allah ? apakah Rasul menjadi sekutu Allah karena sama-sama mampu memberikan nikmat sebagaimana ayat tersebut ?
Tidak demikian, akan tetapi maknanya adalah majaz yakni Rasul hanyalah menjadi faktor penyebab datangnya nikmat dari Allah. Dalam ayat itu, Zaid bin Haritsah mendapat berbagai nikmat dengan sebab (perantara) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia masuk Islam di tangan Nabi, ia dimerdekakan oleh Nabi, ia dinikahkan dengan pilihan Nabi dan ia menjadi sahabat utama Nabi. Namun Allah menisbatkan kalimat, “ engkau (Muhammad) juga telah memberikan nikmat “ kepada nabi Muhammad bukan berarti secara hekekatnya beliau mampu menciptakan nikmat, akan tetapi itu hanyalah majaz yang bermakna nabi Muhammad menjadi faktor penyebab datangnya nikmat.
Inilah pemahaman Ahlus sunnah Wal Jama’ah sejak masa sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga saat ini yang dipegang oleh mayoritas umat muslim di belahan dunia ini.
Jika hal semacam ini dinilai syirik maka sudah pasti Nabi tidak akan mengajarkan kepada umatnya apabila ditimpa kesulitan di suatu tanah lapang hendaknya mengucapkan “ Tolonglah aku wahai hamba Allah ! “, sebagaimana hadits yang telah kami tampilkan di awal. Karena jelas ucapan tersebut seolah meminta pertolongan kepada selain Allah, melainkan meminta pertolongan kepada makhluk yang tidak ada di hadapannya. Kenapa Nabi tidak langsung mengajarkan meminta pertolongan kepada Allah saja ? ini bukti bahwa tawassul dengan nida’ (seruan) telah dilegalitas oleh Nabi sendiri asalkan meyakini bahwa pemberi pertolongan ataupun madhorot hanyalah Allah semata.
Adapun fatwa ulama wahabi yang mengatakan :
ولكن حياته لا تعني أنه يزور الناس في أماكنهم أو يحضر جلساتهم وأذكارهم ويدعو لهم، إذ لو جاز أن يفعل شيئا من ذلك، لفعله مع صحابته وخلفائه وهم أفضل أمته وأعز الخلق عليه.
“ Tetapi hidupnya tidak bermaksud baginda sallallahu ‘alaihi wasallam akan menziarahi manusia di tempat mereka, atau menghadiri majlis-majlis mereka, lalu berdoa untuk mereka. Seandainya baginda sallallahu ‘alaihi wasallam boleh melakukan hal ini, nescaya baginda sallallahu ‘alaihi wasallam akan melakukannya bersama-sama sahabat-sahabatnya, khalifah-khalifahnya kerana mereka adalah umatnya yang paling utama dan paling dicintai olehnya.”
Jelas ini adalah penilaian yang tidak tepat pada sasarannya. Karena kami meyakini bahwa apa yang kami ucapkan bahkan apa yang kami lakukan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya tanpa harus datang ke tempat atau majlis kami. Dan pernyataan ulama wahabi tersebut justru bertentangan dengan hadits-hadits sahih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
حَياَتيِ خَيْرُ لَّكُمْ فَاِذَا أَنَامِتُّ كَانَتْ وَفَاتِى خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالَكُم فَاِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ الله وَأِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ
“Hidupku didunia ini baik untuk kalian. Bila aku telah wafat, maka wafatku pun baik bagi kalian. Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat sesuatu baik, kupanjatkan puji syukur kehadirat Allah, dan jika aku melihat sesuatu yang buruk aku mohon kan ampunan kepada-Nya bagi kalian”.[2]
Hadits ini begitu jelas bahwasanya amal perbuatan kita diperlihatkan kepada Rasulullah dan bahkan Rasulullah juga mendoakan kita dan memohonkan ampunan untuk kita di alam barzakhnya tanpa beliau harus datang ke tempat atau majlis kita.
Ibnul Qayyim menyebutkan sebuah hadits berikut :
من صلى علي عند قبري سمعته ومن صلى علي من بعيد اعلمته
“ Barang siapa yang membaca shalawat di dekat makamku, maka aku mendengar-nya. Dan barang siapa yang membaca shalawat dari tempat yang jauh, maka aku diberitahukannya ”.[3]
Hadits ini menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui ucapan sholawat umatnya sama ada di dekat kuburnya ataupun di tempat yang jauh. Kedua hadits di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwasanya perbuatan kita dan ucapan sholawat kita dapat diketahui oleh Nabi di manapun kita berada.
Tawassul dan Istighatasah dengan Nabi atau wali yang sudah wafat telah diamalkan sejak masa ulama salaf shalih.
Pada hakekatnya meminta pertolongan kepada wali atau orang shalih yang sudah wafat dengan cara bertawassul atau istighatsah maka maksudnya adalah memohon kepada para Nabi dan orang-orang shalih untuk menjadi faktor penyebab di sisi Allah dalam memenuhi apa yang mereka mohon dari Allah. Dengan cara Allah menciptakan kebutuhannya sebab syafaat, doa dan tawajjuh para wali dan orang shalih tersebut, bukan meminta langsung kepada wali atau orang shalih untuk menciptakan apa yang mereka minta dan inginkan dan bahkan hal terkabulnya hajat sebab tawassul kepada para wali merupakan salah satu mu’jizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Hafidz Ibnu Shalah (w 643 H) berkata ketika menceritakan mu’jizat Nabi :
وَذَلِكَ أَنَّ كَرَامَاتِ اْلأَوْلِيَاءِ مِنْ أُمَّتِهِ وَإِجَابَاتِ اْلمُتَوَسِّلِيْنَ بِهِ فيِ حَوَائِجِهِمْ وَمَغُوْثَاتِهِمْ عَقِيْبَ تَوَسُّلِهِمْ بِهِ فيِ شَدَائِدِهِمْ بَرَاهِيْنُ لَهُ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوَاطِعُ وَمُعْجِزَاتٌ لَهُ سَوَاطِعُ وَلاَ يَعُدُّهَا عَدٌّ وَلاَ يَحْصُرُهَا حَدٌّ أَعَاذَنَا اللهُ مِنَ الزَّيْغِ عَنْ مِلَّتِهِ وَجَعَلَنَا مِنَ اْلمُهْتَدِيْنَ اْلهَادِيْنَ بِهَدْيِهِ وَسُنَّتِهِ
“ Demikian itu bahwa karamah para wali Allah dari umatnya, dan terkabulnya hajat-hajat orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan mereka ketika dalam keadaan susah, merupakan bukti yang kuat dan mu’jizat yang terang, yang tidak mampu dihitungnya, kita berlindung kepada Allah dari menyimpang dari ajarannya dan menjadikan kami termasuk orang yang mendapat hidayat dengan petunjuknya dan sunnahnya “[4]
Al-Imam al-Alusi al-Mufassir mengatakan :
وبعد هذا كلـه لا أرى بأساً في التوسـل إلى الله بجاه النبي صلى الله عليه وسلم عند الله تعالى حياً وميتاً
“ Setelah (hujjah-hujjah) ini, maka saya mengatakan tidak mengapa di dalam bertawassul kepada Allah dengan perantara jaah (kedudukan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah, sama ada Nabi masih hidup ataupun sudah wafat “.[5]
Kemudian beliau juga mengatakan :
لا بأس به أيضاً إنْ كان المتوسل بجاهه مما علم أنّ له جاهاً عند الله تعالى كالمقطوع بصلاحه وولايته
“ Tidaklah mengapa juga bertawassul, jika orang yang dijadikan perantara tawassul adalah orang yang memiliki jaah (kedudukan) di sisi Allah Ta’ala seperti orang yang sudah diyakini dengan keshalihan dan kewaliannya “.[6]
Tawassul, istighatasah dan tabarruk dengan Nabi atau orang shalih yang sudah wafat telah diamalkan sejak masa salaf bahkan hingga datang ke kuburannya.
Al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikhnya berkata dari Abi Abdillah al-Mahamili bahwa ia berkata :
أعرف قبر معروفٍ الكرخي منذ سبعين سنةً، ما قصده مهموم إلا فرج الله همه
“ Aku tahu makam Ma’ruf AL-Kurkhi sejak 70 tahun, tidaklah seorang yang susah mendatanginya, kecuali Allah melapangkan kesusahannya “.[7]
Abu Abdillah bin al-Muhamili ini lahir di Baghdad pada tahun 235 H dan wafat pada tahun 330 H.
Ibnu Khalkan juga mengatakan :
وأهل بغداد يستسقون بقبره ويقولون قبر معروف ترياق مجرب. وقبره مشهور يزار
“ Penduduk Baghdad (bertawassul) dengan istisqa melalui kuburannya dan mengatakan, “ Kubur Ma’ruf adalah obat yang mujarrab “, dan kuburannya masyhur (terkenal) banyak diziarahi “[8]
Dan Ma’ruf al-Khurkhi wafat pada tahun 200 Hijriyyah.
Seorang ulama salaf bernama Ibrahim al-Harbi (w 285 H) di mana imam Ahmad bin Hanbal pernah memondokkan putranya pada beliau, seorang Hafidz, Faqih dan Mujtahid pernah berkata :
قبر معروفٍ الترياق المجرب
“ Kuburan Ma’ruf al-Kurkhi adalah obat yang mujarrab “,
Al-Khatib al-Baghdadi mengomentarinya : “ Tiryaq adalah obat yang diracik dari berbagai bahan yang dikenal di kalangan para tabib masa lalu karena banyaknya manfaatnya, dan banyak macamnya. Al-Harbi menyerupakan makam Ma’ruf al-Kurkhi dengan obat di dalam banyaknya manfaat, maka seolah-olah al-Harbi berkata : “ Wahai manusia, datanglah ke kuburan Ma’ruf al-Kurkhi dengan bertabarruk karena banyak manfaat yang akan diperoleh “.[9]
Al-Khatib al-Baghdadi berkata dari Hasan bin Ibrahim al-Khallal, bahwa beliau berkata :
ما همني أمر فقصدت قبر موسى بن جعفرٍ فتوسلت به إلا سهل الله تعالى لي ما أحب
“ Tidaklah ada satu perkara yang membuatku susah, lalu aku dating ke makam Musa bin Jakfar, kemudian aku bertawassul dengannya, maka Allah akan memudahkan apa yang aku inginkan “.[10]
Para Imam Ahli Hadits, yaitu al-Imam al-Thabarani, al-Imam Abu al-Syaikh al-Ashibhani dan al-Imam Ibn al-Muqri beristighatsah dengan Nabi. Disebutkan bahwasanya mereka bertiga datang ke kota Madinah lalu, ketika mereka kelaparan maka malam harinya Ibn al-Muqri menziarahi makam Nabi dan mengucapkan, “ Wahai Rasulallah, kami lapar “. Maka tidak lama datanglah seorang keturunan Nabi dengan membawa makanan yang cukup banyak untuk mereka, karena ia bermimpi Nabi untuk memberikan makanan pada mereka bertiga.[11]
Al-Khatib al-Baghdadi juga meriwayatkan :
قال أنبأنا أبو عبد الرحمن محمد بن الحسين السلمي بنيسابور قال سمعت أبا بكر الرازي يقول سمعت عبد الله بن موسى الطلحي يقول سمعت أحمد بن العباس يقول خرجت من بغداد فاستقبلني رجل عليه أثر العبادة فقال لي من أين خرجت قلت من بغداد هربت منها لما رأيت فيها من الفساد خفت أن يخسف بأهلها فقال ارجع ولا تخف فان فيها قبور أربعة من أولياء الله هم حصن لهم من جميع البلايا قلت من هم قال ثم الامام أحمد بن حنبل ومعروف الكرخي وبشر الحافي ومنصور بن عمار فرجعت وزرت القبور ولم أخرج تلك السنة
“ Telah menceritakan padaku Abu Abdurrahman bin Husain as-Salma di Naisabur, ia berkata, “ Aku mendengar Abu Bakar ar-Razi berkata, “ Akau mendengar Abdullah bin Musa ath-Thalhi berkata, “ Aku mendengar Ahmad bin al-Abbas berkata, “ Aku keluar dari Baghdad, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang ada bekas ibadah atasnya, dan bertanya padaku, “ Dari mana engkau keluar ? “. Aku menjawab, “ Aku lari dari Baghdad, karena aku khawatir Allah menenggelamkan penduduknya ke dalam bumi karena kerusakan yang aku lihat di sana “, maka laki-laki itu berkata, “ Kembalilah dan janganlah takut, karena di Baghdad ada empat makam wali Allah, mereka adalah benteng untuk penduduknya dari semua bahaya “. Aku bertanya, siapa mereka ?, ia menjawab “ Mereka adalah imam Ahmad bin Hanbal, Ma’ruf al-Khurkhi, Bisyr al-Hafi dan Manshur bin ‘Ammar “. Maka aku kembali dan aku ziarahi kuburan-kuburan itu dan aku tidak keluar dari Baghadad selama setahun “.[12]
Dan masih banyak lagi hujjah dan dalil berkenaan masalah ini yang tidka kami tampilkan di sini, semoga yang singkat ini memberikan pencerahan bagi mereka dan mennambah keyakinan khususnya bagi Ahlus sunnah wal Jama’ah.
Ibnu Abdillah al-Katibiy
Kota Santri, 16/08/2014
Bacaan Tambahan:
http://akitiano.blogspot.com/2014/02/al-madad-dari-sisi-pandang-tasawwuf.html
[1] Hadits ini dinilai hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar, as-Sakhawi dan al-Haitsami lihat (Majma’ al-Zawaid : 10/132). Bahkan al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dikuatkan oleh imam Ahmad bin Hanbal karena imam Ahmad pun mengamalkannya. Lihat as-Silsilah adh-Dhaifah : 2/109
[2] Al-Haitsami menilai hadits tersebut sahih, lihat kitab Majma’ az-Zawaid : 9/24. Al-Hafidz al-Iraqi menilai sanadnya jayyid, lihat : Tharah at-Tatsrib : 3/297. Dan imam Suyuthi menilainya sahih, lihat kitab al-Khashaish : 2/281
[3] Jilaa al-Afham, Ibnul Qayyim : 109. Hadits ini sanadnya dinilai jayyid oleh imam as-Sakhawi dan al-Hafidz Ibnu Hajar, lihat kitab al-Qaul al-Badi’ : 227
[4] Aadab al-Muffti wa al-Mustafti : 1/210
[5] Tafsir Ruh al-Ma’ani : 4/187
[6] Tafsir Ruh al-Ma’ani : 4/188
[7] Tarikh Baghdad : 1/135
[8] Tarikh Ibnu Khalkan : 2/224
[9] Tarikh Baghdad : 1/122
[10] Tarikh Baghdad : 1/120
[11] Lihat kitab Tadzkirat al-Huffazh, adz-Dzahabi Juz 3 hal. 974.
[12] Tarikh al-Baghdad : 1/133
https://web.archive.org/web/20150516140338/http://www.aswj-rg.com/2014/08/hukum-mengucapkan-madad-ya-rasulullah-pencerahan-buat-abu-anas-madani.html
CARIAN ILMU DI JOMFAHAM :
Jumaat, 28 Jun 2019
Khamis, 30 Mei 2019
Kubah Makam Para Ulama
Kubah Makam Para Ulama
Bagi Wahabi makam ulama yang tinggi-tinggi dan memiliki kubah wajid dibongkar. Namun keanehan dari Wahabi ini bertolak belakang dengan realitas sejarah umat Islam sejak masa Salaf
Kubah Makam Para Sahabat
وَأَمَّا اْلمَشَاهِدُ الْمَعْرُوْفَةُ الْيَوْمَ بِالْمَدِيْنَةِ فَمَشْهَدُ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ وَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيّ وَمَنْ مَعَهُمَا عَلَيْهِمْ قُبَّةٌ شَامِخَةٌ قَالَ ابْنُ النَّجَارِ وَهِيَ كَبِيْرَةُ عَالِيَةُ قَدِيْمَةُ الْبِنَاءِ وَعَلَيْهَا بَابَانِ (خلاصة الوفا بأخبار دار المصطفى – ج 1 / ص 262)
“Adapun makam-makam yang terkenal saat ini di Madinah adalah makam Abbas bin Abdil Muthallib, makam Hasan bin Ali dan orang yang bersamanya. Diatas makam-makam mereka ada kubah yang tinggi. Ibnu an-Najjar berkata: Kubah itu besar, tinggi dan bangunan kuno, yang memiliki 2 pintu” (Khulashat al-Wafa 1/262)
Kubah Makam Sayidina Abbas
وَمَاتَ (الْعَبَّاسُ) سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَثَلاَثِيْنَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ عُثْمَانُ. وَدُفِنَ بِالْبَقِيْعِ. وَعَلَى قَبْرِهِ الْيَوْمَ قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ بِنَاءِ خُلَفَاءِ آلِ الْعَبَّاسِ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 2 / ص 97)
“Abbas (paman Rasulullah Saw) meninggal pada tahun 32 H. Disalati oleh Utsman, dimakamkan di Baqi’ dan diatas kuburnya ada kubah besar yang dibangun para Khalifah keluarga Abbas” (Siyar A’lam an-Nubala’ 2/97)
Syaikh al-Arnauth yang mentahqiq kitab tersebut berkata:
هَذَا كَانَ فِي عَصْرِ الْمُؤَلِّفِ أَمَّا اْلآنَ فَلَمْ يَبْقَ لَهَا أَثَرٌ.
“Kubah ini ada di masa muallif (al-Hafidz adz-Dzahabi). Sedangkan saat ini sudah tidak ada bekasnya”
Kubah Makam Sahabat Uqail
عُقَيْلُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ الصَّحَابِى، رَضِىَ اللهُ عَنْهُ: تُوُفِّىَ فِى خِلاَفَةِ مُعَاوِيَةَ، وَقَدْ كُفَّ بَصَرُهُ، وَدُفِنَ بِالْبَقِيْعِ، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ عَلَيْهِ قُبَّةٌ فِى أَوَّلِ الْبَقِيْعِ. (تهذيب الأسماء للحافظ النووي – ج 1 / ص 463)
“Uqail bin Abi Thalib, seorang sahabat. Wafat di masa khilafah Muawiyah, sungguh ia telah buta, dimakamkan di Baqi’, dan makamnya terkenal, diatasnya ada kubahnya di awal Baqi’” (Tahdzib al-Asma’ 1/463)
Kubah Makam Ibrahim Putra Rasulullah
وَدُفِنَ (اِبْرَاهِيْمُ) بِالْبَقِيْعِ، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ عَلَيْهِ قُبَّةٌ (تهذيب الأسماء للحافظ النووي – ج 1 / ص 130)
“Ibrahim dimakamkan di Baqi’, makamnya terkenal, diatasnya ada kubahnya” (Tahdzib al-Asma’ 1/130)
Kubah Makam Zubair bin Awwam
حَوَادِثُ سَنَةَ سِتٍّ وَثَمَانِيْنَ وَثَلاَثِمِائَةٍ. فِي الْمُحَرَّمِ ادَّعَى أَهْلُ الْبَصْرَةِ أَنَّهُمْ كُشِفُوْا عَنْ قَبْرٍ عَتِيْقٍ، فَوَجَدُوْا فِيْهِ مَيِّتاً طَرِياً بِشَابِهِ وَسَيْفِهِ، وَأَنَّهُ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ، فَأَخْرَجُوْهُ وَكَفَّنُوْهُ وَدَفَنُوْهُ بِالْمَرْبَدِ، وَبَنَوْا عَلَيْهِ، وَعُمِلَ لَهُ مَسْجِدٌ، وَنُقِلَتْ إِلَيْهِ الْقَنَادِيْلُ وَالْبُسُطُ وَالْقُوَّامٌ وَالْحَفَظَةُ. قَامَ بِذَلِكَ اْلأَمِيْرُ أَبُوْ الْمِسْكِ. فَاللهُ أَعْلَمُ مِنْ ذَاكَ الْمَيِّتِ. (تاريخ الإسلام للحافظ الذهبي – ج 6 / ص 303)
“Kejadian-kejadian tahun 386 H. Di bulan Muharram, penduduk Bashrah mengaku bahwa mereka menemukan makam tua yang terbuka. Mereka mendapati janazah yang masih segar bugar dan pedangnya. Menurut mereka ia adalah Zubair bin Awwam. Lalu mereka mengeluarkannya, mengkafaninya, membangun makamnya, dibuatkan masjid, diberi lampu, tikar, perawat dan penjaga. Pendirinya adalah al-Amir Abu al-Misk. Allah yang mengetahui mayit tersebut” (Tarikh al-Islam 6/303)
Kubah Makam Ulama
Kubah Makam Imam Abu Hanifah
تُوُفِّيَ (اَبُوْ حَنِيْفَةَ) شَهِيْدًا مَسْقِيًّا فِي سَنَةِ خَمْسِيْنَ وَمِئَةٍ. وَلَهُ سَبْعُوْنَ سَنَةً، وَعَلَيْهِ قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ وَمَشْهَدٌ فَاخِرٌ بِبَغْدَادَ، وَاللهُ أَعْلَمُ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 6 / ص 403)
“Abu Hanifah wafat sebagai syahid pada 150 H, usianya 70 tahun dan diatas makamnya ada kubah besar dan makam yang megah di Baghdad” (Siyar A’lam an-Nubala’ 6/403)
Di bagian lain al-Hafidz adz-Dzahabai berkata:
وَبَنَوْا عَلَى قَبْرِ أَبِي حَنِيْفَةَ قُبَّةً عَظِيْمَةًً (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 18 / ص 314)
“Mereka membangun kubah besar di atas makam Abu Hanifah” (Siyar A’lam an-Nubala’ 18/314)
al-Hafidz Ibnu Katsir berkata:
سَنَةَ تِسْعٍ وَخَمْسِيْنَ وَأَرْبَعِمِاَئةٍ فِيْهَا بَنَى أَبُوْ سَعِيْدِ الْمُسْتَوْفِى الْمُلَقَّبُ بِشَرَفِ الْمَلِكِ مَشْهَدَ اْلإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ بِبَغْدَادَ وَعَقَدَ عَلَيْهِ قُبَّةً وَعَمِلَ بِإِزَائِهِ مَدْرَسَةً (البداية والنهاية للحافظ ابن كثير – ج 12 / ص 95)
“Pada tahun 459, Abu Said al-Mustahfa yang dibelari dengan Syaraf al-Malik membangun makam Abu Hanifah di Baghdad. Ia membuatkan kubah dan madrasah di dekanya” (al-Bidayah wa an-Nihayah 12/95)
Kubah Makam Qadli Iyadl
وَبُنِىَ عَلَيْهِ (الْقَاضِي عِيَاضٍ) قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ ذَاتَ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ، وَأَلْزَمَ الْفُقَهَاءُ بِالتَّرَدُّدِ إِلَى هُنَاكَ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ لِيَشْتَهِرَ الْقَبْرُ. قَالَ لِي أَبُوْ عَمْرٍو: أَنَا جِئْتُ إِلَى الْقُبَّةِ الْمَذْكُوْرَةِ، وَدَعَوْتُ اللهَ تَعَالَى، فَاسْتَجَابَ لِي. وَاللهُ أَعْلَمُ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 20 / ص 217)
“Dan makam Qadli Iyadl dibangunkan kubah besar persegi empat. Para ulama fikih bolak-balik berdatangan kesana untuk membaca al-Quran, untuk mempopulerkan makam. Abu Amr berkata kepada saya; Saya mendatangi kubah makam tersebut dan saya berdoa kepada Allah, lalu Allah mengabulkan untuk saya. Wallahu A’lam” (Siyar A’lam an-Nubala’ 20/217)
Kubah Makam Syaikh al-Karmani
وَمَاتَ رَاجِعاً مِنْ مَكَّةَ فِي سَادِسَ عَشَرَ الْمُحَرَّمِ بِمَنْزِلَةٍ تُعْرَفُ بِرَوْضٍ مِنْهَا، وَنُقِلَ إِلَى بَغْدَادَ فَدُفِنَ بِهَا، وَكَانَ أَعَدَّ لِنَفْسِهِ قَبْراً بِجِوَارِ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشَّيْرَازِي وَبُنِيَتْ عَلَيْهِ قُبَّةٌ (إنباء الغمر بأبناء العمر للحافظ ابن حجر – ج 1 / ص 112)
“Syaikh Muhammad bin Yususf al-Karmani (lahir 717 H). Ia wafat ketika kembali dari Makkah pada 16 Muharram di sebuat tempat yang dikenal dengan sebah taman, kemudian dipindah ke Baghdad dan dimakamkan disana. Ia telah menyiapkan makam untuk dirinya sendiri di dekat Abu Ishaq asy-Syairazi, dan dibangunkan sebuah kubah” (Iba’ al-Ghumr fi Abna’ al-Umr 1/112)
Kubah Makam Imam Syafii
وَقَالَ الْمُنْذِرِي: أَنْشَأَ الْكَامِلُ دَارَ الْحَدِيْثِ بِالْقَاهِرَةِ، وَعَمَّرَ قُبَّةً عَلَى ضَرِيْحِ الشَّافِعِي (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 22 / ص 127)
“al-Kamil (seorang raja besar penguasa Mesir dan Syam tahun 576 H) tumbuh di Dar al-Hadis di Mesir. Ia membangun kubah makam asy-Syafii” (Siyar A’lam an-Nubala’2 2/127)
Kubah Makam Imam Syafii Wajib Dibongkar?
وَأَفْتَى جَمْعٌ شَافِعِيُّوْنَ بِوُجُوْبِ هَدْمِ كُلِّ بِنَاءٍ بِالْقَرَافَةِ حَتَّى قُبَّةِ إِمَامِنَا الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الَّتِي بَنَاهَا بَعْضُ الْمُلُوْكِ (فيض القدير – ج 6 / ص 402)
“Sekelompok ulama Syafiiyah berfatwa dengan wajibnya merobohkan setiap bangunan di Qarafah, hingga kubahnya imam kita, asy-Syafii radliallahu anhu, yang dibangun oleh sebagian raja” (Faidl al-Qadir 6/402)
Mengapa kubah makam Imam Syafii mau dibongkar? Apakah khawatir syirik? Bukan karena itu, namun karena tanah Qarafah di Mesir adalah tanah wakaf dari Sayidina Umar:
وَقَالَ فِي الْمَدْخَلِ فِي فَصْلِ زِيَارَةِ الْقُبُورِ : الْبِنَاءُ فِي الْقُبُورِ غَيْرُ مَنْهِيٍّ عَنْهُ إذَا كَانَ فِي مِلْكِ الْإِنْسَانِ لِنَفْسِهِ وَأَمَّا إذَا كَانَتْ مُرْصَدَةً فَلَا يَحِلُّ الْبِنَاءُ فِيهَا ، ثُمَّ ذَكَرَ أَنَّ سَيِّدَنَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَعَلَ الْقَرَافَةَ بِمِصْرَ لِدَفْنِ مَوْتَى الْمُسْلِمِينَ وَاسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ وَأَنَّ الْبِنَاءَ بِهَا مَمْنُوعٌ (مواهب الجليل في شرح مختصر الشيخ خليل – ج 5 / ص 468)
Akan tetapi makam Imam Syafii terletak di rumah murid beliau, bukan di area tanah wakaf:
وَقَدْ أَفْتَى الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ بِهَدْمِ مَا فِي الْقَرَافَةِ ، وَيُسْتَثْنَى قُبَّةُ الْإِمَامِ لِكَوْنِهَا فِي دَارِ ابْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ ا هـ (حاشية البجيرمي على الخطيب – ج 6 / ص 156)
Dan sungguh Izzuddin bin Abdissalam berfatwa untuk merobohkan kubah makam yang ada di Qarafa. Kecuali kubahnya Imam asy-Syafii sebab kubah tersebut berada di rumah Ibnu Abdil Hakam” (Hasyiah Bujairimi ala al-Khathib 6/156)
Makam Ulama Yang Memiliki Kubah Tak Terhitung Jumlahnya
Apa yang saya tulis disini hanya sebagian kecil dari kitab-kitab Tarikh, belum mencantumkan kitab-kitab lain seperti an-Nur as-Safir karya Syaikh al-Aidrus, Simth an-Nujum karya Syaikh al-‘Ishami, Khulashat al-Atsar karya Syaikh al-Muhibbi, al-Kawakib as-Sairah karya Syaikh Najmuddin al-Ghazi, Mir’at al-Jinan karya Syaikh al-Yafi’i, Bughyat ath-Thalab fi Tarikhi Halb karya Syaikh Ibnu al-Adim, dan sebaginya.
Ditulis oleh: ust Ma’ruf Khozin
Sumber : https://web.archive.org/web/20140406005411/http://www.aswj-rg.com/2013/10/kubah-makam-para-ulama.html
Bagi Wahabi makam ulama yang tinggi-tinggi dan memiliki kubah wajid dibongkar. Namun keanehan dari Wahabi ini bertolak belakang dengan realitas sejarah umat Islam sejak masa Salaf
Kubah Makam Para Sahabat
وَأَمَّا اْلمَشَاهِدُ الْمَعْرُوْفَةُ الْيَوْمَ بِالْمَدِيْنَةِ فَمَشْهَدُ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ وَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيّ وَمَنْ مَعَهُمَا عَلَيْهِمْ قُبَّةٌ شَامِخَةٌ قَالَ ابْنُ النَّجَارِ وَهِيَ كَبِيْرَةُ عَالِيَةُ قَدِيْمَةُ الْبِنَاءِ وَعَلَيْهَا بَابَانِ (خلاصة الوفا بأخبار دار المصطفى – ج 1 / ص 262)
“Adapun makam-makam yang terkenal saat ini di Madinah adalah makam Abbas bin Abdil Muthallib, makam Hasan bin Ali dan orang yang bersamanya. Diatas makam-makam mereka ada kubah yang tinggi. Ibnu an-Najjar berkata: Kubah itu besar, tinggi dan bangunan kuno, yang memiliki 2 pintu” (Khulashat al-Wafa 1/262)
Kubah Makam Sayidina Abbas
وَمَاتَ (الْعَبَّاسُ) سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَثَلاَثِيْنَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ عُثْمَانُ. وَدُفِنَ بِالْبَقِيْعِ. وَعَلَى قَبْرِهِ الْيَوْمَ قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ بِنَاءِ خُلَفَاءِ آلِ الْعَبَّاسِ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 2 / ص 97)
“Abbas (paman Rasulullah Saw) meninggal pada tahun 32 H. Disalati oleh Utsman, dimakamkan di Baqi’ dan diatas kuburnya ada kubah besar yang dibangun para Khalifah keluarga Abbas” (Siyar A’lam an-Nubala’ 2/97)
Syaikh al-Arnauth yang mentahqiq kitab tersebut berkata:
هَذَا كَانَ فِي عَصْرِ الْمُؤَلِّفِ أَمَّا اْلآنَ فَلَمْ يَبْقَ لَهَا أَثَرٌ.
“Kubah ini ada di masa muallif (al-Hafidz adz-Dzahabi). Sedangkan saat ini sudah tidak ada bekasnya”
Kubah Makam Sahabat Uqail
عُقَيْلُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ الصَّحَابِى، رَضِىَ اللهُ عَنْهُ: تُوُفِّىَ فِى خِلاَفَةِ مُعَاوِيَةَ، وَقَدْ كُفَّ بَصَرُهُ، وَدُفِنَ بِالْبَقِيْعِ، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ عَلَيْهِ قُبَّةٌ فِى أَوَّلِ الْبَقِيْعِ. (تهذيب الأسماء للحافظ النووي – ج 1 / ص 463)
“Uqail bin Abi Thalib, seorang sahabat. Wafat di masa khilafah Muawiyah, sungguh ia telah buta, dimakamkan di Baqi’, dan makamnya terkenal, diatasnya ada kubahnya di awal Baqi’” (Tahdzib al-Asma’ 1/463)
Kubah Makam Ibrahim Putra Rasulullah
وَدُفِنَ (اِبْرَاهِيْمُ) بِالْبَقِيْعِ، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ عَلَيْهِ قُبَّةٌ (تهذيب الأسماء للحافظ النووي – ج 1 / ص 130)
“Ibrahim dimakamkan di Baqi’, makamnya terkenal, diatasnya ada kubahnya” (Tahdzib al-Asma’ 1/130)
Kubah Makam Zubair bin Awwam
حَوَادِثُ سَنَةَ سِتٍّ وَثَمَانِيْنَ وَثَلاَثِمِائَةٍ. فِي الْمُحَرَّمِ ادَّعَى أَهْلُ الْبَصْرَةِ أَنَّهُمْ كُشِفُوْا عَنْ قَبْرٍ عَتِيْقٍ، فَوَجَدُوْا فِيْهِ مَيِّتاً طَرِياً بِشَابِهِ وَسَيْفِهِ، وَأَنَّهُ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ، فَأَخْرَجُوْهُ وَكَفَّنُوْهُ وَدَفَنُوْهُ بِالْمَرْبَدِ، وَبَنَوْا عَلَيْهِ، وَعُمِلَ لَهُ مَسْجِدٌ، وَنُقِلَتْ إِلَيْهِ الْقَنَادِيْلُ وَالْبُسُطُ وَالْقُوَّامٌ وَالْحَفَظَةُ. قَامَ بِذَلِكَ اْلأَمِيْرُ أَبُوْ الْمِسْكِ. فَاللهُ أَعْلَمُ مِنْ ذَاكَ الْمَيِّتِ. (تاريخ الإسلام للحافظ الذهبي – ج 6 / ص 303)
“Kejadian-kejadian tahun 386 H. Di bulan Muharram, penduduk Bashrah mengaku bahwa mereka menemukan makam tua yang terbuka. Mereka mendapati janazah yang masih segar bugar dan pedangnya. Menurut mereka ia adalah Zubair bin Awwam. Lalu mereka mengeluarkannya, mengkafaninya, membangun makamnya, dibuatkan masjid, diberi lampu, tikar, perawat dan penjaga. Pendirinya adalah al-Amir Abu al-Misk. Allah yang mengetahui mayit tersebut” (Tarikh al-Islam 6/303)
Kubah Makam Ulama
Kubah Makam Imam Abu Hanifah
تُوُفِّيَ (اَبُوْ حَنِيْفَةَ) شَهِيْدًا مَسْقِيًّا فِي سَنَةِ خَمْسِيْنَ وَمِئَةٍ. وَلَهُ سَبْعُوْنَ سَنَةً، وَعَلَيْهِ قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ وَمَشْهَدٌ فَاخِرٌ بِبَغْدَادَ، وَاللهُ أَعْلَمُ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 6 / ص 403)
“Abu Hanifah wafat sebagai syahid pada 150 H, usianya 70 tahun dan diatas makamnya ada kubah besar dan makam yang megah di Baghdad” (Siyar A’lam an-Nubala’ 6/403)
Di bagian lain al-Hafidz adz-Dzahabai berkata:
وَبَنَوْا عَلَى قَبْرِ أَبِي حَنِيْفَةَ قُبَّةً عَظِيْمَةًً (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 18 / ص 314)
“Mereka membangun kubah besar di atas makam Abu Hanifah” (Siyar A’lam an-Nubala’ 18/314)
al-Hafidz Ibnu Katsir berkata:
سَنَةَ تِسْعٍ وَخَمْسِيْنَ وَأَرْبَعِمِاَئةٍ فِيْهَا بَنَى أَبُوْ سَعِيْدِ الْمُسْتَوْفِى الْمُلَقَّبُ بِشَرَفِ الْمَلِكِ مَشْهَدَ اْلإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ بِبَغْدَادَ وَعَقَدَ عَلَيْهِ قُبَّةً وَعَمِلَ بِإِزَائِهِ مَدْرَسَةً (البداية والنهاية للحافظ ابن كثير – ج 12 / ص 95)
“Pada tahun 459, Abu Said al-Mustahfa yang dibelari dengan Syaraf al-Malik membangun makam Abu Hanifah di Baghdad. Ia membuatkan kubah dan madrasah di dekanya” (al-Bidayah wa an-Nihayah 12/95)
Kubah Makam Qadli Iyadl
وَبُنِىَ عَلَيْهِ (الْقَاضِي عِيَاضٍ) قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ ذَاتَ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ، وَأَلْزَمَ الْفُقَهَاءُ بِالتَّرَدُّدِ إِلَى هُنَاكَ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ لِيَشْتَهِرَ الْقَبْرُ. قَالَ لِي أَبُوْ عَمْرٍو: أَنَا جِئْتُ إِلَى الْقُبَّةِ الْمَذْكُوْرَةِ، وَدَعَوْتُ اللهَ تَعَالَى، فَاسْتَجَابَ لِي. وَاللهُ أَعْلَمُ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 20 / ص 217)
“Dan makam Qadli Iyadl dibangunkan kubah besar persegi empat. Para ulama fikih bolak-balik berdatangan kesana untuk membaca al-Quran, untuk mempopulerkan makam. Abu Amr berkata kepada saya; Saya mendatangi kubah makam tersebut dan saya berdoa kepada Allah, lalu Allah mengabulkan untuk saya. Wallahu A’lam” (Siyar A’lam an-Nubala’ 20/217)
Kubah Makam Syaikh al-Karmani
وَمَاتَ رَاجِعاً مِنْ مَكَّةَ فِي سَادِسَ عَشَرَ الْمُحَرَّمِ بِمَنْزِلَةٍ تُعْرَفُ بِرَوْضٍ مِنْهَا، وَنُقِلَ إِلَى بَغْدَادَ فَدُفِنَ بِهَا، وَكَانَ أَعَدَّ لِنَفْسِهِ قَبْراً بِجِوَارِ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشَّيْرَازِي وَبُنِيَتْ عَلَيْهِ قُبَّةٌ (إنباء الغمر بأبناء العمر للحافظ ابن حجر – ج 1 / ص 112)
“Syaikh Muhammad bin Yususf al-Karmani (lahir 717 H). Ia wafat ketika kembali dari Makkah pada 16 Muharram di sebuat tempat yang dikenal dengan sebah taman, kemudian dipindah ke Baghdad dan dimakamkan disana. Ia telah menyiapkan makam untuk dirinya sendiri di dekat Abu Ishaq asy-Syairazi, dan dibangunkan sebuah kubah” (Iba’ al-Ghumr fi Abna’ al-Umr 1/112)
Kubah Makam Imam Syafii
وَقَالَ الْمُنْذِرِي: أَنْشَأَ الْكَامِلُ دَارَ الْحَدِيْثِ بِالْقَاهِرَةِ، وَعَمَّرَ قُبَّةً عَلَى ضَرِيْحِ الشَّافِعِي (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 22 / ص 127)
“al-Kamil (seorang raja besar penguasa Mesir dan Syam tahun 576 H) tumbuh di Dar al-Hadis di Mesir. Ia membangun kubah makam asy-Syafii” (Siyar A’lam an-Nubala’2 2/127)
Kubah Makam Imam Syafii Wajib Dibongkar?
وَأَفْتَى جَمْعٌ شَافِعِيُّوْنَ بِوُجُوْبِ هَدْمِ كُلِّ بِنَاءٍ بِالْقَرَافَةِ حَتَّى قُبَّةِ إِمَامِنَا الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الَّتِي بَنَاهَا بَعْضُ الْمُلُوْكِ (فيض القدير – ج 6 / ص 402)
“Sekelompok ulama Syafiiyah berfatwa dengan wajibnya merobohkan setiap bangunan di Qarafah, hingga kubahnya imam kita, asy-Syafii radliallahu anhu, yang dibangun oleh sebagian raja” (Faidl al-Qadir 6/402)
Mengapa kubah makam Imam Syafii mau dibongkar? Apakah khawatir syirik? Bukan karena itu, namun karena tanah Qarafah di Mesir adalah tanah wakaf dari Sayidina Umar:
وَقَالَ فِي الْمَدْخَلِ فِي فَصْلِ زِيَارَةِ الْقُبُورِ : الْبِنَاءُ فِي الْقُبُورِ غَيْرُ مَنْهِيٍّ عَنْهُ إذَا كَانَ فِي مِلْكِ الْإِنْسَانِ لِنَفْسِهِ وَأَمَّا إذَا كَانَتْ مُرْصَدَةً فَلَا يَحِلُّ الْبِنَاءُ فِيهَا ، ثُمَّ ذَكَرَ أَنَّ سَيِّدَنَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَعَلَ الْقَرَافَةَ بِمِصْرَ لِدَفْنِ مَوْتَى الْمُسْلِمِينَ وَاسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ وَأَنَّ الْبِنَاءَ بِهَا مَمْنُوعٌ (مواهب الجليل في شرح مختصر الشيخ خليل – ج 5 / ص 468)
Akan tetapi makam Imam Syafii terletak di rumah murid beliau, bukan di area tanah wakaf:
وَقَدْ أَفْتَى الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ بِهَدْمِ مَا فِي الْقَرَافَةِ ، وَيُسْتَثْنَى قُبَّةُ الْإِمَامِ لِكَوْنِهَا فِي دَارِ ابْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ ا هـ (حاشية البجيرمي على الخطيب – ج 6 / ص 156)
Dan sungguh Izzuddin bin Abdissalam berfatwa untuk merobohkan kubah makam yang ada di Qarafa. Kecuali kubahnya Imam asy-Syafii sebab kubah tersebut berada di rumah Ibnu Abdil Hakam” (Hasyiah Bujairimi ala al-Khathib 6/156)
Makam Ulama Yang Memiliki Kubah Tak Terhitung Jumlahnya
Apa yang saya tulis disini hanya sebagian kecil dari kitab-kitab Tarikh, belum mencantumkan kitab-kitab lain seperti an-Nur as-Safir karya Syaikh al-Aidrus, Simth an-Nujum karya Syaikh al-‘Ishami, Khulashat al-Atsar karya Syaikh al-Muhibbi, al-Kawakib as-Sairah karya Syaikh Najmuddin al-Ghazi, Mir’at al-Jinan karya Syaikh al-Yafi’i, Bughyat ath-Thalab fi Tarikhi Halb karya Syaikh Ibnu al-Adim, dan sebaginya.
Ditulis oleh: ust Ma’ruf Khozin
Sumber : https://web.archive.org/web/20140406005411/http://www.aswj-rg.com/2013/10/kubah-makam-para-ulama.html
Sabtu, 25 Mei 2019
Kesedihan Para Ulama Salaf Berpisah Dengan Ramadhan
Hari demi hari, jam demi jam tidak terasa sebentar lagi kita akan meninggalkan bulan suci nan mulia ini, bulan kesabaran dan latihan, bulan rahmat dan ampunan, bulan Quran dan qiyam, bulan kemuliaan dan keberkahan, bulan di mana terdapat malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Masih banyak kegiatan ibadah yang belum optimal kita lakukan di bulan ini, atau bahkan kita masih sibuk urusan duniawi di bulan ini sehingga banyak target yang belom kita laksanakan di bulan mulia ini. Sedangkan kita tidak tahu apakah umur kita masih dipanjangkan oleh Allah hingga berjumpa Ramadhan di tahun yang akan datang ?
Bagi para ulama salaf shalih menjelang hari-hari kepergian Ramadhan, begitu berat dan sedih mereka rasakan. Dengan berlalunya bulan Ramadhan, hati mereka mejadi sedih. Maka, tidak mengherankan bila pada malam-malam terakhir Ramadhan, pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Masjid Nabawi penuh sesak dengan orang-orang yang beri’tikaf. Dan di sela-sela i’tikafnya, mereka terkadang menangis terisak-isak, karena Ramadhan akan segera berlalu meninggalkan mereka. Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.
Betapa tidak, bulan yang penuh keberkahan dan keridhaan Allah itu akan segera pergi meninggalkan mereka. Bulan ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Allah bukakan pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan. Bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Bulan ketika Allah setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang harus masuk neraka. Bulan ketika Allah menjadikannya sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat dan Allah Ta’ala.
Mereka menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.
Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan :
كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان، ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم
“ Para ulama salaf, berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka disampaikan kepada bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa lagi selama enam bulan agar Allah mau menerima amalan ibadah mereka tersebut (selama di bulan Ramadhan) “.[1]
Beliau juga mengatakan :
كان بعض السلف يظهر عليه الحزن يوم عيد الفطر فيقال له: إنه يوم فرح وسرور فيقول: صدقتم ولكني عبد أمرني مولاي أن أعمل له عملا فلا أدري أيقبله مني أم لا ؟
“ Sebagian ulama salaf menampakkan kesedihan di hari raya Idul Fitri, Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang. Kenapa engkau malah bermuram durja? Ada apa gerangan?”
“Ucapanmu benar, wahai sahabatku,” kata orang tesrebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”[2]
Wahb bin al-Ward melihat suatu kaum sedang tertawa di hari raya, maka beliau mengatakan :
إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين، وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين
“ Jika mereka termasuk orang yang diterima ibadah puasanya, lantas pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa syukurnya ? dan jika mereka termasuk orang yang ditolak ibadah puasanya, lantas pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa takut mereka ? “.[3]
Kekhawatiran serupa juga pernah menimpa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam :
يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنيه، ومن هذا المحروم فنعزيه. وعن ابن مسعود أنه كان يقول: من هذا المقبول منا فنهنيه، ومن هذا المحروم منا فنعزيه
“Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.”[4]
Ucapan Sayyidina Ali radhiallahu ‘anhu ini mirip dengan ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu :
من هذا المقبول منا فنهنيه، ومن هذا المحروم منا فنعزيه، أيها المقبول هنيئا لك أيها المردود جبر الله مصيبتك
“Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang diterima amalannya, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang ditolak amalannya, semoga Allah menambal musibahmu ”.[5]
Subhanallah, demikianlah keadaan ulama salaf jika menjelang kepergian bulan Ramadhan. Mereka merasa sedih sebab kesempatan luar biasa itu tidak datang setiap hari atau bulannya, mereka perlu berdoa keras supaya Allah memanjangkan usia mereka dan menyampaikan mereka kepada kesempatan emas tersebut. Dan mereka merasa sedih sebab belum tentu amalan yang mereka lakukan dengan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan, diterima oleh Allah Ta’ala. Inilah keadaan ulama salaf, mereka masih merasa khawatir amalan ibadah mereka tidak diterima Allah karena merasa diri masih belum sempurna melakukannya dan merasa banyak kekurangannya. Padahal realitanya mereka sungguh orang yang paling bersungguh-sungguh di dalam menjalankan hak-hak di bulan Ramadhan.
Sekarang kita lihat bagaimana kesungguhan para ulama salaf ketika mereka berada di dalam bulan Ramadhan :
Adz-Dzahabi mengatakan :
كان الأسود بن يزيد يختم القرآن في رمضان في كل ليلتين، وكان ينام بين المغرب والعشاء، وكان يختم القرآن في غير رمضان في كل ست ليالٍ
“ al-Aswad bin Yazid mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadhan di setiap dua malamnya. Beliau tidur di antara maghrib dan Isya, dan beliau mengkhatamkan al-Quran di selain bulan Ramadhan setiap enam malam sekali “.[6]
Sufyan ats-Tsauri fokus membaca al-Quran.
كان سفيان الثوري إذا دخل رمضان ترك جميع العباد وأقبل على قراءة القرآن
“ Sufyan ats-Tsauri jika masuk bulan Ramadhan, maka beliau meninggalkan orang-orang dan fokus membaca al-Quran “.[7]
Al-Walid bin Abdul Malik mengkhatamkan 17 khataman.
كان الوليد بن عبد الملك يختم في كل ثلاثٍ، وختم في رمضان سبع عشرة ختمه
“ Al-Walid bin Abdul Malik mengkhatamkan al-Quran tiap tiga hari sekali, dan ia mengkhatamkannya di bulan Ramadhan sebanyak 17 kali khataman “.[8]
Qatadah mengkhatamkan al-Quran setiap 3 hari.
كان قتادة يختم القرآن في سبع، وإذا جاء رمضان ختم في كل ثلاثٍ، فإذا جاء العشر ختم كل ليلةٍ
“ Qatadah mengkhatamkan al-Quran di setiap tujuh hari sekali, dan jika telah datang bulan Ramadhan, maka ia mengkhatamkannya tiap tiga hari sekali, dan jika sudah masuk hari kesepuluh terakhir, maka ia mengkhatamkannya setiam malamnya “.[9]
Asy-Syafi’i mengkhatamkan 60 kali khataman.
وقال الربيع بن سليمان: كان الشافعي يختم القرآن في شهر رمضان ستين ختمة وفي كل شهر ثلاثين ختمة
“ Rabi’ bin Sulaiman berkata, “ Imam asy-Syafi’i mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali, dan setiap bulan biasa sebanyak 30 kali khataman “.[10]
Imam Bukhari khatamn satu kali tiap hari.
كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ يَخْتِمُ فِي رَمَضَانَ فِي النَّهَارِ كُلَّ يَوْمٍ خَتْمَةً، وَيَقُوْمُ بَعْدَ التَّرَاوِيْحِ كُلَّ ثَلَاثِ لَيَالٍ بِخَتْمَةٍ
“Muhammad bin Ismail (Imam al-Bukhari) mengkhatamkan al-Quran di siang hari bulan Ramadlan sebanyak satu kali khataman, dan salat malam setelah Tarawih khatam al-Quran tiap 3 hari “[11]
Zuhair al-Marwazi : 90 Kali selama Ramadhan.
وَكَانَ زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَزِي يَخْتِمُ فِي رَمَضَانَ تِسْعِيْنَ خَتْمَةً مَاتَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَخَمْسِيْنَ وَمِائَتَيْنِ
“Zuhair bin Muhammad al-Marwazi mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadlan sebanyak 90 kali. Ia wafat tahun 258 H”[12]
Hasan al-Susi khatam sekali tiap hari.
حَكَتْ عَنْهُ (اَبِي الْحَسَنِ عَلِيِّ بْنِ نَصْرٍ السُّوْسِي) زَوْجَتُهُ، وَكَانَتِ امْرَأَةً صَالِحَةً: أَنَّهُ كَانَ يَخْتِمُ فِي رَمَضَانَ كُلَّ لَيْلَةٍ خَتْمَةً. حَتَّى كَانَتْ رِجْلَاهُ تَتَوَرَّمُ مِنَ الْقِيَامِ
“Istri Abu Hasan Ali bin Nashr al-Susi, ia wanita salehah, berkata bahwa suaminya mengkhatamkan al-Quran di bulan Ramadlan setiap malam, hingga kedua kakinya membengkak”[13]
Abdullah bin Umar fokus beribadah hingga subuh.
وقال نافع: كان ابن عمر رضي الله عنهما يقوم في بيته في شهر رمضان، فإذا انصرف الناس من المسجد أخذ إداوةً من ماءٍ ثم يخرج إلى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم لا يخرج منه حتى يصلي فيه الصبح. أخرجه البيهقي
“ Nafi’ berkata, “ Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma melakukan qiyam di rumahnya di bulan Ramadhan, apabila manusia telah kembali dari masjid, maka beliau mengambil sebejana air kemudian keluar menuju masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak keluar lagi hingga beliau selesai sholat subuh di sana “. (HR. Al-Baihaqi)
Abu Muhammad al-Labban selama Ramadhan tidak pernah tidur seditik pun.
Al-Hafidz adz-Dzahabi bercerita dari Abi Muhammad al-Labban :
أدرك رمضان سنة سبع وعشرين وأربعمائة ببغداد فصلّى بالناس التراويح في جميع الشهر فكان إذا فرغها لا يزال يصلي في المسجد إلى الفجر، فإذا صلى درّس أصحابه. وكان يقول: لم أضع جنبي للنوم في هذا الشهر ليلاً ولا نهاراً. وكان ورده لنفسه سبعا مرتلاً
“ al-Labban pernah mendapati bulan Ramadhan di tahun 427 H di Baghdad, beliau sholat tarawikh bersama orang-orang dalam setiap malamnya selama sebulan penuh. Dan beliau jika sudah selesai sholat, maka senantiasa beliau sholat hingga waktu subuh. Jika sudah sholat subuh, maka beliau melanjutkannya dengan membuka majlis bersama sahabat-sahabatnya. Beliau pernah berkata, “ Aku tidak pernah meletakkan pinggangku untuk tidur selama sebulan ini baik siang atau pun malam “.[14]
Demikianlah konidisi dan keadaan para ulama salaf selama di bulan Ramadhan yang mulia, semangat yang begitu tinggi, fokus yang luar biasa, keikhlasan yang luhur dan keta’atan yang optimal, sungguh jauh jarak di antara kita dan mereka. Sepatutnyalah kita yang harusnya lebih sedih dan banyak meneteskan air mata ketimbang mereka, karena kita akui banyak ibadah yang tidak begitu optimal bahkan banyak kekurangannya selama di bulan Ramadhan ini bahkan seminggu menjelang hari raya, yang seharusnya kita lebih giat dan semangat lagi melakukan ibadah i’tikaf, membaca al-Quran, berdzikir dan lainnya, tapi malah disibukkan dengan belanja, membeli baju Lebaran, disibukkan memasak, membuat kue, dan lain-lain.
Bukan berarti kita dilarang merasa senang dan gembira menyambut hari raya, bahkan itu dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR Nasa’i). Akan tetapi jangan sampai rasa gembira kita melalaikan dari menggunakan kesempatan emas ini untuk lebih menggapai pahala dan ridha dari Allah Ta’alaa.
Semoga Allah menerima puasa dan qiyam kita, dan mau merima yang sedikit dari apa yang kita lakukan selama di bulan Ramadhan ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang banyak, dan semoga kita dipanjangkan usia oleh Allah hingga hidup di bulan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang. Aamiin Yaa Rabbal aalamiin..
Shofiyyah an-Nuuriyyah
Kota Santri, 19 Ramadhan 1435 H
[1] Lathaif al-Ma’arif, Ibn Rajab al-Hanbali : 186
[2] Lathaif al-Ma’arif, Ibn Rajab al-Hanbali : 187
[3] Lathaif al-Ma’arif, Ibn Rajab al-Hanbali : 187
[4] Lathaif al-Ma’arif, Ibn Rajab al-Hanbali : 187
[5] Lathaif al-Ma’arif, Ibn Rajab al-Hanbali : 187
[6] Siyar A’lam an-Nubala : 4/51
[7] Lathaif al-Ma’arif : 318
[8] Siyar A’lam an-Nubala : 4/347
[9] Siyar A’Lam an-Nubala : 5/276
[10] Siyar A’lam an-Nubala : 10/90
[11] Siyar A’lam an-Nubala : 12/439
[12] Thabaqat al-Huffadz : 1/48
[13] Tartib al-Madarik wa taqrib al-Masalik : 1/382
[14] Tarikh al-Islam : 1/3145
Sumber : https://web.archive.org/web/20140729013344/http://www.aswj-rg.com/2014/07/kesedihan-para-ulama-salaf-berpisah-dengan-ramadhan.html
Ahad, 21 April 2019
Benarkah Catatan Amal Ditutup Pada Malam Nisfu Sya'ban ?
قَالَ فِيْ تُحْفَةِ الْإِخْوَانِ: رُوِيَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَسَخَ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَظْلِمُ وَيَفْجُرُ وَيَنْكِحُ النِّسْوَانَ وَيَغْرِسُ الْأَشْجَارَ، وَقَدْ نُسِخَ اِسْمُهُ مِنَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ، وَمَا مِنْ لَيْلَةٍ بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَان
Syeikh Al Fasyani berkata dalam Kitab Tuhfatul Ikhwan:Telah diriwayatkan dari Imam Atha’ bin Yasar radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata: Ketika malamNishfu Sya’ban, Malakul Maut ‘alaihishshalaatu wassalaam menyalin setiap orang yang akan mati dari bulan Sya’ban satu ke bulan Sya’ban berikutnya. Sesungguhnya seorang laki-laki berbuat zalim, dia berbuatfujuur(lacut), dia menikahi beberapa wanita dan dia memanam beberapa pohon, padahal namanya telah disalin dari daftar nama orang hidup ke daftar orang mati. Tiada malam setelah lailatul Qadar lebih utama daripada malam Nishfu Sya’ban.
> Mas Hamzah
surat ad dukhon ayat 1-5
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
( حم ( 1 ) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ( 2 ) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ( 3 ) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ( 4 ) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ( 5 )
1: Ha, Mim.
2: Demi kitab yang menjelaskan.
3: Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkannya pada malam yang diberkati. Sesungguhnya Kami (Allah) yang memberi peringatan.
4: Padanya dipisahkan segala urusan yang penuh hikmah.
5: Urusan daripada sisi Kami (Allah). Sesungguhnya Kami (Allah) yang mengutuskan.
– tafsir al baghowy :
( فِيهَا ) أَيْ فِي اللَّيْلَةِ الْمُبَارَكَةِ ( يُفْرَقُ ) يُفْصَلُ ( كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ) مُحْكَمٍ ، وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : يَكْتُبُ مِنْ أُمِّ الْكِتَابِ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ مَا هُوَ كَائِنٌ فِي السَّنَةِ مِنَ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ وَالْأَرْزَاقِ وَالْآجَالِ حَتَّى الْحُجَّاجِ ، يُقَالُ : يَحُجُّ فُلَانٌ [ وَيَحُجُّ فُلَانٌ ] ،
قَالَ الْحَسَنُ وَمُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ : يُبْرَمُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلُّ أَجَلٍ وَعَمَلٍ وَخَلْقٍ وَرِزْقٍ ، وَمَا يَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ .
وَقَالَ عِكْرِمَةُ : هِيَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يُبْرَمُ فِيهَا أَمْرُ السَّنَةِ وَتُنْسَخُ الْأَحْيَاءُ مِنَ الْأَمْوَاتِ فَلَا يُزَادُ فِيهِمْ أَحَدٌ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُمْ أَحَدٌ .
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ الْمَلِيحِيُّ ، أَخْبَرَنَا أَبُو مَنْصُورٍ السَّمْعَانِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّيَّانِيُّ ، حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ زَنْجَوَيْهِ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ ، حَدَّثَنِي اللَّيْثُ ، حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، أَخْبَرَنِي عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ الْأَخْنَسِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : ” تُقْطَعُ الْآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْكِحُ وَيُولَدُ لَهُ وَلَقَدْ أُخْرِجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى ” .
وَرَوَى أَبُو الضُّحَى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَا : أَنَّ اللَّهَ يَقْضِي الْأَقْضِيَةَ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، وَيُسَلِّمُهَا إِلَى أَرْبَابِهَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ .
lailatin mubarokatin / malam yang diberkati terjadi perbedaan pendapat ulama’, ada yg berpendapat bahwa itu adalah malam lailatul qodar dan sebagian yg lain bependapat bahwa itu adalah malam nisfu sya’ban.
ibnu abbas mengatakan bahwa ditulis dari ummul kitab dalam lailatul qodar apa2 yg ada dalam setahun dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal hingga orang2 yg haji, dikatakan ” fulan pergi haji dan fulan pergi haji.”
al hasan, mujahid dan qotadah mengatakan bahwa pada malam lailatul qodar dalam bulan romadhon ditetapkan semua ajal, amal rizki dan apa saja yg ada pada tahun tersebut.
ikrimah mengatakan bahwa malam terberkati tersebut adlah malam nisfu sya’ban, pada malam tersebut ditetapkanlah urusannya setahun dan orang2 yg hidup di hapus (daftarnya) dari orang2 yg meninggal kemudian tidaklah ditambah seorangpun didalamnya dan tidak dikurangi seorangpun di dalamnya.
Utsman bin Mugirah bin al-Akhnas, berkata bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang mati”.
dari ibnu abbas rodhiyallohu anhu sesungguhnya Allah memenutuskan keputusan2 pada malam nisfu sya’ban dan menyerahkan kepada pemiliknya pada malam lailatul qodar.
http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…
– kitab at tabsiroh abul faroj ibnul jauzy
(حديث مرفوع) 108 أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ نَاصِرٍ بِسَنَدِهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَصِلَهُ بِرَمَضَانَ ، وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ شَهْرًا تَامًّا إِلا شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ شَعْبَانَ لَمِنْ أَحَبِّ الشُّهُورِ إِلَيْكَ أَنْ تَصُومَهُ . فَقَالَ : “ نَعَمْ يَا عَائِشَةُ ، إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ نَفْسٍ تَمُوتُ فِي سَنَةٍ إِلا كُتِبَ أَجَلُهَا فِي شَعْبَانَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُكْتَبَ أَجَلِي وَأَنَا فِي عِبَادَةِ رَبِّي وَعَمَلٍ صَالِحٍ “ . .
Diriwayatkan dari sayyidah Aisyah ra, bahwasannya Rasulullah puasa di bulan Sya’a seluruhnya sampai bertemu dengan Ramadhan. Dan tidaklah Nabi puasa sebulan penuh (selain Ramadhan) kecuali Sya’ban. Sayyidah Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah bulan Sya’ban adalah bulan yang paling engkau sukai untuk berpuasa?” Rasulullah saw menjawab: “Benar wahai Aisyah, tidak ada satupun jiwa yang akan mati pada satu tahun ke depan kecuali ditentukan umurnya pada bulan Sya’ban. Dan senang seandainya ketika umurku ditulis aku dalam keadaan beribadah dan beramal shaleh kepada Tuhanku”
http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php…
– kitab sunan nasa’i
2357 أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِم
hadits riwayat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasul aku tidak melihatmu puasa pada bulan-bulan lain seperti pada Bulan Sya’ban? Rasul menjawab, “Bulan ini adalah bulan yang dilupakan manusia, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dan bulan ini saat dilaporkannya amal perbuatan (manusia) kepada Tuhan semesta alam. Dan aku senang jika amalku dilaporkan sedangkan aku dalam keadaan puasa”
http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…
Sebenarnya pelaporan Amal kita ini ada yang harian ada yang mingguan, ada pula yang tahunan. Laporan harian dilakukan Malaikat pada siang hari da malam hari. Yang migguan dilakukan Malaikat setiap Senin dan Kamis. Adapun yang tahunan dilakukan pada setiap Lailatul Qadar dan Malam Nisfu Sya’ban
(Hasyiyatul Jamal bab Puasa Tathawwu’)
wallohu a’lam bis showab.
LINK ASAL
https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/798832650139545/
https://www.facebook.com/notes/pustaka-ilmu-sunni-salafiyah-ktb-piss-ktb/3392-penutupan-catatan-amal-di-malam-nisyfu-syaban/811240935565383
Isnin, 25 Februari 2019
Aqidah al Imam al Syafiey berdasarkan kitab Fath al Bari
Aqidah al Imam al Syafiey berdasarkan kitab Fath al Bari.
Terdapat segelintir manusia menisbahkan kepada al Imam al Syafie dan kepada pengarang-pengarang kitab yang muktabar sesuatu yang mereka tidak pernah menyebut atau menulisnya.
Antaranya adalah, tulisan segelintir yang mengatakan al Imam al Syafie menyebutkan Allah Taala memiliki dua tangan berdasarkan kitab Fath al Bari. Disini saya bawakan teks asal beserta dengan terjemahannya sekali.
وَأخرج ابن أَبِي حَاتِمٍ فِي مَنَاقِبِ الشَّافِعِيِّ عَنْ يُونُسَ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ لِلَّهِ أَسْمَاءٌ وَصِفَاتٌ لَا يَسَعُ أَحَدًا رَدُّهَا وَمَنْ خَالَفَ بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ فَقَدْ كَفَرَ وَأَمَّا قَبْلَ قِيَامِ الْحُجَّةِ فَإِنَّهُ يُعْذَرُ بِالْجَهْلِ لِأَنَّ عِلْمَ ذَلِكَ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ وَلَا الرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ فَنُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ وَنَنْفِي عَنْهُ التَّشْبِيهَ كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ فَقَالَ لَيْسَ كمثله شَيْء وَأَسْنَدَ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي الْحَوَارِيِّ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ كُلُّ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ فَتَفْسِيرُهُ تِلَاوَتُهُ وَالسُّكُوتُ عَنْهُ وَمِنْ طَرِيقِ أَبِي بَكْرٍ الضُّبَعِيِّ قَالَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي قَوْله الرَّحْمَن على الْعَرْش اسْتَوَى قَالَ بِلَا كَيْفٍ وَالْآثَارُ فِيهِ عَنِ السَّلَفِ كَثِيرَةٌ وَهَذِهِ طَرِيقَةُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ
Telah mengeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dalam Manaqib al Syafie, satu riwayat daripada Yunus Bin Abd al A’la, aku telah mendengar bahawa al Imam al Syafie berkata “ Allah Taala itu memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tidak diberi sebarang kelonggaran untuk seseorang itu menolaknya. Maka barang siapa yang menyalahi (menolak sifat dan nama Allah itu) setelah thabit hujjah ke atasnya (kebenaran nama-nama dan sifat-sifat Allah Taala) sesungguhnya dia telah menjadi kufur.
Dan adapun jika sebelum didirikan hujjah ke atasnya maka dikira satu keuzuran (jika menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah Taala) dengan sebab kejahilannya itu, kerana pengetahuan berkenaan dengan perkara tersebut tidak boleh dicapai melalui akal, pemerhatian atupun fikiran seseorang. Kita hendaklah menthabitkan sifat-sifat ini, dan menafikan sebarang bentuk tasybih (penyama-rupaan Allah Taala dengan makhluk) sebagimana Allah Taala menafikan (penyama-rupaan tersebut) daripada diriNya. Maka firman Allah Taala: Dan tidak terdapat sesuatu pun yang seumpamaNya.
Dan al Imam al Baihaqi menyandarkan satu riwayat kepada sanad yang soheh, (iaitu) daripada Ahmad Bin Abi al Hawari, daripada al Imam Sufyan Bin ‘Uyainah berkata “Setiap apa yang Allah Taala sifatkan diriNya di dalam al Quran maka tafsirannya adalah sekadar membacanya sahaja, dan diam daripadanya (tidak mentafsirkannya)”. Dan berdasarkan jalan (periwayatan) Abi Bakar al Dhoba’iy berkata “Mazhab Ahl al Sunnah terhadap firman Allah Taala “ al Rahman ( Allah Taala) di atas ArasyNya beristiwa” ianya bermaksud: Istiwak dengan tanpa sebarang kaifiyat, sedangkan athar daripada salaf padanya (tidak menyebutkan kaifiyat ini) terlalu banyak, maka inilah jalan al Imam al Syafi’ey dan al Imam Ahmad Ibn Hanbal”.
Ibn Hajar, Muhammad Bin Ali. (1995M). Fath al Bari Bi Syarh Sahih al Bukhari. Dar al Fikr, Bairut. Jld 15 hlm 365. Kitab al Tauhid
Ustaz Dr. Muhammad Yusry Bin Mazlan
(Pegawai Bahagian Runding Cara Akidah
Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan)
Terdapat segelintir manusia menisbahkan kepada al Imam al Syafie dan kepada pengarang-pengarang kitab yang muktabar sesuatu yang mereka tidak pernah menyebut atau menulisnya.
Antaranya adalah, tulisan segelintir yang mengatakan al Imam al Syafie menyebutkan Allah Taala memiliki dua tangan berdasarkan kitab Fath al Bari. Disini saya bawakan teks asal beserta dengan terjemahannya sekali.
وَأخرج ابن أَبِي حَاتِمٍ فِي مَنَاقِبِ الشَّافِعِيِّ عَنْ يُونُسَ بْنِ عَبْدِ الْأَعْلَى سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ لِلَّهِ أَسْمَاءٌ وَصِفَاتٌ لَا يَسَعُ أَحَدًا رَدُّهَا وَمَنْ خَالَفَ بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ فَقَدْ كَفَرَ وَأَمَّا قَبْلَ قِيَامِ الْحُجَّةِ فَإِنَّهُ يُعْذَرُ بِالْجَهْلِ لِأَنَّ عِلْمَ ذَلِكَ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ وَلَا الرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ فَنُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ وَنَنْفِي عَنْهُ التَّشْبِيهَ كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ فَقَالَ لَيْسَ كمثله شَيْء وَأَسْنَدَ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي الْحَوَارِيِّ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ كُلُّ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ فَتَفْسِيرُهُ تِلَاوَتُهُ وَالسُّكُوتُ عَنْهُ وَمِنْ طَرِيقِ أَبِي بَكْرٍ الضُّبَعِيِّ قَالَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي قَوْله الرَّحْمَن على الْعَرْش اسْتَوَى قَالَ بِلَا كَيْفٍ وَالْآثَارُ فِيهِ عَنِ السَّلَفِ كَثِيرَةٌ وَهَذِهِ طَرِيقَةُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ
Telah mengeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dalam Manaqib al Syafie, satu riwayat daripada Yunus Bin Abd al A’la, aku telah mendengar bahawa al Imam al Syafie berkata “ Allah Taala itu memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tidak diberi sebarang kelonggaran untuk seseorang itu menolaknya. Maka barang siapa yang menyalahi (menolak sifat dan nama Allah itu) setelah thabit hujjah ke atasnya (kebenaran nama-nama dan sifat-sifat Allah Taala) sesungguhnya dia telah menjadi kufur.
Dan adapun jika sebelum didirikan hujjah ke atasnya maka dikira satu keuzuran (jika menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah Taala) dengan sebab kejahilannya itu, kerana pengetahuan berkenaan dengan perkara tersebut tidak boleh dicapai melalui akal, pemerhatian atupun fikiran seseorang. Kita hendaklah menthabitkan sifat-sifat ini, dan menafikan sebarang bentuk tasybih (penyama-rupaan Allah Taala dengan makhluk) sebagimana Allah Taala menafikan (penyama-rupaan tersebut) daripada diriNya. Maka firman Allah Taala: Dan tidak terdapat sesuatu pun yang seumpamaNya.
Dan al Imam al Baihaqi menyandarkan satu riwayat kepada sanad yang soheh, (iaitu) daripada Ahmad Bin Abi al Hawari, daripada al Imam Sufyan Bin ‘Uyainah berkata “Setiap apa yang Allah Taala sifatkan diriNya di dalam al Quran maka tafsirannya adalah sekadar membacanya sahaja, dan diam daripadanya (tidak mentafsirkannya)”. Dan berdasarkan jalan (periwayatan) Abi Bakar al Dhoba’iy berkata “Mazhab Ahl al Sunnah terhadap firman Allah Taala “ al Rahman ( Allah Taala) di atas ArasyNya beristiwa” ianya bermaksud: Istiwak dengan tanpa sebarang kaifiyat, sedangkan athar daripada salaf padanya (tidak menyebutkan kaifiyat ini) terlalu banyak, maka inilah jalan al Imam al Syafi’ey dan al Imam Ahmad Ibn Hanbal”.
Ibn Hajar, Muhammad Bin Ali. (1995M). Fath al Bari Bi Syarh Sahih al Bukhari. Dar al Fikr, Bairut. Jld 15 hlm 365. Kitab al Tauhid
Ustaz Dr. Muhammad Yusry Bin Mazlan
(Pegawai Bahagian Runding Cara Akidah
Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan)
Ahad, 10 Februari 2019
KITAB YANG TIDAK KUAT UNTUK DIJADIKAN RUJUKAN
Kitab-Kitab yang Tidak Kuat Untuk Dijadikan Hujjah (Revisi)*
Beberapa kitab di bawah ini yang sering digunakan kaum Mujassimah-Musyabbihah sebagai sandaran hujjahnya, namun sebenarnya tidak patut untuk dijadikan hujjah karena di antaranya ada kedustaan yang dinsibatkan kepada pengarangnya padahal tidak sama sekali, ada juga yang penulisnya dinilai pendusta, bercampur pikiran dan hafalannya, ada juga yang sanad riwayat kitab tersebut seorang pendusta atau pemalsu hadits, dan juga kadang berisi hadits atau khobar palsu dan mungkar. Sehingga kitab-kitab tersebut tidak kuat atau tidak bisa dijadikan sandaran hujjah dalam masalah hukum apatah lagi masalah akidah. Berikut kitab-kitab tersebut :
1476762_10201216862329647_2027166840_n
1. Syarh as-Sunnah lil al-Barbahari. شرح السنة للبربهاري
Imam as-Sam’ani mengatakan :
قال أبو نعيم : كان له أصل صحيح وسماع صحيح وأصل رديء وسماع رديء يحدث بذا وبذاك فأفسده ، وقال أيضاً : كان كذاباً . قال محمد بن أبي الفوارس أبو بحر بن كوثر شيخ فيه نظر ، وقال أيضاً : كان مخلطاً وله أصول جياد وله أشياء رديئة . قال أبو الحسن بن الفرات كان مخلطاً وظهر منه في آخر عمره أشياء منكرة
“ Abu Nu’aim mengatakan. “ Ia memiliki asal yang sahih dan pendengaran ilmu yang sahih, dan ia pun juga memiliki asal yang buruk dan pendengaran ilmu yang buruk pula. Ia membawakan hadits ini dengan hadits lainnya, sehingga merusaknya “. Beliau juga mengatakan, “ ia seorang pendusta “. Muhammad bin Abi al-Fawaris Abu Bahr bin Kautsar, “ al-Barbahari adalah seorang syaikh yang masih perlu dipertimbangkan “. Beliau juga berkata, “ Beliau tercampur pikirannya, beliau memiliki asal yang bagus dan asal yang buruk “. Abul Hasan bin al-Farrat mengatakan, “ Beliau konon pikirannya tercampur, dan di akhir usianya muncul sesuatu yang diingkari “.[1]
Ibnu Thahir al-Maqdisi mengatakan :
وأما البربهارية فإنهم يجهرون بالتشبيه والمكان ويرون الحكم بالخاطر ويكفرون من خالفهم
“ Adapun al-Barbahariah (pengikut al-Barbahari), maka sesungguhnya mereka menampakkan tasybih dan tempat (kepada Allah), mengambil hukum dengan lintasan hati dan mengkafirkan orang yang menentang mereka “.[2]
Bahkan sudah ada kitab yang menyatakan tidak validnya kitab syarah as-Sunnah dinisbatkan kepada al-Barbahari, kitabnya berjudul :
فتح الباري بتكذيب نسبة كتاب شرح السنة للبربهاري
“ Fath al-Bari bi takdzib nisbati kitab Syarh as-Sunnah lil Barbahari “. Karya tulis syaikh Laits Makkah.
2. Risalah ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah wa az-Zanadiqah. رسالة الرد على الجهمية والزنادقة
Risalah ini dinisbatkan kepada imam Ahmad bin Hanbal pada kurun 4 hijriyyah. Dalam sanad riwayat risalah ini terdapat al-Khidhir bin al-Mutsanna (الخضر بن المثنى), ia dinilai Majhul oleh ulama.
Al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan :
لا كرسالة الاصطخري ولا كالرد على الجهمية الموضوع على أبي عبد الله فإن الرجل كان تقياً ورعاً لا يتفوه بمثل ذلك ولعله قاله
“ Bukan seperti risalah al-Ishthikhri dan juga risalah ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah yang dinsibatkan palsu kepada Abu Abdillah (imam Ahmad), karena beliau adalah orang yang bertaqwa dan wirai’ yang tidak mungkin berucap ngawur semacam itu..”[5]
Beliau juga mengatakan :
إلى أن ذكر أشياء من هذا الأنموذج المنكر والأشياء التي والله ما قالها الإمام ، فقاتل الله واضعها ، ومن أسمج ما فيها قوله : ومن زعم أنه لا يرى التقليد ولا يقلد دينه أحداً ، فهذا قول فاسق عدو لله ، فانظر إلى جهل المحدثين كيف يروون هذه الخرافة ويسكتون عنها
“ Sampai ia menyebutkan beberapa dari sesuatu yang mungkar dan beberapa perkara yang demi Allah tidak diucapkan imam Ahmad, maka semoga Allah memerangi orang yang memalsukannya. Di antara ucapan yang …..[6]
3. ar-Radd ‘ala al-Marisi li Utsman ad-Darimi. الرد على المريسي لعثمان الدارمي
Lajnah (Dewan fatwa) al-Azhar menyatakan :
وهو من الكتب التي يعتبرها القوم من أمهات كتب السنة ، مملوء بوثنيات فاضحة ومخازي رذيلة ؛ فيه إثبات الحركة والحد لله عز وجل ، وأنه مس آدم مسيساً بيده ، وأنه يقعد على العرش فما يفضل منه إلا قدر أربعة أصابع ، وأنه قادر على الاستقرار على ظهر بعوضة ، وأنه إذا غضب ثقل على حملة العرش ، وأن رأس المنارة أقرب إليه من أسفلها ، وغير ذلك مما هو مبسوط في موضعه
“ Itu termasuk kitab yang dipegang oleh mereka (mujassimah) dan dianggap sebagai induk kitab as-Sunnah. Isinya penuh dengan keberhalaan yang jelas dan kehinaan yang nista. Di dalamnya terdaptkan penetapan gerakan dan batasan bagi Allah. Dan Allah menyentuh sesuatu dengan tangan-Nya, Allah duduk di atas Arsy seukuran tidak lebih dari 4 jari. Dan sesungguhnya Allah Maha Mampu duduk di punggung nyamuk. Allah jika murka, maka akan terasa berat beban bagi para malaikat yang menggotong Arsy. Dan sesungguhnya ujung menara lebih dekat dengan Allah daripada yang di bawahnya dan lain-lain yang tercantum dalam kitab tersebut “.[7]
Al-Hafidz adz-Dzahabi menukil dan juga memujinya, akan tetapi beliau memberikan peringatan atas sikap ghuluwnya ad-Darimiy :
وفي كتابه بحوث عجيبة مع المريسي يبالغ فيها في الإثبات ، والسكوت عنها أشبه بمنهج السلف في القديم
“ Dan di dalam kitabnya terdapat pembahasan-pembahasan yang unik bersama al-Marisi, ia berlebihan di dalam itsbat, sedangkan diam darinya (ayat shifat) lebih serupa dengan manhaj salaf terdahulu “.[8]
Lajnah al-Azhar juga mengatakan :
وما اشتمل عليه الكتاب مخالف لما عليه جمهور المسلمين من عهد الصحابة حتى الآن
“ Apa yang terkandung dalam kitab tersebut, bertentangan dengan mayoritas kaum muslimin sejak masa sahabat hingga sekarang ini “.[9]
4. at-Tauhid li Ibni Khuzaimah. التوحيد لابن خزيمة
Al-Imam Tajuddin as-Subuki mengatakan :
وقد أثنى عليه فيما بلغنى ابن خزيمة واجتمع به غير مرة
“ Sungguh telah sampai padaku bahwa Ibnu Khuzaimah memuji Muhammad bin Karam (Pemimpin sekte Karamiyyah) dan berkumpul dengannya lebih dari sekali “.[10]
Ibnu Khuzaimah sebenarnya telah rujuk (kembali menolak) dari kitab at-Tauhidnya tersebut, sebagaimana pengakuan al-Baihaqi :
واعترف – أي ابن خزيمة – فيما حكيناه عنه بأنه إنما أتى ذلك من حيث إنه لم يحسن الكلام
“ Ibnu Khuzaimah sebagaimana telah kami hikayatkan darinya, telah mengakui bahwa ia membuat kitabnya tersebut karena tidak cakap (pandai) dalam ilmu kalam “.[11]
Beliau melanjutkan :
قلت: القصة فيه طويلة وقد رجع محمد بن إسحاق إلى طريقة السلف وتلهف على ما قال والله أعلم
“ Aku (al-Baihaqi) katakan, “ Kisahnya panjang, dan sungguh Muhammad bin Ishaq telah bertaubat dan kembali kepada jalan ulama salaf dan menyesali atas apa yang pernah ia ucapkan “.[12]
Pernyataan atas pertaubatan Ibnu Khuzaimah ini pun dikuatkan oleh pengakuan al-Hafidz Ibnu Hajar :
ووقع نحو ذلك لإمام الائمة ابن خزيمة ، ثم رجع ، وله في ذلك مع تلامذته قصة مشهورة
“ Dan juga terjadi atas seorang pemimpin dari para pemimpin yaitu Ibnu Khuzaimah, kemudian beliau bertaubat. Beliau dalam hal itu memiliki kisah yang sudah masyhur (terkenal) bersama para muridnya “.[13]
Apalagi Ibnu Khuzaimah jika menuruti pemahaman wahabi adalah seorang quburiyyun atau penyembah kuburan. Berikut kesaksian para ulama semasanya yang dinaqal oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dan al-Hakim :
وسمعت أبا بكر محمد بن المؤمل بن الحسن بن عيسى يقول خرجنا مع امام أهل الحديث أبي بكر بن خزيمة وعديله أبي علي الثقفي مع جماعة من مشائخنا وهم إذ ذاك متوافرون إلى زيارة قبر علي بن موسى الرضا بطوس قال فرأيت من تعظيمه يعني ابن خزيمة لتلك البقعة وتواضعه لها وتضرعه عندها ما تحيرنا
“ Aku telah mendengar Abu Bakar bin al-Mu’ammal bin al-Hasan bin Isa mengatakan, “ Kami keluar bersama imam ahli hadits yakni Abu Bakar bin Khuzaimah sahabatnya Abi Ali ats-Tsaqafi bersama para jama’ah dari kalangan guru kami. Mereka kemudian sepakat untuk menziarahi makam Ali bin Musa ar-Ridha di Thus “. Ia berkata, “ Maka aku melihat sikap ta’dzhim (pengagungan) Ibnu Khuzaimah kepada makam tersebut. Sikap rendah hati dan dan tadharru’nya (permohonannya yang semangat) di sisi makam itu yang membuat kami heran (takjub) “.[14]
Maka bagaimana kaum wahabi mengambil pemahaman dari Ibnu Khuzaimah dalam masalah akidah yang menurut mereka adalah musrik ??
5. Al-Ibanah li Ibni Baththah. الإبانة لابن بطة العكبري
Adz-Dzahabi mengatakan :
ومع قلة إتقان بن بطة في الرواية كان إماما في السنة إماما في الفقه صاحب أحوال واجابة دعوة رضي الله عنه
“ Walaupun Ibnu Baththah kurang kuat dalam segi riwayat, akan tetapi ia adalah seorang imam dalam sunnah, imam dalam fiqih, memiliki ahwal dan doa yang dikabulkan radhiallahu ‘anu “.[15]
Beliau juga mengatakan :
لإبن بطة مع فضلة أوهام وغلط
“ Ibnu Baththah memiliki keutamaan akan tetapi ia memiliki waham dan kekeliruan “.[16]
Dalam kesempatan yang lain adz-Dzahabi juga mengatakan :
فبدون هذا يضعف الشيخ
“… Dan selain atsar ini, syaikh (Ibnu Baththah) dinilai lemah “[17]
Maksud adz-Dzahabi adalah selain riwayat atsar itu, Ibnu Baththa dinilai lemah pada periwayatan lainnya.
Ibnul Atsir mengatakan :
كان إماماً فاضلاً عالماً بالحديث من فقهاء الحنابلة
“ Beliau seorang imam yang utama dengan hadits termasuk ulama fiqih Hanabilah “.[18]
Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan :
وقفت لابن بطة على أمر استعظمته واقشعر جلدي منه
“ Aku perhatikan Ibnu Baththah ada satu perkara yang aku anggap itu suatu perkara besar dan membuat kulitku merinding “ kemudian beliau menjarhnya bahwa ia adalah seorang wadhdha’ (pembuat riwayat palsu, dan beliau sering melakukan penghapusan nama para imam lalu mengganti nama imam lainnya di tempat yang dihapusnya “.[19]
Al-Khathib al-Baghdadi mengatakan :
قال لي أبو القاسم الأزهري: ابن بطة ضعيف ضعيف ليس بحجة وعندي عنه معجم البغوي ولا أخرج منه في الصحيح شيئا قلت له: فكيف كان كتابه بالمعجم فقال: لم نر له أصلا به وإنما دفع إلينا نسخة طرية بخط ابن شهاب فنسخنا منها وقرأنا عليه شاهدت عند حمزة بن محمد بن طاهر الدقاق نسخة بكتاب محمد بن عزيز في غريب القرآن وعليها سماع ابن السوسنجردي من ابن بطة عن ابن عزيز فسألت حمزة عن ذلك فأنكر أن يكون ابن بطة سمع الكتاب من ابن عزيز وقال: ادعى سماعه ورواه
“ Abul Qasim mengatakan padaku, “ Ibnu Baththah itu dhaif (lemah), dhaif tidak bisa dijadikan hujjah. Aku memiliki darinya kitab Mu’jam al-Baghawi dan aku tidaklah mentakhrij darinya sedikit pun dalam sahih, maka aku bertanya padanya, “ Bagaimana adanya kitab Mu’jam itu ? “, ia menjawab, “ Tidak ada asalnya kitab itu, sesungguhnya telah diberikan padaku naskah baru dengan tulisan Ibnu Syihab, maka kami menggantinya darinya dan kami membaca atas Ibnu Syihab, saku menyaksikan di sisi Hanrah bin Muhammad bin Thahir ad-Daqqaq nskah dengan kitab Muhammad bin Aziz tentang Gharib al-Quran, atasnya penerimaan Ibnu as-Susanjardi dari Ibnu Baththah dari Ibnu Aziz. Lalu aku bertanya pada Hamzah tentang itu semua, maka beliau mengingkari Ibnu Baththah mendengar kitab dari Hamzah, ia telah mengaku mendengar dan meriwayatkannya “. [20]
Al-Kautsari mengatakan :
ابن بطة الحنبلي : صاحب ( الإبانة ) ، كان من أجلاد الحشوية وله مقام عندهم إلا أنه لا يساوي فلساً ، وهو الذي روى حديث ابن مسعود ( كلّم الله موسى عليه السلام يوم كلمه وعليه جبة صوفٍ ، وكساء صوف ، ونعلان من جلد حمار غير ذكي ) فزاد فيه : ( فقال : من ذا العبراني الذي يكلّمني من الشجرة ؟؟ قال : أنا الله !!والتهمة لاصقة به لا محالة لانفراده بتلك الزيادة كما يظهر من طرق الحديث في ( لسان الميزان ) وغيره وما فعل ذلك إلا ليُلقي في رُوعِ السامع أن كلام الله من قبيل كلام البشر بحيث يلتبس على السامع كلامه تعالى بكلام غيره . تعالى الله عن مزاعم المشبهة في إثبات الحرف والصوت له تعالى ، وكتبه من شر الكتب وله طامات فلا تعويل على روايته
“ Ibnu Btahthah al-Hanbali penulis kitab al-Ibanah (ash-Shugra) termasuk anggota hasyawiyyah akan tetapi tidak dianggap. Dia seorang yang meriwayatkan hadits Ibnu Mas’ud “ Allah telah mengajak bicara Nabi Musa di hari Ia mengajak bicara, dan Dia menggunakan jubah woll, selendang woll dan dua sandal dari kulit himar “ , lalu Ibnu Baththah menambahinya “ Lalu Ia berkata “ Siapakah al-Ibrani yang mengajak bicara padaku dari balik pohon ? “ inna lillah, tuduhan itu ada padanya tidak diragukan lagi, karena ia tersendiri dari riwayat tersebut sebagaimana nampak jelas dalam jalan-jalan hadits lainnya di dalam Lisan al-Mizan dan selainnya. Tidaklah Ibnu Baththah berbuat demikian kecuali supaya pendengarnya merasa takut bahwa kalam Allah itu dari sisi kalam manusia sekiranya menjadi samar bagi pendengar antara kalam Allah dan kalam lainnya. Sungguh Allah maha Suci dari pemikiran kaum Musyabbihah di dalam menetapkan huruf dan suara bagi Allah Ta’ala, kitab-kitabnya di antara kitab-kitab yang paling buruk…”.[21]
Jika melihat penjelasan para ulama jarh, maka tampak Ibnu Baththah adalah wadhdha’ yakni pemalsu riwayat. Dengan ini riwayatnya lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.
6. Ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah dan at-Tauhid Ibnu Mandah. الرد على الجهمية والتوحيد ابن مندة
Al-Hafidz Ibnu Nu’aim mengatakan :
اختلط في آخر عمره ….. وتخبط في أماليه ، ونسب إلى جماعة أقوالاً في المعتقدات لم يُعرفوا بها نسأل الله الستر والصيانة
“ Ia bercampur pikirannya di akhir usianya…..dan kacau dalam angan-angannya. Menisbatkan kepada sekelompok ulama beberapa ucapan dalam masalah akidah yang tidak diketahui dari mereka, kami memohon kepada Allah penutupan dan penjagaan-Nya “.[22]
Imam Ibnu ‘Asakir mengatakan :
إن له في معرفة الصحابة أوهاماً كثيرة
“ Dia memiliki wahm (kebingungan) yang banyak tentang pengetahuan para sahabat “[23]
Dengan ini ia adalah lemah, riwayat yang disandarkannya kepada beberapa ulama salaf dalam masalah akidah adalah tidak bisa dijadikan hujjah.
7. Syarh Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani. شرح رسالة ابن أبي زيد القيرواني
Kitab ini sering dinakal oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim. Adz-Dzahabi mengatakan :
وقد نقموا عليه – أي علماء السنة – في قوله بذاته ، فليته تركها
“ Para ulama Ahlus sunnah telah membantahnya pada ucapannya , Dengan Dzat Allah “, andai ia meninggalkan ucapan itu “.[24]
Imam al-Abiy mengatakan :
قلت : ما نسب من القول في الجهة إلى الدهماء ومن بعدهم الفقهاء والمتكلمين لا يصح ، ولم يقع إلا لأبي عمر في الاستذكار ولابن أبي زيد في الرسالة ، وهو عنهما متأول
“ Aku (al-Abiy) katakan, “ Ucapan Allah di suatu arah yang dinisbatkan kepada para duhama dan fuqaha serta mutakallimin adalah tidak valid, dan tidak terjadi hal itu kecuali oleh Abu Umar dalam al-Istidzkarnya dan Ibnu Abi Zaid dalam risalahnya, sedangkan menurut beliau berdua adalah ditakwil “.[25]
8. al-I’tiqad wa Ibthal at-Takwilat, al Qadhi Abu Ya’la al-Farra. الاعتقاد وإبطال التأويلات للقاضي أبو يعلى الفراء
Imam Ibnul Atsir mengatakan :
وفيها أنكر العلماء على أبي يعلى بن الفراء الحنبلي ما ضمنه كتابه من صفات الله سبحانه وتعالى المشعرة بأنه يعتقد التجسيم ، وحضر أبو الحسن القزويني الزاهد بجامع المنصور وتكلم في ذلك ، تعالى الله عما يقولون علواً كبيراً
“ Dan pada tahun 429 H, para ulama mengingkari Abu Ya’la al-Farra al-Hanbali atas isi kandungan kitabnya yang berbicara soal sifat-sifat Allah Ta’ala yang mengisyaratkan bahwa ia meyakini tajsim. Abul Hasan al-Qazwaini seorang ulama yang zuhud mendatangi masjid Jami’ al-Manshur dan membicarakan Abu Ya’la, sungguh Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan dengan ke maha tinggian yang besar “.[26]
Ibnul Atsir mengatakan :
لقد شان أبو يعلى الحنابلة شينا لا يغسله ماء البحار
“ Sungguh Abu Ya’la telah mengotori madzhab Hanabilah dengan sesuatu yang tidak akan bisa dibersihkan dengan sebanyak air lautan “.[27]
Bahkan al-Hafidz Ibnu Arabi sangat mengingkari Abu Ya’la dan ia telah menghina Allah Ta’ala dengan semua yang diucapkannya tentang sifat-sifat Allah.[28]
Akan tetapi dalam teks-teksnya yang lain beliau mengakui kemaha sucian Allah dari tempat dan gerakan[29], dan mungkin saja beliau wafat atas akidah tanzih tersebut.
9. al-Idhah fi Ushuluddin, Ibn az-Zaghuni. الإيضاح في أصول الدين لابن الزاغوني
Al-Hafidz adz-Dzahabi juga mengatakan :
ورأيت لأبي الحسن بخطه مقالة في الحرف والصوت عليه فيها مآخذا والله يغفر له، فيا ليته سكت
“ Aku telah melihat terhadap ucapan Abul Hasan (az-Zaghuni) tentang huruf dan suara yang di dalamnya ada beberapa ….semoga Allah mengampuninya, sungguh alangkah baiknya jika dia mau diam “[30]
Ibnul Jauzi al-Hanbali mengatakan :
ورأيت من أصحابنا من تكلم في الأصول بما لا يصلح وانتدب للتصنيف ثلاثة : أبو عبدالله بن حامد وصاحبه القاضي وابن الزاغوني ، فصنفوا كتبا شانوا بها المذهب ورأيتهم نزلوا إلى مرتبة العوام
“ Aku melihat sahabat kami (dalam madzhab Hanbali) ada ulama yang membicarakan masalah akidah dengan sesuatu yang tidak patut dibicarakan, dan berani menulis kitab tiga orang yaitu Abu Abdillah bin Hamid dan sahabatnya yaitu Al-Qadhi Abu Ya’la dan Ibnu az-Zaghuni. Mereka telah menulis kitab yang mengotori madzhab Ahmad bin Hanbal dan aku melihat mereka telah turun ke tingkatan orang awam “[31]
10. al-Ghunyah, syaikh Abdul Qadir al-Jailani. الغنية للامام عبد القادر الجيلاني
Kitab ini memang karya beliau, akan tetapi para ulama mengatakan adanya distorsi dalam beberapa teks kitab tersebut yang menyatakan tajsim bagi Allah, yakni “ Allah menetap di arah Atas “ dan mereka melakukan kedustaan atas nama beliau dengan menyatakan, “ sesungguhnya huruf mu’jam itu bersifat qadim yang tidak ada wujud permulaannya “ dan lainnya.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :
وإياك أن تغتر بما وقع في الغنية لإمام العارفين وقطب الإسلام والمسلمين الأستاذ عبد القادر الجيلاني ، فإنه دسه عليه فيها من سينتقم الله منه وإلا فهو بريء من ذلك وكيف تروج عليه هذه المسألة الواهية مع تضلعه من الكتاب والسنة وفقه الشافعية والحنابلة حتى كان يفتي على المذهبين ، هذا مع ما انضم لذلك أن الله منّ عليه من المعارف والخوارق الظاهرة والباطنة وما أنبأ عن ما ظهر عليه وتواتر من أحواله
“ Waspadalah engkau, hangan tertipu atas kitab al-Ghunyah karya imam arifin dan quthub islam dan muslimin yakni ustadz Abdul Qadir al-Jailani. Karena telah melakukan pemalsuan atas nama beliau segelintir kaum yang akan Allah hukum mereka atas hal itu. Sungguh syaikh terbebas dari pemalsuan itu. Bagaimana beliau bisa mengetengahkan masalah lemah tersebut padahal beliau snagat berpegang teguh dnegan al-Quran dan Sunnah dan bermadzhab dengan dua madzhab yakni syafi’iyyah dan Hanabilah, bahkan beliau terkadang berfatwa atas dasar dua madzhab….”[32]
Kami pun telah mengklarifikasikan hal ini dengan berjumpa dan mewancarai secara live kepada cucu beliau syaikh Afeefuddin al-Baghdadi. Dan beliau menginformasikan bahwa kitab tersebut memang ada beberapa ucapan yang dipalsukan atas nama datuk beliau syaikh Abdul Qadir al-Jailani oleh kalangan salafi. Beliau memiliki kitab tahqiq lainnya yang sudah diterbitkan insya Allah dan menjawab isu ini.
11. as-Sunnah, al-Khallal. السنة للخلال
Imam Ibnul ‘Ammad mengatakan :
في هذا الكتاب أطال الخلال في تقرير قعود النبي صلى الله عليه وسلم مع الباري سبحانه على الفضلة التي تفضل من العرش. وحشر مع ذلك نقولاً عن بعض المحدثين في تكفير منكره ورميه بالبدعة والتجهم وغير ذلك مما لو قرأه رجل لم يسمع عن الإسلام شيئاً ولظن أن هذا الخبر ركن من أركان الإسلام ، وفيه أيضًا الكذب على الإمام أحمد وأنه تلهف لسماع هذا الخبر إذ لم تحصل روايته له من علو
“ Dalam kitab ini, al-Khallal telah panjang lebar di dalam menetapkan duduknya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Allah Ta’ala atas keutamaan yang dianugerahi di Arsy. Ia telah mengumpulkan nukilan-nukilan dari sebagian ahli hadits yang menghukumi kafir bagi orang yang mengingkarinya, dan memvonis bid’ah dan jahmi bagi mereka yang mengingkarinya dan lainnya dari apa yang seandainya sesorang membacanya, maka tidak akan terdengar dari agama Islam sedikit pun tentang hal itu dan akan menyangkan bahwa khobar tersebut adalah bagian dari rukun Islam. Di kitab tersebut juga ada kedustaan atas nama imam Ahmad bin Hanbal, dan sesungguhnya al-Khallal sangat ambisi untuk mendengarkan khobar tersebut, karena ia tidak mendapatkan riwayatnya dari atas “.[33]
Beliau juga memvonis imam at-Tirmidzi dengan sebutan ahli bid’ah, al-Khallal mengatakan :
قال أبو بكر الخلال : قرأت كتاب السنة ….. فبلغني أن قوماً ممن طرد إلى طرسوس من أصحاب الترمذي المبتدع أنكروه
“ Abu Bakar al-Khallal mengatakan, “ Aku telah membaca kitab as-Sunnah…..maka sampai padaku sesungguhnya ada suatu kaum yang diusir ke Thursus dari sahabat at-Tirmidzi ahli bid’ah yang mereka ingkarinya…”[34]
Pada halaman 234, ia juga mengatakan :
أشهد على هذا الترمذي أنه جهمي خبيث
“ Aku bersaki atas at-Tirmidzi bahwa ia adalah seorang jahmi lagi buruk “.
12. I’tiqad as-Sunnah, Abu Bakar al-Ismai’ili.اعتقاد السنة لأبو بكر الاسماعيلي
Al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan :
هذا الكتاب لا يثبت عن الإمام ؛ في سنده مجهول وهو مسعود بن عبد الواحد الهاشمي
“ Kitab ini tidak tsabit dari imam al-Ismai’ili, dalam sanadnya terdapat orang yang majhul yaitu Mas’ud bin Abdul Wahid al-Hasyimi “.[35]
Sedangkan beliau adalah seorang ulama Ahlus sunnah yang beraqidah tanzih sebgaimana nukilan al-Hafidz Ibnu Hajar dari al-Ismai’ili yang mengatakan :
لا يظن أن الله ذو أعضاء وجوارح لما في ذلك من مشابهة المخلوقين تعالى الله عن ذلك ليس كمثله شيء
“ Tidak boleh menyangka bahwa Allah memiliki anggota tubuh, karena hal itu sama saja dengan menyerupakan Allah kepada makhluk-Nya, sungguh maha Suci Allah dari hal itu, dan Allah tidak ada sesuatu pun yangs erupa dengan-Nya “.[36]
13. Dzam al-Kalam wa ahlih, lil Harawi. ذم الكلام وأهله لأبو اسماعيل الهروي الأنصاري
Al-Imam Tajuddin as-Subuki mengatakan :
وكان الأنصاري المشار إليه رجلاً كثير العبادة محدثًاً إلا أنه يتظاهر بالتجسيم والتشبيه وينال من أهل السنة وقد بالغ في كتابه ذم الكلام حتى ذكر أن ذبائح الأشعرية لا تحل
“ al-Harawi al-Anshari yang diisyaratkan kepadanya, adalah seorang yang banyak beribadah, ahli hadits akan tetapi ia menampakkan akidha tajsim dan tasybih dan bermusuhan dengan ahlus sunnah, sungguh beliau telah berlebihan di dalam kitabnya Dzamm al-kalam hingga menyebutkan bahwa semebelihan dari kalangan al-Asya’irah tidak halal untuk dimakan “.[37]
14. Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah, Ibnu Abil Izz al-Hanafi. شرح العقيدة الطحاوية لابن أبي العز الحنفي
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani menyebutkan bahwa para ulama Mesir khususnya para ulama Hanafiyyah, telah mengingkarinya dan memerintahkan para qadhi untuk menghukumnya. Termasuk ulama yang mengingkarinya adalah Jamaluddin al-Kurdi, Syarafuddin al-Ghazi, Ibn Muflih, Ibn Hajji dan lainnya.[38]
Imam Murtadha az-Zabidi mengatakan :
ولما تأملته حق التأمل وجدته كلاماً مخالفاً لأصول مذهبه إمامه ، وهو في الحقيقة كالرد على أئمة أهل السنة ، كأنه تكلم بلسان المخالفين ، وجازف وتجاوز عن الحدود ، حتى شبه قول أهل السنة بقول النصارى ، فليتنبه لذلك
“ Ketika aku merenunginya, maka aku mendapatkan ucapannya bertentangan dengan akidha madzhab imamnya. Sebenarnya kitab itu seperti membantah terhadap para imam Ahlus sunnah, seolah-olah ia berbicara dengan lisan para penentang, ngawur dan berlebihan tentang batasan, sehingga menyerupakan ucapan Ahlus sunah dengan ucapan Nashara, maka hati-hatilah “.[39]
15. ash-Shifat, ad-Daraquthni.[40] الصفات للدارقطني
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan :
لا تصح نسبته للإمام الدارقطني وسنده باطل موضوع ؛ ففي سنده (أحمد بن عبيد الله أبو العز بن كادش ، قال ابن النجار : كان مخلطاً كذاباً لا يحتج به وللأئمة فيه مقال ، قال السمعاني : كان ابن ناصر يسيء القول فيه ، قال الأنماطي : كان مخلطاً ، وقال ابن عساكر : قال لي أبو العز بن كادش : ووضعت أنا في حق أبي بكر حديثاً بالله أليس فعلت جيداً
“ Kitab tersebut tidak sah dinisbatkan kepada ad-Daraquthni, sanadnya bathil dam palsu. Dalam sanadnya ada Ahmad bin Ubaidillah Abul Izz bin Kadasy. Ibnu an-Najjar mengatakan, “ Ia seorang yang bercampur ingatannya, pendusta dan tidak bisa dijadikan hujjah, para imam telah memperbincangkannya…”[41]
16. al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah dan Maqalat al-Islamiyyin wa ikhtilaf al-Mushallin, Abul Hasan al-Asy’ari. الابانة عن اصول الديانة و مقالات الاسلاميين واختلاف المصلين
Al-Kautsari mengatakan :
والنسخة المطبوعة في الهند من الإبانة نسخة مصحَّفة محرفة تلاعبت بها الأيدي الأثيمة، فيجب إعادة طبعها من أصل موثوق
” Dan naskah Al-Ibanah yang sudah tercetak di Hindi adalah naskah yang sudah dirubah dan didistorsi oleh tangan-tangan jahil, maka wajib mengembalikan kembali peredarannya pada naskah yang aslinya yang terpercaya ”[42]
Syaikh Wahbi Ghawaji dalam sebuah risalah yang berjudul ‘ Tinjauan Ilmiyyah di dalam penisbatan kitab Al-Ibanah seluruhnya pada imam Abul Hasan ‘, beliau berkata :
أتى فيها بأدلة موضوعية تدل على أن قسمًا كبيرًا مما في الإبانة المتداولة اليوم بين الناس لا يصح نسبته للإمام الأشعري
” Telah tampak di dalamnya dengan bukti-bukti objektif yang menunjukkan bahwa sebagian besar apa yg ada dalam kitab al-Ibanah saat ini yang sudh luas beredar di kalangan orang adalah tidak sah dinisbatkan kepada imam Abul Hasan al-Asy’ary “
Adapun kitab Maqalat al-Islamiyyin, maka kami telah mengkajinya ia memang benar nisbat kepada imam Abul Hasan al-Asya’ri. Dalam membicarakan soal teks-teks mutasyabihat atau ayat shifat, beliau memang sudah masyhur menggunakan metode tafwidhul ma’na. Sebagaimana salah satu metode dari dua metode yang digunakan ulama Asya’irah yang juga merupaka metode jumhur ulama salaf. Namun kalangan mujassimah menyangka dan mengklaim bahwa beliau berpaham secara makna dhahir dan hakikatnya dari nash-nash shifat, ini jelas klaim yang bathil.
Dua metode tafwidh dan takwil sudah masyhur di kalangan ulama salaf. Imam an-Nawawi mengatakan :
Imam an-Nawawi mengatakan :
اعلم أن لأهل العلم في أحاديث الصفات وآيات الصفات قولين: أحدهما وهو مذهب معظم السلف أو كلهم أنه لا يتكلم في معناها بل يقولون: يجب علينا أن نؤمن بها ونعتقد لها معنى يليق بجلال الله تعالى وعظمته مع اعتقادنا الجازم أن الله تعالى ليس كمثله شيء، وأنه منزه عن التجسم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق، وهذا القول هو مذهب جماعة من المتكلمين واختاره جماعة من محققيهم وهو أسلم
“ Ketahuilah ulama dalam hadits-hadits sifat atau ayat-ayat shifat memiliki dua pendapat : Yang pertama adalah madzhab mayoritas ulama salaf atau keseluruhannya, yaitu tidak membicarakan maknanya bahkan mengatakan, “ Wajib atas kita mengimaninya dan meyakini hal itu punya makna yang layak bagi keagungan Allah disertai keyakinan kita yang kuat bahwa Allah Ta’ala tidak seperti sesuatu dan Allah disucikan dari jisim, berpindah, berbatas di suatu arah dan dari semua sifat makhluk. Ucapan ini adalah madzhab sekelompok dar- mutakallimin dan dipilih oleh sekelompok para pentahqiq mereka, dan ia lebih selamat “. [43]
Imam Badruddin bin Jama’ah juga mengatakan :
واتفق السلف وأهل التأويل على أن ما لا يليق من ذلك بجلال الرب تعالى غير مراد واختلفوا في تعيين ما يليق بجلاله من المعاني المحتملة فسكت السلف عنه، وأوله المتأولون
“ Ulama salaf dan ulama takwil sepakat atas apa yang tidak layak bagi keagungan Allah, bukanlah yang dimaksud. Mereka berbeda pendapat di dalam menentukan kemungkinan makna-maknanya yang layak bagi keagungan Allah… Ulama salaf diam dari ini sedangkan ulama takwil mentakwilnya “.[44]
Bahkan al-Hafidz Ibnu Katsir mengakui pernyataan di atas, beliau pernah menaqal takwilan ulama salaf :
“ Dan langit kami bangun dengan “ aydin “ dan kami benar-benar meluaskannya “. (Ibnu Katisr menafsirkan) : “ Dan langit kami bangun”, maksunya adalah kami jadikan atap yang terjaga dan tinggi , “ Dengan ayidn “, maksudnya adalah dengan kekuasaan “, telah mentakwilnya hal itu (dengan kekuasaan) Abbas, Mujahid, Qatadah, ast-Tsauri dan selain satu (banyak) “. [45]
Sebenarnya masih banyak lagi kitab-kitab yang tidak dinisbatkan kepada ulama yang dinisbatkannya atau memiliki sanad yang palsu atau pendusta yang tidak kami tampilkan di sini. Semoga yang ringkas ini dapat bermanfaat bagi Ahlus sunnah wal Jama’ah.
Ibnu Abdillah al-Katibiy & Shofiyya an-Nuuriyyah
Kota Santri, 26-09-2014
* Artikel ini telah kami revisi ulang kerana ada sikit kesilapan yang sebelumnya kami memasukkan kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah seorang imam hadits yang hafidz dan tsiqah dan dalam revisi ini, kami tiadakan.
[1] Al-Ansab : 2/126
[2] Al-Bad’u wa at-Tarikh : 5/150
[3] Al’Uluw : 199
[4] Lisan al-Mizan : 7/340. Disebutkan juga dalam Siyar A’lam an-Nubala : 14/21
[5] Siyar A’lam an-Nubala : 11/287
[6] Siyar A’lam an-Nubala : 11/303
[7] Maqalat al-Kautsari :262-268
[8] Al-‘Uluw : 195
[9] Maqalat al-Kautsari :265
[10] Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra : 3/304
[11] Al-Asma wa Ashifat, al-Baihaqi : 258
[12] Al-Asma wa Ashifat, al-Baihaqi : 259
[13] Fath al-Bari : 13/492
[14] Tahdzib at-Tahdzib : 3/195
[15] Mizan al-I’tidal : 3/15
[16] Siyar A’lam an-Nubala : 6/5
[17] Siyar A’lam an-Nubala : 6/533
[18] Al-Lubab : 1/160
[19] Lihat Lisan al-Mizan, Ibnu Hajar Al-Atsqalani : 4/113
[20] Tarikh Baghdad : 10/373
[21] Ta’nib al-Khathib : 216
[22] Tarikh Ashbihan : 2/306
[23] Lisan al-Mizan : 6/557
[24] Al-‘Uluw : 256
[25] Ikmal al-Mu’allim bi fawaid Muslim : 2/41
[26] Al-Kamil fit Tarikh : 8/288
[27] Kamil fit Tarikh : 10/52
[28] Al-‘Awashim min al-Qawashim : 209
[29] Al-Mu’tamad fi Ushul ad-Diin : 56
[30] Siyar A’lam an-Nubala : 19/76
[31] Daf’u Syubah ast-Tasybih : 97
[32] Al-Fatawa al-Haditsisyyah : 149
[33] Syadzarat adz-Dzahab, Ibn al-Ammad : 1/261
[34] As-Sunnah, al-Khallal : 266
[35] Mukhtashar Al-Uluw : 249
[36] Fath al-Bari : 8/846
[37] Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra : 4/272
[38] Lihat kitab Inba al-Ghumar : 2/95-97
[39] Ittihaf Sadah al-Muttaqin : 2/146
[40] Ibn Khalkan mengatakan, “ ad-Daraquthni : Dalnya difathah dan Ra’nya difathah kemudian qafnya didhommah, tho’nya sukun kemudian nun. Nisbat kepada Daraquthn daerah yang besar di kota Baghdad “. (Wafiyyatul A’yan)
[41] Lisan al-Mizan : 1/532
[42] Muqaddmiah Tabyin al-Muftari.
[43] Syarh Muslim : 3/19
[44] Idhah ad-Dalil : 103
[45] Tafsir Ibnu Katisr : 4/303
Sabtu, 2 Februari 2019
Aqidah Salafussoleh VS Aqidah Mujassimah
Soalan :
Adakah Mujassimah ini kafir? Boleh ke kita kata mereka ini Islam atau mukmin ?
Jawapan :
Kaum musyabbihah ertinya kaum yang menyerupakan
Mereka digelarkan sebagai Kaum Musybih (meyerupakan) kerana mereka menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Mereka mengatakan bahawa Allah bertangan, berkaki, bertubuh seperti manusia.
Ada juga yang menamakan kaum ini dengan kaum mujassimah, iaitu kaum yang menubuhkan/menjasadkan/menjisimkan. Kerana mereka mengatakan Allah bertubuh, terdiri dari darah daging, muka,bermata, bertangan, berkaki dan bahkan ada yang mengatakan Allah itu berkelamin dan kelaminnya itu lelaki (Lihat Syarah Nahjul Balaghah juz iii, hal 225)
Seorang Ulama' Islam dari Ahlu Sunnah wal Jama'ah iaitu Jamaluddin Ibnu Al Jauzi Al Hanbali (bukan Ibnu Qayyim al Jauzi - ramai yang terkeliru antara kedua-duanya) telah mengarang sebuah kitab untuk menolak fahaman kaum musyabbihah/mujassimah/hasyawiyah ini dengan mengarang sebuah kitab yang diberi nama "Daf'u Syubahah At Tasybih Wa Ar Radd 'alal Mujassimah (penolak syubhat tasybih dan penentang kaum mujassimah)
Kaum ini mengambil ayat mutasyabihah dengan lahiriah sahaja. Dan ia amat merbahaya kepada aqidah. Sebagai contoh :
يد الله فوق ايديهم
ertinya : "tangan Allah di atas tangan mereka" (surah al Fath : 10)
الرحمن على العرش استوى
ertinya : Ar Rahman itu duduk bersila di atas Arasyh (Taha : 5)
Mereka menterjemahkan ayat di atas dengan diambil zahir ayat semata-mata. Iaitu jika disebut bertangan, ya bertangan, kalau disebut bermuka, ya bermuka, kalau disebut bersila, ya bersila.
Sekiranya kita menterjemahkan al Quran itu menurut zahir sahaja maka ia akan membawa kesalahan seperti ayat di bawah :
اعملوا ما شئتم
Ertinya : Buatlah apa yang kamu sukai (Fusilat : 40)
Sekiranya ayat ini diertikan secara yang tersurat sahaja, maka Allah ini memberi erti Allah memberi izin dan menyuruh kita membuat apa sahaja yang kita sukai.
Dan contoh lain dalam surah al Kahfi ayat 29 menyebutkan :
فمن شاء فليوءمن ومن شاء فليكفر
Ertinya : Maka barangsiapa yang menyukai iman ia boleh beriman dan barangsiapa yang suka kafir maka ia boleh menjadi kafir (Al Kahfi:29)
Jika ayat ini diambil secara zahir tanpa melihat kepada majaz dan pemahaman para ulamak muktabar, maka dapat diambil kesimpulan bahawa Allah telah mengizinkan kita menjadi kafir sebagaimana Dia mengizinkan kita menjadi orang Islam. Alangkah bahayanya fahaman ini.
Ulamak salafussoleh menolak fahaman Mujassimah antaranya :
1. Imam Abu Hanifah radiyallahu 'anhu :
Allah adalah sesuatu yang tidak sama seperti sesuatu yang lain. Makna sesuatu itu adalah (Dia) wujud tanpa jisim, tanpa jauhar dan tanpa ardh (Al Fiqh Al akbar)
2. Imam Abu Al Fadhl Abdul Wahid bin Abdul aziz At Tamimi (410H) meriwayatkan :
Imam Ahmad bin Hanbal mengingkari mereka yang menyifatkan Tuhan dengan kejisiman. Beliau (Imam Ahmad) berkata : Sesungguhnya, nama-nama diambil daripada syariat dan bahasa. Adapun ahli bahasa meletakkan nama tersebut (nama-nama yang boleh membawa kepada maksud jisim) dengan maksud, sesuatu yang ada ukuran, ketinggian, ukuran lebar, tersusun dengan beberapa anggota, mempunyai bentuk dan sebagainya. Sedangkan Maha Suci Allah daripada sebarang sifat kejisiman tersebut (Maha suci Allah subahanahu wa ta'ala daripada makna-makna lafaz mutasyabihat tersebut dari sudut bahasa). (Manaqib Imam Ahmad karangan Imam al baihaqi)
3. Imam At Tohawi (321H) berkata juga ketika menjelaskan tentang aqidah Imam Abu Hanifah (150H) dan anak muridnya :
"Maha Tinggi dan Suci Allah subahanahu wa ta'ala daripada sebarang had, sempadan, anggota dan alat. Dia tidak tertakluk dalam mana-mana sudut yang enam (tidak bertempat) (matan Aqidah Tohawiyah)
4. Imam Abu Hasan Al Asy'ari (324 H) mengingkari kejisiman bagi Allah dalam buku beliau yang bertajuk Al Luma' (m/a 18)
5. Imam Abu Bakar Al Razi (370 H) berkata :
Allah subahanahu wa ta'ala juga bukan suatu jisim ataupun yang menetap pada jisim, sedangkan Dialah Maha Pencipta segala sifat baharu dan segala jisim (Syarh Bad'ie Al Amali m/s 159-160)
6. Imam hadith menolak fahaman tajsim :
Imam Ibn Al-Batthal Al-Maliki berkata:
غرض البخاري في هذا الباب الرد على الجهمية المجسمة في تعلقها بهذه الظواهر، وقد تقرر أن الله ليس بجسم فلا يحتاج إلى مكان يستقر فيه، فقد كان ولا مكان ، وانما أضاف المعارج إليه إضافة تشريف ، ومعنى الارتفاع إليه اعتلاؤه - أي تعاليه - مع تنزيهه عن المكان
Imam Al-Bukhari membentangkan bab ini dalam menolak golongan Jahmiyyah dan Mujassimah pada pergantungan mereka terhadap makna-makna zahir (mutasyabihat) tersebut. Maka, beliau (Imam Al-Bukhari) telah menetapkan bahawasanya Allah s.w.t. tidak berjisim dan tidak berhajat kepada tempat untuk menetap padanya. Allah s.w.t. telah wujud tanpa bertempat, maka Al-Ma'arij (naik) kepadaNya itu merupakan suatu nisbah kemuliaan... [Bahjah An-Nufus 13/416]
Kedudukan Ahli Tajsim/Golongan Mujassimah Menurut Ulama Sunnah :
1. Imam As Sayuthi berkata : Kaedah : Imam Syafie berkata : Tidak boleh mengkafirkan seseorangpun dari ahli kiblat (Muslim) melainkan mujassim dan orang yang mengingkari ilmu Allah terhadap perkara-perkara juz'iyyat (As Asybah wa An Nazho'ir m/s488)
2. Imam Ibn Hajar al Haithami berkata :
Ketahuilah bahawasanya Imam al Qarafi dan sebagainya meriwayatkan daripada Imam as Syafie, Imam Malik, imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah radiyallahu anhum bahawasanya mereka berpegang dengan pendapat tentang mengkafirkan orang-orang yang menetapkan tempat dan kejisiman bagi Allah subahahu wa ta'ala. Mereka benar dalam pegangan tersebut. (Al Minhaj al Qowin m/s 224)
3. Imam Al Mulla 'Ali Al Qafri Al hanafi juga berkata :
Maksudnya : Begitu juga dengan orang yang berkata bahawasanya Allah itu berjisim, Allah itu mempunyai tempat (bertempat), Allah diliputi oleh peredaran zaman dan sebagainya, maka dia ialah kafir kerana tidak tetap baginya akan hakikat keimanan (Syarh Fiqh Al Akbar m/s 271)
Namun Imam Al Ramli As Syafie ketika menjawab soalan mengenai hukum orang yang menetapkan tempat atau posisi bagi Allah yang mana ia membawa kepada kejisiman, beliau berkata :
القائل المذكور مسلم, وإن كان مبتدعا
Maksudnya :Orang yang berkata sebegitu tetap seorang Muslim walaupun seorang pembid'ah
Demikianlah sebahagian pendapat para ulama' mengenai golongan mujassimah. Para ulama salaf dan khalaf bersepakat dalam menghukum sesat golongan mujassimah, walaupun berbeza pendapat dalam mengkafirkan mereka. Walau bagaimanapun dengan wujudnya pendapat ulama yang mengkafirkan gologan mujassimah ini, menunjukkan betapa beratnya kesesatan fahaman tajsim ini dan sewajarnya para ulama berusaha sedaya upaya untuk membanterasnya.
Bagaimana cara berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat (ayat yang samar-samar maknanya) ?
Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali radiyaLlahu 'anhu berkata :
Ketahuilah bahawasanya kebenaran yang jelas, sepertimana yang dijelaskan oleh ahlul basa'ir (orang yang celik mata hatinya) ialah mazhab salaf, iaitu yang saya maksudkan di sini ialah mazhab para sahabat dan tabi'in dan saya akan jelaskannya beserta dalil-dalilnya.
Maka saya berkata : Hakikat mazhab salaf, yang mana merupakan mazhab yang benar pada pandangan kami (ulama Islam) iaitu apabila sampai suatu hadith yang mutasyabihat kepada orang awam (kaum Muslimin yang awam), maka wajib bagi mereka (orang awam tersebut) berpegang dengan tujuh perkara ini iaitu :
1. Taqdis (menyucikan Allah daripada sifat kejisiman)
2. kemudian tasdiq (membenarkan lafaz yang disebut oleh Allah subahanahu wa ta'ala dan RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam).
3. kemudian i'tiraf (mengaku kelemahan diri dalam memahami nas mutasyabihat tersebut)
4. kemudian As Sukut (tidak bertanya tentang maksud sebenar perkataan mutasyabihat tersebut)
5. kemudian al Imsak (tidak mengubah lafaz-lafaz zahir tersebut ataupun mengubah maknanya dengan kefahaman sendiri).
6. kemudian al Kaff( menahan akal daripada memikirkan tentang nas-nas mutasyabihat tersebut)
7. kemudian At Taslim il ahlil makrifat (menyerahkan perbahasan tersebut kepada ahli makrifat yang mendalam ilmu mereka tentang masalah tersebut, tanpa melibatkan diri dalam perbahasan tersebut dengan mereka).
Demikianlah asas-asas bagi orang awam, dalam menjaga aqidah mereka daripada fahaman tajsim dan ta'thil.
WaLLahua'lam
Adakah Mujassimah ini kafir? Boleh ke kita kata mereka ini Islam atau mukmin ?
Jawapan :
Kaum musyabbihah ertinya kaum yang menyerupakan
Mereka digelarkan sebagai Kaum Musybih (meyerupakan) kerana mereka menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Mereka mengatakan bahawa Allah bertangan, berkaki, bertubuh seperti manusia.
Ada juga yang menamakan kaum ini dengan kaum mujassimah, iaitu kaum yang menubuhkan/menjasadkan/menjisimkan. Kerana mereka mengatakan Allah bertubuh, terdiri dari darah daging, muka,bermata, bertangan, berkaki dan bahkan ada yang mengatakan Allah itu berkelamin dan kelaminnya itu lelaki (Lihat Syarah Nahjul Balaghah juz iii, hal 225)
Seorang Ulama' Islam dari Ahlu Sunnah wal Jama'ah iaitu Jamaluddin Ibnu Al Jauzi Al Hanbali (bukan Ibnu Qayyim al Jauzi - ramai yang terkeliru antara kedua-duanya) telah mengarang sebuah kitab untuk menolak fahaman kaum musyabbihah/mujassimah/hasyawiyah ini dengan mengarang sebuah kitab yang diberi nama "Daf'u Syubahah At Tasybih Wa Ar Radd 'alal Mujassimah (penolak syubhat tasybih dan penentang kaum mujassimah)
Kaum ini mengambil ayat mutasyabihah dengan lahiriah sahaja. Dan ia amat merbahaya kepada aqidah. Sebagai contoh :
يد الله فوق ايديهم
ertinya : "tangan Allah di atas tangan mereka" (surah al Fath : 10)
الرحمن على العرش استوى
ertinya : Ar Rahman itu duduk bersila di atas Arasyh (Taha : 5)
Mereka menterjemahkan ayat di atas dengan diambil zahir ayat semata-mata. Iaitu jika disebut bertangan, ya bertangan, kalau disebut bermuka, ya bermuka, kalau disebut bersila, ya bersila.
Sekiranya kita menterjemahkan al Quran itu menurut zahir sahaja maka ia akan membawa kesalahan seperti ayat di bawah :
اعملوا ما شئتم
Ertinya : Buatlah apa yang kamu sukai (Fusilat : 40)
Sekiranya ayat ini diertikan secara yang tersurat sahaja, maka Allah ini memberi erti Allah memberi izin dan menyuruh kita membuat apa sahaja yang kita sukai.
Dan contoh lain dalam surah al Kahfi ayat 29 menyebutkan :
فمن شاء فليوءمن ومن شاء فليكفر
Ertinya : Maka barangsiapa yang menyukai iman ia boleh beriman dan barangsiapa yang suka kafir maka ia boleh menjadi kafir (Al Kahfi:29)
Jika ayat ini diambil secara zahir tanpa melihat kepada majaz dan pemahaman para ulamak muktabar, maka dapat diambil kesimpulan bahawa Allah telah mengizinkan kita menjadi kafir sebagaimana Dia mengizinkan kita menjadi orang Islam. Alangkah bahayanya fahaman ini.
Ulamak salafussoleh menolak fahaman Mujassimah antaranya :
1. Imam Abu Hanifah radiyallahu 'anhu :
Allah adalah sesuatu yang tidak sama seperti sesuatu yang lain. Makna sesuatu itu adalah (Dia) wujud tanpa jisim, tanpa jauhar dan tanpa ardh (Al Fiqh Al akbar)
2. Imam Abu Al Fadhl Abdul Wahid bin Abdul aziz At Tamimi (410H) meriwayatkan :
Imam Ahmad bin Hanbal mengingkari mereka yang menyifatkan Tuhan dengan kejisiman. Beliau (Imam Ahmad) berkata : Sesungguhnya, nama-nama diambil daripada syariat dan bahasa. Adapun ahli bahasa meletakkan nama tersebut (nama-nama yang boleh membawa kepada maksud jisim) dengan maksud, sesuatu yang ada ukuran, ketinggian, ukuran lebar, tersusun dengan beberapa anggota, mempunyai bentuk dan sebagainya. Sedangkan Maha Suci Allah daripada sebarang sifat kejisiman tersebut (Maha suci Allah subahanahu wa ta'ala daripada makna-makna lafaz mutasyabihat tersebut dari sudut bahasa). (Manaqib Imam Ahmad karangan Imam al baihaqi)
3. Imam At Tohawi (321H) berkata juga ketika menjelaskan tentang aqidah Imam Abu Hanifah (150H) dan anak muridnya :
"Maha Tinggi dan Suci Allah subahanahu wa ta'ala daripada sebarang had, sempadan, anggota dan alat. Dia tidak tertakluk dalam mana-mana sudut yang enam (tidak bertempat) (matan Aqidah Tohawiyah)
4. Imam Abu Hasan Al Asy'ari (324 H) mengingkari kejisiman bagi Allah dalam buku beliau yang bertajuk Al Luma' (m/a 18)
5. Imam Abu Bakar Al Razi (370 H) berkata :
Allah subahanahu wa ta'ala juga bukan suatu jisim ataupun yang menetap pada jisim, sedangkan Dialah Maha Pencipta segala sifat baharu dan segala jisim (Syarh Bad'ie Al Amali m/s 159-160)
6. Imam hadith menolak fahaman tajsim :
Imam Ibn Al-Batthal Al-Maliki berkata:
غرض البخاري في هذا الباب الرد على الجهمية المجسمة في تعلقها بهذه الظواهر، وقد تقرر أن الله ليس بجسم فلا يحتاج إلى مكان يستقر فيه، فقد كان ولا مكان ، وانما أضاف المعارج إليه إضافة تشريف ، ومعنى الارتفاع إليه اعتلاؤه - أي تعاليه - مع تنزيهه عن المكان
Imam Al-Bukhari membentangkan bab ini dalam menolak golongan Jahmiyyah dan Mujassimah pada pergantungan mereka terhadap makna-makna zahir (mutasyabihat) tersebut. Maka, beliau (Imam Al-Bukhari) telah menetapkan bahawasanya Allah s.w.t. tidak berjisim dan tidak berhajat kepada tempat untuk menetap padanya. Allah s.w.t. telah wujud tanpa bertempat, maka Al-Ma'arij (naik) kepadaNya itu merupakan suatu nisbah kemuliaan... [Bahjah An-Nufus 13/416]
Kedudukan Ahli Tajsim/Golongan Mujassimah Menurut Ulama Sunnah :
1. Imam As Sayuthi berkata : Kaedah : Imam Syafie berkata : Tidak boleh mengkafirkan seseorangpun dari ahli kiblat (Muslim) melainkan mujassim dan orang yang mengingkari ilmu Allah terhadap perkara-perkara juz'iyyat (As Asybah wa An Nazho'ir m/s488)
2. Imam Ibn Hajar al Haithami berkata :
Ketahuilah bahawasanya Imam al Qarafi dan sebagainya meriwayatkan daripada Imam as Syafie, Imam Malik, imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah radiyallahu anhum bahawasanya mereka berpegang dengan pendapat tentang mengkafirkan orang-orang yang menetapkan tempat dan kejisiman bagi Allah subahahu wa ta'ala. Mereka benar dalam pegangan tersebut. (Al Minhaj al Qowin m/s 224)
3. Imam Al Mulla 'Ali Al Qafri Al hanafi juga berkata :
Maksudnya : Begitu juga dengan orang yang berkata bahawasanya Allah itu berjisim, Allah itu mempunyai tempat (bertempat), Allah diliputi oleh peredaran zaman dan sebagainya, maka dia ialah kafir kerana tidak tetap baginya akan hakikat keimanan (Syarh Fiqh Al Akbar m/s 271)
Namun Imam Al Ramli As Syafie ketika menjawab soalan mengenai hukum orang yang menetapkan tempat atau posisi bagi Allah yang mana ia membawa kepada kejisiman, beliau berkata :
القائل المذكور مسلم, وإن كان مبتدعا
Maksudnya :Orang yang berkata sebegitu tetap seorang Muslim walaupun seorang pembid'ah
Demikianlah sebahagian pendapat para ulama' mengenai golongan mujassimah. Para ulama salaf dan khalaf bersepakat dalam menghukum sesat golongan mujassimah, walaupun berbeza pendapat dalam mengkafirkan mereka. Walau bagaimanapun dengan wujudnya pendapat ulama yang mengkafirkan gologan mujassimah ini, menunjukkan betapa beratnya kesesatan fahaman tajsim ini dan sewajarnya para ulama berusaha sedaya upaya untuk membanterasnya.
Bagaimana cara berinteraksi dengan nas-nas mutasyabihat (ayat yang samar-samar maknanya) ?
Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali radiyaLlahu 'anhu berkata :
Ketahuilah bahawasanya kebenaran yang jelas, sepertimana yang dijelaskan oleh ahlul basa'ir (orang yang celik mata hatinya) ialah mazhab salaf, iaitu yang saya maksudkan di sini ialah mazhab para sahabat dan tabi'in dan saya akan jelaskannya beserta dalil-dalilnya.
Maka saya berkata : Hakikat mazhab salaf, yang mana merupakan mazhab yang benar pada pandangan kami (ulama Islam) iaitu apabila sampai suatu hadith yang mutasyabihat kepada orang awam (kaum Muslimin yang awam), maka wajib bagi mereka (orang awam tersebut) berpegang dengan tujuh perkara ini iaitu :
1. Taqdis (menyucikan Allah daripada sifat kejisiman)
2. kemudian tasdiq (membenarkan lafaz yang disebut oleh Allah subahanahu wa ta'ala dan RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam).
3. kemudian i'tiraf (mengaku kelemahan diri dalam memahami nas mutasyabihat tersebut)
4. kemudian As Sukut (tidak bertanya tentang maksud sebenar perkataan mutasyabihat tersebut)
5. kemudian al Imsak (tidak mengubah lafaz-lafaz zahir tersebut ataupun mengubah maknanya dengan kefahaman sendiri).
6. kemudian al Kaff( menahan akal daripada memikirkan tentang nas-nas mutasyabihat tersebut)
7. kemudian At Taslim il ahlil makrifat (menyerahkan perbahasan tersebut kepada ahli makrifat yang mendalam ilmu mereka tentang masalah tersebut, tanpa melibatkan diri dalam perbahasan tersebut dengan mereka).
Demikianlah asas-asas bagi orang awam, dalam menjaga aqidah mereka daripada fahaman tajsim dan ta'thil.
WaLLahua'lam
Sabtu, 19 Januari 2019
Latarbelakang Almarhum.Ustaz Abdul Ghani bin Muda
PERGINYA SEORANG LAGI ULAMA TERENGGANU
Beliau ialah Al-Marhum Tuan Guru Sheikh Ustaz Abdul Ghani bin Muda. Di kalangan rakan-rakan dan junior ada yang memanggilnya sebagai Sheikh (ini menunjukkan betapa mereka menghormati dan mengiktiraf kedudukan ilmunya) dan ada juga yang memanggilnya sebagai tuan guru (seperti yang tertera dalam poster di bawah) dan biasanya beliau disapa sebagai ustaz. Beliau membuka pondok di Setiu Terengganu.
Beliau merupakan seorang yang faqih. Sangat menguasai Fiqh Shafie. Mana tidaknya beliau khatam 3 kali Fathul Wahab dan Mahalli dengan the legendary Tok Guru Hj Abbas yang sangat masyhur itu. (Siapa yang tidak kenal dengan Tok Guru Hj Abbas?!Beliau ialah guru kepada Tok Guru Nik Aziz, Maulana Lambak, Tok Guru Hj Hadi, Ust Harun Taib, Ust Awang Jidin dll) Tok Guru Hj Abbas pula khatam Fathul Wahab, Mahalli dan Asna matholib dengan Mufti Shafie di Mekah lantikan Khalifah Usmaniah iaitu Sheikh Said Yamani (ayah kepada mufti Terengganu Sheikh Hasan Yamani).
Saking faqihnya Al-Marhum Ustaz Abdul Ghani ini sehingga beliau memang ingat setiap inci masail dalam Fathul Wahab dan khilaf mazhab Shafie dalam Mahalli.
Bahkan beliau ingat di mana khilafnya Sheikh Zakaria Ansori dengan qaul muktamad Mazhab Shafie. Itu sudah menunjukkan betapa lumatnya dan cerapnya ilmu beliau. Maklumlah 3 kali khatam. Mana nak jumpa dah orang yang khatam kitab2 tersebut di zaman ini. Khatam pula dengan tok guru yang khatam dengan ulama besar di zamannya. Di zaman ini kalau ada pun banyak yang mengaji tebuk2 dan tidak khatam. Mengaji pula dengan tok guru yang tebuk2 juga. Al-maklum.
Selain itu, pada pandangan saya beliau juga seorang yang tabahhur dalam ilmu usul fiqh. Beliau khatam kitab Syarah Sheikh Zakaria Ansari atas Lubbul Usul (mukhtasar kepada Jamu’l Jawami’) dengan Tok Guru Hj Abbas beberapa kali. Banyak kali saya perasan beliau sering meng’tahqiq’ furu’ atas usul setiap kali mengajar mahalli atau Jamu’l Jawami’ di pondok beliau. Beliau juga mengaji Nihayatus Sul sewaktu belajar di Al-Azhar.
Selain itu juga, beliau sangat menguasai perbahasan aqidah Asyairah dan Maturidiah. Beliau khatam Syarah Baijuri a’la Ummul Barahin, Aqaid Durrriah, Fathul Majid dll dengan Tok Guru Hj Abbas dan juga khatam Syarah Taftazani ala’ A’qaid Nasafi dengan Maulana Lambak. Selain itu al-marhum juga talaqqi kitab Syarah Ibnu Aqil, Qatrunnada, Sahih Bukhari, Muwatta’, Syarah Tahzib Mantik dengan Tok Guru Hj Abbas. Yang istimewanya Al-Marhum sempat membaca sahih Bukhari one to one dengan Tok Guru Hj Abbas (sempat sampai bab haji sahaja). Ini merupakan sanad yang a’li kerana Tok Guru Hj Abbas diketahui khatam sahih bukhari one to one dengan Maulana Anwar Shah Kashmiri. Al-marhum Ustaz Ghani juga khatam secara tafaqquh Sahih Bukhari, Sunan Tirmizi dan Abi Daud dengan Maulana Lambak.
Al-marhum bermulazamah dengan Tok Guru Hj Abbas selama lebih kurang 10 tahun dan menjadi menantu beliau. Kemudian melanjutkan pengajiian di Al-Azhar pada 1992 di usia yang agak lewat. Al-marhum sewaktu belajar di Al-Azhar sering kali menjadi tumpuan pelajar melayu untuk bertalaqqi terutama pelajar dari Terengganu. Semacam Sheikh Nuruddin juga lah yang digelar Azhar Tsani. Bahkan beliau sempat khatam mengajar Mahalli dan kitab2 lain di sana dengan pelajar2 melayu. Ramai juga anak2 murid beliau di Fakulti Islam Kontemporari UniSZA dan lain2 tempat.
Al-marhum meninggal dunia semalam pada hari yang mulia. Al-fatihah.
0445
18 JAN 2019 (JUMAAT)
Cc: Ustaz Lotpi Yusob
Tambahan :
saya sempat menjadi menantu kpd beliau tidak lama, dalam 3 tahun sahaja... Tetapi, sungguh kami adalah saksi amal soleh beliau...
Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2250244035008068&id=100000674791521&ref=m_notif¬if_t=feedback_reaction_generic
Langgan:
Catatan (Atom)
