Jom Bantu Memberi Faham!




Terima Kasih kerana berkunjung ke laman blog ini. Semoga mendapat ilmu yang bermanfaat dan disebarkan kepada umat Islam yang lain.

Kepada para sahabat dan ilmuwan agama yang pakar dalam aqidah, usuluddin, al Quran, hadith, usul feqh, feqh dan disiplin ilmu yang lain (mengikut Mazhab Syafie aliran Asya'iroh/al Maturidiyyah) diharap dapat berkunjung ke laman-laman web di bawah untuk memberikan kefahaman dan penjelasan kepada umat Islam di Malaysia :

1.


3. Visit our Forum!



Kami sedang berusaha untuk memberi kefahaman kepada Umat Islam di Malaysia di dalam Facebook. Ini adalah antara usaha kecil kami untuk berdakwah. AlhamduliLlah setakat ini sudah 3,711 sahabat yang menyertai kami. Jom bergabung di sini:

JomFaham
Buku terbaru hasil penulisan Ustaz Mukhlis. Sila dapatkannya di pasaran sekarang !








Testimoni buku "Menjiwai Tauhid Memurnikan Diri":

1.
Buku ini sangat menarik, penting dan sangat mudah untuk difahami. Bahasanya ringkas, isinya padat dan pendekatan yang digunakan bersesuaian dengan kehendak semasa. Lebih menarik lagi, isinya mengandungi gabungan antara ilmu tauhid dengan ilmu tasawwuf yang memudahkan para pembaca memahami ilmu tauhid dan menghayatinya dalam kehidupan.


Ustaz AbduLlah Thahir (Http://Al-Fanshuri.Blogspot.Com)

2.
Buku ini amat baik untuk mengenali aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bahkan, aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah aqidah yang sejahtera dan perlu diikuti. Imam AbduLlah Al Haddad berkata : Hendaklah kamu berpegang dengan aqidah Al Asy'ari kerana ianya adalah suatu pegangan yang sejahtera dan bebas dari kufur dan kesesatan.


Ustaz Nasir bin Othman, Imam Masjid Jamek Bahau, Negeri Sembilan

Testimoni buku "Menyingkap Tabir Bahagia" :

1.
Buku ini menarik dan sesuai untuk dibaca oleh pelbagai peringkat umur. Buku ini juga memberi peluang kepada pembaca untuk meneroka dan menemui sinaran kebahagiaan dalaman yang hakiki.
Profesor Madya Dr Nik Hasnaa Nik Mahmood. UTM International Campus

Sesuai sebagai bahan pengajaran dan rujukan di sekolah, kolej, universiti, kuliah-kuliah ilmu, ceramah dan sebagainya.

Di Johor, buku ini boleh didapati di Plaza Angsana, Badan cemerlang Sdn Bhd. Atau boleh berhubung dengan :

Pelima Media Sendirian Berhad (852961-A),
3-1-1, Jalan Medan Pusat Bandar 4A,
Seksyen 9,
43650 Bandar Baru Bangi,
Selangor Darul Ehsan,
MALAYSIA.

Nombor Telefon :

Telefon Pejabat • +6 (03) - 8926 7746
Fax Pejabat• +6 (03) - 8927 3479
Telefon Bimbit • +6 (016) - 209 9454

Laman Web : http://www.pelima.com.my/

Jom Daftar Di Laman Web Islamik ASWJ

Rabu, 18 Januari 2012

Tingkatan Mufti Mazhab As Syafie

Oleh : Thoriq


Definisi madzhab adalah apa-apa yang dipilih oleh Imam As Syafi’i dan para pengikutnya terhadap hukum dalam berbagai masalah, sebagaimana disebutkan Imam Al Mahalli dalam Syarh beliau terhadap Al Minhaj. (lihat, Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, 1/7)

Dengan definisi di atas, otomatis madzhab As Syafi’i tidak hanya mencakup pendapat Imam As Syafi’i saja, namun, juga pendapat para pengikutnya. Nah, siapa para pengikut yang berhak memberi kontribusi kepada madzhab? Pendapatnya diperhitungkan sebagai pendapat madzhab? Tentu, itu bisa terjawab dengan pemaparan tingkatan para mufti yang dianggap mu’tabar dalam madzhab.

Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab (1/71), mengenai tingkatan mufti dalam madzhab As Syafi’i. Merujuk kepada pendapat Al Hafidz Ibnu Shalah, beliau membagi mufti dalam madzhab menjadi beberapa kelompok:

1. Mufti Mustaqil

Mufti mustaqil adalah mufti yang berada dalam peringkat tertinggi dalam madzhab, Ibnu Shalah juga menyebutkannya sebagai mujtahid mutlaq. Artinya, tidak terikat dengan madzhab. Bahkan mujtahid inilah perintis madzhab. Tentu dalam Madzhab As Syafi’i, mufti mustaqil adalah Imam As Syafi’i. Imam An Nawawi sendiri menyebutkan pendapat beberapa ulama ushul bahwa tidak ada mujtahid mustaqil setelah masa As Syafi’i. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72)

Keistimewaan mufti mustaqil yang tidak dimiliki oleh tingkatan mufti di bawahnya adalah kemampuannya menciptakan metode yang dianut madzhabnya.

2. Mujtahid Madzhab

Yakni, mufti yang tidak taklid kepada imamnya, baik dalam madzhab (pendapat) atau dalilnya namun tetap menisbatkan kepada imam karena mengikuti metode imam. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

Contoh ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah Imam Al Muzani dan Al Buwaithi, sebagaimana disebutkan Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Sedangkan Imam An Nawawi juga menyebutkan bahwa Abu Ishaq As Syairazi yang masa hidupnya jauh dari masa Imam As Syafi’i mengaku sampai pada derajat ini. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)

Di kalangan muta’akhirin Imam As Suyuthi juga mengaku sampai pada derajat ini, sebagaimana disebutkan Syeikh Ba’alawi. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7)

Mufti golongan inilah yang relevan bagi mereka perkataan Imam As Syafi’i yang melarang taklid, baik kepada beliau maupun kepada para imam lainnya, sebagaimana disebutkan Imam An Nawawi (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

Dan hal itu tidak berlaku kepada ulama yang berada di bawah level ini, sebab itulah Ibnu Shalah sendiri berpendapat bahwa pelarangan taklid dari para imam tidak bersifat mutlak. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72).

Golongan ini pula yang menurut Ibnu Shalah dan Imam An Nawawi yang berhak mengoreksi pendapat Imam, di saat mereka mengetahui ada hadits shahih yang bertantangan dengan pendapat imam. Kenapa harus mereka? Karena bisa jadi imam sengaja meninggalkan hadits walau ia shahih dikarenakan manshukh atau ditakhsis, dan hal ini tidak akan diketahui kecuali yang bersangkutan telah menela’ah semua karya As Syafi’i dan para pengikutnya, dan hal ini amatlah sulit, menurut penilaian ulama sekaliber Imam An Nawawi sekalipun. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/99 dan Ma’na Al Qaul Al Imam Al Muthallibi Idza Shahah Al Hadits fa Huwa Madzhabi)

Jika sesorang sampai pada derajat ini, ia bisa menyelisihi pendapat imamnya sendiri, dan hal ini tidaklah jadi persoalan, karena sudah sampai pada derajat mujtahid walau tetap memakai kaidah imam. Tak heran jika beberapa pendapat Imam Al Muzani berbeda dengan pendapat Imam As Syafi’i seperti dalam masalah masa nifas, Imam As Syafi’i berpendapat bahwa maksimal masa nifas 60 hari sedangkan Al Muzani 40 hari. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 2/106)

3. Ashab Al Wujuh

Ashab Al Wujuh, yakni mereka yang taklid kepada imam dalam masalah syara’, baik dalam dalil maupun ushul Imam. Namun, mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan hukum yang belum disebutkan imam dengan menyimpulkan dan menkiyaskan (takhrij) dari pendapat Imam, sebagaimana para mujtahid menentukannya dengan dalil. Biasanya mereka mencukupkan diri dengan dalil imam. (lihat Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para ulama As Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah ashab al wujuh. Yakni mereka yang mengkiyaskan masalah yang belum di-nash oleh imam kepada pendapat imam. Sehingga, orang yang merujuk fatwa mereka pada hakikatnya tidak bertaklid kepada mereka, namun bertaklid kepada imam. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Contoh dari para ulama yang mencapai derajat ini adalah Imam Al Qaffal dan Imam Abu Hamid atau Ahmad bin Bisyr bin Amir, Mufti Syafi’iyyah di Bashrah, sebagaimana disebutkan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al Qurdi (lihat, Mukhtashar Al Fawaid Al Makiyyah, hal.53).

4. Mujtahid Fatwa

Golongan ini termasuk para ulama yang tidak sampai pada derajat ashab al wujuh, namun menguasai madzhab imam dan dalilnya serta melakukan tarjih terhadap pendapat-pendapat dalam madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73)

Perlu diketahui, dengan adanya mufti-mufti yang berada di atas tingkatan ini, dalam madzhab sudah banyak terjadi khilaf, baik antara imam dengan mujtahid madzhab juga disebabkan perbedaan kesimpulan para ashab al wujuh terhadap pendapat imam. Disinilah ulama pada tingkatan ini berperan untuk mentarjih.

Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi menyebutkan bahwa yang berada dalam tingkatan ini Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi yang dikenal sebagai mujtahid fatwa.(lihat, An Nihayah, hal. 7 dan Al Bughyah, hal. 7)

Hal ini nampak dalam corak karya Ar Rafi’i seperti Al Aziz fi Syarh Al Wajiz, juga karya Imam An Nawawi seperti Raudhah At Thalibin dan Minhaj At Thalibin. Sehingga bagi para penuntut ilmu jika ingin mengetahu perkara yang rajih dalam madzhab bisa merujuk kepada buku-buku tersebut.

5. Mufti Muqallid

Tingkatan mufti dalam madzhab yang paling akhir adalah mereka yang menguasa madzhab baik untuk masalah yang sederhana maupun yang rumit. Namun tidak memiliki kemampuan seperti mufti-mufti di atasnya. Maka fatwa mufti yang demikian bisa dijadikan pijakan penukilannya tentang madzhab dari pendapat imam dan cabang-cabangnya yang berasal dari para mujtahid madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Ar Ramli dan As Subramilsi termasuk kelompok mufti Muqallid, walau sebagian berpendapat bahwa mereka juga melakukan tarjih dalam beberapa masalah. (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal 7)

Jika tidak menemui nuqilan dalam madzhab, maka ia tidak boleh mengeluarkan fatwa, kecuali jika mereka memandang bahwa masalahnya sama dengan apa yang nash madzhab, boleh ia mengkiyaskannya. Namun, menurut Imam Al Haramain, kasus demikian jarang ditemui. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).

Namun tentunya tidak boleh berfatwa dengan semua pendapat tanpa melihat mana yang rajih menurut madzhab. Syeikh Ba’ alawi menilai orang yang demikian sebagai orang yang bodoh dan menyelisihi ijma. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 9)

Jika demikian, para mufti yang berada di jajaran ini akan banyak berinteraksi dengan karya-karya para mujtahid fatwa, yang telah menjelaskan pendapat rajih dalam madzhab.

Penutup

Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para mufti selain mufti mustaqil, yang telah disebutkan di atas termasuk mufti muntasib, dalam artian tetap menisbatkan diri dalam madzhab. Dan semuanya harus menguasai apa yang dikuasai oleh mufti muqallid. Barang siapa berfatwa sedangkan belum memenuhi syarat di atas, maka ia telah menjerumuskan diri kepada hal yang amat besar! (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74)

Tentu, amat tidak mudah untuk masuk jajaran mufti di atas hatta mufti muqallid jika orang sekaliber Ibnu Hajar Al Haitami dan Imam Ar Ramli masih dinilai berada dalam tingkatan itu! Namun ironisnya banyak anak-anak muda yang baru mencari ilmu dengan tanpa beban menyesat-nyesatkan siapa saja yang bertaklid. Kemudian menyerukan untuk mentarjih pendapat sesuai berdasarkan dalil yang ia pahami seakan-akan ia setingkat dengan Imam An Nawawi, atau bahkan menggugurkan pendapat mujtahid mustaqil dengan berargumen, idza shahah al hadits fahuwa madzhabi, seakan-akan ia satu level dengan Imam Al Muzani! Padahal yang bersangkutan belum menghatamkan dan menguasai kitab fiqih yang paling sederhana sekalipun dalam madzhab.

Mudah-mudahan kita terlindung dari hal-hal yang demikian. Dan tetap bersabar untuk terus mencari ilmu, hingga sampai kepada kita keputusan Allah, sampai dimana ilmu yang mampu kita serap dan kita amalkan.

Rujukan:

1. Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Imam An Nawawi, Dar Al Fikr, th. 1425-1426 H, t. Dr. Mahmud Mathraji.

2. Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, Tajuddin As Subki, Hijr, cet. 2, th. 1413 H, t. Dr. Abdul Fattah Muhammad Al Hulwu, Dr. Muhamud Muhammad At Thanahi.

3. Nihayah Az Zain fi Iryadi Al Mubtadi’in, Nawawi Al Bantani, Al Haramain, cet. 1,th. 1426 H.

4. Bughyah Al Mustaryidin, Ba’alawi, Nur Al Huda.

5. Mukhtashar Al Fawaid Al Makiyyah, Al Allamah Syeikh Alawi bin Ahmad As Saqqaf, Dar Al Basyair Al Islamiyah, cet. 1, th. 1425 H.

6. Ma’na Al Qaul Al Imam Al Muthallibi Idza Shahah Al Hadits fa Huwa Madzhabi, Taqiyuddin As Subki dalam Majmu’ah Ar Rasail Al Muniriyah, Idarah At Thiba’ah Al Muniriyah, cet. 2, th 1343 H.

7. Syarh Al Mahalli Ala Al Minhaj dalam Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, Al Mahalli, Dar Al Fikr, cet. 1, th. 1419 H.


Latarbelakang Pendidikan Penulis : Pesantren Mamba\’ul Hisan Blitar(1991), Al Muayyad Solo (1994), Al Mukmin Solo (1995), Universitas Al Azhar Cairo (2002), Ma\’had \’Ali Li Ad Dirasat Al Islamiyah Cairo (2006).

Sumber : http://almanar.wordpress.com/2010/09/21/tingkatan-mufti-madzhab-as-syafi%E2%80%99i/

0 ulasan:

Jom Ikut Kuliah Agama Secara Online!

Jom Menuntut Ilmu !

Ahli Aqidah/Usuluddin/Tasawuf

Ahli Tafsir/Usul Feqh/Feqh/Feqh Perbandingan

Ahli Hadith

Ahli Mazhab Syafie

Ahli Perubatan Islam

Ahli Psikologi/Kaunseling

Ahli Perbandingan Agama

Ahli Bahasa Arab

Ahli Qira'at / Tajwid

Ahli Pemikir Islam

Ahli Kajian Dan Penyelidikan