CARIAN ILMU DI JOMFAHAM :

Memaparkan catatan dengan label Soal Jawab Kontemporari. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Soal Jawab Kontemporari. Papar semua catatan

Ahad, 30 Jun 2019

Sejarah Bermulanya Kalendar Tahun Hijrah Islam

Sejarah Bermulanya Kalender Hijrah Islam


Share Button
Dalam literatur sejarah Islam, kalender Qamariyyah merupakan perhitungan milik bangsa Arab jauh sebelum Islam datang. Mereka jugalah yang menciptakan nama-nama 12 bulan Qamariyyah. meskipun dalam perjalanan panjangnya, kalender tersebut digunakan sebagai sarana kaum muslimin dalam menentukan puasa, miqat haji, hari raya dan hal-hal lain. Hanya saja, sebelum era kepemimpian Khalifah kedua, yaitu Saidina Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, penggunaan kalender Qamariyyah sebagai kalender Islam belum rasmi digunakan. Sejarah mencatat, kalender tersebut secara rasmi digunakan dimulai sejak era kepemimpinan beliau dan awal Muharram dijatuhkan pada kejadian bersejarah, yakni hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Mekkah ke Madinah. Dengan demikian, di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum ada penanggalan secara rasmi yang digunakan sebagai kalender Islam, meskipun sebahagian sejarawan menyatakan sudah ada.
1476762_10201216862329647_2027166840_n
Latar belakang diciptakannya kalender Islam oleh Shahabat Umar bin Khaththab radhiyyallahu ‘anhu ada beberapa riwayat. Dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari(VII/305) menuturkan tiga riwayat berbeda yang melatar belakangi diresmikannya kalender Islam.

Riwayat Pertama:

وَذَكَرُوا فِي سَبَبِ عَمَلِ عُمَرَ التَّارِيْخَ أَشْيَاءَ مِنْهَا مَا أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ الفَضْلُ بنُ دَكِيْنَ فِي تَارِيْخِهِ وَمِنْ طَرِيْقِهِ الحَاكِمِ مِنْ طَرِيْقِ الشَّعْبِيّ أَنَّ أبَا مُوْسَى كَتَبَ إِلىَ عُمَرَ أَنَّهُ يَأْتِيْنَا مِنْكَ كُتُبٌ لَيْسَ لَهَا تَارِيْخٌ
“Ulama menyebutkan beberapa riwayat, dalam sebab Shahabat Umar membuat kalender. Sebahagian darinya adalah riwayat yang dikeluarkan Abu Nu’aim Fadhl bin Dakin dalam Tarikh-nya, dan dari jalur riwayatnya ada al-Hakim, dari asy-Sya’bi, bahwa Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada Umar: “Sungguh datang beberapa surat Anda kepada saya tanpa ada tanggalnya”.

Riwayat pengiriman surat dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari ketika menjadi gabenor Bashrah Iraq kepada Khalifah Umar bin Khaththab inilah yang paling masyhur.

Riwayat Kedua:

رَوَى أَحْمَدُ وَأَبُو عَرُوْبَةَ فِي الأَوَائِلِ وَالبُخَارِيّ فِي الأَدَبِ والحَاكِمُ مِنْ طَرِيْقِ مَيْمُوْنَ بنِ مِهْرَانَ قَالَ رُفِعَ لِعُمَرَ صَكٌّ مَحِلُّهُ شَعْبَانُ فَقَالَ أَيُّ شَعْبَانٍ الماَضِي أوْ الَّذِي نَحْنُ فِيْهِ أَوِ الآتِي ضَعُوْا لِلنَّاسِ شَيْئًا يَعْرِفُوْنَهُ
“Imam Ahmad, Abu Arubah dalam al-Awail, al-Bukhari dalam al-Adab, dan al-Hakim meriwayatkan dari jalur Maimun bin Mihran (Mahran), ia berkata: “Dilaporkan kepada Umar sebuah yang diberi catatan yang jatuhnya bulan Sya’ban. Kemudian Umar berkata: “Sya’ban yang lalu atau Sya’ban sekarang ini, atau yang akan datang? Buatlah sesuatu untuk masyarakat supaya mengetahuinya”.

Riwayat Ketiga:

رَوَى ابْنُ أَبِي خَيْثَمَةَ مِنْ طَرِيْقِ ابْنِ سِيْرِيْنَ قَالَ قَدِمَ رَجُلٌ مِنَ اليَمَنِ فَقَالَ رَأَيْتُ بِالْيَمَنِ شَيْئًا يَسُمُّوْنَهُ التَّارِيْخِ يَكْتُبُوْنَهُ مِنْ عَامِ كَذَا وَشَهْرِ كَذَا فَقَالَ عُمَرُ هَذَا حَسَنٌ فَأَرِّخُوْا
“Ibnu Abi Khaitsamah dari jalur Ibni Sirin, ia berkata: “Seorang laki-laki datang dari Yaman, ia berkata: “Aku di Yaman melihat sesuatu yang mereka sebut tarikh, mereka menulisnya dari tahun ini, dan bulan ini”. Kemudian Umar berkata: “Ini bagus, buatlah kalender!”.
Kemudian menurut cerita yang masyhur, Umar bin Khaththab mengumpulkan shahabat Nabi untuk membahas permulaan tahun Qamariyyah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (VII/305) menulis:

فَجَمَعَ عُمَرُ النَّاسَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اَرِّخْ بِالمَبْعَثِ وَبَعْضُهُمْ اَرِّخْ بِالِهجْرَةِ فَقَالَ عُمَرُ الهِجْرَةُ فَرَّقَتْ بَيْنَ الحَقِّ وَالبَاطِلِ فَأَرِّخُوْا بِهَا وَذَلِكَ سَنَةُ سَبْعَ عَشَرَةَ
“Maka kemudian Umar mengumpulkan para shahabat, maka sebahagian dari mereka mengusulkan: “Buatlah kalender dengan mulai dari Rasulullah diangkat menjadi Nabi!”. Yang lain mengusulkan: “Buatlah kalender mulai hijrah!”. Maka Umar berkata: “Hijrah memisahkan antara yang haq dan yang batil, maka buatlah tanggal dengan hijrah”. Dan itu terjadi di tahun 17 hijriyyah”.

Dan setelah disepakati kapan mulai kalender, yaitu peristiwa hijrah, maka shahabat kembali bermusyawarah, bulan apa yang pertama kali dibuat permulaan tahun. Dalam hal ini, al-Hafizh Ibnu Hajar kembali menulis:

فَلَمَّا اتَّفَقُوا قَالَ بَعْضُهُمْ ابْدَءُوا بِرَمَضَانَ فَقَالَ عُمَرُ بَلْ بِالُمَحَرَّمِ فَإِنَّهُ مُنْصَرِفُ النَّاسِ مِنْ حَجِّهِمْ فَاتَّفَقُوا عَلَيْهِ
“Maka tatkala mereka bersepakat, maka sebahagian dari mereka mengusulkan: “Mulailah dengan bulan Ramadhan!”. Kemudian Umar berkata: “Bukan, seharusnya bulan Muharram, karena itu adalah bulan dimana para jama’ah haji pulang dari hajinya”. Kemudian mereka bersepakat”.

Al-Hafizh Abdurrauf al-Munawi dalam Faidh al-Qadir (I/134) menukil ucapan al-Hafizh Ibnul Jauzi yang menceritakan tentang sejarah kalender. Ia berkata: “Tatkala populasi keturunan Nabi Adam sudah mulai banyak, mereka membuat kalender di permulai dari turunnya Nabi Adam ke bumi, dan kalender tersebut berlaku sampai bencana banjir besar (zaman Nabi Nuh), kemudian sampai zaman Nabi Ibrahim al-Khalil dibakar api, kemudian sampai zaman Nabi Yusuf, kemudian sampai zaman Nabi Musa saat beliau keluar dari Mesir yang membebaskan (perbudakan) kaum Bani Israil, kemudian sampai zaman Nabi Dawud, kemudian sampai Nabi Sulaiman, kemudian sampai Nabi Isa. Sebahagian pendapat mengatakan bahwa orang Yahudi sudah membuat kalender mulai dari runtuhnya Baitul Maqdis, dan orang Nashrani membuat kalender mulai dari saat Nabi Isa diangkat ke langit. Adapun kalender Islam, maka sesuai riwayat al-Hakim dalam al-Iklil dari az-Zuhri dengan status mu’dhal, bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi Terpilih ketika datang ke Madinah menitahkan untuk membuat kalender, maka ditulislah bahawa kejadian tersebut terjadi di bulan Rabi’uil Awal. Imam al-Hakim dan ahli hadits lain juga meriwayatkan bahwa di era kekhalifahan Umar bin Khaththab, beliau mengadakan sidang dengan mengumpulkan beberapa shahabat di tahun ke-17 Hijriyyah. ketika itu sebahagian hadirin mempunyai usul: “Sebaiknya kalender di mulai dari saat Rasulullah diangkat menjadi Nabi”. Dan yang lain berpendapat: “Mulai dari hijrah Rasulullah”. Kemudian Umar bin Khaththab berkata: “Hijrah adalah momentum yang memisahkan antara haq dan bathil”, maka akhirnya mereka menetapkan penanggalan dari hijrah dan semua hadirin sepakat”.
Mereka tidak memulai penanggalan dari saat Rasulullah diangkat menjadi Nabi, lantaran penentuan waktunya yang masih diperselisihkan, dan tidak dari saat wafatnya Rasulullah, lantaran yang demikian itu bisa mengingatkan kembali kesedihan berpisah dengan beliau, dan juga tidak dimulai saat Rasulullah datang ke Madinah”

Dan alasan kenapa Muharram menjadi awal tahun Hijriyyah (Qamariyyah) adalah sebagaimana disebutkan al-Munawi dalam Faidh al-Qadir (I/134):

وَإِنَّمَا جَعَلُوْهُ مِنْ أَوَّلِ المحَرَّمِ لِأَنَّ ابْتِدَاءَ العَزْمِ عَلَى الِهجْرَةِ كَانَ فِيْهِ إذْ البَيْعَةُ كَانَتْ فِي ذِيْ الحِجَّةِ وَهِيَ مُقَدِّمَةٌ لَهَا وَأَوَّلُ هِلاَلٍ هَلَّ بَعْدَهَا المحَرَّمُ وِلِأَنَّهُ مُنْصَرِفُ النَّاسِ مِنْ حَجِّهِمْ فَنَاسَبَ جَعْلُهُ مُبْتَدَأً
“Mereka mengawali dengan bulan Muharram lantaran di bulan tersebut tekad hijrah diawali, karena baiat (aqabah) terjadi di (pertengahan) bulan Dzul Hijjah dan peristiwanya terjadi lebih dahulu daripada hijrah. Dan juga bulan yang muncul setelah Dzul Hijjah adalah Muharram. Alasannya juga karena Muharram adalah ketikanya para jamaah haji pulang dari ibadah hajinya, maka pantas jikalau penanggalan dimulai dari bulan tersebut”.
Dan kita tahu bahawa ketika hijrah Rasulullah sampai di Madinah pada tarikh 12 Rabi’ul Awal atau bertepatan dengan 24 September 622 M. sehingga permulaan kalender dijatuhkan pada bulan Muharram adalah dimundurkan dua bulan.
Cerita diatas memantapkan bahwa ditetapkannya kalender Islam adalah hasil persetujuan musyawarah Sayyidina Umar bin Khaththab dengan beberapa shahabat. Namun bukan berarti beliau adalah orang yang membuat-buat nama bulan hijriyyah. Karena sebagaimana penjelasan diatas bahwa nama-nama bulan Qamariyyah sudah ada di zaman sebelum Islam.
Dalam al-Qur’an disebutkan jumlah bulan Qamariyyah, dan dalam hadits Rasulullah disebutkan secara jelas nama-nama bulan Qamariyyah tersebut yang berjumlah 12.

Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram”. (QS. At-Taubah: 36).

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Dari Nabi shallallahu ‘alai wasallam bersabda: “Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun adalah dua belas bulan yang diantaranya adalah empat bulan mulia; yang tiga berturut-turut; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram, dan Rajab-nya Kabilah Mudhar adalah antara Jumada dan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits diatas mengantarkan kepada satu faham bahawa nama-nama hari telah dicetuskan dalam Islam dan Allah telah menetapkan urutannya.

Kesimpulannya, kalender Qamariyyah yang menggunakan peredaran bulan telah digunakan oleh Arab jahiliyyah dan era Rasulullah. Hanya saja penggunaan rasmi kalender hijriyyah yang berdasar bulan Qamariyyah yang dipermulai dari Muharram rasmi dimulai di zaman Sayyidina Umar bin Khaththab.

Ustaz Nur Hidayat

Ahad, 4 Jun 2017

Hukum Pakai Inhaler Semasa Puasa

PANDUAN HUKUM: HUKUM PAKAI INHALER SEMASA PUASA

Oleh : Ustaz Alyasak bin Berhan

Di antara soalan yang seringkali diajukan setiap kali masuknya bulan Ramadhan adalah berkaitan hukum menggunakan inhaler semasa puasa, adakah ianya membatalkan puasa atau tidak?

Jawapan kami :

Satu-satu inhaler mengandungi 10 ml cecair yang mengandungi ubat. Kuantiti sebanyak ini secara asasnya akan mengeluarkan 200 semburan. Ini bermakna setiap semburan akan keluar sebahagian dari 1 ml. Ini menunjukkan setiap semburan terbentuk kurang dari satu titisan. Satu titis ini pula akan terbahagi kepada beberapa bahagian yang kebanyakannya akan masuk ke alat pernafasan tubuh, dan sebahagian kecil yang lain akan tertinggal di dinding tekak mulut, dan yang selebihnya akan turun ke perut (Mufattirat al-Siyam al-Mu‘asirah hal. 18).

Sehubungan itu, jika kandungan inhaler yang digunakan itu sampai ke rongga seseorang melalui mulut atau hidung sekalipun sedikit, maka ia akan membatalkan puasa. Sebaliknya, jika tidak sampai sesuatu daripadanya ke rongga, maka ia tidak membatalkan puasa.

Dinyatakan oleh Imam Ibn al-Naqib al-Misri :

وضابط المفطر وصول عين وإن قلت من منفذ مفتوح إلى جوف

"Dan dhabit perkara yang membatalkan puasa adalah sampainya sesuatu ‘ain (benda) sekalipun sedikit daripada lubang tubuh yang terbuka ke dalam jauf (rongga)."(‘Umdah al-Salik wa ‘Uddah al-Nasik).

Disebutkan dalam Fath al-Mu‘in :

و يفطر بدخول عين وإن قلت إلى ما يسمى جوفا

"Dan batal (puasa) dengan masuknya sesuatu ‘ain (benda) sekalipun sedikit ke dalam apa yang dinamakan sebagai jauf (rongga)."

Fatwa Kontemporari

Di antara ulama yang pernah memfatwakan bahawa batal puasa seseorang yang menggunakan inhaler ini adalah;

1) Fatwa Dar al-Ifta' Mesir (http://dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx…).

- rujuk juga Kitab al-Siyam terbitan Dar al-Ifta' Mesir hal. 85.

2) Fatwa Dar al-Ifta' Jordan
(http://aliftaa.jo/Article.aspx?ArticleId=164).
(http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=1389#.WSzjAeCwrqA).

- rujuk juga Mukhtasar Ahkam al-Siyam terbitan Dar al-Ifta' Jordan hal. 11.

3) Fatwa Darul Fatwa Australia (http://www.darulfatwa.org.au/…/%D9%85%D8%A7-%D8%AD%D9%83%D…/).

4) Fatawa Syar‘iyyah yang dikeluarkan oleh Bahagian Fatwa dan Penyelidikan, Dairah al-Syuun al-Islamiyyah, Dubai, United Arab Emirates hal. 114/1.

5) Syeikh Omar al-Khatib Singapura (bermazhab Syafi‘i) di dalam buku Panduan Ilmu Fiqh Syeikh Omar al-Khatib hal. 26 Bab Puasa.

6) Syeikh ‘Atiyyah Saqr, mantan ketua Lajnah Fatwa al-Azhar al-Syarif di dalam himpunan fatwa beliau berjudul Ahsan al-Kalam fi al-Fatawa wa al-Ahkam hal. 19/2.

7) Dr. Muhammad Jabr al-Alfi al-Misri (bermazhab Syafi‘i) di dalam kitab Mufattirat al-Soim fi Dhau'i al-Mustajiddah al-Tibbiyyah hal. 102.

8) Dr. Fadhl Hasan ‘Abbas (bermazhab Syafi‘i) di dalam kitab al-Tibyan wa al-Ithaf fi Ahkam al-Siyam wa al-Iktikaf hal. 115.

9) Syeikh Muhammad Mukhtar al-Sulami, mantan mufti Tunisia (bermazhab Maliki) sepertimana yang dicatatkan dalam Mufattirat al-Siyam al-Mu‘asirah hal. 15.

10) Dr. Ali Jumaah, mantan mufti Mesir (bermazhab Syafi‘i) di dalam himpunan fatwa beliau berjudul al-Kalim al-Tayyib hlm 109.

11) Habib Omar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz al-Husaini (bermazhab Syafi'i) (http://www.alhabibomar.com/Fatwa.aspx?SectionID=5&RefID=42).

12) Dr. Wahbah al-Zuhaili (bermazhab Syafi'i) sepertimana yang dicatatkan dalam Mufattirat al-Siyam al-Mu‘asirah hal. 15.

13) Syeikh Muhammad Taqi al-Uthmani (bermazhab Hanafi) sepertimana yang dicatatkan dalam Mufattirat al-Siyam al-Mu‘asirah hal. 15.

14. Dr. Ahmad al-Hajji bin Muhammad al-Mahdi bin Ahmad bin Muhammad ‘Assaf al-Kurdi al-Halabi (bermazhab Hanafi) di dalam fatwa beliau no.108 bertarikh 22-11-2005 (https://www.islamic-fatwa.com/fatwa/108).

15) Dr. Zain bin Muhammad bin Husain al-‘Aidarus (bermazhab Syafi'i) di dalam kitab Ithaf al-Anam bi Ahkam al-Siyam hlm 71.

16) Sayyid Muhammad Amin bin Idrus Ba ‘Alawi al-Husaini yang merupakan murid al-Habib Zein bin Ibrahim bin Sumait (bermazhab Syafi‘i) di dalam buku Marhaban Ya Ramadhan hlm 90.

17) Garis Panduan Berpuasa Bagi Pesakit (JAKIM) hlm 7. 

Kesimpulan

Walaupun terdapat khilaf berkaitan hukum penggunaan inhaler semasa puasa ini, namun kami lebih cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahawa ia boleh membatalkan puasa kerana kandungan inhaler akan masuk ke dalam rongga melalui mulut. Ia selaras dengan pendapat tokoh-tokoh ulama yang menjadi rujukan ummah masa kini dan juga merupakan keputusan badan-badan yang berautoriti dalam mengeluarkan hukum. Justeru, pendapat ini merupakan pandangan yang lebih cermat.

Sehubungan itu, apabila pesakit terpaksa menggunakan inhaler semasa berpuasa, maka haruslah baginya berbuka dan hendaklah dia mengqadha' puasanya setelah dia sembuh. Namun, jika sakitnya berpanjangan tanpa ada harapan untuk sembuh, maka pesakit tersebut tidak diwajibkan berpuasa. Walau bagaimanapun, dia hendaklah membayar fidyah dengan memberi makan kepada orang fakir atau miskin sebanyak hari yang dia tidak berpuasa itu. Firman Allah Taala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ

"...maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka), kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain; dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin..."(Surah al-Baqarah 184).
اليسع
Wallahu a'lam.

http://tolibilmi.blogspot.my/2017/06/hukum-pakai-inhaler-semasa-puasa.html

Sabtu, 24 September 2016

BUMI SFERA ATAU RATA (FLAT)?


Oleh : Ustaz Abdul Rahman

Isu ini isu lama. Para ulama dan ilmuwan Islam dah bincang lama :

1. Al-Maqdisi berkata dalam muqaddimah kitabnya Ahsanul Taqasim Fi Ma'rifatil Aqalim:

أما الأرض فإنها كالكرة.. إلخ
"Adapun bumi, maka sesungguhnya ia adalah seperti bola (sfera)".

2. Ibnu Fadhlillah al-'Umari menukilkan daripada Asy-Syarif Al-Idrisi dalam muqaddimah kitabnya Masalikul Absor Fi Mamalikil Amsor:

قال الشريف: ومع كون الأرض كرة، هي غير صادقة الاستدارة
"Kata Asy-Syarif (Al-Idrisi) : walaupun bumi adalah sfera, namun ia tidaklah benar-benar bulat (maksudnya bujur sedikit)"

3. Disebutkan dalam kitab Wafayatul A'yan (4/359), karangan Ibnu Khallikan, bahawa Abu Bakar As-Sufi berkata:

لو وضعنا طرف حبل على أي موضع كان من الأرض، وأدرنا الحبل على كرة الأرض، انتهينا بالطرف الآخر إلى ذلك الموضع من الأرض، والتقى الطرفان

"Jika kita letakkan hujung tali di atas mana-mana tempat di bumi, dan kita lilitkannya di atas bumi, kita akan akhiri hujung tali yang kedua di tempat yang sama dan akan bertemulah kedua-dua hujung tali tersebut".

4. Kata Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Muntazom Fi Tarikh Al-Muluk wal-Umam:

وكذلك أجمعوا على أن الأرض مثل الكرة
"Dan begitu juga mereka IJMA' mengatakan bahawa bumi adalah seperti bola (sfera)"

5. Kata Al-Hafiz Az-Zahabi dalam Mukhtasar Al-'Uluw:

الأرض في وسط السماء كبطيخة في جوف بطيخة، والسماء محيطة بها من جميع جوانبها
"Bumi di tengah langit adalah seumpama tembikai dalam rongga tembikai, dan langit meliputi bumi dari segenap arah".

Az-Zahabi juga berkata:

وبرهان ذلك: أنا لو فرضنا مسافراً سافر على كرة الأرض من جهة المشرق إلى جهة المغرب، وامتد مسافراً، لمشى مسافراً على الكرة إلى حيث ابتدأ بالسير

"Dan bukti perkara tersebut ialah: jika kita andaikan seorang musafir bermusafir di atas bulatnya bumi, daripada timur ke barat, dan (kemudian) dia meneruskan lagi perjalanan, maka pastilah dia akan berjalan ke arah tempat di mana dia mulakan perjalanan".

6. Kata Ibnu Hazm dalam kitabnya yang masyhur, yang berkaitan dengan Comparative Religion, iaitu Al-Fasl Fi Al-Milal wa Al-Ahwa' wa Al-Nihal:

قالوا إن البراهين قد صحت بأن الأرض كروية، والعامة تقول غير ذلك.
وجوابنا وبالله تعالى التوفيق: إن أحداً من أئمة المسلمين المستحقين لاسم الإمامة بالعلم ـ رضي الله عنهم ـ لم يُنكروا تكوير الأرض، ولا يُحفظ لأحد منهم في دفعِه كلمة. بل البراهين من القرآن والسنة قد جاءت بتكويرها.

"Mereka berkata: Sesungguhnya bukti-bukti telah mengesahkan bahawa bumi adalah bulat, sedangkan masyarakat awam mengatakan sebaliknya.

Dan jawapan kami (taufiq hanya daripada Allah) : sesungguhnya seorang daripada imam-imam para muslimin yang berkelayakan untuk digelar imam dalam ilmu (semoga Allah meredai mereka) tidak mengingkari bulatnya bumi. Dan tidak dihafaz (tidak dijumpai suatu nas atau nukilan) satu kalimah pun daripada salah seorang daripada mereka dalam menolak perkara tersebut. Bahkan bukti-bukti daripada Quran dan Sunnah telah datang membuktikan bulatnya bumi".

7. Disebutkan juga dalam Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah

(http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…) :
فصل: اعلم أن " الأرض " قد اتفقوا على أنها كروية الشكل
"Ini suatu fasal: ketahuilah bahawasanya mereka (para ulama) telah SEPAKAT mengatakan bahawa sesungguhnya bumi berbentuk sfera".

8. Disebutkan dalam Tafsir Al-Bahr Al-Muhit
(http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php…) :
قال أبو عبد الله الداراني : ثبت بالدليل أن الأرض كرة ، ولا ينافي ذلك قوله : ( مد الأرض ) وذلك أن الأرض جسم عظيم ، والكرة إذا كانت في غاية الكبر كان قطعة منها تشاهد كالسطح

"Kata Abu Abdillah Al-Darani: Telah thabit dengan dalil bahawa bumi adalah bola (sfera). Dan ini tidak bercanggah dengan firman Allah s.w.t: (مد الأرض) kerana sesungguhnya bumi adalah suatu jisim yang besar. Dan (sememangnya) bola (sfera) jika terlalu besar, maka suatu bahagian daripadanya akan kelihatan seperti rata".

9. Banyak lagi kalau nak tulis. Imam Fakhruddin Al-Razi, Imam Al-Ghazali, Imam Tohir Ibn 'Asyur semuanya kata bumi adalah sfera. Sebab itu tidak hairanlah kalau ada sesetengah ulama mengatakan bahawa perkara ini sudah ijma'. Bahkan ada juga yang kata perkara ini termasuk ilmu dharuri.

Bahkan Imam Fakhruddin Al-Razi menyifatkan perbuatan menafikan bentuk bumi adalah sfera itu adalah MUKABARAH (degil tidak mahu menerima keberanan). Rujuk Tafsir Ar-Razi pada ayat-ayat berkaitan tajuk ini.

Kalau kita tetap nak menafikan, silakan. Tetapi anggaplah itu pandangan infiradi (peribadi). Apa yang difahami oleh masyarakat sudah selari dengan kalam ulama. Jadilah ahli ilmu yang bijak yang tidak menimbulkan kekeliruan kepada masyarakat. Cukuplah.

Selasa, 7 Jun 2016

HUKUM MENGUCAPKAN 'RAMADHAN KARIM'




RAMADHAN KARIM

Oleh :  Shofiyyah An-Nuuriyyah

Menjelang Ramadhan ramai kaum muslimin yang menyambutnya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat memotivasi agar semangat dan gembira menyambut bulan suci Ramadhan. Ada juga yang membuat rangkaian kata-kata bijak semisal “ Ramadhan bulan Sabar “, “ Bulan Ramadhan bulan maghfirah, berkah dan rahmat “, Ramadhan bulan Mulia “ dan lain sebagainya.

Namun ternyata ada seorang ulama besar dari kalangan kaum yang selalu berslogan kembali kepada al-Quran dan Sunnah-nya, mengharamkan ucapan “ Ramadhan Kariim “..apa alasannya ? mari kita semak dan membahasnya sesuai al-Quran dan Hadisnya, siapakah sebenarnya yang kembali pada al-Quran dan hadits dan kembali kepada pemikirannya sendiri?…

FATWA PELIK UTHAIMIN

Nombor 452. Syaikh Ibnu Utaimin ditanya :

 Ketika seseorang yang berpuasa melakukan perbuatan dosa, lalu ia dilarang, kemudian ia mengucapkan “ Ramadhan Kariim “, maka bagaimakah hukum ucapan tersebut ? Dan bagaimana pula hukum kelakuan itu ?

Maka syaikh menjawab : “ Yang demikian itu hukum ucapan tersebut (Ramadhan Kariim ) tidaklah dibenarkan, seharusnya ia mengucapkan “ Ramadhan Mubarak “ (Ramadhan yang diberkahi) dan yang semisalnya. Kerana bukanlah Ramadhan yang sebenarnya memberi hingga patut disebut Kariim (dermawan), dan sesungguhnya yang meletakkan keutamaan di bulan Ramadhan dan menjadikannya bulan utama dan waktu untuk melaksanakan salah satu rukun Islam hanyalah Allah. Dan seoalah-olah orang yang mengucapkan itu menyangka bahwa dengan keutamaan zaman boleh melakukan perbuatan dosa di dalamnya. Ini bertentangan dengan ucapan ulama bahawa perbuatan dosa itu akan menjadi besar jika dilakukan di bulan yang utama, berbeza dengan apa yang dibayangkan pengucap tersebut…dst.”[1]

Tanggapan :

Sepintas lalu tidak ada yang salah dari jawapan syaikh Ibnu Utsaimin dari pertanyaan di atas, namun jika kita perhatikan wujuhud dalil (fokus pembahasan dan pendalilan)nya terlihat sangatlah lucu dan mengelirukan.

Pembahasan :

Ibnu Utsaimin telah benar menjawab keharaman melakukan perbuatan dosa di bulan puasa dan dosanya boleh berlipat ganda. Namun ia telah salah besar mengHARAMkan ucapan “ Ramadhan Kariim “ apapun alasannya secara muthlaq mahupun dinisbatkan dengan perbuatan dosa.

Jika syaikh Ibnu Utsaimin mengharamkan ucapan si pelaku maksiat “ Ramadhan Kariim “ dengan alasan berprasangka si pengucap akan keutamaan di bulan Ramadhan sewaktu ia melakukan perbuatan dosanya, lalu apa bezanya dengan ucapan “ Ramadhan Mubarak “ yang dibolehkan oleh Ibnu Utsaimin ? jika alasannya demikian seharusnya ia mengharamkan ucapan apapun yang dinisbatkan kepada bulan Ramadhan. Kerana seharusnya sesuai jalan pemahaman Ibnu Utsaimin, melakukan perbuatan dosa dengan sangkaan bulan ini bulan penuh keutamaan atau keberkahan, sama saja diharamkan.

Contoh gambaran pertama : Ahmad berbuat dosa, lalu ia berkata “ Ini bulan mulia atau ini bulan dermawan “. Ibnu Utsaimin menyatakan ucapan itu tidak dibenarkan.

Contoh gambaran kedua : Abdul berbuat dosa, lalu ia berkata “ Ini bulan diberkahi atau bulan penuh berkah “. Ibnu Utsaimin menyatakan ucapan ini dibenarkan.

Apa beza antara keduanya ??

Jika alasan Ibnu Utsaimin mengharamkan ucapan itu dengan alasan prasangkaan si pelaku bahawa boleh berbuat dosa di bulan yang ada keutamaan, maka jelas ia salah. Kerana keharamannya bukan disebabkan ucapan tersebut melainkan semata-mata perbuatannya dan keyakinannya jika kita mengetahui isi hati dan keyakinannya.

Jika Ibnu Utsaimin mengharamkan ucapan tersebut dengan alasan makna kalimatnya yakni bahwa Ramadhan bukanlah kariim (suka memberi) yang kariim (suka memberi) itu hanyalah Allah sebagaimana fatwanya di atas, maka jelas ini suatu pendalilan yang mengelirukan dan sangat bodoh.

HUJJAHNYA

Pertama : Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Bahwasanya amal itu hanyalah bergantung dengan niatnya “.

Contohnya seseorang mengatakan “ Aku sembuh apabila minum ubat ini “ apakah lantas orang ini kita haramkan ucapannya kerana telah meyakini bahwa ubatlah yang menyembuhkannya ? atau semisal ucapan “ Makanan ini mengenyangkan “, apakah tiba-tiba kita salahkan orang tersebut, atau bahkan kita hukum musyrik karena telah meyakini makanan yang membuat kenyang ?

Jika kita terus salahkan, maka akal kita telah sakit. Secara fitrah tidak seorangpun yang mengucapkan Ramadhan Kariim (mulia), kecuali ia memang meyakini bahawa Allah-lah yang meletakkan kemuliaan pada bulan Ramadhan tersebut.

Dalam al-Quran sendiri Allah sering kali menisbatkan sesuatu kepada sebabnya, contohnya Allah berfirman :

ماهذا بشر إن هذا الا ملك كريم
“ Ini bukanlah manusia, melainkan malaikat yang KARIIM (mulia) “ (QS. Yusuf : 31)

Contoh lain Allah berfirman :

ولقد فتنا قبلهم قوم فرعون وجاءهم رسول كريم

“Dan demi Sesungguhnya! Sebelum mereka, Kami telah menguji kaum Firaun, dan merekapun telah didatangi oleh seorang Rasul (Nabi Musa) YANG MULIA “. (QS. Ad-Dukhan : 17)

Apakah lantas ayat ini kita katakan tidak benar, dengan alasan bukan malaikat dan Rasul yang kariim tapi Allah ?? kita berlindung dari sifat safiihul aql (lemahnya akal)..

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

قل يتوفاكم ملك الموت

“Katakanlah wahai Muhammad: “Nyawa kamu akan diambil oleh Malakul-Maut “. (QS. As-Sajdah : 11)

Apakah malaikat Maut yang mewafatkan nyawa makhluk Allah ? salahkah Allah berfirman seperti itu ?? naudzu billahi min sakhoofatil aql (kita berlindung dari rosaknya akal).

Kedua : Dalam ilmu Shorof, kata Kariim (كريم ) memiliki banyak bab dan maknanya salah satunya bab karuma dan akroma. Makna pada bab fa’ula adalah mulia pada dirinya contoh : Nabaatun kariim (Tumbuhan mulia) atau farasun kariim (kuda mulia) dan mulia akhlaknya, contoh : rojulun kariim (seseorang yang mulia akhlaknya). Contoh lainnya : karuma as-sahaabu maknanya awan itu membawa hujan dan seterusnya.[2] Al-Farra mengatakan :

العرب تجعل الكريم تابعا لكل شيء نفت عنه فعلا تنوي به الذم

“ Kaum Arab menjadikan kalimat “ Kariim / mulia “mengikuti segala sesuatu apapun yang bertujuan meniadakan celaan “.[3]

Demikiannya juga kalimat “ Ramadhan Kariim “ dalam ilmu bahasa Arab bermakna : “ Ramadhan yang mulia “ atau boleh juga bermaksud “ Ramadhan yang dimuliakan “.

Dengan kaedah ini, tidak boleh disalahkan sama sekali orang yang mengucapkan “ Ramadhan Kariim “ dalam keadaan apapun.



[1] Majmu’ Fatawa wa Rosaail Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, juz 20 hal. 93-94, nomer. 452

[2] Lisanul Arab, juz 13 hal. 53

[3] Lisanul Arab, juz 13 hal. 52

https://generasisalaf.wordpress.com/2013/07/08/ulama-salafy-wahabi-haram-mengucapkan-ramadhan-karim/


Ahad, 28 September 2014

Konsep Penentuan Awal Bulan Islam Dan Hari Kebesaran Islam Di Malaysia



1. PENDAHULUAN

Penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan oleh umat Islam khasnya dalam menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah adalah berdasarkan kepada pergerakan bulan dan bumi mengelilingi matahari.

Ia menjadi asas perhitungan awal bulan dan tahun yang mempunyai hubungkait yang rapat dengan ibadah puasa, hari raya dan hari raya korban.

Berdasarkan pedoman yang terdapat di dalam Al-Quran dan Hadis dan juga pendapat ulama daripada kitab-kitab muktabar, lahir tiga amalan yang berbeza dalam menentukan awal bulan ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah dengan kaedah berikut:-

a) Rukyah ( melihat anak bulan ) semata-mata.

b) Hisab Falak semata-mata.

c) Rukyah dan Hisab dengan menggunakan criteria imkanur-rukyah iaitu menggunakan hisab dalam menentukan kebolehnampakan anak bulan ( Hilal ).

Wujudnya perbezaan amalan dan cara di atas, adalah daripada perbezaan dalam memahami dan mentafsir maksud ayat-ayat Al-Quran dan Hadis yang berkaitan.Malaysia adalah sebuah negara yang mengamalkan cara penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah dengan rukyah dan hisab berdasarkan kepada kriteria imkanur rukyah.

Tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai cara penentuan awal Ramadan, Syawal dan Zulhijjah yang di amalkan di Malaysia dan asas-asas yang digunakan dalam melaksanakan kaedah tersebut.

2. DALIL-DALIL SYARAK MENGENAI PENENTUAN AWAL BULAN RAMADHAN, SYAWAL DAN ZULHIJJAH.

Nas Al-Quran dan Hadis banyak menerangkan panduan menentukan awal bulan atau waktu-waktu terutama dalam melaksanakan ibadat.

a) Firman Allah SW.T Surah Al-Baqarah ayat 189:

Maksudnya:

"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.Katakanlah bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji......."

Hadis Rasulullah S.A.W. diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Bukhari:

Maksudnya:

"Berpuasalah kamu kerana melihat Hilal dan berbukalah kamu kerana kamu melihat Hilal.Bila Hilal tertutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan bulan Syaaban tiga puluh".

Pendapat Ulama' Daripada Kitab-kitab Muktabar.

Daripada Kitab Bidayatul Mujtahid dari Juzuk pertama ( muka surat 242-243 ).

Maksudnya:

"Bila Hilal ditutupi awan, maka ia kembali kepada Hisab yang berdasarkan bulan dan matahari, itulah mazhabnya Muttarraf Bin Suhair, beliau termasuk ulama' besar tabi'in dan Ibnu Suraj bercerita daripada Imam Syafie bahawa Imam Syafie berkata; orang yang mazhabnya itu mengambil pedoman dengan bintang-bintang dan kedudukan bulan kemudian jelas baginya menurut dalil tersebut, bahawa bulan telah boleh dilihat tetapi tertutup oleh awan, maka orang tersebut boleh melaksanakan puasa dan cukuplah baginya".

Berdasarkan dalil-dalil Al-quran, Hadis dan pendapat ulama' serta kajian astronomi moden,
penyelesaian jalan tengah dengan cara rukyah dan hisab adalah menjadi pilihan untuk diamalkan di Malaysia kerana ia lebih hampir kepada kehendak syarak.

3. FAKTOR PERSELISIHAN

3.1) Punca-punca perselisihan berlaku dari segelintir rakyat Malaysia yang dikenali dengan kumpulan Islah.Golongan tersebut tidak menerima pengisytiharan rasmi Hari Raya Korban Kerajaan Malaysia yang telah diisytiharkan oleh Penyimpan Mohor Besar Raja-Raja Malaysia pada tahun 2000 dan 2001 Miladiah yang lalu.Golongan tersebut menyambut Hari Raya Korban berdasarkan pengisytiharan Wukuf di Padang Arafah oleh Kerajaan Arab Saudi.

3.2) Perselisihan juga berlaku kerana terdapat kekeliruan pendapat pada 9 Zulhijjah (Hari Wukuf), sunat berpuasa pada hari tersebut dan ganjaran pahalanya sama dengan setahun beribadah.

Kebanyakan rakyat malaysia terkeliru dan tidak mengetahui kaedah dan syarat-syarat penetapan awal bulan Zulhijjah yang digunakan oleh Kerajaan Arab Saudi.

4. RASIONAL DARI SUDUT MATLAK ( TEMPAT TERBIT ) DI MALAYSIA.

4.1) Kerajaan Arab Saudi menggunakan matlak dengan kaedah rukyah semata-mata, terbuka kepada semua rakyatnya.Sesiapa yang melihat Hilal Zulhijjah boleh melaporkan kepada pihak yang bertanggungjawab atau berkuasa dengan saksi.

Kerajaan Malaysia menetapkan awal bulan Zulhijjah dengan menggunakan kaedah rukyah dan hisab berdasarkan kriteria imkanur rukyah dengan mengambil kira matlak negara-negara MABIMS.Pada 29 Zulkaedah semua tempat cerapan rasmi sebanyak 26 tempat di seluruh Malaysia akan dicerap oleh Ahli Jawatankuasa Melihat Anak Bulan dengan menggunakan peralatan moden seperti teleskop digital dan teodolit.

4.2) Terdapat perbezaan matlak yang jauh diantara Malaysia dan Arab Saudi. Perbezaan waktu antara kedua-dua negara ialah lima jam. Oleh itu ketika Hilal dilihat di Arab Saudi, kedudukan hilal tersebut berada pada kedudukan 1.25° lebih tinggi di Matla' Malaysia.

4.3) Bagi rakyat negara Malaysia yang bermazhab Syafie, mereka perlu memahami bahawa setiap negara di dunia ini mempunyai matla' atau kawasan lingkungannya sendiri. Oleh itu Malaysia tidak harus mengikut keputusan cerapan hilal yang dilaksanakan oleh Arab Saudi.

5. HUKUM PUASA DAN MAKLUMAT YANG BERKAITAN

Umumnya, masyarakt Islam mengetahui adanya puasa sunat pada hari Arafah. Puasa ini sunat dilakukan oleh mereka yang tidak mengerjakan haji. Pelakunya dijanjikan dengan ganjaran yang besar sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W.

Daripada Abi Qatadah yang berbunyi :-

Maksudnya:

Daripada Abi Qatadah bahawa Nabi S.A.W. ditanya mengenai puasa pada hari Arafah. Banginda menjawab : Ia menghapuskan dosa yang dikerjakan pada tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.

(Riwayat Muslim)

Sekiranya diteliti, hadis di atas dan dalil yang lain menerangkan kelebihan mereka yang berpuasa pada hari Arafah. Namun demikian, kita perlu mengetahui pada waktu bilakah umat Islam di Malaysia dan Arab Saudi dan juga perbezaan matla'. Kita perlu memilih sama ada berpuasa pada hari Arafah sebenar di Arab Saudi atau mengikut takwin sebenar kita di Malaysia. Hukum berpuasa pada salah satu hari tersebut tetap sah.

Faktor kedudukan geografi dan kesesuaian negara Malaysia menentukan setiap awal bulan Islam dengan menggunakan kaedah rukyah dan hisab berdasarkan kreteria Imkanur rukyah adalah satu perkara yang perlu diambil perhatian. Konsep penentukan awal bulan Islam adalah berdasarkan kaedah jangkaan kenampakan anak bulan atau Imkanur rukyah yang mengikut syarat berikut :-
Ketika matahari terbenam.

a) Ketinggian (altitud) bulan tidak kurang daripada 2°

Dan

b) Jarak lengkok matahari tidak kurang 3°

Atau

c) Ketika matahari terbenam umur bulan tidak kurang daripada 8 jam.

6. ASAS PERTIMBANGAN KEPUTUSAN PERLU DI KEKALKAN.

6.1) Kaedah penetapan Hari Raya Korban mengikut kaedah Hisab dan Rukyah berdasarkan imkanurrukyah sama seperti penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal adalah lebih sesuai untuk diamalkan di Malaysia.

6.2) Bedasarkan keputusan Majlis Raja-Raja Malaysia dan persetujuan Mufti seluruh negeri-negeri di Malaysia bagi penetapan awal Zulhijjah seperti penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal dengan melihat anak bulan di tempat rasmi seluruh Malaysia.

6.3) Perbezaan zon masa di antara Malaysia dan Arab Saudi adalah jauh selama (5) lima jam berdasarkan GMT Malaysia (8) lapan jam manakala Arab Saudi (3) tiga jam.

7. PENUTUP

Amalan Umat Islam di Malaysia menetapkan awal Zulhijjah dikekalkan dengan rukyah dan Hisab berdasarkan kriteria imkanur rukyah adalah bertujuan untuk di selaraskan dengan keputusan negara jiran tetangga iaitu Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS).

Keputusan ini perlu dikelalkan untuk tujuan keharmonian bagi sesebuah negara dan tidak perlu mengikut pengisytiharan wukuf Arafah oleh kerajaan Arab Saudi. Hukum ibadah puasa yang dilakukan tiada terjejas dan ia melibatkan perkara sunat yang perlu kepada pemahaman terhadap ibadat tersebut. Semoga dengan risalah kecil ini akan memberi pendedahan kepada masyarakat agar tidak timbul kekeliruan tentang amalan yang digunakan di Malaysia pada masa sekarang dan yang akan datang. Wallahua'lam.

Disediakan oleh:

Bahagian Falak Syarie,
Jabatan Mufti Negeri Selangor.

Sumber : http://gptdunisel.blogspot.com/2010/11/konsep-penentuan-awal-bulan-islam-dan.html

Jumaat, 22 Ogos 2014

Hukum Tafakkur dan Berkabung

Jawapan fatwa Malaysia :

Sumber : https://www.facebook.com/fatwamalaysia/posts/636952976402517

ISU:
Saya ingin bertanya tentang isu tafakkur dan berkabung. Adakah dalam Islam ada amalan tafakkur sebagai tanda kedukaan atas kematian sepertimana dalam ke MH17. Begitu juga tentang amalan berkabung. Dalam Islam apa yang sepatutnya dilakukan. Mohon penjelasan. Terima kasih.

PENJELASAN:

Faham bertafakkur dalam Islam tidaklah sama dengan apa yang dilakukan sekarang ini yang dipanggil ‘moment of silence’ (tunduk selama beberapa minit) bagi menghormati orang yang mati. Tafakkur membawa makna “kegiatan hati untuk memahami makna setiap perkara bagi mencapai apa yang dihajati. Tafakkur juga merupakan pancaran hati yang dengannya kebaikan, keburukan, manfaat dan kemudaratan akan menjadi jelas (al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, ms.77)

Namun perbuatan tunduk selama beberapa minit (moment of silence) bagi menghormati orang yang mati tidaklah bertentangan dengan syarak kerana ia sekadar tanda penghormatan yang bersifat universal dan tidak melibatkan apa-apa ritual bacaan dan pergerakan yang menyerupai amalan keagamaan agama lain. Penekanan dalam perbuatan 'moment of silence' lebih kepada bagi menunjukkan kesedihan, ingatan dan penghormatan kepada mereka yang telah meninggal dunia.

Namun sekiranya perbuatan tersebut disertai dengan ritual keagamaan agama lain seperti menyalakan lilin atau bacaan-bacaan tertentu maka ia menjadi tidak selari dengan amalan Islam dan dilarang oleh syarak.
Asas terhadap keharusan tersebut boleh diambil dari perbuatan Rasulullah yang bangun menghormati jenazah seorang Yahudi yang lalu di hadapan baginda atas dasar kemanusiaan. Begitu juga dengan kisah seorang Sahabat Nabi bernama Qays Ibn Syamas yang pernah menyatakan hasratnya kepada Rasulullah untuk menghadiri majlis kematian ibunya yang beragama Nasrani, Nabi membenarkan dan menyuruhnya berjalan di hadapan jenazah sebagai tanda hormat. (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ahkam ahl Zimmah, vol.2 ms. 434).

Walaupun apa yang dilakukan oleh Nabi dan Qays, tidaklah benar-benar sama dengan perbuatan 'moment of silence', namun kedua-dua perbuatan tersebut memberi isyarat bahawa tidak salah untuk menghormati orang yang meninggal melalui perbuatan yang tidak bertentangan dengan syariah, termasuk bukan Islam. Islam sendiri menggalakkan kita mengambil iktibar dari kematian. Namun yang terbaik untuk dilakukan bagi menghormati orang Islam yang meninggal dunia ialah dengan mendoakan mereka dan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an.

Sementara perbuatan berkabung bagi menunjukkan tanda dukacita kepada orang yang meninggal dunia seperti mengibarkan bendera separuh tiang dan memakai pakaian berwarna serba hitam atau suram adalah dibenarkan selagi ia tidak melibatkan unsur-unsur atau ritual keagamaan agama bukan Islam yang bertentangan dengan syarak.

Dalam perbahasan para ulama amalan berkabung banyak merujuk secara khusus kepada apa yang dilakukan oleh seorang wanita yang kehilangan suami. Istilah yang digunakan ialah al-ihdad/al-hadad yang bermaksud menahan diri daripada berhias.

Menurut istilah pula, perkabungan memberi erti meninggalkan perbuatan memakai haruman, perhiasan, celak, minyak, sama ada yang harum ataupun tidak, iaitu yang khusus bagi tubuh. Namun ia boleh dikiaskan kepada konteks yang lebih besar termasuk dalam konteks masyarakat dan Negara seperti dalam kes MH17. Maka keputusan untuk menetapkan beberapa hari untuk tujuan berkabung adalah termasuk dalam perkara yang harus.

Malah dalam hal memakai pakaian berwarna hitam, terdapat perbahasan yang mengatakan bahawa Keempat-empat mazhab mengharuskan (iaitu dalam konteks wanita kematian suami) untuk memakai pakaian berwarna hitam. (Wahbah al-Zuhayli, Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, jild 7. 662

Wallahu a'lam.

Jawapan Dr Mohd Farid Mohd Shahran :

Isu berkabung dan tafakkur. Tiada nas yang boleh sabitkan haram. Hatta berkabung pakai hitam untuk dikatakan sbagai tasyabbuh pun tidak tepat sebab kata Dr Wahbah Az Zuhaili menyatakan 4 mazhab setuju wanita berkabung digalakkan pakai hitam. Qiyaslah.

Jawapan Ustaz Ayman Al Akiti : 

Fatwa Bahtsul Masa'il fmmp NU tahun 2008 pun memutuskan berkabung dengan trend yang ada sekarang ini tiada masalah. Bahkan mazhab Hanafi mensunatkan pakaian hitam. Masalah tasyabbuh bil kuffar pun ada batas-batasnya, selagi tidak redha kufur tiada masalah. Dalam Durr al Muhtar, ada sebut yang nabis endiri pernah pakai selipar rahib-rahib yahudi di Madinah. Sebab itu Ibn Hajar membahagikan pembahagian tasyabbuh kepada tafashil.

Jawapan Prof Madya Dr Asmadi Mohamed Naim :

Isu Berkabung

Kalau mengikut pandangan mereka yg mentafsirkan bahawa apa-apa yang Nabi SAW tidak buat, sesat dan masuk neraka, maka 'Berkabung Negara' akan termasuk dalam perkara yang bid'ah yang sesat.

Kalau kita mentafsirkannya berdasarkan bagaimana ulama-ulama Ahlussunnah yang melihat sesuatu itu berdasarkan 5 hukum, dan hukum kias, mereka berpegang bahawa sesuatu yang Nabi SAW buat boleh diklasifikasikan perkara yang wajib dan mustahab dan harus.

Dalam ertikata, ada yang kita mesti ikut Nabi, iaitu perkara wajib, kalau tak buat tak sah sesuatu itu. Pada kedudukan tersebut, haram meninggalkan perbuatan tersebut jika dilakukan dengan sengaja.

Manakala perkara mustahab atau sunat ialah perbuatan yang berpahala kalau diikut, tapi tak berdosa kalau tidak lakukan. Kalu melakukan secara bertentangan, termasuk 'mukhalafah al-sunnah', maka hukumnya makruh.

Manakala perkara harus, tiada dalil menyuruh, dan tiada juga dalil pula melarang dan mengharamkannya. Sebab tiadanya dalil bukan melambangkan haram sesuatu perkara itu. Untuk haramkan perlu kepada dalil.

Jadi, bila berkabung sudah menjadi 'adat' yang diterima bagi semua negara, maka perlaksanaannya itu yang perlu diperhatikan dengan asas-asas berikut:

1. Tidak mengamalkan amalan agama lain.
2. Tidak berupa tasyabbuh kepada amalan agama.

Oleh itu;

I. amalan bendera separuh tiang adalah harus sebab bukan amalan agama. Tetapi adat semasa sesuatu negara menunjukkan kesedihan.

Ii. Manakala tafakur di dalam Islam dibenarkan untuk mengingati kebesaran Allah dan pengajaran sesuatu peristiwa. Tapi tafakur yang dianjurkan, saya syorkan gantikan dengan bacaan al-fatihah dan sedekahkan kpd si mati.

Iii. Pakai baju gelap, dalam kes isteri kematian suami, digalakkan pakai baju gelap. Dalam konteks negara kita, pakai hitam bukan budaya kita berkabung, tetapi budaya majlis berkabung raja-raja Melayu yang sudah diterima.

Apapun maksud umum berkabung, makruh memanjangkan tempoh berkabung. Sebab itu, sunnahnya ucapan takziah sekitar 3 hari selepas kematian, kecuali kalau seseorang bermusafir. Jadi, meletakkan sehari sahaja hari berkabung sudah memadai memandangkan peristiwa ini sudah lama berlaku.

Wallahu ta'ala a'lam.

Sumber : https://www.facebook.com/asmadi.mohamednaim/posts/711158358951891

Jawapan Dr Luqman : 

Isu berkabung bagi saya tidak lebih dari adat istiadat. Selama mana tiada tasyabbuh dengan kafir adalah harus. Jika melawani apa-apa sunnah yang hukumnya sunat, jatuh jadi makruh, sebagaimana juga adat istiadat yang biasa dilakukan di istana dan sebagainya.

Jawapan Ustaz Salman al Maskuri : 

Rujuk :  http://darulilmi.org/2014/08/22/hukum-diam-bertafakur-sebentar-utk-menghormati-jenazah/

Harus selagi mana tidak ada ritual keagamaan.

Antara hujjah mereka:

Islam menggalakkan ketika berdiri kepada orang yang mulia yg datang:
قوموا إلى سيدكم

“ Berdirilah untuk pemimpin kamu”

Hadis sahih Bukhari.

Berdiri sebentar untk kematian juga adalah tanda menghormatinya.

Nabi saw berdiri utk jenazah:
مرت به جنازة فقام فقيل له إنها جنازة يهودي فقال أليست نفسا

“ Lalu satu jenazah pada Nabi saw lalu Nabi saw berdiri. Kemudian dikatakan “ itu jenazah yahudi.” Nabi saw menjawab “ bukankah ia satu jiwa (perlu dihormati).”

Hadis sahih Bukhari.

Hadis ini menunjukkan berdiri menghormati mayat adalah dituntut.

Adapun berkenaan larangan meniru orang kafir ialah tidak semua perkara yang dari orang kafir itu dilarang.

Ibnu Najim alhanafi berkata dalam kitab البحر الرائق شرح كنز الدقائق

“اعلم أن التشبيه بأهل الكتاب لا يكره في كل شيء وإنا نأكل ونشرب كما يفعلون إنما الحرام هو التشبه فيما كان مذموما وفيما يقصد به التشبيه



“ Ketahuilah sesungguhnya menyerupai ahli kitab bukanlah dilarang pada semua perkara. Sesungguhnya kita makan, minum seperti mereka. Perkara yang haram ialah menyerupai perkara yang tercela dlm Islam dan dengan niat untuk meniru mereka.”

Contohnya ialah makan pakai sudu, pakai tali leher, selagi mana ia tidak dicela dan tidak niat tiru maka ia diharuskan.

(Fatwa ulama kerajaan Mesir).

Wallahua'lam bissowab.

Rabu, 11 Jun 2014

ADAKAH GELATIN / DNA BABI YANG DITRANFORMASIKAN HALAL DIGUNAKAN ?

Jawapan daripada Mufti Perak (Tan Sri Harussani Zakaria) :

Bahan-bahan yang haram di sisi agama Islam tetap dianggap haram meskipun ia telah mengalami perubahan zat,

Menurutnya, istilah istihalah (proses perubahan zat yang membolehkan bahan-bahan haram berubah menjadi halal) yang diguna pakai sesetengah pihak tidak wajar dijadikan landasan untuk menghalalkan sesuatu perkara, khususnya di negara ini.

"Jangan sewenang-wenangnya bercakap isu ini. Ini isu halal haram. Tambah pula, ia tidak sesuai dipraktikkan di sini.

"Masih banyak (lagi) sumber halal yang masih boleh digunakan oleh umat Islam, jadi isu istihalah tidak boleh digunakan,bahan halal apabila telah bercampur dengan yang haram, ia akan dianggap haram di sisi Islam. Harus diingat, jika keadaan darurat sahaja, dibolehkan menggunakan bahan haram, contohnya dalam perubatan. Seorang pesakit diharuskan mengambil imunisasi yang ada DNA babi dengan tujuan untuk selamatkan nyawanya semata-mata. Beliau turut mengingatkan rakyat di negara ini khasnya umat Islam supaya mengelakkan diri daripada terdedah dengan benda-benda haram tersebut jika tidak mempunyai kewajipan untuk mengambilnya.

Jawapan daripada Mufti Selangor Datuk Mohd Tamyes Abd Wahid :

menyifatkan apa jua jenis bahan yang telah bercampur dengan babi tetap dikira haram. Jika zat babi masih terdapat di dalam bahan tersebut, ia tetap dikira haram. Hanya makanan yang secara tidak sengaja tercemar dengan babi, hukumnya harus, lain-lain tidak boleh, apa lagi disengajakan. Beliau berkata demikian ketika diminta mengulas mengenai kenyataan ulama Dr Yusuf Al-Qaradawi mengenai proses perubahan zat yang membolehkan bahan-bahan haram berubah menjadi halal. Jika ada bahan haram yang memasuki air melebihi dua kolah, air tersebut masih digunakan, tetapi mesti tiada perubahan warna, bau dan rasa.

Sumber : SINI

Timbalan Mufti Negeri Sembilan   Nor Azamir Alias  :

Kenyataan kontroversi dikeluarkan Syeikh Dr Yusuf Al-Qaradawi menerusi sebuah portal, baru-baru ini sebenarnya bertujuan menjawab kemusykilan umat Islam yang mendiami darul harbi atau negara bukan Islam dan sukar mendapat produk halal.

berkata, perkara tersebut hanya disedari beliau selepas membuat penelitian terperinci terhadap laman web ulama tersohor berkenaan, semalam.

“Jelas sekali, jawapan diberikan beliau membabitkan penggunaan gelatin babi adalah berasaskan kepada persoalan dihadapi umat Islam yang tinggal dalam darul harbi sahaja dan bukannya untuk negara Islam.

“Beliau mengambil kira kesukaran mereka untuk mendapatkan produk halal di negara terbabit, di mana kebanyakan produknya mengandungi gelatin babi atau haiwan yang tidak disembelih,” katanya di sini, semalam.

Beliau berkata, atas sebab berkenaan, maka kaedah qadhiyyatul istihalah atau transformasi bahan iaitu bahan yang tidak halal apabila sebati menjadi makanan halal, maka hukumnya juga bertukar kepada halal, telah disarankan oleh Dr Yusuf untuk diguna pakai penduduk Muslim negara itu.

“Ini mungkin berasaskan kepada kaedah fiqh iaitu addharuratu tubihuk mahzuurah iaitu kerana darurat, sesuatu yang haram diharuskan dan addharuratu tuqaddaru bi qadariha iaitu kadar keharusan itu pula mengikut keadaan daruratnya, sekali gus menunjukkan ia bukanlah terbuka dengan seluas-luasnya.

“Kesimpulannya, kaedah qadhiyyatul istihalah tidak boleh dipraktikkan di negara Islam atau negara bukan Islam yang senang mendapatkan produk dan bahan-bahan halal,” katanya.

Beliau berkata, ia berdasarkan hadis Rasulullah SAW antaranya yang bermaksud, “(bahan) yang halal itu jelas (dinyatakan)” dan “setiap bahan yang haram banyaknya, maka sedikit pun menjadi haram juga”.

“Kaedah fiqh juga menyatakan yang maksudnya, “apabila bercampur di antara bahan yang halal dengan haram (dalam satu transformasi), maka bahan itu dikira haram”.

“Perlu diketahui, babi merupakan tergolong dalam najis ‘ainiyyah iaitu zatnya dapat dilihat, dicium dan dirasa berdasarkan nas al-Quran, dalil dan al thubut yang qat’ie. Maka tahwil yang diusahakan untuk menukar babi kepada benda lain sama sekali tidak merubah kenajisannya,” katanya.

Justeru, beliau berharap penjelasan diberikan dapat merungkai kekeliruan sesetengah pihak yang mungkin beranggapan bahawa daging atau gelatin babi apabila ditransformasikan dan menjadi sebati sebagai makanan, maka statusnya menjadi halal dan harus dimakan.

“Bagi mendapatkan maklumat lanjut, orang ramai bolehlah melayari laman sesawang Dr Yusuf atau merujuk kepada Fiqh Al-Jaaliyat Al-Islamiyyah Fil Gharb (Fiqh Untuk Penduduk Islam di Negara Barat),” katanya.

Sumber : SINI

Ustaz Zamihan al Ghari :

Dalam mazhab Asy Syafie, Imam Asy Syafie dalam kitab al Umm berkata :

Jika anjing atau babi meminum air dalam sebuah bekas, maka tidak bersih bekas berkenaan kecuali ia dibasuh dengna tujuh kali basuhan. - al Umm, jld 1.


Imam an Nawawi menyebutkan :

Najis itu ialah sekalian cecair yang memabukkan, anjing, babi, anak yang terbit dari keduanya, bangkai darah, nanah, muntah, tahi, kencing, mazi, wadi, mani haiwan yang tidak boleh dimakan - Minhaj at Tholibin.

Imam al Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan

haram memakan babi dan maka "Rijs" itu ialah laknat maka maksud ayat menghendaki Allah melaknat orang yang memakan Babi dan lainnya.

Imam al-Baghawi mengatakan dalam tafsirnya bahawa

makna "Rijs" iaitu haram. Yakni perbuatan memakan makanan yang mengandungi unsur Babi adalah haram dimakan. Imam al-Qurthubi dan Imam al-Baghawi mengulas perkataan "Rijs" menerusi surah al-An'am ayat 145.

Isu istihalah najis sepatutnya tidak berbangkit. Ini kerana ia istilah feqah yang hanya digunakan dalam mazhab Hanafi sahaja. Walaupun Imam Abu Hanifah setuju unsur babi menjadi istihalah (transformasi) pada ain, warna, bau dan rasa.. tetapi ia hanya melibatkan unsur yang kecil atau sedikit atau seperti molekul yang sukar diasingkan dari unsur yang halal dan dengan peratusan yang terlalu kecil. Sungguhpun begitu, ia dibantah oleh Imam Abu Yusuf yang menyetujui pendapat jumhur ulamak bahawa unsur babi dalam semua keadaan pun tetap dikira haram kecuali dalam kes darurat.

Justeru, dalam mazhab jumhur ulamak ada kaedah lain dinamakan istihlak (kebinasaan unsur). Jumhur ulamak mengatakan ianya hanya berlaku bari arak yang bertukar menjadi cuka secara semula jadi. Jumhur juga mensyaratkan terhapusnya unsur najis yang mungkin tercampur unsur halal yang banyak lagi suci. Ia seperti kes air yang melebihi dua butir kolah. Menurut saintis, unsur babi tidak akan berubah walaupun dibersihkan dengan asid, hydrolisi atau penstrilan dengan suhu yang tinggi. Jika berubah sekalipun, ia tetap kekal berstatus najis mughallazah (najis berat) sampai kiamat.

Sumber : https://www.facebook.com/zamihan/posts/900848629940877

Jawapan Ustaz Mustaffa Kamal :



Sumber : https://www.facebook.com/mustaffakamal.ustaz/posts/659319200804497

Jawapan Ustaz Kazim Elias :












































Sumber : https://www.facebook.com/ustazmohdkazim/posts/659171700798505


Isnin, 7 Oktober 2013

Adakah Dibolehkan Berhias Dengan Menyambung Rambut ?



Oleh : Mufti Brunei

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Sudah menjadi fitrah perempuan suka berhias dan bergaya agar berpenampilan cantik dan anggun. Ada yang sanggup berbelanja besar demi untuk mendapatkan barang kecantikan dan perhiasan yang berkualiti. Aksesori untuk berhias pula semakin hari semakin banyak muncul di pasaran. Antara aksesori yang kini semakin mendapat perhatian perempuan ialah aksesori menyambung rambut.

Persoalannya, adakah perbuatan menyambung rambut ini diharuskan oleh syara‘ ataupun sebaliknya.

Terdapat tiga cara menyambung rambut yang dikenalpasti:

1. Menyambung dengan menggunakan rambut manusia
2. Menyambung dengan menggunakan bulu binatang
3. Menyambung dengan menggunakan sesuatu selain daripada rambut manusia dan bulu binatang.

Perbuatan menyambung rambut ini sebenarnya telah wujud sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sehinggakan Baginda ada melarang perbuatan tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

Maksudnya: “Sesungguhnya ada seorang perempuan dari golongan Anshar, dia telah berkahwin. Dan dia sebenarnya sakit, lalu luruh rambutnya (kerana penyakit itu). Mereka (keluarganya) hendak menyambung rambutny. Mereka pun bertanya hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Baginda
berkata: “Allah melaknat orang yang menyambungkan rambut dan orang yang meminta disambungkan rambut.” 

(Hadits riwayat al-Bukhari)

Hadits ini menjelaskan bahawa perbuatan menyambung rambut itu adalah haram, malah Allah Subhanahu wa Ta‘ala melaknat orang yang menyambungkan rambut dan orang yang meminta disambungkan dan perbuatan ini termasuk dalam dosa-dosa besar.

Untuk lebih jelas dihuraikan cara atau keadaan menyambung rambut yang diharamkan atau diharuskan oleh syara ‘.

Pertama: Hukum menyambung rambut dengan menggunakan rambut manusia

Haram seorang perempuan menyambung rambutnya dengan rambut manusia, sama ada rambut kepunyaan perempuan itu atau lelaki dan sama ada rambut mahram perempuan tersebut, suaminya atau orang lain.

Ini berdasarkan kepada umum hadits yang disebutkan sebelum ini yang melarang perbuatan menyambung rambut.

Selain daripada larangan yang terkandung dalam hadits, perbuatan menyambung rambut dengan rambut manusia diharamkan kerana mengambil manfaat daripada bahagian tubuh manusia adalah haram disebabkan kemuliaan manusia itu. Mana-mana bahagian dari tubuh manusia amat dimuliakan sehinggakan kuku, rambut
dan apa sahaja bahagian dari tubuh manusia ditanam jika bercerai dari tubuhnya.

Dalam kitab al-Majmu‘, Imam an-Nawawi Rahimahullah menyebutkan bahawa:

Ertinya: “Jika seorang perempuan menyambungkan rambutnya dengan rambut manusia lain, maka perbuatannya itu adalah haram tanpa ada khilaf (perselisihan pendapat), sama ada rambut itu kepunyaan lelaki atau perempuan, dan juga sama ada rambut itu kepunyaan mahramnya atau suaminya atau selain keduanya.”

Kedua: Menyambung rambut dengan menggunakan rambutbinatang

Rambut binatang terbahagi kepada dua jenis:

a) Bulu yang najis, iaitu bulu yang diambil daripada bangkai binatang (sama ada binatang yang tidak halal dimakan atau binatang yang halal dimakan, tetapi mati kerana tidak disembelih) atau rambut yang diambil daripada binatang yang tidak halal dimakan dagingnya apabila bulu itu terpisah ketika ia masih hidup.

b) Bulu yang suci, iaitu bulu yang diambil daripada binatang yang halal dimakan sama ada ia diambil ketika binatang itu masih hidup atau mati kerana disembelih.

A) Hukum menyambung rambut dengan bulu binatang yang najis

Haram hukumnya seorang perempuan menyambung rambutnya dengan bulu binatang yang najis. Ia termasuk dalam umum hadits yang melarang perbuatan menyambung rambut. Begitu juga menyambung rambut dengan rambut binatang yang najis. Ini kerana dia menggunakan suatu zat yang najis pada tubuh badan dan kerana dia menanggung najis ketika dalam sembahyang dan di luar sembahyang secara senghaja.

B) Hukum menyambung rambut dengan bulu binatang yang suci

Perempuan yang belum berkahwin dan perempuan yang sudah berkahwin tetapi tidak mendapat keizinan suaminya adalah haram menyambung rambut mereka dengan bulu binatang yang suci. Ini berdasarkan kepada umum hadits yang melarang perbuatan menyambung rambut.

Manakala bagi perempuan yang sudah berkahwin dan mendapat keizinan suaminya, menurut pendapat yang ashah, harus dia menyambung rambutnya dengan bulu binatang yang suci.

Keharusan isteri menyambung rambutnya dengan bulu binatang yang suci adalah dengan keizinan suami dengan niat berhias-hias untuk suaminya.

Ketiga: Menyambung rambut dengan benang, perca atau tali sutera

Hukum menyambung rambut dengan benang, perca, tali sutera dan yang seumpamanya adalah diharuskan dan tidaklah dilarang jika tidak menyerupai dengan rambut manusia.

Adapun penggunaan benda-benda selain daripada rambut manusia atau bulu binatang untuk dijadikan sebagai pengikat rambutseperti memakai sulaman benang sutera yang beraneka warna atau selainnya seperti perca kain ataupun tali pengikat yang tidak menyerupai rambut adalah diharuskan.

Berdasarkan yang sedemikian, jika penyambung rambut berupa benang atau tali sutera atau pengikat rambut tersebut menyerupai rambut, maka ini tidaklah dibolehkan kecuali bagi isteri dengan keizinan suami.

Oleh yang demikian jelas bahawa maksud larangan dalam haditshadits tersebut adalah penyambungan rambut dengan apa-apa jenis rambut manusia atau rambut/bulu binatang yang ditegah sama ada banyak atau sedikit. Penggunaan getah untuk mengikat rambut atau perhiasaan untuk menghias rambut tidaklah dilarang kerana bukanlah bertujuan meyambung rambut.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapatlah diambil kesimpulan bahawa adanya larangan perbuatan menyambung rambut dengan rambut manusia secara mutlak dan rambut atau bulu binatang najis. Manakala jika sambungan itu diperbuat daripada bulu binatang yang suci, maka penyambungan itu hanya dibenarkan bagi perempuan yang sudah berkahwin dan ada keizinan daripada suaminya. Jika disambung dengan benang sutera atau perca, maka ia adalah diharuskan.

Sumber : http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2013/12%20Jun%202013.pdf

Selasa, 9 Julai 2013

Hukum Menggunakan Bekas Minuman Arak



Oleh : Jabatan Mufti Kerajaan, Jabatan Perdana Menteri, Negara Brunei Darussalam
Fatwa Mufti Kerajaan 1999

Soalan:-


Unit Kawalan Akidah dan Syara'iah telah menerima aduan daripada orang awam yang ingin mengetahui kedudukan hukum orang Islam meminum lemonade yang menggunakan bekas botol minuman keras Carlsberg. Sehubungan dengan itu, sukacita unit ini memohon kerjasama dari Jabatan Tuan untuk meminta pandangan dan fatwa daripada Yang Dimuliakan Pehin Mufti mengenai perkara tersebut.

Jawapan:


الحمد لله الفتاح الوهاب الهادى إلى الحق والصواب، والصلاة والسلام على رسوله خاتم الأنبياء والرسل، واله وصحبه أجمعين.

Apabila disebut minuman keras, ia adalah istilah yang merangkumi pelbagai jenis minuman yang memabukkan, clan setiap yang memabukkan haram dengan ijmii' ulama.Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda menerusi riwayat Abu Musa:


كل مسكر حرام


Maksudnya: "Setiap yang memabukkan itu adalah haram. " (Hadis riwayat Ahmad,Muttafaq 'alaih, Abu Daud dan Nasa )

Oleh kerana ia daripada jenis cecair, mengikut jumhur ulama, termasuklah ulama-ulama Syafi'iyyah, selain daripada haram diminum, ia juga dihukumkan najis. Imam Nawawi berkata di dalam Minh&j Al- Th&libin h. 15):

باب النجاسة: وهى كل مسكر مائ


Ertinya: "Bab menerangkan jenis-jenis najis: Dan ia termasuklah setiap cecair yang memabukkan"

Ketika menghuraikan perkataan Imam Nawawi ini, Ibnu Hajar menerangkan bahawa setiap cecair yang memabukkan itu termasuklah jenis khamr dan segala jenisnya sarna ada yang diperbuat daripada anggur ataupun nabiz iaitu yang diperbuat selain daripada anggur. (Al- Tuhfah 1/288)

Dalil kenajisan khamr atau arak ini ialah firman Allah Ta'ala:


إنما الخمر والميسر والانصاب والازلم رجس من عمل الشيطان


Tafsirnya: "Bahawa sesungguhnya arak, dan judi dan pemujaan berhala, dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah (semuanya) kotor (keji) daripada perbuatan syaitan. "
(Surah Al-Maidah: 90)

رجس atau kekotoran arak di dalam ayat ini diertikan oleh jumhur ulama sebagai najis, dan kenajisannya itu tergolong dalam najis mutawassithah (pertengahan). Cara membersihkan tempat yang terkena najis ini ialah dengan membersihkannya sehingga hilang bau, rasa dan warnanya.

Mengenai dengan bekas botol arak seperti 'Carlsberg', apabila ianya sudah dibersihkan mengikut cara membersihkan najis mutawassithah, maka ia menjadi botol yang suci, dan apa saja jenis makanan atau minuman yang dimasukkan ke dalamnya adalah suci dan tidak bemajis.
'
CARLSBERG'

Perkataan 'Carlsberg' pada botol adalah cap bagi salah satu jenama minuman keras. Umumnya orang-orang Islam di negara ini turut mengetahui bahawa 'Carlsberg' itu adalah jenama bagi arak.

Dalam siyasah Islamiyyah, adalah menjadi tugas dan kewajipan pihak berkuasa membuang dan mencegah segala kemungkaran dan menghalang terjadinya sebab-sebab kemungkaran itu.

Ketika membahaskan senarai perkara-perkara yang tidak boleh dizahirkan kepada orang-orang Islam oleh orang-orang kafir dzimmi, Ibnu Hajar di dalam AI- Tuhfah 9/301 antara lain berkata:

ومن إظهار منكر بيننا نحو خمر وخنزير وناقوس


Ertinya: “ (Termasuk yang ditegah) ialah menzahirkan mungkar di kalangan kita orang-orang Islam, seperti arak, babi dan loceng gereja. "Mengikut beliau lagi, di antara sebab ia ditegah itu ialah kerana ianya boleh membawa pelbagai kemungkaran. Selain daripada itu, perkara yang turut dilarang sarna sekali tidak boleh dizahirkan ialah syiar atau lambang kekufuran dan kemungkaran. (AI-Tuhfah 9/301 dan AI-Muhgni 4/323).

Oleh kerana 'Carlsberg' itu salah satu daripada jenis minuman keras, maka wajiblah ia dihalang atau ditegah oleh pihak berkuasa daripada zahir atau muncul secara terang-terangan di kalangan umat dan negeri Islam, sarna ada kemunculannya itu menerusi iklan-iklan di media massa, poster-poster, botol-botol minuman dan sebagainya.

Apabila lambang 'Carlsberg' itu terdapat pada barang-barang yang lazim dan biasa terdedah kepada orang-orang Islam, seperti pada pakaian dan botol-botol minuman, dan dibiarkan beredar dan berleluasa di kalangan orang-orang Islam, maka hal ini seakan-akan mempromosi, melaris atau mengiklankan 'Carlsberg' sebagai salah satu jenama arak yang juga menjadi salah satu lambang kemungkaran itu.

Oleh kerana 'Carlsberg' itu arak atau lambang arak, maka dengan membiarkannya terdedah dan beredar di kalangan orang Islam, sekalipun hanya botol atau namanya sahaja (Carlsberg) yang ditampal dan dipamerkan pada mana-mana objek seperti baju dan sebagainya, ini bermakna membiarkan perkara mungkar itu terjadi dalam masyarakat. Hal ini tidak boleh dibiarkan dan mesti dihalang.

Luqman pernah berpesan kepada anaknya sebagaimana firman Allah:


يبني أقم الصلوة وأمر بالمعروف وأنه عن المنكر


Tafsirnya: "Wahai anak kesayanganku, dirikanlah sembahyang, dan suruhlah berbuat kebaikan, serta laranglah daripada melakukan perbuatan yang mungkar... "
(Surah Luqman: 17)


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pemah bersabda:


من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطيع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان


Maksudnya: "Sesiapa yang melihat satu-satu kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan (kekuasaannya), jika dia tidak sanggup atau berdaya, maka dengan lidah (nasihatnya), dan jika tidak berupaya, maka dengan hati (membencinya) dan cara yang terakhir ini, adalah selemah-lemah iman. "
( Hadis riwayat Ahmad dan Muslim )

Bekas Botol 'Carlsberg'

Apabila botol yang bercap 'Carlsberg' itu berisi arak, lalu dizahirkan di kalangan orang-orang Islam, maka di sini ada dua perkara kemungkaran yang terjadi, pertama lambang atau cap 'Carlsberg' itu sendiri dan kedua ialah arak.

Botol semata-mata yang bercap 'Carlsberg' adalah suci, tetapi oleh kerana ianya diisi dengan arak jadilah ia bemajis. Jika arak dibuang dan botol dibersihkan, maka botol itu menjadi suci, akan tetapi masih tetap mengandungi lambang kemungkaran iaitu cap 'Carlsberg'.

Merujuk kepada hukum perkara yang diminta fatwa: Minum oren 'lemonade' menggunakan bekas minuman keras 'Carlsberg', persoalan yang perlu diperhatikan di sini ialah, adakah bekas minuman keras itu sudah dibersihkan mengikut cara mensucikan najis mutawassithah? Jika sudah, maka oren itu boleh dan halal diminum, akan tetapi jika belum, maka oren itu adalah bercampur najis arak, hukumnya najis dan haram diminum.

Mengenai bekas botol 'Carlsberg' yang dipakai atau dipergunakan semula oleh orang-orang Islam setelah ianya dibersihkan dan tidak mengandungi arak lagi, adalah penggunaan tersebut masih saja boleh menimbulkan fitnah atau kesan negatif kepada pengguna-pengguna Islam, dan bahkan juga boleh menghitamkan imej negara Islam sendiri.

Di antaranya:

(a)Akan timbul tohmah atau sekurang-kurangnya sangkaan, bahawa yang diminum oleh orang Islam itu ialah arak.

(b)Tidak syak lagi, ianya masih saja satu promosi bagi jenama arak yang berlambangkan 'Carlsberg' itu.

(c)Menjual minuman oren dan seumpamanya dengan menggunakan botol bekas minuman Carlsberg, boleh dianggap sebagai senghaja menghina Islam dengan menzahir dan mengembangkan syiar minuman keras itu, padahal masih ada banyak lagi botol-botol lain yang boleh digunakan.

(d) Boleh dianggap sebagai melawan hukum Allah dan undang-undang negara serta tidak bekerjasama dengan pihak kerajaan yang telahpun menguatkuasakan pengharaman arak yang meliputi pengedaran dan penjualannya.

(e) Boleh melahirkan tanggapan adanya kelemahan di dalam kerajaan sehingga tidak dapat mengawal perkara-perkara mungkar yang berkaitan dengan arak, padahal kerajaan telahpun mengisytiharkan pengharamannya.

(f) Boleh mendatangkan sangkaan, khasnya bagi orangorang asing, bahawa di negara ini dibenarkan beredar dan meminum minuman keras dengan sebebasnya.

Oleh yang demikian penggunaan botol-botol 'Carlsberg' sebagai botol minuman oren itu adalah perlu dicegah demi mengelakkan kekeliruan serta mencegahnya daripada menjadi satu promosi kepada jenama arak berkenaan

Melarang atau mencegah manusia daripada berada dalam kedudukan yang diragui atau yang boleh menimbulkan tohmah adalah dituntut oleh syara'. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:


دع ما يريبك إلى ما لا يريبك


Maksudnya: "Tinggalkanlah perkara-perkara yang membawa ragu-ragu kepadamu, (dan) ambillah apa-apa yang tidak meragukanmu. "
(Hadis riwayat Tirmidzi dan Nasa 'i Berkata Tirmidzi hadis Hasan shahih)

Sumber http://www.e-infad.my/i-fms/index.php?option=com_fatwa&task=viewlink&link_id=114&Itemid=48

Isnin, 19 November 2012

Isu Insya Allah yang kononnya dibangkitkan oleh Dr Zakir Naik




Soalan :

Tersebar dalam facebook seorang dai'e internasional menyatakan tulisan InshaAllah adalah salah. dan perlu ditulis In shaa Allah. Betulkah perkara ini ?


Jawapan :

Jika di Malaysia kita akan merujuk kepada Dewan Bahasa Pustaka kerana pihak ini yang bertanggungjawab untuk menterjemahkan / transliterasi Arab-Melayu dan apa sahaja yang berkaitan dengan Bahasa Melayu.

Rujuk : http://prpm.dbp.gov.my/Search.aspx?k=insya+allah


insya-Allah jika diizinkan Allah. Kamus Pelajar Edisi Kedua
insya-Allah jika diizinkan Allah. Kamus Pelajar
insya-Allah jika diizinkan Allah. Kamus Dewan Edisi Empat

Di Malaysia kita sudah sedia maklum bila ditulis Insya Allah ataupun Insha Allah ertinya jika diizinkan Allah . Sepatutnya tiada masalah tentang perkara ini.

Wallahua'lam

Tambahan :


Di dalam kalimat arab ia akan menjadi satu masalah apabila ditulis : (إنشاء الله) - bermaksud mencipta Allah

Dan ia sepatutnya ditulis إن شاءالله - bermaksud -sekiranya dikehendaki Allah

(pernyataan dai'e internasional di atas sepatutnya merujuk dalam kalimat Arab yang ditulis dalam tulisan arab dan bukan tulisan rumi)

Dalam rumi kita tiada masalah yang timbul sebab pakar bahasa Dewan Bahasa Dan Pustaka telah mengesahkan tulisan Insya Allah itu bermakna - Dengan Izin Allah.

Dr Zakir Naik yang kita kenali adalah seorang pendakwah terkenal antarabangsa yang berani berhujjah di kalangan non Muslim dan di tangannya ramai yang memeluk Islam. Namun begitu beliau bukanlah seorang yang diiktiraf sebagai ulamak untuk mengeluarkan hukum dan rujukan dalam perkara aqidah. Antara fatwa mengenai Dr Zakir Naik klik di sini.

Penafian dari Dr Zakir Naik mengenai isu Insha Allah ini  Sila klik gambar untuk besarkan:




Jumaat, 16 November 2012

Hukum Menggunakan Tasbih Kayu Kokka



Hukum Menggunakan Tasbih Kayu Koka 

Soalan :

Kayu kokka dikatakan mempunyai banyak kelebihannya dan telah digunakan oleh para nabi sebagai bukti kekuasaan Allah subahanahu wa Ta'ala dalam memberikan perlindungan dan penawar kepada manusia. Jadi bolehkah kita menggunakan tasbih daripada kayu kokka ?

Jawapan Syeikh Nuruddin Al Banjari : 

Kokka ialah sejenis buah keras, besar sedikit daripada buah pinang. Ubat-ubatan yang kita guna, ada untuk sakit gigi, sakit kepala dan sakit perut. Orang minum air tongkat ali ada khasiatnya. Dikatakan, jika airtnya diminum ia boleh menyembuhkan sakit gigi, menghilangkan sakit kepada dan tidak perlu kepada dalil. Ia adalah suatu penemuan.

Jika dikatakan sesiapa yang menggunakan tasbih kayu kokka akan masuk syurga atau dikatakan sekali berzikir dengan sebiji tasbih kokka akan digandakan 100 kali ganda, maka baharulah perlu kepada dalil. Tidak salah jika sentiasa menggunakan tasbih kayu kokka.

Contoh, seseorang yang sangat meminati kayu kayan sehingga seluruh rumahnya dibina daripada kayu termasuklah perabot dan peralatan-peralatan di dalam rumah. Adakah menggunakan kayu secara berterusan juga dilarang ? Begitulah juga orang yang selalu menggunakan tasbih kayu kokka, tidak ada salahnya. 

Sumber : Muhadir bin Hj Joll, Q & A bersama Tuan Guru Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al Makki, m/s 32, Cetakan 2012, PSN Publication, Selangor.