CARIAN ILMU DI JOMFAHAM :

Ahad, 27 Mei 2012

Adakah Mi'raj RasuluLLah Menunjukkan Allah Ta'ala di Langit ?

Oleh : Thoriq

 Mi’raj Rasul Tidak Menunjukkan Allah Ta’ala di Langit

 Sebagian pihak yang berkeyakinan bathil bahwa Allah berada di langit berpedoman kepada hadits yang menjelaskan mi’raj Rasulullah Shallallahu Alahai Wasallam. Bagaimana para ulama menjelaskan masalah itu?
Sebelum masuk ke pembahasan ini, perlu diketahui juga bahwa mereka yang berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala berada di langit didasari oleh keyakinan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di saat mi’raj menyaksikan dzat Allah dengan mata. Jika demikian, dasar yang dijadikan pijakan sudah rapuh sejak awal, karena para ulama bahkan sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sudah berbeda pendapat dalam masalah ini. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang berpandangan bahwa Rasulullah Shallallallahu Alaihi Wasallam menyaksikan secara kasat mata, sedangkan sahabat lainnya seperti Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu dan Aisyah Radhiyallahu Anha menolak padangan itu, hingga beliau menyampaikan,”Barang siapa mengira bahwa Muhammad menyaksikan Rabb-Nya maka ia telah berbohong.” Sedangkan sejumlah muhaqiqin memilih tawaquf dalam masalah ini. (lihat, Nur Ad Dzalam, hal. 66-67)
Rapuh karena menyandarkan sebuah kayakinan dari perkara yang diperselisihkan, bahkan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Jika seaindanya pihak yang berpandangan bahwa Allah bertempat di langit masih memaksakan diri dengan pendapat bahwa Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasalam menyaksikan Allah dengan mata, hak itu juga tidak mampu “menolong” kayakinannya karena para ulama menjelaskan bahwa penglihatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah penglihatan yang pantas bagi kebesaran Allah Ta’ala. (lihat, Nur Ad Dzalam, hal. 66)
Sedangkan penilaian bahwa Allah berada di sebuah tempat adalah pandangan yang tidak pantas bagi kebesaran Allah Ta’ala dimana hal itu termasuk penyerupaan terhadap benda yang terikat dengan tempat. Sebab itulah para ulama yang mengambil pendapat bahwa  Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasallam menyaksikan Allah menjelaskan. Al Allamah Ahmad Al Marzuki Al Makki Al Maliki telah menyampaikan dalam nadzam akidah beliau yang cukup terkenal yakni Aqidah Al Awwam:
Gambar
Artinya: Dan setelah (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) isra’ naik ke langit. Hingga melihat Rabb berfirman. Tanpa kaif dan tanpa terlingkupi dan diwajibkan. Bagi beliau (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam) 5 setelah 50 kewajiban (shalat). (lihat, Aqidah Al Awwam dan Syarhnya Nur Adz Dzalam, hal. 63)
Pernyataan bahwa Allah berada di langit sama dengan menyatakan bahwa Allah terlingkupi oleh langit. Allah Ta’ala tidak mungkin terlingkupi oleh makhluk-Nya termasuk langit atau yang lain karena melingkupi adalah pembatasan. Bagaimana Allah bisa terbatasi oleh makhluk? Dan hal itu juga merupakan penyerupaan dzat Allah dengan benda yang selalu terikat dengan tempat.
Mungkin saja pihak yang berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala berada di langit berargumen bahwa mereka juga bisa memperoleh pijakan dari peristiwa dimana Allah memerintahkan wajibnya shalat langsung kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwa Allah berada di langit maski Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak menyaksikan dzat Allah.
Dalam hal ini, Al Allamah Nawawi Al Bantani Sayyid Ulama Hijaz telah menjelaskan masalah ini. Beliau menyampaikan,”Sayyiduna Rasulullah juga telah mendengar kalam Allah yang qadim pada malam isra’. Dan Allah tidak berada dalam satu tempat atau arah namun tempat bagi yang menyimak.” (Nur Ad Dzalam, hal. 17)
Demikian munajat Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasallam di Sidratul Muntaha tidak melazimkan bahwa Allah berada di tempat itu.  Syeikh Umar Abdullah Kamil salah satu ulama Al Azhar menjelaskan bahwa munajat itu tidak terikat dengan tempat. Maka munajat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di Sidratul Muntaha sama dengan munajat Musa Alaihissalam di bukit Thur yang juga sama dengan munajat Yunus Alaihissalam di perut ikan khut. (lihat, Syarh Arkan Al Iman li Al Ummah Al Islam min Aqidati Al Awwam, hal. 29)
Walhasil peristiwa mi’raj Rasulullah tidak menunjukkan bahwa Allah berada di langit, namun menunjukkan bahwa Rasulullah bermunajat di Sidratul Muntaha dan hal itu tidak berkonsekwensi Allah berada di tempat yang sama, sebagaimana munajat Musa Alaihissalam di bukit Thur juga tidak berkonsekwensi bahwa Allah berada di bukit tersebut, demikian juga munajat Yunus Alaihissalam di perut ikan khut tidak berkonsekwensi Allah berada di tempat itu.
Demikianlah penjelasan para ulama dalam masalah ini. Semoga kita terhindar dari keyakinan yang mengakibatkan penyerupaan dzat Allah dan sifat-Nya terhadap makhluk.
Rujukan:
1. Nur Ad Dzalam Syarh Mandzumah Aqidah Al Awwam oleh Al Allamah Sayyid Ulama Hijaz Nawawi Al Bantani, cet. 1 (1429 H), Dar Al Kutub Al Islamiyah, Jakarta.
2. Syarh Arkan Al Iman li Al Ummah Al Islam min Aqidati Al Awwam, dipublikasikan oleh okamel.com, situs resmi Syeikh Umar Abdullah Kamil.

Jumaat, 25 Mei 2012

Takhrij Hadis 'Bohong Sunat'

Oleh :  Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni (Jabatan al Quran dan al Sunnah & Institut Kajian Hadith (INHAD) KUIS


Soalan:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Kalau ustaz ada kelapangan, nak tnya brknaan hadith ni:

كل الكذب يكتب على ابن آدم إلا ثلاث , الرجل يكذب فى الحربِ , فإن الحربَ خدعة , والرجل يكذب على المرأة فيرضيها , والرجل يكذب بين الرجلين ليصلح بينهما

Riwayat Ibnu Sunni.

Mohon penjelasan dari ustaz berkenaan takhrij dan penjelasan hadith ini. Saya search dalam Maktabah Syamilah, ada jumpa Albani mendhaifkannya. Mohon pencerahan.

Jawapan:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Untuk manfaat semua, terlebih dahulu diberikan terjemahan teks hadis tersebut, iaitu Sabda Rasulullah SAW:

“Setiap dusta itu akan ditulis ke atas anak Adam kecuali tiga perkara; seorang lelaki yang berdusta dalam peperangan, dan sesungguhnya peperangan itu adalah suatu tipu helah, seorang lelaki yang berdusta kepada isterinya supaya ia meraih redhanya, dan seorang lelaki yang berdusta di antara dua orang lelaki untuk mendamaikan antara kedua-duanya”.

Berdusta adalah satu dosa besar, namun tiga perkara itu dikecualikan, di mana sekiranya berdusta ia tidak dianggap sebagai satu dosa. Hadis ini menunjukkan adanya dusta yang diharuskan, atau apa yang dikatakan orang ‘bohong sunat’ – jika istilah ini sesuai digunapakai - .

Tetapi bagaimana status hadis tersebut??

Perbincangan lanjut adalah menurut riwayat-riwayat berikut;

1. Riwayat al-Nuwas bin Sam‘an RA

Hadis yang dipertanyakan berkenaan diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Kabir, Ibn al-Sunni dalam ‘Amal Yawm wa Laylah dan al-Khara’iti dalam Makarim al-Akhlaq dari al-Nuwas bin Sam‘an RA. Al-Suyuti dalam al-Jami‘al-Saghir (6276) mengisyaratkannya sebagai hasan. Manakala al-Albani menyatakannya sebagai daif.

Kata al-Haythami (8/81): “Terdapat padanya, Muhammad bin Jami‘ al-‘Attar, seorang yang daif”. Demikian juga menurut al-Busiri dalam Ithaf al-Khirah al-Maharah (3214), meskipun Ibn Hibban menyenaraikan Muhammad bin Jami‘  dalam kalangan para perawi thiqah.

2. Riwayat Umm Kulthum binti ‘Uqbah RA

Hadis yang semakna walaupun berbeza lafaz, dan lebih kuat sanadnya diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (4923) dari Umm Kulthum binti ‘Uqbah RA.

عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُرَخِّصُ فِى شَىْءٍ مِنَ الْكَذِبِ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: « لاَ أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلاَ يُرِيدُ بِهِ إِلاَّ الإِصْلاَحَ، وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِى الْحَرْبِ، وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا ».

Kata al-Albani: Sahih. Bahkan ia juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya (4717), tapi tiada lafaz Nabi SAW dalam riwayatnya, iaitu kata Umm Kulthum RA:
وَلَمْ أسْمَعْهُ يُرْخِّصُ في شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُهُ النَّاسُ إلاَّ في ثَلاثٍ ، تَعْنِي : الحَرْبَ ، وَالإِصْلاَحَ بَيْنَ النَّاسِ ، وَحَدِيثَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَحَدِيثَ المَرْأةِ زَوْجَهَا .

3. Riwayat Asma’ binti Yazid RA

Hadis yang semakna juga turut diriwayatkan oleh al-Tirmizi dalam Sunannya (1862@ 2064) dari Asma’ binti Yazid RA. Lafaznya, sabda Rasulullah SAW:
لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ؛ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا، وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ، وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ.

Menurut al-Tirmizi:
“Kata Mahmud - salah seorang perawi - dalam hadis beliau: (لَا يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ). Hadis ini hasan. Kami tidak ketahui dari hadis Asma’ melainkan dari hadis Ibn Khuthaym. Dawud bin Abi Hind meriwayatkan hadis ini dari Syahr bin Hawsyab dari Nabi SAW (yakni secara mursal) dan tidak menyebut padanya; ... dari Asma’. Ini diberitakan kepada kami oleh Muhammad bin al-‘Ala’, diberitakan kepada kami oleh Ibn Abi Za’idah dari Dawud. Dalam bab yang sama, ada riwayat dari Abu Bakr RA”.

Meskipun al-Albani mendaifkan riwayat al-Nuwas, namun beliau menghukum riwayat Asma’ ini sebagai sahih, dengan mengecualikan kata-kata: (ليرضيها). Pengecualian al-Albani tersebut menurut penulis, adalah tidak perlu kerana banyak jalan riwayat yang menyebutnya atau menyebut kalimah yang seertinya. Manhaj al-Albani yang berbeza-beza semestinya difahami oleh mereka yang menelaah karya-karyanya.

Riwayat Asma’ RA juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Jarir al-Tabari, al-Tabarani, Abu Ya‘la dan lain-lain lengkap dengan sabab al-wurudnya. Kata al-Haythami dalam Majma‘ al-Zawa’id (10354): “Terdapat padanya, Syahr bin Hawsyab. Ada yang menthiqahkan beliau, namun terdapat kelemahan padanya. Dan baki para perawinya adalah thiqah”.

4. Riwayat Abu Bakr RA

Riwayat Abu Bakr RA ini berdasarkan kata-kata al-Tirmizi di atas tadi:“Dalam bab yang sama, ada riwayat dari Abu Bakr RA”.

Riwayat ini pada zahirnya, menyokong riwayat Asma’ di atas. Ia menjelaskan sebab mengapa al-Tirmizi menyatakan darjat hadis tersebut sebagai hasan, walaupun sanad riwayat Asma’ mengandungi sedikit masalah kecil.

Bagaimanapun, Syeikh al-Mubarakpuri dalam Tuhfah al-Ahwazi tidak dapat mentakhrijkan riwayat Abu Bakr RA ini. Meskipun begitu, kata-kata al-Tirmizi itu merupakan suatu fakta yang menunjukkan kewujudan riwayat berkenaan dan beliau sendiri telah menemukannya, walaupun kita pada masa ini belum lagi dapat menjumpainya.

5. Riwayat Abu Ayyub al-Ansari RA

Riwayat Abu Ayyub al-Ansari RA ini direkodkan oleh Abu ‘Awanah dalam Musnadnya (6545) dengan jalan riwayatnya sendiri. Lafaznya:
لا يحل الكذب إلا فى ثلاثة؛ الرجل يكذب امرأته يرضيها بذلك، والرجل يمشى بين رجلين يصلح بينهما، والحرب خدعة.
Lihat al-Jami‘ al-Kabir (17553).

6. Riwayat Abu al-Tufayl RA

Riwayat Abu al-Tufayl RA ini direkodkan oleh Ibn Jarir al-Tabari. Lafaznya:
لا يصلح الكذب إلا فى إحدى ثلاث؛ رجل كذب امرأته لينصلح خُلُقها، ورجل كذب ليصلح بين امرأين مسلمين، ورجل كذب فى خديعة حرب، فإن الحرب خدعة.
Lihat al-Jami‘ al-Kabir (17878).

7. Riwayat ‘A’isyah RA

Riwayat ‘A’isyah RA ini direkodkan oleh Ibn Jarir al-Tabari dan Ibn al-Najjar. Lafaznya:
لا يصلح الكذب إلا فى ثلاث؛ يحدث الرجل امرأته ليرضيها، والكذب فى الحرب، والكذب ليصلح بين الناس.
Lihat al-Jami‘ al-Kabir (17879).

Ulasan:

Kesemua riwayat di atas, walaupun berbeza-beza sedikit lafaz-lafaznya, menjelaskan bahawa hanya ada tiga jenis dusta sahaja yang diharuskan oleh syarak, iaitu;

  1. harus berdusta dalam peperangan, kerana peperangan itu adalah suatu tipu helah.
  2. harus suami berdusta kepada isteri (juga sebaliknya) supaya ia meraih redhanya.
  3. harus berdusta untuk mendamaikan antara dua pihak yang berselisihan.

Maka, tujuh jalan riwayat yang mengandungi makna hadis yang sama ini telah membuktikan kekuatan makna hadis yang dipertanyakan dan dapat dijadikan sebagai hujah, dan tentunya ia tidak dapat dihukum sebagai lemah. Walaupun status riwayat-riwayat tersebut berbagai-bagai antara daif, hasan dan sahih.

Bagi menjelaskan isu hadis ini, Imam al-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim (8/331) menukilkan dari al-Qadhi ‘Iyadh katanya: Tiada khilaf tentang keharusan berdusta dalam bentuk-bentuk sebegini.

Namun, ulama berbeza pendapat mengenai dusta yang harus ini. Sebahagian ulama berpendapat, ia adalah berbentuk mutlak/umum. Sebahagian yang lain pula, antaranya al-Tabari berpendapat, tidak harus berdusta dalam bentuk apa pun dari segi asalnya, dan maksud keharusan berdusta tersebut ialah melakukan penyembunyian (tawriyah) dan menggunakan kata-kata samar, bukannya dusta sebenar, seperti misal ia menjanjikan isterinya layanan baik dan pakaian tertentu, tapi ia berniat jika Allah mentakdirkannya demikian.. 

Al-Hafiz Ibn Hajar menukilkan dari Imam al-Nawawi, katanya: “Zahirnya, adalah mengharuskan hakikat dusta itu sendiri dalam ketiga-tiga perkara berkenaan, akan tetapi kata-kata yang samar (ta‘ridh) adalah lebih utama”.

Demikian takhrij dan penjelasan ringkas bagi isu yang terkandung dalam hadis berkenaan.

Khamis, 24 Mei 2012

Benarkah Wanita Kurang Riwayatkan Hadith ?

Oleh : Ustaz Mohd Khafidz Bin Soroni (Jabatan al Quran dan al Sunnah & Institut Kajian Hadith (INHAD) KUIS

 Orang Perempuan Kurang Riwayat Hadis?


Wanita dan Periwayatan Hadis

 Oleh kerana tak berapa ramai penyertaan kaum wanita dalam majlis daurah periwayatan hadis ni, maka suka saya nak berkongsi di sini tentang penglibatan kaum wanita dalam bidang periwayatan hadis di kalangan alim ulama kita terdahulu. Moga-moga dapat memberi sedikit motivasi kepada kaum wanita untuk bersama-sama mengikuti majlis-majlis periwayatan hadis (kalau tak @ belum disibukkan oleh suami dan anak).

 Yang konsisten mengikuti tu, saya ucapkan syabas!..

 Meskipun penglibatan dalam bidang periwayatan hadis ini kebanyakannya dimonopoli oleh orang lelaki kerana tradisi dan naturenya begitu. Namun, tidak bermakna seolah-olah ada sekatan khusus bagi kaum wanita dari melibatkan diri. Perlu diingat, antara tujuh perawi hadis yang paling banyak meriwayatkan hadis di kalangan sahabat Nabi SAW ialah Umm al-Mu’minin Sayyidatuna ‘A’isyah RA. Beliau telah mempelajari banyak ilmu dari baginda SAW. Dan sesudah baginda wafat, beliau tidak lokek untuk meriwayatkan hadis-hadis Nabi SAW kepada orang yang datang kepadanya menuntut ilmu. Maka, banyak ilmu yang ditimba oleh para sahabat dan para tabiin daripada beliau.

 Jika kita menelusuri sejarah imam-imam terkenal dahulu, kita akan dapati bahawa bukan semua guru-guru mereka adalah lelaki. Selain kaum lelaki, ramai di antara mereka turut meriwayatkan hadis atau menimba ilmu dari kaum wanita juga. Misalnya, Imam al-Syafi‘i, antara guru beliau ialah Sayyidah Nafisah, tokoh wanita Ahlul Bait yang masyhur makamnya di Mesir. Beliau menghafaz al-Quran dan banyak meriwayatkan hadis-hadis.

 Al-Khatib al-Baghdadi, pengarang Tarikh Baghdad dan alim hadis tersohor, telah meriwayatkan kitab Sahih al-Bukhari dari gurunya, Syeikhah Karimah binti Ahmad al-Marwaziyyah, di mana beliau telah membaca Sahih al-Bukhari di hadapannya selama lima hari sahaja di Makkah. Iaitu suatu tempoh yang jarang dapat dilakukan melainkan dengan aturan waktu yang benar-benar ketat dan padat!

 Bukan saja al-Khatib al-Baghdadi, bahkan ramai ahli hadis di zamannya yang datang berpusu-pusu kepada Syeikhah Karimah kerana ingin meriwayatkan Sahih al-Bukhari dari beliau. Syeikhah Karimah meninggal dunia dalam usia kira-kira 100 tahun dan tidak pernah berkahwin!

 Al-Hafiz Abu ‘Amr Muslim al-Azdi telah meriwayatkan hadis dari 70 orang wanita. Begitu juga al-Hafiz Abu al-Walid Hisyam al-Bahili. Manakala al-Hafiz Abu ‘Abdillah Muhammad Ibn al-Najjar pula telah merekodkan seramai 400 orang wanita dalam senarai guru-gurunya!

 Antara tokoh wanita dalam bidang periwayatan hadis ialah Syuhdah binti Abi Nasr Ahmad al-Ibriyyah (w. 549H). Oleh kerana beliau banyak meriwayatkan hadis, maka ramailah orang di zamannya yang datang untuk mendengar hadis daripada beliau pula.

 Syeikhah Maryam binti ‘Abd al-Rahman (w. 758H) antara tokoh-tokoh wanita yang alim dengan hadis sehinggakan al-Hafiz Ibn Hajar, pengarang Fath al-Bari, telah menghimpunkan di dalam sebuah kitab seramai 283 orang guru beliau, sama ada lelaki dan wanita yang ada meriwayatkan hadis yang diberi judul: Mu‘jam al-Syaykhah Maryam.

 Perlu diperhatikan, bahawa mereka ini bukan saja mendengar sebutir dua hadis lalu meriwayatkannya. Tetapi sebutir dua kitab hadis yang mengandungi ribuan, malah puluhan ribu buah hadis di dalamnya. Cuba lihat misalnya;

 ‘Atikah binti Abi al-‘Ala’ al-Hasan al-‘Attar (w. 609H) meriwayatkan kitab Sunan Abi Dawud yang mengandungi kira-kira 5,274 buah hadis dan kitab Makarim al-Akhlaq oleh Ibn Lal. 

‘Afifah binti Ahmad al-Asbahaniyyah (w. 606H) meriwayatkan al-Mu‘jam al-Kabir dan al-Mu‘jam al-Saghir kedua-duanya oleh al-Tabarani serta kitab al-Fitan oleh Nu‘aym bin Hammad. Kitab-kitab ini semua didengari dari Syeikhah Fatimah binti ‘Abdullah al-Juzadaniyyah. Perlu diketahui, kitab al-Mu‘jam al-Kabir dikatakan mengandungi lebih kurang 60,000 buah hadis!

 Zaynab bin Abd al-Rahman (w. 615H) meriwayatkan Sahih al-Bukhari yang mengandungi kira-kira 7,397 buah hadis dan menerima ijazah sanad dari ramai orang syeikh.

 Dan sebagainya. Sangat ramai untuk disenaraikan kesemua mereka. Bagi merakamkan peranan dan sumbangan wanita dalam bidang periwayatan hadis ini, beberapa buah buku telah disusun oleh para sarjana kini. Antaranya;

 1- جهود المرأة في رواية الحديث القرن الثامن الهجريoleh Dr. Ṣāliḥ Yūsuf Maʻtūq, khusus tentang sumbangan wanita dalam periwayatan hadis di kurun ke-8 hijrah.

2- صفحات مشرقة من عناية المرأة بصحيح الإمام البخاري oleh Dr. Muhammad bin ‘Azzuz, khusus tentang perhatian wanita terhadap kitab Sahih al-Bukhari.

3- جهود المرأة الدمشقية في رواية الحديث الشريف juga oleh Dr. Muhammad bin ‘Azzuz, khusus tentang sumbangan wanita kota Dimasyq dalam periwayatan hadis.

4- دور المرأة في خدمة الحديث في القرون الثلاثة الأولى oleh Amal Qirdasy binti al-Husayn, tentang peranan wanita dalam periwayatan hadis di tiga kurun pertama hijrah.

5- Dan lain-lain. Prof. Dr. Muhammad Akram al-Nadwi pula telah berjaya merekodkan seramai lebih 8,000 biografi perawi wanita di dalam kitabnya al-Wafa’ bi Asma’ al-Nisa’ yang setebal 40 jilid! Justeru, anda di mana?..

Sumber :  http://sawanih.blogspot.com/2012/05/orang-perempuan-kurang-riwayat-hadis.html

Ahad, 20 Mei 2012

Bertudung: Fesyen Lawan Syari‘at Bab Akhir




Bertudung: Fesyen lawan Syari‘at

(Bahagian Akhir)

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

iii.Tidak memakai cemara atau sanggul yang tinggi

Terdapat segelintir wanita yang bertudung dengan memakai sanggul palsu. Tujuannya agar kelihatan lebih cantik berbanding tidak memakainya.

Perlu diketahui bahawa memakai sanggul yang terlalu menonjol merupakan antara perkara  yang dilarang melakukannya. Larangan tersebut sangat keras sehingga dinyatkan bahawa seorang wanita yang melakukannnya tidak akan masuk syurga hatta menghidu bau syurga. Padahal bau syurga itu boleh dihidu dari jarak yang sangat jauh. Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan perkara tersebut dalam sabda Baginda:

Maksudnya:  “Ada dua golongan ahli  neraka yang belum pernah aku (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) melihatnya, iaitu; kaum lelaki memegang cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang lain, dan wanita–wanita yang berpakaian  tetapi mereka (sebenarnya) bertelanjang (pakaian  tiada menutup aurat  kepala dan badan sebagaimana yang diperintahkan oleh agama), yang berjalan melagak menggoyangkan bahu, kepala mereka seperti bonggol unta yang condong. Mereka tidak boleh masuk syurga, bahkan tidak boleh menghidu baunya, padahal bau syurga itu sebenarnya dapat dihidu dari jarak sekian, sekian (yang cukup jauh).” (Hadits riwayat Muslim)

Memakai cemara itu termasuk  memakai rambut tambahan, samada daripada rambut lain atau bukan daripada rambut seperti nilon atau lain-lain yang  digunakan untuk membesarkan sanggul.

Selain larangan memakai cemara, menyambung rambut juga termasuk perkara yang dilarang meskipun lengkap memakai tudung. Memakai rambut tambahan atau menyambung rambut dihukumkan haram bagi perempuan dan juga lelaki.

Allah  Subhanahu wa Ta‘ala melaknat orang yang memakai rambut tambahan sekalipun orang itu adalah perempuan yang rambutnya gugur kerana sakit atau perempuan yang hendak menjadi pengantin. Hukum tersebut adalah berdasarkan kepada hadits  shahih, antaranya hadits yang diriwayatkan daripada Asma’ binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha, beliau berkata :

Maksudnya:  “Seorang perempuan telah datang (bertanya) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya anak  saya yang akan melangsungkan perkahwinan telah terkena suatu penyakit sehingga rambutnya gugur, apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya” (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Para  ashab  (‘ulama-‘ulama asy-Syafi‘i) dalam menghuraikan hadits di atas mengatakan bahawa tiada perbezaan pendapat ‘ulama mengenai hukum haram menyambung rambut dengan rambut manusia, sama ada rambut lelaki atau perempuan ataupun rambut suami atau mahram. Ini kerana menggunakan atau memanfaatkan rambut manusia adalah haram disebabkan kemuliaannya.

Jika rambut itu bukan berasal daripada manusia dan ianya najis seperti bulu daripada bangkai binatang atau bulu binatang yang tidak boleh dimakan haram juga disambung dengannya.

 iv.Tudung tidak mengandungi gambar atau lukisan objek yang bernyawa atau lambang yang diharamkan Islam melarang menggunakan kain, selimut, langsir yang terdapat padanya lukisan atau  gambar sesuatu yang bernyawa seperti gambar atau lukisan manusia atau haiwan.

Diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

Maksudnya: “Sewaktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  (tiba di rumah) daripada suatu pelayaran, pada ketika itu aku telah memasang tabir pada pintuku, tabir bulu yang ada padanya gambar kuda yang mempunyai beberapa sayap, maka Baginda memerintahkanku (agar aku menanggalkannya) lalu aku pun menanggalkannya (daripada pintu itu).” (Hadis riwayat Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, menggunakan tudung yang terdapat padanya gambar manusia atau binatang juga adalah dilarang. Orang Islam juga dilarang memakai tudung yang memaparkan gambar-gambar seperti imej atau tulisan jenama tertentu seperti jenama minuman keras atau  memaparkan lambang-lambang agama lain. Sebagai contoh,  haram memakai tudung yang memaparkan lambang salib. Salib termasuk symbol atau lambang yang dipakai khas bagi orang Nashrani.  Larangan tersebut adalah mengelakkan diri kita dari terlibat dalam mempromosi imej dan  jenama-jenama berkenaan dan menghindari diri kita dari menyerupai orang-orang bukan Islam kerana memakai lambang-lambang  tersebut. Larangan ini disebut dengan jelas oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:


Maksudnya: “Sesiapa yang menyerupai/meniru sesuatu kaum maka dia adalah dari golongan mereka” (Hadits riwayat Abu Daud)

Menurut Imam al-Munawi dan al-‘Alqami  Rahimahullahu Ta‘ala sebagaimana yang dinyatakan di dalam kitab ‘Aun al Ma‘bud Syarh Sunan  Abu Daud, maksud tasyabbuh (penyerupaan) dengan sesuatu  kaum itu ialah berkelakuan dengan tingkah laku mereka, termasuk pakaian dan sebahagian perbuatan mereka.
Berdasarkan keterangan di  atas, dapat difahami bahawa larangan tasyabbuh (penyerupaan) terhadap sesuatu kaum itu juga dalam berpakaian. Ini bermakna,  tasyabbuh dalam pemakaian tudung juga merupakan larangan.
 
Sementara memakai tudung yang terdapat padanya lukisan atau gambar sesuatu yang tidak bernyawa seperti gambar atau lukisan pokok, sungai, gunung-ganang dan seumpamanya adalah tidak mengapa dan harus.

v.Tidak melampau atau berlebih-lebihan

Perbuatan berlebih-lebihan boleh sahaja mengubah fungsi  tudung yang pada asalnya digunakan untuk menutup aurat  kepada perhiasan untuk mencantikkan diri dan menjadi tarikan kepada orang yang melihatnya.  Selain itu, berlebih-lebihan dalam sesuatu perkara termasuk bertudung kadang-kadang akan menimbulkan perkara-perkara negatif yang dilarang orang Islam melakukannya antaranya membazir.

Pembaziran boleh berlaku jika seseorang itu berlebih-lebihan dalam pemakaian tudung. Sikap  berlebih-lebihan ini didorong oleh nafsu keinginan untuk kelihatan cantik dan menarik atau keinginan untuk bermegah dan  menunjuk-nunjuk. Seseorang sanggup membeli tudung dan aksesori tudung yang terlalu mahal dan terlalu banyak sehingga melebihi had yang sepatutnya demi memastikan penampilannya kelihatan menarik dan sentiasa mengikut tren terkini.  Umat Islam sangat dilarang dari melakukan perbuatan membazir dan berlebih-lebihan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya: “Dan berikanlah kepada kerabatmu, dan orang miskin serta orang musafir akan haknya masing-masing; dan janganlah engkau membelanjakan hartamu dengan boros yang melampau.”  (Surah  al-Israa’: 26)

Dari penjelasan ini, sayugia disarankan kepada setiap wanita Islam khususnya untuk mengetahui, memahami dan seterusnya mengikuti konsep bertudung yang dikehendaki oleh syara‘.

Wanita Islam perlu berhati-hati dalam memilih pakaian dan tudung memandangkan terdapat juga fesyen yang pada zahirnya nampak Islamik tetapi sebenarnya tidak menepati kehendak syara‘ dan maksud menutup aurat. Begitu juga jangan memakai tudung tetapi dalam masa yang sama mengenakan pakaian sendat, baju lengan pendek, kain berbelah, seluar yang masih juga menampakkan bahagian aurat atau yang seumpamanya. Cara sedemikian ini masih sahaja tidak menepati hukum menutup aurat.

Sumber : http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2012/bil10_bhg2-2012.pdf

Bertudung : Fesyen Lawan Syariat Bab 1




Oleh : Mufti Brunei 

Bertudung: Fesyen lawan Syari‘at 

(Bahagian Pertama)

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Menutup aurat merupakan kewajipan utama setiap orang Islam. Bagi kaum wanita, wajib ke atas mereka menutup seluruh badan mereka selain muka dan dua pergelangan tangan apabila berada di hadapan lelaki bukan mahram.  Ini bermakna bahagian kepala wanita termasuk rambut dan telinga adalah wajib ditutup.

Antara cara yang digunakan untuk menutup aurat di bahagian tersebut adalah dengan  memakai tutup kepala
yang lebih dikenali sebagai tudung di kalangan masyarakat kita.

Tidak dinafikan, kebanyakan wanita di negara kita sekarang menunjukkan kesedaran mereka dalam menutup aurat. Kecenderungan mereka untuk memakai pakaian menutup aurat kini didukung pula oleh kemajuan dunia fesyen yang menyajikan pelbagai jenis busana muslimah dan tudung yang nampaknya
seperti cendawan tumbuh di pasaran. Ada yang murah dan ada yang mahal, ada yang besar dan ada yang
kecil, ada yang tebal dan ada yang nipis, ada yang polos dan ada yang berwarna-warni,  bercorak, berkerawang, berlabuci, beropol dan sebagainya.  Tidak kurang juga cara atau  gaya pemakaian  tudung, terdapat bermacam fesyen yang boleh kita lihat. Ada yang dilipat, ada yang dililit, ada yang dimasukkan sahaja, ada yang berlapis-lapis dan ada pula yang hanya diletak di atas kepala dan disidai pada bahu,
boleh turun boleh naik dengan sekelip mata. Semua ini tergantung kepada citarasa si pemakai.

Terdapat fesyen atau cara bertudung yang tidak menepati maksud sebenar menutup aurat sebagaimana yang dikehendaki oleh syara‘. Sebahagian wanita kadang-kadang tersilap  dalam memilih cara seorang muslimah dengan memakai tudung mengikut arus moden atau  up-to-date.  Pada hakikatnya mereka masih belum menepati gaya sebenar yang dituntut dalam menutup aurat. Ini mungkin disebabkan mereka kurang memahami konsep sebenar pemakaian tudung dalam Islam kerana lebih mengutamakan fesyen.

Maka ruangan Irsyad Hukum pada kali ini akan menjelaskan cara yang patut diikuti dalam pemakaian tudung supaya kesilapan mengenainya tidak berterusan  dilakukan oleh orang Islam, khususnya para wanita Islam.

Pensyari‘atan Memakai Tudung 

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

Tafsirnya: “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat  pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka.”  (Surah an-Nur: 31) 

Menurut Imam al-Qurthubi, ayat  di atas diturunkan sebagai panduan dan teguran kepada wanita-wanita  Islam dahulu yang menutup kepala mereka dengan  khimar atau tudung dengan melabuhkannya ke belakang sehingga menyebabkan bahagian dada terbuka, leher dan telinga juga kelihatan.

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat di atas merupakan kewajipan yang diperintahkan Allah  Subhanahu wa Ta‘ala ke atas setiap wanita Islam untuk  membezakannya dari sifat dan perbuatan wanita Jahiliyyah yang bertudung tetapi masih mendedahkan dada, leher, telinga dan rambut.

Lantaran turunnya ayat tersebut, para wanita Muhajirin yang awal terus mematuhi apa yang diperintahkan Allah  Subhanahu wa Ta‘ala dengan memakai tudung yang  labuh melimpasi dada dan menutupi seluruh anggota aurat mereka sebagaimana yang dikhabarkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:

 Maksudnya: “Allah Subhanahu wa Ta‘ala merahmati wanitawanita Muhajirin yang awal kerana apabila Allah Subhanahu wa Ta‘ala menurunkan ayat yang bermaksud “dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka”, lantas mereka segera mengoyakkan pakaian (kain) bulu mereka dan mereka menutup kepala dengannya.” (Hadits riwayat al-Bukhari) 

Hukum Memakai Tudung

Menutup kepala bagi wanita Islam apabila di hadapan lelaki bukan mahram adalah wajib. Ini bererti, tidak boleh tidak, seorang wanita Islam wajib memakai tudung apabila berada di  khalayak ramai atau di hadapan lelaki asing. Pada dasarnya, wanita yang memakai tudung itu akan mendapat pahala kerana telah menunaikan kewajipan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala sebagaimana yang dituntut oleh
syara‘. Sekalipun demikian kita perlu mengetahui ciri-ciri dan cara memakai tudung yang menepati kehendak hukum syara‘.

Ciri-Ciri Tudung dan Cara Pemakaian Tudung Yang Dikehendaki Oleh Syara‘ 

Agama Islam telah menggariskan ciri-ciri tudung dan cara pemakaian tudung yang perlu diikuti. Antaranya adalah seperti berikut:

i. Memakai tudung labuh  yang menutupi aurat di bahagian kepala sehingga ke bahagian dada. Firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Tafsirnya:“Dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka..”
(Surah an-Nur: 31) 

Berdasarkan ayat di atas, wajib ke atas wanita Islam memakai tudung yang menutupi seluruh kepala dengan melabuhkannya sehingga ke dada kecuali kawasan muka. Ini termasuk menutupi seluruh rambut, kedua cuping telinga, tengkuk dan leher. Belahan baju itu letaknya di kawasan leher dan dada. Oleh yang demikian, tudung kepala itu hendaklah juga menutup atau menyembunyikan bahagian leher dan dada. Ini bererti tidak memadai memakai tudung itu jika masih nampak rambut, leher, tengkuk, telinga dan bahagian dada.

ii. Memakai tudung yang diperbuat daripada material tebal yang menutupi warna kulit dan rambut dari kelihatan.  Maksud tudung yang tebal ialah tudung tersebut tidak jarang, tidak nipis atau berlubang-lubang sehingga boleh menampakkan warna kulit atau anggota aurat.

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam  ada mengingatkan perkara tersebut dengan bersabda:

Maksudnya:  “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) melihatnya, iaitu; kaum lelaki memegang cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang lain, dan wanita–wanita yang berpakaian  tetapi mereka (sebenarnya) bertelanjang (pakaian  tiada menutup aurat  kepala dan badan sebagaimana yang diperintahkan oleh agama)….”
(Hadits riwayat Muslim)

 Ulama dalam mensyarahkan  hadits ini mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan bertelanjang itu adalah wanita yang berpakaian nipis yang masih menampakkan warna kulit dan berpakaian menutupi sebahagian anggota aurat dan membuka sebahagiannya lagi.

 Oleh itu ketahuilah bahawa memakai tudung yang nipis atau yang jarang itu tidak menepati kehendak sebenar cara bertudung untuk menutup aurat kerana  ia masih menampakkan warna kulit. Selain itu, tudung yang terlalu nipis dan ringan juga mudah tersingkap apabila ditiup oleh angin dan menyebabkan aurat terbuka.

Selain itu, terdapat juga telekung yang diperbuat dari material nipis dan jarang serta mempunyai kerawang yang besar dan banyak. Telekung sebegini boleh menyebabkan sembahyang tidak sah kerana syarat menutup aurat masih tidak terlaksana dengan sempurna.

Sumber : http://www.mufti.gov.bn/irsyad/pelita/2012/bil10_bhg1-2012.pdf

Ahad, 15 April 2012

Bolehkah Menghadiri Upacara Pengebumian Mayat Orang Bukan Islam ? Bab Akhir



BOLEHKAH MENGHADIRI UPACARA PENGEBUMIAN MAYAT ORANG BUKAN ISLAM ?
(Bilangan 118 Bahagian Akhir)  


Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

MEMASUKI GEREJA
Gereja ialah sebuah bangunan tempat beribadat penganut Kristian. Gereja disebut pelbagai nama mengikut saiz dan penggunaannya. Jikalau gereja kecil dan penggunaannya dikhaskan ia disebut chapel. Tetapi terdapat juga istilah umum yang digunakan untuk gereja iaitu disebut church. Abbey pada asalnya bermakna asrama paderi-paderi tetapi kini telah diperluaskan penggunaannya hingga lebih membawa erti gereja besar. Biasanya bahagian utama gereja berbentuk salib. Gerbang gereja pada mulanya berbentuk bulat, tetapi kemudiannya tirus ke atas bagi melambangkan keteguhan dan keagungan. 
(Ensiklopedia Malaysiana: 5/109-110)

Jika berlaku kematian, biasanya mayat orang kafir (Kristian) dibawa ke dalam gereja bagi menjalankan upacara khas keagamaan dan ia adalah menjadi salah satu syi‘ar atau tanda khusus bagi agama mereka. Cara seperti ini tidak ada di dalam Islam dan bagi orang Islam sendiri tidak dibenarkan turut bersama mengikuti atau menyertai acara keagamaan mereka itu.
Menurut sesetengah kitab yang menghuraikan hukum-hukum yang berkaitan dengan orang kafir zimmi ada menyebutkan bahawa gereja-gereja mereka itu adalah tempat-tempat laknat, kemarahan dan kemurkaan turun kepada mereka di dalamnya sebagaimana dikatakan oleh sebahagaian sahabat: “Jauhi oleh kamu akan orang-orang Yahudi dan Nashrani di hari-hari kebesaran mereka kerana kemurkaan turun kepada mereka pada hari-hari itu”. Selain daripada itu, gereja itu termasuk di antara rumah (tempat) musuh-musuh Allah, rumah musuhNya pula adalah tidak layak dijadikan tempat beribadat kepadaNya. (Ibn Qayyim Al-Jauziah, Ahklam Ahl Zimmah, 3:1230-1231)
Apabila demikian halnya gereja itu, maka tidak elok bagi seseorang Muslim memasukinya tanpa sebab-sebab tertentu, sebagaimana dicatatkan dalam sejarah pembukaan Bait Al-Muqaddas bahawa Sayyidina Umar Radhiallahu ‘anhu pernah memasuki gereja Al-Qummamah (Al-Qiyamah) dan sempat duduk di dalamnya dan apabila tiba waktu sembahyang beliau keluar. Tindakan Sayyidina Umar ini lebih banyak bermotifkan politik Islamiyah yang pada masa itu di mana agama Islam baru mula bertapak di kawasan Bait Al-Muqaddas dan Umar sendiri memasukinya bukan kerana sukakan atau cenderung kepada gereja atau ajaran mereka. (Muhammad Redha, Al-Faruq: Umar bin Al-Khattab: 208)

SYARAT-SYARAT MEMASUKI GEREJA
Menurut ulama Syafi‘e hukum memasuki gereja itu dibolehkan dengan beberapa syarat. Antara syarat-syarat itu ada kebenaran daripada pihak gereja dan di dalam gereja itu pula tidak terdapat gambar atau patung-patung yang dimuliakan seperti gambar atau patung yang disangkakan orang Nashrani sebagai gambar atau patung Nabi Isa‘Alaihishshalatu wasallam, atau Sayyidatina Maryam dan lain-lain.
Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak harus memasukinya (haram) masuk gereja disebabkan ada gambar-gambar atau patung yang dihormati oleh mereka yang diletakkan dalam gereja itu.
Dalam hal ini Ibnu Hajar dan Imam Ali Al-Syibramalisi Rahimahullah menyebutkan bahawa tidak harus memasuki gereja kecuali dengan ada izin kebenaran daripada mereka dan di dalamnya tidak terdapat gambar-gambar yang dimuliakan. (Tuhfah Al-Muhtaj: 9/295 & Hasyiah Nihayah Al-Muhtaj: 8/99)
Termasuk juga syarat itu hendaklah masuknya itu tidak membawa kesan cenderung atau mengiktiraf kepada ajaran gereja atau akan membawa dia mempersendakan Islam bersama-sama orang kafir sehingga boleh merosakkan aqidahnya. (Fatwa Abdul Halim Mahmud: 198)
Berasaskan kepada huraian di atas, adalah dibolehkan mengikuti serta menyertai jenazah orang kafir dari tempat kediaman asalnya sehingga sampai ke tempat pengkebumiaannya, termasuk ke gereja yang sunyi daripada gambar-gambar dan patung yang disebutkan.
Walau bagaimanapun perlu diingat bahawa orang Islam adalah haram menghadiri atau menyertai mana-mana acara peribadatan atau acara khas keagamaan agama yang lain, sama ada ia dilakukan di gereja, di kuil, rumah atau di mana-mana tempat sekalipun.
Dengan demikian perkara orang Islam datang ke gereja untuk hanya sekadar memberi takziah dan simpati kepada keluarga terdekat atau teman rapat adalah harus, iaitu selama tidak menyertai acara khusus keagamaan mereka dan di tempat itu tidak ada gambar-gambar atau patung yang mereka muliakan.

Sumber : 

1. http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2001/ip_menu1.htm

2.  http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2001/ic65_2001.htm
  
   

Bolehkah Menghadiri Upacara Pengebumian Mayat Orang Bukan Islam ? Bab 1



BOLEHKAH MENGHADIRI UPACARA PENGEBUMIAN MAYAT ORANG BUKAN ISLAM ?
(Bilangan 118 Bahagian Pertama)  


Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah



Agama Islam sangat tegas dan keras dalam soal mempertahankan akidah Islamiyah, namun ia juga amat berlembut dan toleran dalam perkara-perkara tertentu seperti soal sosial dan kemasyarakatan yang melibatkan bagaimana mengatur di antara orang Islam dengan orang yang bukan Islam selama mana hubungan itu tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, lebih-lebih lagi tidak ada yang boleh menjejaskan atau merosakkan akidah orang Islam.

Berbuat baik dan berlaku adil kepada semua orang adalah salah satu prinsip Islam. Kerana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam itu diutus oleh Allah Ta‘ala bagi seluruh alam sebagai rahmat dan nikmat yang besar. Sesiapa yang beriman dan menurut syari‘at Islam yang disampaikannya, selamatlah dia, dan sesiapa yang kufur ingkar, celakalah dia di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
Tafsirnya: “Dan tiadalah kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam”.
(Surah Al-Anbiya': 107)



Begitu juga berbuat baik kepada orang yang bukan Islam tidak dilarang oleh Islam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam firmanNya:

Tafsirnya: “Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu daripada kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil”.
(Surah Al-Mumtahinah: 8)



Islam juga tidak melarang bermu‘amalah seperti berjual beli, saling berkunjung, menghormati mereka sebagai individudalam batas pergaulan dan hubungan mengikut sukatan mujamalah asalkan bukan kerana memenuhi tuntutan acara keagamaan mereka atau lainnya yang bertentangan dengan syara‘.
Pendeknya Islam juga tidak melarang menjalin hubungan silaturahim dengan orang bukan Islam dalam batas yang diizinkan oleh syara‘, apa lagi mereka itu keluarga terdekat seperti ibu bapa, adik, abang dan sebagainya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis, Baginda bersabda:

Maksudnya: “Daripada Asma’ binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Telah datang ibuku kepadaku di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan (ketika itu) dia masih musyrik (belum Islam). Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku berkata: “Dia (ibuku) menginginkan sesuatu daripadaku, adakah aku menghubungkan silaturahim kepadanya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, hubungkanlah silaturahim dengannya”.
(Hadis riwayat Al-Bukhari)

Dalam hubungan ini jika berlaku kematian di kalangan mereka yang kafir zimmi, bagaimana sikap orang Islam mengenainya?
Perlu diketahui bahawa pada dasarnya apabila berlaku kematian ke atas orang kafir zimmi adalah dituntut supaya mereka tidak menzahirkan penanaman mayat dan kematian mereka secara terang-terangan. (Al-Raudhah: 10/333)

MENGIRINGI MAYAT ORANG KAFIR KE KUBUR
Islam tidak melarang perkara takziah dengan menghadiri atau mengikuti mayat orang kafir ke tempat pengkebumian, jika mayat itu terdiri daripada keluarga terdekat seperti isteri, jiran, teman rapat, maula dan hambanya. Keharusan menghadiri atau mengikuti mayat orang bukan Islam ini berdasarkan riwayat daripada Ali Karramallahu wajhah di mana beliau memberitahu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa saudara Baginda yang sesat (belum menganut Islam) telah mati, lalu Baginda mengarahkan Ali untuk menghadirinya. (Qalyubi wa ‘Umairah: 1/406 & Fath Al-‘Allam: 3/280)
Menurut Kitab Fath Al-‘Allam, jika mayat itu orang lain seperti bukan ahli keluarganya maka hukumnya adalah haram. (Fath Al-‘Allam: 3/280)



ADAB  KETIKA MENZIARAHI MAYAT ORANG KAFIR

 Islam tidak melarang menghadiri pengkebumian mayat orang kafir bahkan memberikan etika dan cara ketika menghadiri mayat tersebut.
Etika dan cara menghadiri mayat orang kafir dicatatkan dalam beberapa riwayat yang ada kaitan mengenainya, di antaranya:
Maksudnya: “Muhammad bin Al-Hassan bin Harun berkata: “Abu Abdullah ditanya: “Dan adakah dia boleh menghadiri mayatnya? “Beliau menjawab: “Ya, boleh sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Harith bin Abu Rubai‘ah di mana dia menghadiri mayat ibunya dan dia hanya berada di tepi dan tidak berada di dekat mayat kerana mayat itu dilaknat”.
Dalam sebuah riwayat yang lain:
Maksudnya: “Daripada Abdullah bin Ka‘ab bin Malik daripada bapanya: “Qais bin Syammas datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya lagi: “Ibunya kebetulan mati sebagai seorang Kristian dan dia ingin menghadiri mayatnya”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Naiki kenderaanmu dan berjalanlah di hadapan mayatnya, kerana apabila engkau menunggang dan engkau berada di hadapannya maka engkau tidak dikira bersamanya”.
(Hadis riwayat Ad-Daruqutni: 2/75-76)
Berdasarkan riwayat di atas, keharusan menghadiri dan mengucapkan takziah di dalam majlis yang ada padanya mayat orang kafir hanyalah sekadar menunjukkan simpati saja dan tidak terlalu dekat dengan mayat, manakala ketika membawanya ke tempat pengkebumian pula, maka beradalah di hadapan mayat, bukan di arah belakang.
Simpati (takziah) yang ditunjukkan itu hanya sekadar mujamalah saja dan kehadiran itu pula tidak sekali-kali dikaitkan dengan agama dan akidah. Dengan lain perkataan kehadiran itu bukan kerana mengikut acara keagamaan mereka.
Dengan yang demikian bertakziah dengan menghadiri mayat orang kafir daripada kalangan keluarga atau teman rapat dalam batas-batas yang tidak termasuk dalam acara keagamaan mereka adalah diharuskan.
Bersambung


Khamis, 12 April 2012

Siapakah Para Ulamak Yang Membolehkan Tawassul ?





Soalan :

Terdapat golongan yang ekstrim menghukum syirik ke atas umat Islam yang melakukan tawassul kepada RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam. Adakah perbuatan ini benar dan siapakah di kalangan para A'immah dan Huffaz yang membolehkan tawassul ?

Jawapan :

Al Allamah al Muhaddith al Arif billah, Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki telah membahas perkara tawassul ini dengan panjang lebar di dalam kitab beliau bertajuk Mafahim Yajibu an Tushahhah (lihat Muhiqq At Taqawwul fi Mas'alah at Tawassul dalam Rasa'il Hammah wa Mabahith Qayyimah, ms 397) Kemudian beliau menyenaraikan nama-nama para A'immah dan Huffaz yang membolehkan tawassul antaranya :

1. Al Imam Al Hafiz, Abu AbduLlah al Hakim dalam Al Mustadrak. (Di dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan Nabi Adan bertawassul dengan Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam dan mensahihkannya)

2. Al Imam Al Hafiz, Abu Bakar al Baihaqi dalam Dala'il an Nubuwwah (Beliau juga menyebut tentang hadith Nabi Adam bertawassul dengan Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan hadith-hadith yang berkaitan dengan tawassul.)

3. Al Imam al Hafiz, Jalal ad Din as Sayuthi dalam Al Khasha'ish al Kubra (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul).

4. Al Imam al Hafiz, Abu Al Farj Ibn Al Jauzi dalam Al Wafa (Beliau juga menyebut hadith Nabi Adam bertawassul dan hadith-hadith berkaitan.

5. Al Imam Al Hafiz Al Qadhi Iyadh dalam Asy Syifa' fi at Ta'rif bi Huquq al Mushtofa.

6. Al Imam, Syaikh Nur ad Din al Qari al Ma'ruf bin Mulla Ali Qari dalam Syarhnya kepada kitab Asy Syifa'.

7. Al Allamah Ahmad Syihab ad Din al Khaffaji dalam Nasim ar Riyadh (Kitab syarah kepada Asy Syifa')

8. Al Imam Al Hafiz, Al Qisthillani dalam Al Mawahib al Ladunniyyah (Beliau menyebutnya di awal kitab)

9. Al Allamah Syaikh Muhammad Abd al Baqi az Zarqani dalam Syarh (1/44) nya ke atas Al Mawahib.

10. Al Imam Syaikh al Islam, Abu Zakaria Yahnya An Nawawi dalam Al Idhah (Bab keenam, m.s 498. Lihat juga Al Majmu', 8/272)

11. Al Allamah Ibn Hajar al Haitami dalam Hasyiah (m/s 499) nya atas Al Idhah dan beliau menulis risalah khas tentang tawassul berjudul Al Jauhar al Munazzham.

12. Al Hafiz Syihab ad Din Muhammad bin Muhammad bin Al Jazari ad Dimasyqi Iddah al Husn al Hashin (disebutkan dalam tajuk Kelebihan Doa)

13. Al Allamah al Imam Muhammad bin Ali asy Syaukani dalam Tuhfah az Zakirin (m/s 761)

14. Al Allamah al Imam al Muhaddith Ali bin abd al Kafi as Subki dalam Syifa' as Siqam fi Ziyarah Khair al Anam (lihat Bab Kelapan, m/s 161)

15. Al Hafiz Imad ad Din Ibn Kathir dalam Tafsir al Qur'an al Azhim dalam Tafsir al Quran al Azhim.

16. Al Imam Al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fath al Bari (Beliau menyebutkan kisah seorang lelaki yang datang ke kubur RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan bertawassul dengan baginda dan mengatakan sanadnya sahih dalam Fath al bari (Lihat 2/495)

17. Al imam Al Mufassir Abu Abdullah al Qurthubi dalam Al Jami' li Ahkam al Quran (lihat 5/265)

18. Asy Syaikh Yusuf Khator Muhammad di dalam kitabnya Al Mausu'ah al Yusufiyyah fi Bayan Adillah ash Shufiyyah, menambah lagi nama-nama para ulama' selain daripada nama-nama di atas yang membolehkan tawassul atau yang menukilkan dalil-dalil daripada para A'immah di dalam kitab-kitab mereka termasuklah. (m/s 122-123)

19. Imam Syafie

20. Imam Ahmad bin Hanbal

21. Imam Malik. Seperti yang disebutkan oleh Al Allamah Ibn Hajar dalam Al Jauhar al Munazhzham dan Al Asqolani dalam Al Mawahib al Laduniyyah, dan As Samhudi dalam Khulashah al Wafa' dan al Qadhi Iyadh dalam asy Syifa' dengan sanad yang sahih dan selain dari mereka pun menyebutkan perkara yang sama.

22. Al Allamah Asy Syihab ar Ramli Asy Syafie.

23. Al Allamah Syaikh Ibn Muflih al Hanbali.

24. Al Allamah Syaikh Ala' ad Din Ali al Mardawi al Hanbali (lihat kitab al Inshaf 2/456)

25. Al Allamah Syaikh Ahmad al Mardawi.

26. Syaikh Yusuf an Nabhani.

27. Al Allamah Syaikh as Samiri (pengarang at Talkhish) (Lihat Kasyf al Qina', 2/29)

28. Syaikh Muhammad al Hamid (lihat Rudud ala Abathil, m/s 25-26)

29. Syaikh Ibn Taimiyyah (lihat Al Fatawa al Kubra, 1/105 dan 140)

30. Syaikh Ibn Al Qayyim al Jauziyyah

Menariknya turut tersenarai adalah nama pengasas Wahhabi iaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (lihat Fatawa Asy Syaikh Muhammad bin Abd al Wahhab fi Majmu'ah al Mu'allafat, Bahagian Ketiga m.s 68, yang telah disebarkan oleh Universiti al Imam Muhammad bin Su'ud al Islamiyyah pada Minggu As Syaikh Muhammad bin Abd al Wahhab. Adalah sangat pelik sekali golongan yang membolehkan mengadakan Minggu Asy Syaikh Muhammad bin Abd al Wahhab tetapi mengingkari Maulidur Rasul sallaLlahu 'alaihi wasallam !).

Dan Ulamak Wahhabi iaitu Syaikh Muhammad Nashir al Albani (lihat Syarh al Aqidah ath Thohawiyyah, Syaikh Muhammad Nashir al Albani m.s 46)

Ulamak terkini yang membolehkan :

31. Mufti Brunei (rujuk :  http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2001/ic80_2001.htm )

32.  Prof Dr Ali Jum'ah (lihatAl Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim)

33.Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buti Hafizahulla (lihat Al-Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Mazhaba Islami (1996), ms.155, 156).)

34. Sheikh Dr Abdul Malik Abd Rahman al-Sa’di (al-Bid’ah fi al-Mafhum al-Islami al-Daqiq)

35. Prof Dr Wahbah Az Zuhaili (lihat "فتاوى معاصرة" di muka surat 355)

Dan ramai lagi..

Sumber :

1. Muhadir bin Haji Joll, Persoalan Khilafiyyah & Penjelasan Ulama Inilah Jawapannya.., m.s 335-338, Cetakan Pertama 2011, Mawleed Publishing Sdn Bhd, Kuala Lumpur.

2. http://akitiano.blogspot.com/2010/11/pembelaan-terhadap-wahbah-al-zuhayli.html

3. http://drasmadinet.blogspot.com/2009/09/isu-tawassul.html