Halaman

Rabu, 3 Julai 2013

Apakah Aqidah Imam Asy Syafie Dan Bagaimana Beliau Berinteraksi dengan Ayat Mutasyabihat ?



1. Menafikan tempat, arah, waktu, had bagi Allah

Imam Asy Syafie rahimahuLlah (204) berkata :

Allah wujud tidak bertempat, Dia menciptakan tempat dan Dia tetap dengan sifat-sifat keabadianNya seperti mana sebelum Dia menciptakan makhluk. Tidak layak bagi Allah berubah sifatNya atau zatNya (Ittihaf Saadah Al Muttaqin : 2/24)

Dalam salah satu kitab karyanya; al-Fiqh al-Akbar [selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata:

“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

Pada bahagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata:

“Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak --secara terperinci-- membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak menguasai dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini --dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak memerlukan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

2. Menyerahkan makna ayat mutasyabihat kepada Allah (tidak mentafsirkannya, tidak membahaskannya)

Imam Asy Syafie rahimahuLlah berkata : Aku beriman (dengan nusus mutasyabihat) tanpa tasybih. Aku percaya tanpa tamsil. Aku menegah diriku dari cuba memahaminya. Aku menahan diriku dari mendalaminya dengan seboleh-bolehnya. (Daf'u Syubhah man Syabbaha oleh Imam Taqiyuddin ad Dimasyqi al Hisni (829 H) m/s 147)

3. Mentakwil ayat mutasyabihat


  • Imam Asy Syafie misalnya pernah mentakwil 'wajah Allah' yang terdapat dalam ayat, "Ke mana pun kamu menghadap, maka di situlah wajah Allah. (Surah al Baqarah ayat 115). Beliau berkata, maksudnya, wallahua'lam, maka di situlah arah, iaitu kiblat, yang telah Allah arahkan agar kamu menghadap kepadaNya. (Al Asma' wa As Sifat, jilid ke 2, hal-35)

  • Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RadiyaLlahu 'anhu, daripada Nabi SallaLlahu 'alaihi wasallam bersabda maksudnya : "Janganlah engkau mencela masa, sebab Allah ialah masa (Riwayat Muslim no 2246)

Hadis ini jika difahami secara zahirnya akan membawa kepada kerosakan akidah. Oleh itu, Imam Asy Syafie mentakwilnya sejajar dengan tradisi berbahasa Arab. Beliau berkata

"Takwilnya waLlahua'lam, bahawa bangsa Arab sering kali mencela masa ketika musibah menimpa mereka seperti kematian, keruntuhan, hilang harta dan lain-lain. Mereka mencela siang dan malam. Mereka berkata, mereka tertimpa ujian masa. Ditewaskan oleh masa. Mereka menjadikan malam dan siang sebagai pelakunya. RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam bermaksud, "Jangnlah engkau mencela masa sebagai pihak yang melakukan semua ini. Hal ini kerana jika engkau mencela pelaku semua ini, sesungguhnya engkau sedang mencela Allah kerana Allah yang melakukan semua ini." (Manaqib Asy Syafie 1/336)


Rujukan :

1. Umar Muhammad Noor, Mengenali Imam Asy-Syafi' Seorang Pejuang Sunnah, Cet Pertama 2013, Telaga Biru Sdn. Bhd. 2013, Selangor.

2. Dr Zamihan Al Ghari, Penyelewengan Fahaman Tajsim Wahhaby

1 ulasan:

  1. sedikit peringatan!!

    Terdapat penyelewengan terhadap Imam Syafei Rahimahullah dlm 1 terbitan buku yg berjudul "Akidah As-syafei" terbitan Pustaka Imam Syafei.

    Tulisan buku tersebut menyatakan bahawa tentang pegangan Imam Syafei, akan tetapi terdapat byk penyelewengan kerana terdapat pegangan tasbhih dan tajsim terhadap Allah. Nauzubillah..

    Sudah tersebar di setiap pasaran kedai buku..
    Mohon diambil tindakan.

    BalasPadam