Halaman

Isnin, 28 Jun 2010

Umur Saidatina Aisyah Ketika Berkahwin Dengan Nabi Muhammad SallaLlahu 'alaihi wasallam

Oleh : Ustaz Muhammad Husni Ginting

Seorang ulama di india yang bernama Habibur Rahman Shiddiqi al-Kandahlawi telah menulis sebuah buku tentang umur Sayyidah Aisyah kawin dengan Rasulullah s.a.w. mungkin tujuan orang tersebut baik, tetapi jika dilihat dari efek negatifnya lebih besar dan menghancurkan sendi agama islam, kenapa saya katakan demikian? sebab beliau telah membuat orang islam ragu dengan kesohihan kitab Sohih Bukhari, sebahagian teman yang membaca permasalahan ini hanya memikirkan tentang satu permasalahan akal dan adat kebiasaan, tetapi permasalahannya adalah mencakup keberadaan pembesar-pembesar ulama islam yang telah dipercaya berabad-abad untuk di ikuti, hal ini dianggap mempermainkan sunnah dan menolak kitab Sohih Bukhari, kita masih ingat tentang hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam permasalahan di sihirnya Rasulullah s.a.w. ada sebahagian orang yang tidak mempercayai hal tersebut dan bahkan menolak hadis tentang tersihirnya Rasulullah adalah hadis yang dibuat-buat, tetapi ulama ahli sunnah wal jama`ah telah menolak seluruh dakwaan mereka dan menjelaskan bahwa hadis itu sohih, terlebih-lebih terdapat di dalam sohih Bukhari, yang jelasnya anda perlu melihat kembali kedudukan Sohih Bukhari didalam pandangan ulama ahlu Sunnah wal Jama`ah, Bagaimana pendapat anda jika seorang tidak percaya dengan Sohih Bukhari, saya kira orang tersebut tidak pantas di gelar ahlu sunnah wal jama`ah, mari kita lihat komentar Imam al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya al-Isobah fi Tamyizi Sohabah :
Berkata al-hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani :

" Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq - telah terdahulu nasabnya didalam biografi ayahandanya Abdullah bin Abu Qahafah r.a, ibunya bernama Ummu Rumman binti `Aamir bin Uwaimir al-Kinaniyyah, dilahirkan setelah diutusnya Rasulullah s.a.w. sebagai Rasul empat tahun atau lima tahun, telah tsabit didalam Sohih al-bukhari bahwa Rasulullah saw telah mengawininya ketika beliau berumur enam tahun, menurut satu pendapat tujuh tahun, dan mungkin dapat digabungkan perselisihan pendapat ini dengan cara bahwa umur beliau telah sempurna enam tahun dan masuk kepada tujuh tahun, dan Rasulullah tinggal serumah dengan Sayyidah Aisyah ketika umurnya sembilan tahun

( lihat Isobah fi Tamyizi as-Sohabah : 4 / 478 ).

lihat juga ungkapan al-hafizh Ibnu Katsir seorang ulama yang sangat benci dengan syi`ah :

" adalah umur Sayyidah `Aisyah ketika kawin enam tahun, kemudian Rasul serumah dengannya ketika beliau ( Aisyah ) berumur sembilan tahun"
. ( lihat Bidayah Wa an-Nihayah : 8 /85 , terbitan Darul Manar Cairo ).

Lihat juga ungkapan dan nukilan Imam al-Hafizh Ibnu Abdul Bar ( wafat 463 H ) di dalam kitabnya al-Isti`ab :
" Aisyah Binti Abu Bakar shiddiq r.a. isteri Nabi Muhammad s.a.w., telah terdahulu kisah ayanya didalam bab yang khusus, ibunya Ummu Rumman binti `Aamir bin Uwaimir bin Abdu Syamsi bin`Attab bin Adzinah bin Saba` bin Dahman bin al-Harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.

Rasulullah saw mengawininya di Makkah dua tahun sebelum hijrah, ini adalah pendapat Abu Ubaidah, sementara pendapat yang lainnya mengatakan tiga tahun sebelum hijrahnya nabi, ketika itu beliau ( Aisyah ) masih berumur enam tahun, dalam satu pendapat mengatakan tujuh tahun, dan Rasulullah mulai hidup bersamanya di kota Madinah ketika beliau berumur sembilan tahun, Aku tidak pernah mengetahui adanya perselisihan pendapat diantara ulama dalam permasalahan ini ( permasalan tinggal bersamanya Rasul beserta Aisyah ).
( Lihat al-Isti`ab Fi Asma`i al-Ash-Hab :4 /171 , terbitan Maktabah Mesir ).

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) cukupkan nukilan tiga orang tokoh ahli sejarah dan ahli hadis yang profesional dan terpercaya dalan nukilannya, agar anda melihat siapa yang sebenarnya berbicara dengan fakta yang nyata, tidak perlu menggunakan akal dan adat karena adat berbeda setiap saat, waktu dan tempat, sementara akal membenarkan terjadinya pernikahan Rasulullah.

Didalam ungkapan Imam al-hafizh Ibnu Abdul Bar sangat nyata sekali bahwa beliau memutuskan tidak adanya perbedaan pendapat didalam masa tinggal bersamanya Rasulullah dengan Aisyah di kota Madinah.


Setelah itu mari kita lihat hadis-hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari didalam Sohihnya, adapun sebab saya belakangkan riwayat Sohih Bukhari karena kita mesti melihat komentar ulama besar yang hidup setelahnya, adakah disana terdapat kritikan dalam masalah tersebut atau tidak, ternyata seluruh ulama sepakat dengan kesohihan hadis yang terdapat di kitab Sohih Bukhari, perlu kita ketahui bahwa Imam Bukhari telah menyebutkan tentang permasalahan ini didalam kitabnya lebih dari enam tempat diantaranya :

1- Kitab Manaqib al-Ansor, Bab Tazwiji an-Nabi saw Aisyah Wa Qudumiha Ila al-Madinah Wa Bina`ihi Biha, hadis nomor 3894.

2 - Kitab Manaqib al-Ansor Bab Tazwiji an-Nabi saw Aisyah Wa Qudumihi Ila al-Madinah Wa Bina`ihi Biha, hadis nomor 3896.

3 - Kitab an-Nikah , Bab Inkahi ar-Rajul Waladahu as-Shighar, nomor 5133.

4 - Kitab an-Nikah, bab Tazwiji al-Abi Ibnatahu Min al-Imam, nomor 5134.

5 - Kitab an-Nikah, bab Man Bana Bi Imara`atihi wahiya binti Tis`a Sinin, nomor 5158.

Mari kita lihat salah satu hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari :

قال البخاري : حدثنا محمد بن يوسف : حدثنا سفيان عن هشام، عن أبيه ،عن عائشة رضي الله عنها : أن النبي صلى الله عليه وسلم تزوجها وهي بنت ست سنين ، وأدخلت عليه وهي بنت تسع، ومكثت عنده تسعا

Artinya : Berkata Imam Bukhari : Menceritakan kepada kami Muhammad bin yusuf, berkata ia : Menceritakan kepad kami Sufyan dari riwayat Hisyam, dari riwayat ayahnya, dari riwayat Aisyah r.a : Bahwasanya Nabi s.a.w. menikahinya ketika umur beliau enam tahun, dan hidup serumah dangannya ketika umur beliau ( Aisyah ) sembilan tahun, dan beliau hidup beserta Rasul selama sembilan tahun.
( H.R Bukhari : 5133 ) .

Adapun pendapat Syeikh Habibur Rahman al-Kandahlawi mengenai hadits yang telah Imam Bukhari sebutkan bukan hadis Rasul sehingga boleh di tolak lihat kata-kata beliau :

Berkata Habibur Rahman al-Kandahlawi :
" Kami telah mengkaji dengan terperinci hadis yang di riwayatkan oleh Hisyam. Untuk kajian ini kami telah mengumpulkan bukti-bukti dari pada kitab Sohih Bukhari, Sohih Muslim , Sunan Abu Daud, Jami` Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimi dan Musnad al-humaidi, setelah menela`ah kitab-kitab tersebut, sesuatu kemusykilan telah timbul, sebahagian perawi mengatakan riwayat tersebut sebagai kata-kata Aisyah, sedangkan setengah yang lain mengatakannya sebagai kata-kata Urwah. Yang pasti ia bukan kata-kata Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. ia sama ada kata-kata `Aisyah ataupun kata-kata Urwah yang merupakan seorang tabi`in, jika riwayat ini adalah perkataan Urwah , ia tidak mempunyai apa-apa nilai dalam Syari`ah. Dan kita juga tahu bahwa apabila berlaku perbedaan pendapat sama ada suatu riwayat itu Muttashil ( bersambung ) atau Mauquf ( terputus ) ulama hadis pada umumnya akan mengatakan ianya sebagai Mauquf. Berdasarkan prinsif ini bolehlah disimpulkan bahwa riwayat ini adalah cerita sejarah oleh Urwah ( dan bukan hadis ) dan tidak berdosa menolak kata-kata Urwah.


Komentar penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : Hadis ini sebenarnya telah diriwayatkan oleh Urwah dan disandarkan ceritanya kepada Sayyidah `Aisyah sebagimana yang tertulis didalam Sohih Bukhari dan telah diceritakan oleh Urwah juga tanpa menyandarkan cerita itu kepada `Aisyah, cerita yang telah diungkapkan oleh Urwah bukanlah Mauquf tetapi Mursal sebab cerita ini ada kaitannya dengan Rasulullah s.a.w. karena setiap hadis yang bersangkut paut dengan perkataan, perbuatan, keadaan sifat dan sebagainya yang diriwayatkan oleh Tabi`in tanpa menyebutkan sahabat dihukumkan Mursal oleh ulama hadits, sementara didalam riwayat yang lain Urwah telah menyandarkan riwayat tersebut kepada `Aisyah, dengan begitu jadilah riwayat Mursal tadi menjadi Mausul ( bersambung ), sebab itulah Imam Bukhari keluarkan didalam kitabnya, bukan seperti apa yang di ungkapkan oleh Syeikh Habibur Rahman, kalaupun ungkapan itu adalah kata-kata `Aisyah tetap saja hadis itu dihukumkan hadis Marfu` sebab hadis ini menceritakan hal keadaan Rasulullah.

Anda mesti memahami kaedah yang telah ulama hadis tentukan dalam memahami muttashil atau munqathi`nya tersebut, sebahagian dari kaedah tersebut adalah :

1 - Jika seorang perawi meriwayatkan hadis yang terdapat didalamnya cerita atau kejadian, maka jika yang diriwayatkan terjadi diantara Nabi s.a.w. dan para sebahagian sahabat, sementara si perawi seorang sahabat dan menyaksikan kejadian tersebut maka hukumnya adalah Muttashil.

Kaedah ini seperti kejadian diatas, perawinya `Aisyah, kejadian tersebut diantara Nabi dan `Aisyah, dan `Aisyah menyaksikan kejadian tersebut.

2 - Jika perawinya Sahabat tetapi tidak menyaksikan kejadian tersebut maka dihukumkan Mursal Sahabat, dan mursal sahabat boleh di jadikan hujjah.

3 - Jika perawinya seorang Tabi`in maka dihukumkan Munqati` (terputus sanadnya).

4 - Jika perawi seorang Tabi`in meriwayatkan dari pada seorang Sahabat dan ia menyaksikan kejadian tersebut maka dihukumkan Muttashil, jika perawi tidak menyaksikan kejadian tersebut tetapi kejadian tersebut disandarkan kepada seorang sahabat maka hukumnya hukum Muttashil.

5 - Jika perawi seorang Tabi`in yang tidak menyaksikan kejadian dan tidak menyandarkan kejadian tersebut kepada sebahagian sahabat maka hukumnya hukum Munqati`.

( Lihat al-Mulah Min Masa`ili al-Musthalah : 126, DR. Nasir Abdul Aziz al-Kamar ).

Dari kaedah ini kita mengetahui betapa jauhnya dugaan Syeikh Habibur Rahman al-Kandahlawi.

Dengan begitu hadis yang telah diriwayatkan oleh Urwah dihukumkan Muttashil sebab beliau telah sandarkan kepada Sayyidah `Aisyah.

Adapun hujjah Syeikh Abdur Rahman al-Kandahlawi yang menyatakan bahwa yang meriwayatkan dari Hisyam adalah ulama-ulama Kufah, sementara ulama -ulama terkenal dengan aqidah mereka yang Syi`ah maka jawabanya sebagai berikut:

Penulis ( Muhammad Husni Ginting ) : Adapun ulama yang meriwayatkan hadis ini dari Hisyam adalah :

1 - Sufyan Bin Unayyah : beliau adalah ulama besar yang agung dan terpercaya seluruh ulama islam memuji dan memulyakannya, berasal dari kufah tetapi tinggal di Makkah, lahir 107 hijriyah meninggal dunia di Makkah tahun 198 hijriyah.

Berkata Imam Syafi`i : Kalaulah tidak karena Imam Malik dan Imam Sufyan niscaya hilanglah ilmu hijaz. Berkata Imam al-`Ijli : Ahli Kufah yang Tsiqah, Tsabat dalam hadis, bagus hadisnya, dia tergolong orang bijaksana dari golongan ahli hadis. berkata Imam `Ali al-Madini : tidak ada diantara muridnya Imam az-Zuhri yang lebih profisional dari Imam Ibnu Uyainah. Berkata Imam Ahmad : Tidak pernah ku lihat seorang ahli fiqih yang lebih mengetahui al-Qur`an dan sunnah kecuali Beliau . ( Tahdzibu at-Tahdzib : 2 / 721 ).

2 - Sufyan Bin Said at-Tsauri : Beliau adalah ulama besar dan kepercayaan umat, meninggal dunia pada tahun 161 hijriyah. Berkata Imam Syu`bah, Ibnu Unayyah, Abu `Ashim, Ibnu Ma`in dan selain mereka : " Sufyan Amirul Mukminin didalam ilmu Hadis. Berkata Imam Ibnu Mahdi : Imam Wahab lebih mengunggulkan Sufyan ats-Tsauri dari Imam Malik dalam hafalan. Berkata Abdullah bin Mubarak : Aku menulis hadis dari seribu seratus Syeikh, tidak ada yang paling afdhol kecuali Sufyan ats-Tsauri. ( Tahdzib at-Tahdzib : 2 / 715 ).

Berkata al-Hafizh adz-Dzahabi : Beliau seorang Yang Tsiqah, Tsabat dan al-Hafizh ( al-KAsyif : 1 / 379 )

3 - Ali bin Mushir
4 - Abu Mu`awiyah al-Farid.
5 - Waki` bin Bakar .
6 - Yunus bin Bakar.
7 - Abu Salamah.
8 - Hammad bin Zaid.
9 - Abdah bin Sulaiman.

Dan lain-lainnya.

Penulis hanya menyebutkan dua orang ulama saja dengan biografi mereka, sebab mereka berdua adalah ulama umat yang telah sepakat seluruh ulama ahlussunnah dalam keagungan dan ke tsiqahan mereka berdua, bagaimana boleh Syeikh Habiburrahman menuduh mereka dengan pendustaaan dan penipuan, tidak ada satupun ulama islam yang menyebutkan bahwa mereka berdua bermazhabkan syi`ah, bahkan mereka berdua adalah pemimpin ulama ahlussunnah.


Sampai disinilah dulu pembahasan dalam masalah perkawinan Sayyidah `Aisyah r.a., insyaallah akan saya sambung kepada hujjah yang berikutnya.

Rujukkan :

1 - al-Jami` Sohih Bukhari terbitan Darus Salam Riyadh.

2 - Kasyif karangan Imam adz-Dzahabi, cetakan Darul Kutub Hadisah, Kairo.

3 - Tahdzibu at-Tahdzib Fi Rijali hadis, karangan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Darul Kutubu al-Ilmiyyah Bairut.

4 - Fathu al-Baari , karangan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, terbitan Dar al-Manar, Cairo.

5 - al-Isti`ab Fi Asma`i al-Ash-Hab, karangan al-Hafizh Ibnu Abdul Bar cetakan Maktabah Mesir Kairo.

6 - al-isobah Fi Tamyizi Sohabah, karangan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani, terbitan Maktabah Mesir Kairo.

Sumber : Http://Allangkati.Blogspot.Com

Ahad, 20 Jun 2010

Kesimpulan Penjelasan Tentang As-Sawad Al-A'zhom Bab 5

Ahlus-Sunnah wa Al-Jamaah adalah As-Sawad Al-A’zhom

Dalam terminologi yang digunakan oleh para ulama’, maka perkataan Ahlus-Sunnah wal Jamaah sering merujuk kepada majoriti ulama’ dan umat Islam atau dikenali sebagai As-Sawad Al-A’zhom. Manhaj dan pegangan mereka merujuk kepada aliran arus perdana sejak zaman berzaman setelah mencapai tahap At-Talaqqi bi Al-Qabul (mendapat penerimaan ulama’ Islam secara sepakat) yang tidak membawa kepada ruang kesesatan. Disebabkan Ahlus-Sunnah wal Jamaah ini secara penggunaannya merujuk dalam bidang aqidah, maka ianya sering merujuk kepada para ulama’ yang mengikut dua mazhab utama yang mendapat penerimaan oleh majoriti ulama’ Islam iaitulah mazhab Al-Asy’ari dan mazhab Al-Maturidi dalam bidang aqidah (di samping sebahagian Hanabilah yang masih berpegang dengan aqidah Tanzih).

Imam Ibn Rusyd Al-Maliki ketika ditanya tentang Al-Asya'irah dan Al-Maturidiyah, maka beliau menjawab:

“Mereka adalah yang dinamakan sebagai imam-imam yang menjadi ikutan, di mana dengan mengikuti mereka, merupakan suatu kwajiban kerana mereka membela syariat (bahkan aqidah Islam), membatalkan kesesatan fahaman yang songsang…Tiada siapa yang menyesatkan mereka melainkan dia adalah seorang yang jahil ataupun seorang ahli bid'ah”.
[Al-Fatawa 2/802]

Maka, dengan ukuran Imam Ibn Rusyd Al-Maliki Al-Jadd ini sendiri sudah secara jelas menunjukkan mereka yang menuduh Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah sebagai bid’ah sebenarnya merekalah (para penuduh tersebut) adalah ahli bid’ah kerana telah terkeluar daripada golongan As-Sawad Al-A’zhom.

Imam As-Safarini menegaskan bahawa, ahlus sunnah adalah:
golongan Athariyah (pelopornya ialah Imam Ahmad r.a.), golongan Al-Asya'irah dan golongan Al-Maturidiyah.
[Lawami' Al-Anwar Al-Bahiyyah: 73].

Cuma, golongan Athariyyah tidak mempunyai manhaj aqidah yang jelas kerana ramai pihak mendakwa mewakili golongan tersebut namun mempunyai manhaj yang saling bercanggah. Walaupun ianya lebih merujuk kepada golongan Hanabilah, namun dalam kelompok mereka juga ada pertentangan hebat khususnya antara aliran Imam Abu Fadhl At-Tamimi, Imam Ibn Al-Jauzi r.a. dan sebagainya yang berpegang dengan aqidah Tanzih dengan aliran Az-Zaghuni, Qadhi Abu Ya’la, dan sebagainya yang dituduh sebagai bermanhaj Tajsim atau Isbat Ma’na Zahir Mutasyabihat (menetapkan makna zahir bagi mutasyabihat).

Imam Az-Zabidi dalam Ittihaf Saadah Al-Muttaqin (1/6-7) juga berkata bahawa,
jika dikatakan tentang ahlus-sunnah wal jamaah, maka yang dimaksudkan adalah Al-Asya'irah dan Al-Maturidiyah.


Imam Ahmad ibn Hajar Al-Haithami berkata:

“Ahli bid’ah ialah orang yang berpegang dengan pegangan yang berbeza dengan aqidah Ahlus-Sunnah. Adapun Ahlus-Sunnah adalah aqidah yang dipegang oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, Abu Manshur Al-Maturidi dan mereka yang mengikut (manhaj) kedua-duanya.
[Al-Fatawa Al-Hadithiyyah m/s205]

Imam Ibn Asakir r.a. juga ada menyebut (sebagaimana telah dinukil sebelum ini):

فإن قيل أن الجم الغفير في سائر الأزمان وأكثر العامة في جميع البلدان لا يقتدون بالأشعري ولا يقلدونه ولا يرون مذهبه ولا يعتقدونه وهم السواد الأعظم وسبيلهم السبيل الأقوم قيل لا عبرة بكثرة العوام ولا التفات إلى الجهال الغتام وإنما الإعتبار بأرباب العلم والاقتداء بأصحاب البصيرة والفهم وأولئك في أصحابه أكثر ممن سواهم ولهم الفضل والتقدم على من عداهم على ان الله عزوجل

Maksudnya:

“Kalau dikatakan bahawa bilangan yang ramai dalam setiap zaman dan ramai orang awam (Al-Ammah) dalam setiap tempat tidak mengikut mazhab Al-Asy’ari (tidak mendalami perbahasan aqidah dengan manhaj Al-Asy’ari), tidak bertaqlid dengan mazhabnya, tidak melihat kepada mazhabnya dan tidak berpegang dengannya sedangkan mereka (Al-Asya’irah) adalah As-Sawad Al-A’zhom dan manhaj mereka (ulama’ Al-Asya’irah) adalah manhaj yang lurus. Maka, dikatakan (sebagai jawapan) tidak diambil kira banyaknya orang awam dan tidak dipandang (sebagai kayu pengukur) pada orang-orang jahil, kerana ukuran (As-Sawad Al-A’zhom) adalah di sisi ahli ilmu dan neraca ikutan adalah kepada Ashaab Al-Bashirah (yang mempunyai pandangan mata hati/neraca ilmu) dan kefahaman sedangkan mereka (para ulama’/ahli ilmu dan sebagainya) dalam pengikut mazhab Al-Asy’ari (Ashaabnya) lebih ramai daripada selainnya (ulama’ yang bukan Al-Asya’irah)…”
[Tabyiin Kazb Al-Muftari: 134]

Sheikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buti berkata dalam khutbah beliau berjudul Al-Asya’irah wa Al-Maturidiyyah:

من هم الأشاعرة والماتريدية؟ هم اللسان الناطق والمترجم لعقيدة السواد الأعظم لهذه الأمة، والسواد الأعظم هو ما قد أمر المصطفى صلى الله عليه وسلم باتباعه ((عليكم بالسواد الأعظم)) والأحاديث التي تركز على ضرورة اتباع السواد الأعظم من الأمة الإسلامية كثيرة، وقد بلغت فيما ذكره كثير من العلماء إلى درجة التواتر المعنوي.

Maksudnya:

Siapa Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah ini? Merekalah lisan yang bertutur dan menjelaskan tentang aqidah As-Sawad Al-A’zhom bagi Ummah ini. As-Sawad Al-A’zhom adalah apa yang diakui sendiri oleh Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- dan para pengikut Baginda dengan sabda Baginda: ((hendaklah kamu bersama dengan As-Sawad Al-A’zhom)). Hadith-hadith yang menjelaskan kepentingan mengikut As-Sawad Al-A’zhom ini amat banyak sehingga mencapai tahap Mutawatir Makna di sisi para ulama’.


[Sumber: http://www.ghrib.net/vb/showthread.php?t=11860 ]

Maka, seseorang itu hendaklah menyertai golongan majoriti ulama’ dan umat Islam atau As-Sawad Al-A’zhom yang juga disebut sebagai Al-Jamaah. Antara dalil yang menunjukkan kepentingan menyertai Al-Jamaah (majoriti ulama’ dan umat Islam) ini adalah firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berleluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”
. (Surah An-Nisa’: 115)

Imam Al-Khazin ketika menafsirkan ayat ini menafsirkan jalan orang-orang beriman tersebut dengan maksud Al-Jamaah. Bahkan, sebahagian ulama’ termasuk Imam As-Syafi’e menganggap dalil ini sebagai hujah Ijma’ dalam syariat Islam. [Tafsir Al-Khazin pada ayat berkenaan]

Kesepakatan Dalam Perkara Usul dalam Agama dan Perselisihan dalam Perkara Cabang

Imam Al-Munawi menyebutkan tentang As-Sawad Al-A’zhom dan Al-Jamaah:

((
وعليكم بالجماعة)) أي أركان الدين والسواد الأعظم من أهل السنة أي الزموا هديهم فيجب اتباع ما هم عليه من العقائد والقواعد وأحكام الدين

Maksudnya: “((Hendaklah kamu bersama dengan Al-Jamaah)) iaitu berpegang dengan rukun-rukun agama dan As-Sawad Al-A’zhom dari kalangan Ahlus-Sunnah. Iaitu, kamu ikutilah petunjuk mereka. Maka hendaklah seseorang itu mengikut apa yang mereka berpegang dengannya daripada Aqidah (Mazhab Aqidah), Qawa’id (Usul Aqidah dan Usul Fiqh) dan Hukum Agama (Mazhab Fiqh).
[Al-Faidh Al-Qadir 3/101]

Lihatlah Imam Al-Munawi membuat kesimpulan bahawasanya Al-Jamaah adalah suatu:

Rukun-rukun agama
As-Sawad Al-A’zhom
Ahlus-Sunnah

Maksudnya, berpegang dengan As-Sawad Al-A’zhom bererti berpegang dengan Ahlus-Sunnah. Berpegang dengan Ahlus-Sunnah bererti berpegang teguh dengan rukun-rukun agama. Berpegang dengan rukun-rukun agama tersebutlah bererti berpegang teguh dengan Al-Jamaah.

Maka, bagaimana dapat berpegang dengan As-Sawad Al-A’zhom? Imam Al-Munawi menyebutkan bahawasanya, kita perlu mengikut manhaj mereka dalam perkara-perkara aqidah, usul dan fiqh. Manhaj yang dimaksudkan sudah tentulah mazhab-mazhab Ahlus-Sunnah wal Jamaah samada dalam bidang aqidah, usul mahupun bidang fiqh. Maka, dalam tradisi pewarisan Ilmu Nabawi, ada mazhab-mazhab yang berkembang dalam bidang fiqh dan dalam bidang aqidah yang mendapat penerimaan majoriti ulama’ Islam sejak zaman berzaman. Maka, mazhab-mazhab tersebutlah yang perlu dipertahankan kerana mazhab-mazhab tersebutlah manhaj dan kerangka umum bagi Ahlus-Sunnah wal Jamaah itu sendiri. Hal ini jelas bagi mereka yang memahami tradisi perkembangan ilmu dan konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul dalam tradisi keilmuan Islam. Manhaj dan mazhab tersebut dikenali juga sebagai aliran arus perdana dalam kalangan ulama’ Islam khususnya melibatkan masalah-masalah usul agama (bukan furu’).

Rabu, 16 Jun 2010

Kesimpulan Penjelasan Tentang As-Sawad Al-A'zhom Bab 4

Penjelasan tentang Hadith Al-Ghuraba’

Sesetengah pihak turut menjadikan hadith Ghuraba’ dalam menolak konsep As-Sawad Al-A’zhom sebagai majoriti ulama’ Islam sejak zaman berzaman padahal hadith Ghuraba’ menceritakan tentang kurangnya dari kalangan masyarakat Islam sendiri yang ingin mengamalkan agama Islam secara sempurna walaupun ketika itu mereka sudah ramai. Ia sama sekali tidak bertentangan majoriti para ulama’ yang masih berpegang kepada manhaj dan asas kebenaran dalam agama.

Lihatlah perkataan Imam As-Sindi dalam mensyarahkan hadith Al-Ghuraba’ dengan berkata:


بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً



Maksudnya: “((Akan kembali asing)) dengan sedikitnya orang yang mendirikannya (mengamalkannya) dan membantunya walaupun ramai ahlinya (penganut agama Islam).”
[Syarah Sunan Ibn Majah: no: 3976]

Hadith ini juga tidak menafikan sama sekali konsep kebenaran yang tetap bersama dengan majoriti ulama’ Islam yang memimpin majoriti umat Islam sebagaimana yang disebut dalam hadith As-Sawad Al-A’zhom. Ini kerana, kedua-dua hadith (hadith As-Sawad Al-A’zhom dengan hadith Al-Ghuraba’) membincangkan dua konteks yang berbeza. Hadith As-Sawad Al-A’zhom menjelaskan tentang majoriti ulama’ Islam yang memimpin majoriti umat Islam dalam bidang agama yang tidak akan sesat dalam masalah usul agama sedangkan hadith Al-Ghuraba’ menceritakan tentang sedikitnya orang Islam yang mengamalkan agama dengan sempurna. Jadi, sangat berbeza antara “berpegang kepada kebenaran pada perkara usul” dengan “mengamalkannya secara sempurna”. Bahkan, berbeza juga antara membandingkan keseluruhan masyarakat Islam dengan majoriti ulama’ Islam sejak zaman berzaman yang disebut sebagai As-Sawad Al-A’zhom itu sendiri.


Oleh sebab itulah dalam Musnad Imam Ahmad ada menyebut syarah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tentang Al-Ghuraba’ iaitulah:


الذين يصلحون إذا فسد الناس

Maksudnya:

“Mereka yang melakukan kebaikan ketika manusia sudah rosak (banyak melakukan keburukan)”.
[hadith riwayat Imam Ahmad, no: 16049]

Dalam hadith Mursal pula ada menyebut maksud Al-Ghuraba’, bahawasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الذين يزيدون اذا نقص الناس



Maksudnya: “Mereka yang bertambah (amalan mereka) ketika manusia berkurangan (amalan mereka)”
[Madarij As-Salikin: 3/203]



Dalam suatu penjelasan yang lain berbunyi:



الذين يحيون سنتي ويعلمونها عباد الله



Maksudnya: “(Al-Ghuraba’) adalah mereka yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada para hamba Allah”.
[riwayat Imam Al-Bazzar (no:3287) dalam Kasyf Al-Astar, Imam Al-Khatib dalam Syarf Ashab Al-Hadith (m/s: 38) dan Ibn Abdil Bar dalam Jami’e Bayan Al-Ilm]



Maksudnya, mereka (Al-Ghuraba’) ini masih lagi mengamalkan ajaran murni Islam secara lengkap dan sempurna kerana kesempurnaan iman mereka, berbanding dengan ramai manusia yang sudah tidak lagi mahu mengamalkan ajaran Islam secara sempurna. Namun, aqidah dan kebenaran tetap bersama dengan majoriti ulama’ Islam dan majoriti umat Islam yang mengikut para ulama’ tersebut. Oleh yang demikianlah, konsep Al-Ghuraba’ dalam hadith ini sedikit pun tidak menolak maksud As-Sawad Al-A’zhom sebagai majoriti ulama’ Islam yang memimpin bidang agama majoriti umat Islam sejak zaman berzaman secara keseluruhan dari zaman awal Islam sehingga hari ini atau lebih dikenali sebagai manhaj arus perdana.



Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله

Maksudnya:

Sentiasa satu golongan daripada umatku akan menonjol (terzahir) di atas kebenaran yang tidak dapat dimudaratkan oleh mereka yang cuba menyaingi golongan tersebut sehinggalah datangnya urusan Allah (Hari Kiamat).




[Hadith riwayat Imam Muslim, no: 3544]



Imam An-Nawawi r.a. juga mensyarahkan hadith ini dengan menyebut:



وَأَمَّا هَذِهِ الطَّائِفَة فَقَالَ الْبُخَارِيّ : هُمْ أَهْل الْعِلْم , وَقَالَ أَحْمَد بْن حَنْبَل : إِنْ لَمْ يَكُونُوا أَهْل الْحَدِيث فَلَا أَدْرِي مَنْ هُمْ ؟ قَالَ الْقَاضِي عِيَاض : إِنَّمَا أَرَادَ أَحْمَد أَهْل السُّنَّة وَالْجَمَاعَة , وَمَنْ يَعْتَقِد مَذْهَب أَهْل الْحَدِيث , قُلْت : وَيَحْتَمِل أَنَّ هَذِهِ الطَّائِفَة مُفَرَّقَة بَيْن أَنْوَاع الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُمْ شُجْعَان مُقَاتِلُونَ , وَمِنْهُمْ فُقَهَاء , وَمِنْهُمْ مُحَدِّثُونَ , وَمِنْهُمْ زُهَّاد وَآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَاهُونَ عَنْ الْمُنْكَر , وَمِنْهُمْ أَهْل أَنْوَاع أُخْرَى مِنْ الْخَيْر , وَلَا يَلْزَم أَنْ يَكُونُوا مُجْتَمعِينَ بَلْ قَدْ يَكُونُونَ مُتَفَرِّقِينَ فِي أَقْطَار الْأَرْض


Maksudnya:

“Adapun At-Tho’ifah ini maka:-

Imam Al-Bukhari berkata: Mereka adalah ahli ilmu.

Imam Ahmad bin Hanbal r.a. berkata: Kalau mereka bukan ahli hadith, maka saya tidak tahu siapa mereka.

Imam Al-Qadhi Iyadh Al-Maliki berkata: Imam Ahmad bermaksud mereka adalah Ahlus-Sunnah wal Jamaah dan mereka yang berpegang dengan mazhab ahli hadith.


Saya katakan (Imam An-Nawawi):
Golongan ini membawa maksud yang pelbagai dalam jenis orang-orang beriman yang berbeza yang mana antara mereka adalah para pejuang yang berani, para fuqaha’, para ahli hadith, ahli zuhud, mereka yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan dan sebahagian mereka adalah mereka yang dari golongan-golongan lain dalam kebaikan. Mereka ini tidak semestinya berhimpun (di sesuatu tempat atau dalam sesuatu golongan) tetapi boleh juga terpisah-pisah di serata pelusuk dunia.”
[Syarah Imam An-Nawawi kepada hadith tersebut]



Jadi, Imam An-Nawawi r.a. sendiri menceritakan tentang golongan yang ramai yang sentiasa menonjol dalam masyarakat Islam dan tidak pernah dikalahkan oleh mana-mana pihak yang menyalahi mereka. Golongan tersebut adalah ahli ilmu dan para ulama’ yang berpegang kepada manhaj yang benar dalam perkara-perkara usul.



Konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul dalam Manhaj Keilmuan Islam



Konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul adalah suatu konsep asas dalam membentuk manhaj dalam aliran As-Sawad Al-A’zhom. Ini kerana, kitab-kitab karangan ulama’, manhaj dan disiplin ilmu agama sentiasa berkembang mengikut keperluan semasa dan kepentingan dalam menjaga kefahaman agama yang sahih. Setiap manhaj yang tumbuh dan disiplin ilmu baru yang berkembang dalam insititusi ulama’ sentiasa dinilai dan dikaji secara adil berdasarkan ukuran keilmuan oleh para ulama’. Maka, setiap disiplin dan manhaj yang diterima oleh As-Sawad Al-A’zhom (majoriti ulama’ Islam) akan terus dipertahankan kerana mereka tidak akan sepakat dalam kesesatan.



Selain daripada konsep penerimaan ramai ulama’ tentang kitab-kitab karangan ulama’, konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul juga berlaku dalam manhaj atau metodologi keilmuan Islam dalam rangka menjaga manhaj tersebut. Apa yang dimaksudkan dengan manhaj keilmuan Islam ini adalah, suatu struktur atau kerangka umum yang menghimpunkan kaedah-kaedah dan disiplin keilmuan untuk berinteraksi dengan sumber agama secara sahih dalam usaha untuk memahami ajarannya secara sahih.



Dalam perkembangan ilmu mengenai hukum-hakam syariat Islam, ilmu fiqh pada awalnya berkembang sebagai sarana yang menghimpunkan ijtihad-ijtihad ulama’ berdasarkan sumber agama seperti Al-Qur’an, As-Sunnah dan sebagainya. Maka, sejajar dengan perkembangan ilmu-ilmu yang menjaga sumber agama seperti ilmu Nahu, Ilmu Rijal, Ilmu Qiraat dan sebagainya, ilmu-ilmu lain yang menjaga manhaj sahih dalam berinteraksi dengan sumber agama juga turut berkembang. Ilmu itu akhirnya dikenali sebagai Usul Fiqh.

Perpaduan antara Ilmu Fiqh yang merangkumi ijtihad para ulama’ dengan ilmu Usul Fiqh akhirnya dikenali sebagai mazhab fiqh. Ia adalah nama lain bagi suatu manhaj atau disiplin ilmu dalam memahami syariat Islam melalui sumbernya. Empat mazhab fiqh mendapat penerimaan dalam kalangan ulama’ Islam secara meluas walaupun pada awalnya, masih banyak mazhab-mazhab fiqh ulama’ lain yang berkembang dalam masyarakat Islam di zaman salaf.

Namun, Allah s.w.t. memelihara empat mazhab fiqh ini (iaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’e dan Hanbali) dan ianya diterimapakai malah dikembangkan oleh para ulama’ Islam yang berkhidmat terhadap mazhab masing-masing. Setelah itu, tradisi Tamazhub (bermazhab) menjadi suatu tradisi yang diterima pakai oleh para ulama’ Islam secara sepakat. Tradisi Tamazhub (bermazhab) dalam kalangan ulama’ Islam sebenarnya bukanlah suatu tradisi Taqlid atau berpegang kepada sesuatu perkataan tanpa dalil, tetapi tradisi bermazhab yang diamalkan oleh ulama’ Islam adalah suatu tradisi Ittiba’ Manhaji atau mengikuti seseorang ulama’ dari sudut metodologi dan disiplin dalam berijtihad dan menggali hukum syarak daripada sumbernya.


Hatta, para ulama’ yang menerima dan mengikut sesuatu mazhab fiqh sebenarnya memperjuangkan mazhab yang dipegang dan menyebarkannya atas dasar Ijtihad mereka terhadap kebenaran sesuatu Manhaj fiqh tersebut dalam neraca umum Islam. Oleh sebab itulah, tradisi bermazhab dalam ulama’ Islam tidak boleh disamakan dengan amalan Kristian yang sekadar bertaqlid kepada para paderi mereka terdahulu tanpa suluhan wahyu kerana dari sudut sumber agama mereka sahaja sudah diragui.



Ia berbeza dengan masyarakat awam di mana masyarakat awam pada asasnya tidak mengamalkan tradisi bermazhab dalam erti kata yang khusus kepada mazhab-mazhab besar tersebut secara langsung, tetapi lebih bersifat bertalqid kepada para ulama’ dan para mufti tempatan yang menjaga urusan agama di tempat mereka. Ini kerana, mereka tidak menguasai disiplin ilmu untuk menggali hukum hakam secara sendirian dan tidak menguasai kerangka usul sesuatu mazhab sehingga dapat berinteraksi dengan sesuatu mazhab secara langsung. Secara asasnya, taqlid berbeza dengan ittiba’ yang boleh dilihat perbahasannya dalam kitab-kitab Usul Fiqh walaupun kedua-duanya adalah antara bentuk-bentuk tamazhub (tradisi bermazhab).

Tradisi bermazhab berkembang berdasarkan penilaian para ulama’ terhadap kesempurnaan manhaj penggalian hukum dan pendalilan para ulama’ mujtahid mustaqil (terasing) yang telah mereka susun seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’e dan Imam Ahmad. Lalu, para fuqaha’ yan lahir setelah mereka khususnya yang mempelajari ilmu fiqh daripada para ashaab (murid-murid) para imam tersebut hanya mengembangkan sahaja manhaj para imam mujtahid tersebut. Maka, walaupun pintu ijtihad tidak ditutup sepenuhnya tetapi tiada ruang lagi untuk membuat suatu manhaj tersendiri yang baharu yang belum pernah disusun oleh para mujtahid terdahulu.

Imam Az-Zarkasyi berkata tentang perkara ini:

وهذا كله يوضح أن الضرورة دعت المتأخرين إلى اتباع المتقدمين ، لأنهم سبقوهم بالبرهان حتى لم يبقوا لهم باقية يستبدون بها ، وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء ، ولكن الفضل للمتقدم ، وظهر بهذا تعذر إثبات مذهب مستقل بقواعد


Maksudnya:

“Ini semua menunjukkan bahawasanya sangat penting bagi golongan ulama’ terkemudian untuk mengikut golongan ulama’ terdahulu kerana mereka sudah mendahulu mereka (golongan terkemudian) dari sudut penguasaan dalil-dalil sehingga tiada lagi tersisa bagi mereka (ulama’ terkemudian) untuk menzahirkan dengannya (dalil-dalil lain). Inilah kelebihan Allah yang diberikan kepad sesiapa yang Dia kehendakinya. Akan tetapi, kelebihan tersebut ada pada golongan ulama’ terdahulu, maka terzahirlah suatu keuzuran dalam menetapkan suatu mazhab lain yang tersendiri dengan kaedah-kaedah (tersendiri)…”
[Al-Bahr Al-Muhith 8/217]



Oleh sebab itulah kita perlu fahami, di mana, sebahagian para fuqaha’ menjelaskan bahawasanya pintu Ijtihad sudah tertutup itu sebenarnya bererti, suatu Ijtihad dengan mengadakan sebuah mazhab tersendiri yang baharu, yang berbeza dengan mazhab-mazhab yang sudah diterima oleh ummah samada Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’e mahupun Mazhab Hanbali. Oleh yang demikian, sebahagian para fuqaha’ lain masih berpegang kepada pintu Ijtihad masih terbuka iaitulah Ijtihad Tarjihi (menguatkan salah satu daripada pendapat para ulama’ yang saling berselisihan) dan Ijtihad dalam masalah yang baharu.



Imam Al-Khattab berkata:

التقليد هو الأخذ بقول الغير من غير معرفة دليله ، والذي عليه الجمهور أنه يجب على من ليس فيه أهلية الاجتهاد أن يقلد أحد الأئمة المجتهدين سواء كان عالما أو ليس بعالم

Maksudnya:

Taqlid adalah mengambil perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Maka, majoriti ulama’ mengatakan bahawasanya wajib bagi orang yang tidak mempunyai keahlian untuk berijtihad agar bertaqlid kepada para imam mujtahid samada orang tersebut seorang yang berilmu atau tidak.
[Mawahib Al-Jalil 1/30]



Imam Al-Ghazali r.a. berkata:

مسألة تقليد العامي للعلماء: العامي يجب عليه الاستفتاء واتباع العلماء

Maksudnya:

Masalah pada taqlid seorang awam kepada ulama’. Maka, seorang awam perlu meminta fatwa daripada para ulama’ dan mengikut para ulama’.
[Al-Mustashfa: 1/372]



Oleh sebab itulah kita dapati, para ulama’ hadith yang menguasai bidang Riwayah juga tetap mengikut mazhab fiqh para ulama’ mujtahid yang mendapat penerimaan ulama’ Islam secara sepakat. Ini kerana, mazhab fiqh sudah menghimpunkan sudut Dirayah dan Riwayah dalam bidang syariah Islamiyyah.

Antara para ulama’ hadith yang bermazhab adalah:

Bermazhab Hanafi: Imam At-Tahawi, Imam Az-Zil’ie, Imam Al-‘Aini, Imam Al-‘Ala’ie, Imam Al-Muttaqi Al-Hindi, Imam Al-Mubarakfuri, Imam Al-Azhimabadi, Imam Al-Laknawi, Imam Al-Kandahlawi dan sebagainya.

Bermazhab Maliki: Imam Ibn Abdil Bar, Imam Al-Qadhi ‘Iyadh, Imam Ibn Al-Munir, Imam Ibn Bathal, Imam Ibn Arabi, Imam Ar-Zarqani dan sebagainya.



Bermazhab Syafi’e: Imam Abu Zur’ah, Imam Ibn Abi Hatim, Imam At-Tirmizi, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Ad-Darqutni, Imam Al-Hakim, Imam Al-Baihaqi, Imam Ar-Ruyani, Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, Imam Ibn ‘Asakir, Imam Ibn As-Sholah, Imam An-Nawawi, Imam Al-‘Iraqi, Imam Ibn Jama’ah, Imam Ibn Hajar Al-Asqollani, Imam As-Sakhawi, Imam As-Suyuti, Imam Al-Munawi dan sebagainya.

Bermazhab Hanbali: Imam Abu Daud, Imam An-Nasa’ie, Imam Al-Khallal, Imam Ibn Al-Jauzi, Imam Al-Maqdisi, Imam Ibn Rajab dan sebagainya.

[rujuk kitab At-Tamazhub m/s 111 oleh Sheikh Abdul Fattah Al-Yafi’e]


Maka, penerimaan ulama’ Islam terhadap keempat-empat mazhab fiqh tersebut adalah hasil ijtihad mereka dalam mempertahankan mazhab-mazhab tersebut terutamanya sebagai disiplin ilmu untuk memahami nas dalam bab syariat. Maka, penerimaan para ulama’ terhadap mazhab-mazhab fiqh ini menunjukkan ianya diterima baik dalam tradisi keilmuan Islam. Sebagaimana kedudukan Sahih Al-Bukhari yang diterima oleh para ulama’ secara menyeluruh sebagai sumber agama paling sahih selepas Al-Qur’an lalu ianya tidak dipertikaikan lagi, begitu jugalah mazhab-mazhab fiqh sebagai disiplin untuk menggali hukum daripada sumber agama.

Ramai orang awam tidak memahami tradisi bermazhab dalam kalangan ulama’ Islam lalu menyangka bermazhab hanya sebagai mengikut perkataan seseorang ulama’ semata-mata. Jika seseorang ulama’ berbeza pendapat dengan ulama’ sesuatu mazhab bererti sudah menyalahi mazhab imam tersebut. Ini suatu kekeliruan yang nyata berdasarkan neraca keilmuan yang sebenar.

Oleh kerana itu didapati berlaku perbezaan pendapat antara sebahagian Fuqaha’ Syafi’iyyah dengan pendapat dan ijtihad asal Imam As-Syafi’e dalam sesuatu masalah, namun tidak menjadikan para Fuqaha’ Syafi’iyyah tersebut terkeluar daripada disiplin mazhab As-Syafi’e kerana secara asasnya, mengikut mazhab seseorang ulama’ itu merujuk kepada mengikut kerangka usul Fiqh dalam sesuatu mazhab tersebut di samping ijtihad mereka. Oleh sebab itulah muncul istilah seperti Ashab Al-Wujuh (para ulama’ yang mana ijtihad mereka dirujuk dalam sesuatu mazhab), Al-Mu’tamad fi Al-Mazhab (Ijtihad yang muktamad dalam sesuatu mazhab fiqh) dan sebagainya. Mazhab Fiqh bukanlah suatu mazhab yang merujuk kepada pelopor utamanya sahaja (yang dikenali sebagai Imam Al-Mazhab), tetapi merujuk kepada para Fuqaha’ yang mengembangkan mazhab seseorang imam itu juga.

Sepertimana dalam mazhab dalam bidang fiqh, dalam bidang aqidah juga wujud mazhab-mazhab yang mencapai tahap penerimaan ulama’ Islam secara majoriti. Mazhab-mazhab tersebut adalah mazhab Al-Asy’ari dan mazhab Al-Maturidi. Mazhab-mazhab ini adalah penerus kepada pegangan As-Salaf As-Sholeh dalam masalah aqidah tetapi dirangka dalam bentuk yang lebih teratur dengan gabungan hujah secara naqli dan aqli.

Akhirnya, kedua-dua mazhab ini mencapai tahap At-Talaqqi bi Al-Qabul dan terus dikembangkan oleh majoriti ulama’ Islam sepanjang zaman. Ini menunjukkan keagungan dan keutuhan mazhab aqidah tersebut dalam konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul di sisi majoriti ulama’ Islam. Kedua-dua golongan ini (Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah) akhirnya lebih dikenali sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Imam Az-Zabidi meriwayatkan dalam kitab tersebut bahawa: Imam Al-Khayali berkata dalam Hasyiyah ‘Ala Syarh Al-‘Aqa’id :
“Al-Asya’irah adalah ahlus-Sunnah wal Jamaah…Disebutkan juga Ahlus-Sunnah wal Jamaah kepada golongan Al-Maturidiyyah pengikut Imam Abu Manshur Al-Maturidi…”
[Ittihaf Saadah Al-Muttaqin]

Isnin, 7 Jun 2010

Hukum Berkaitan Patung, Lukisan Gambar Dan Foto

Soalan:

Mengikut hukum syara’ dan dalam Islam adalah ditegah untuk membina atau membuat patung-patung sama ada patung manusia atau binatang. Tapi apakah fatwa Yang Dimuliakan Pehin mengenai patung-patung binatang yang ada dibina di Jerudong Park Playground dan jua pada tiap-tiap malam termasuk malam Jumaat dibukakan kepada orang ramai? Harap Pehin dapat berikan penjelasan dengan tabah dan berani.

Jawapan:

َالحَمْدُ ِللهِ َربِّ الْعَلَمِيْنَ, وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ,أللهم هداية للصواب, وَبَعْدُ


Definisi

Apabila disebut patung, maka akan segera diertikan sebagai suatu ukiran daripada batu, besi dan sebagainya yang mempunyai bentuk dan rupa paras dengan tubuh badan serta segala anggota bagi sesuatu objek tertentu yang hendak digambarkan dalam bentuk ukiran tersebut.

Ini bererti bahawa patung itu ialah gambar yang mempunyai jisim (tubuh badan dengan segala anggotanya) dan bayang. Dalam bahasa Arab dikenali sebagai timtsâl atau bila banya disebut tamâtsîl.

Dengan ini patung berbeza daripada gambar yang tiada berjisim dan tidak mempunyai bayang.

Bentuk-Bentuk Patung

Bagi mengetahui hukum masalah di atas kita perlu melihat kepada bentuk-bentuk patung dan juga gambar-gambar seperti berikut:

(i) Patung bagi benda (objek) yang bernyawa (ada baginya nyawa), sama ada manusia, binatang dan lainnya yang lengkap dengan segala anggota tubuh badan serta ada baginya jisim dan bayang.

(ii) Patung bagi tujuan pendidikan, pengajaran atau pembelajaran.

(iii) Patung yang tidak lengkap dengan anggota yang diperlukan bagi ia hidup.

(iv) Gambar atau lukisan benda bernyawa diletakkan pada tempat-tempat terhormat dan tidak menghinakan.

(v) Gambar atau lukisan benda bernyawa yang dipotong-potong dan dijadikan suatu benda lain dan digunakan dalam bentuk menghinakannya seperti bantal.

(vi) Gambar atau lukisan bagi benda-benda yang bernyawa yang diperlukan bagi sesuatu tujuan yang tidak bercanggah dengan syara’.

(vii) Gambar atau lukisan bagi benda-benda yang tidak bernyawa.

Berikut dinyatakan hukum-hukum yang berkenaan dengan setiap bentuk yang tersebut di atas berserta dengan dalil-dalil dan pendapat-pendapat ulama Islam yang muktabar terutama dalam Mazhab Imam Syafi’e Radhiallahu ‘anhu.

Hukum

1. Hukum membina atau membuat patung bagi benda yang bernyawa seperti manusia atau binatang-binatang yang lengkap dengan segala anggota tubuh badannya, berjisim dan ada bayang adalah haram dengan ijma’ seluruh ulama daripada semua Mazhab Ahli Sunnah Wal Jemaah dan wajib dirobohkan, sama ada diletakkan di tempat terhormat atau tempat yang menghinakannya. Manakala membinanya atau membuatnya adalah merupakan suatu dosa besar iaitu dosa besar yang kedua ratus enam puluh lapan seperti yang disebut oleh Imam Ibnu Hajar di dalam kitabnya Al-Zawâjir, kecuali jika disediakan semata-mata untuk tujuan pendidikan atau sebagai alat pengajaran dan pembelajaran seperti kanak-kanak sebagai mainan kepada kanak-kanak perempuan bagi tujuan latihan dan pendidikan dan latihan untuk masa depannya sebagai ibu. Demikian juga dengan patung manusia atau binatang yang lengkap atau sebahagian sahaja daripada anggota tubuh badan tertentu bagi tujuan pengajaran dan pembelajaran di sekolah-sekolah dan di pusat-pusat pengajian tinggi seperti di Kolej atau di Fakulti Perubatan. Patung-patung atau sebahagian anggotanya untuk tujuan ini adalah harus dibuat, dimiliki dan digunakan, kerana diperlukan (hajat), sama ada daripada batu, besi, kayu dan plastic atau lain-lainnya. Manakala patung yang dibina atau dibuat untuk tujuan selain daripada pendidikan, pengajaran dan pembelajaran adalah diharamkan dan merupakan dosa besar iaitu patung bagi benda yang bernyawa, dalam apa sahaja bentuk dan rupanya, diletak pada tempat yang dihormati atau hina, di atas tanah atau lainya, sekalipun patung itu tidak ada baginya bandingan seperti kuda berkepak atau bersayap. Dalil bagi pengharaman dan sebagai dosa besar tersebut ialah berdasarkan beberapa hadits shahih daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengugut, mengancam dan memberi amaran dengan azab pada Hari Kiamat terhadap mereka yang mengukir patung-patung tersebut dan membuat atau membinanya, antaranya:


(i) Hadits Bukhari dari Muslim Ibnu Shabih Abu Dhuha berkata:

كنا مع مسروق فى دار يسار بن نمير فرأى فى صفته تماثيل فقال سمعت عبدالله (ابن مسعود رضى الله عنه) قال سمعت النبى صلى الله عليه وسلم يقول إن أشد الناس عذابا عند الله يوم القيامة المصورون

Maksudnya: “Kami sama-sama Masruq di rumah Yasar Ibnu Numair, tiba-tiba dia terlihat di ruang rumah itu ada beberapa patung.” Lantas dia terus berkata: “Aku telah mendengar daripada Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bahawasanya manusia yang paling berat azabnya di sisi Allah pada Hari Kiamat ialah para pembuat gambar (patung).”


(ii) Hadits Imam Bukhari dengan sanadnya daripada Nafi’ bahawasanya Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma Shallallahu ‘anhuma menceritakan kepadanya, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

إن الذين يصنعون هذه الصور يعذبون يوم القيامة يقال لهم أحيواما خلقتم

Maksudnya: “Bahwasanya mereka yang membuat gambar-gambar (patung) ini akan dikenakan seksa pada Hari Kiamat kelak, dikatakan kepada mereka (dipaksa): “Hidupkanlah patung yang kamu buat itu.”


2. Dalam satu riwayat lagi oleh Bukhari dengan sanadnya Sa’id Ibn Abi ‘Arubah yang banyak bermulazimah (berdampingan) dengan Qatadah, yang kebetulan pada suatu hari Qatadah ada bersama-sama dengan Al-Nadhru bin Anas bin Malik, Al-Nadhru menceritakan kepada Qatadah, sambil didengar oleh Sa’id yang bersama-sama dengan mereka, Al-Nadhru berkata:
“Suatu hari aku duduk di sisi Ibnu ‘Abbas, di ketika itu ramai orang yang bertanya masalah dan meminta fatwa daripadanya, Ibnu ‘Abbas menjawab persoalan-persoalan itu tanpa menyebut sebarang dalil daripada Al-Sunnah (hadits) sehinggalah ditanyakan oleh seorang lelaki dari Iraq yang bekerja sebagai tukang kayu, katanya kepada Ibnu ‘Abbas: “Aku membuat gambar ini”, dalam riwayat lain katanya: “Kehidupanku adalah melalui kerja tanganku iaitu membuat gambar (mengukir kayu-kayu menjadi patung), maka apakah yang tuan boleh memberi apa-apa perintah tuan kepada saya (berhubung dengan perkara ini)” Di sini Ibnu ‘Abbas menjawab katanya:

سمعت محمدا صلى الله عليه وسلم يقول من صور صورة فى الدنيا كلف يوم القيامة أن ينفخ فيها الروح وليس بنافخ
Maksudnya: “Aku dengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membuat sebarang gambar di dunia ini akan diseksa pada Hari Kiamat kelak dengan memaksa dia supaya meniupkan padanya roh, sedangkan dia tidak mampu sama sekali meniupkan roh (menghidupkan).”


Dalam riwayat yang lain, apabila Ibnu ‘Abbas melihat lelaki itu tidak senang dengan jawapannya, maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya:

ويحك ! إن أبيت إلا أن تصنع فعليك بهذا الشجر

Maksudnya: “Celaka kau! Jika terpaksa juga engkau kerjakan, maka buatlah gambar pokok.”


Dalam riwayat Muslim dan Ahmad, kata Ibnu ‘Abbas menjawab bagi pertanyaan lelaki tersebut:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول كل مصور فى النار يجعل له بكل صورة صورها نفسا فتعذبه جهنم
Maksudnya: “Aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap penggambar (pembuat patung) diazab / diseksa dalam neraka, dijadikan setiap gambar (patung) itu roh sebagai alat penyeksa terhadapnya di dalam neraka jahanam.

Maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya:

فإن كنت لابد فاعلا فاصنع الشجر وما لا نفس له
Maksudnya: “Jika awak terpaksa juga melakukan pekerjaan itu (membuat patung), maka buatlah (gambar) tumbuh-tumbuhan dan benda-benda yang tidak bernyawa.”


3. Manakala patung benda bernyawa bagi tujuan pendidikan, pengajaran dan pembelajaran, kata Ibnu Hajar Al Asqalani: “
Patung yang diharamkan dengan ijma’ itu tidak termasuk pating mainan kanak-kanak perempuan.”
Dan Imam Nawawi juga ada berkata:
“Dikecualikan daripada haram membuat patung dan penggunaannya; patung mainan kanak-kanak perempuan, kerana ada riwayat daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberi ruhkshah (kelonggaran) mengenainya”


Kelonggaran atau pengecualian ini adalah berdasarkan hadits Bukhari dengan sanadnya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhu katanya:

كنت ألعب بالبنات عند النبى صلى الله عليه وسلم وكان لى صواحب يلعبن معى فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل يتقمعن منه فيسربهن إلى فيلعبن معى
Maksudnya: “Aku bermain-main anak patung di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku ada beberapa orang kawan bermain-main bersama-samaku. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membiarkan mereka bermain –main denganku.”


Jadi hadits ini bermaksud ‘Aisyah bermain dengan anak-anak patung bersama dengan kawan-kawanya, bukanlah bermakna ‘aisyah bermain –main dengan kawan-kawannya sahaja, ini dijelasskan oleh riwayat Jarir daripada Hisyam, di dalamnya terdapat perkataan ‘Aisyah berbunyi:

كنت ألعب بالبنات وهن اللعب
Maksudnya: “Aku bermain-main dengan anak-anak perempuan iaitu anak-anak mainan (patung).”


Hadits ini diterbitkan oleh Abu ‘Awanah dan lainnya. Juga Abu Daud dan Nasa’i ada meriwayatkan cerita lain daripada ‘Aisyah (yang menunjukkan ada patung-patung mainan kepada ‘Aisyah) katanya:


قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم من غزوة تبوك أو خيبر – فذكر الحديث فى هتكه الستر الذى نصبته على بابها, قالت: فكشفت ناحية الستر عن بنات لعائشة لعب فقال ما هذا يا عائشة قالت بناتى, ورأى فيها فرسا مربوطا له جناحان فقال ما هذا؟ قلت فرس قال فرس له جناحان قلت ألم تسمع أنه كان لسليمان خيل لها أجنحة؟ فضحك
Maksudnya: “Setibanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada peperangan Tabuk dan Khaibar, lalu diceritakan kisah di mana Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam menurunkan kain yang direntangkan pada pintunya, di sini Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam terlihat di sebalik kain rentang itu ada beberapa anak patung perempuan mainan kepada ‘Aisyah. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apa ini wahai ‘Aisyah?” Jawabnya: “Anak-anak patung perempuan milikku.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam terlihat pula kepada patung kuda dalam keadaan terikat ada baginya dua sayap! Maka Rasulullah bertanya: “Apa ini?” ‘Aisyah menjawab: “Kuda.” Kata Rasulullah: “Kuda ada dua sayap!” Jawab ‘Aisyah: “Tidakkah Tuan pernah dengar bahawa ada bagi Nabi Sulaiman kuda-kuda yang mempunyai beberapa sayap? Maka rasulullah tertawa.”


Kata Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani selepas membawa hadits ini daripada beberapa riwayatnya:
“Maka ini adalah merupakan dalil yang jelas menunjukkan bahawa yang dimaksudkan ialah anak-anak patung daripada mainan perempuan, bukannya anak-anak perempuan daripada manusia.” Tetapi Imam Malik berkata: “Makruh bapa membeli patung mainan kepada anak perempuannya.”
Bahkan setengah ulama berpendapat bahawa kebenaran pada membuat dan menggunakan patung mainan kanak-kanak perempuan itu telah dimansukhkan kepada hadits-hadits yang melarang seperti yang disebut di atas.


4. patung benda bernyawa yang berjisim dan ada bayang, tetapi tidak lengkap dengan segala anggota terutama anggota yang tidak dapat tidak untuk hidup seperti kepala atau badan, hukumnya adalah harus pada pendapat Al-Jumhur (kebanyakkan ulama) seperti yang dinaqalkan oleh Imam Rafi’e:
“Bahawasanya patung, apabila dipotong keplanya maka tiadalah sebarang tegahan lagi.”
Tetapi Imam Mutawalla (salah seorang ulama besar pakar rujuk dalam Mazhab Syafi’e) mengatakan:
“Tiada beza, sama ada dipotong kepalanya atau tidak.”


Ini bererti pada pendapat Mutawalla bahawa sebarang patung adalah haram membuat atau membinanya.

5. Patung benda bernyawa tiada berjisim dan tiada berbayang itu sebenarnya ialah gambar atau lukisan. Jika ia diletakkan pada tempat-tempat yang mulia dan tidak menghinakannya seperti digantung di tempat-tempat yang mulia dan tidak menghinakannya seperti digantung di tempat-tempat yang tinggi, di dinding, di siling, di pakaian dan sebagainya, maka menurut pendapat yang jelas dalilnya adalah haram dan tidak dimasuki Malaikat Rahmat.

Dalam hadits riwayat Bukhari dengan sanadnya daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhu berkata:

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم سفر وقد سترت بقرام لى على سهوة لى فيها تماثيل فلما رآه رسول الله صلى الله عليه وسلم هتكه وقال أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله قالت فجعلناه وسادة أو وسادتين
Maksudnya: “Setibanya Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam daripada suatu pelayaran (kembali daripada peperangan Tabuk) dan aku menggunakan sebidang kain bulu (mungkin seperti sejadah) untuk menutupi bilik kecil yang dijadikan sebgai setor barang-barang. Terdapat pada kain itu gambar-gambar (lukisan-lukisan benda yang bernyawa), maka apabila Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam melihatnya, Baginda lalu memusnahkannya (bererti mengangkat kain itu dan menjauhkannya daripada tempat letaknya itu serta menggulungkannya sehingga tidak nampak lagi gambar-gambarnya kepada mata yang memandang) sambil bersabda: “Manusia yang paling berat seksanya pada Hari Kiamat ialah mereka yang menjadikan sesuatu menyamai / menyerupai dengan makhluk yang dijadikan Allah (membuat patung benda bernyawa).” Kata ‘Aisyah: “Ekoran daripada teguran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu kami pun potong kain tersebut untuk dijadikan sebiji atau dua biji bantal.”


Oleh yang demikian, jelas daripada hadits ini segala gambar bagi benda bernyawa, sama ada baginya jisim dan bayan (patung) atau tidak (iaiatu gambar-gambar dan likisan-lukisan manusia atau binatang) adalah haram jika diletakkan pada tempat-tempat yang dimuliakan dan tidak hina, berdasarkan kepada ugutan atau amaran dengan seksa yang paling berat di dalam hadits yang shahih daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti tersebut di atas.

Tetapi jika diletakkan pada tempat yang tidak dimuliakan seperti contoh dalam hadits iaiatu bantal yang digunakn untuk tidur adalah tidak haram.

Dalam hadits lain riwayat Bukhari dengan sanadnya daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha: -

قدم النبى صلى الله غليه وسلم وعلقت درنوكا فيه تماثيل فأمرنى أن أنزعه فنزعته...
Maksudnya: “Setibanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada suatu pelayaran, pada ketika aku telah merentangkan sebidang kain (durnûk) di pintu rumahku (kain yang boleh digunakan sebagai hamparan dan tabir / langsir) terdapat padanya gambar-gambar lukisan, (iaiatu kuda yang mempunyai sayap dan kepak), maka Rasulullallah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah supaya aku buangkannya, lalu aku pun segera membuangkannya (menurunkannya daripada pintu).”


Dan satu lagi hadits riwayat Bukhari dengan sanadnya daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha juga:

أنها اشترت نمرقة فيها تصاوير. فقام النبى صلى الله عليه وسلم بالباب فلم يدخل. فقلت أتوب إلى الله مما أذ نبت قال ما هذه النمرقة. قلت لتجلس عليها وتوسدها. قال إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة يقال لهم أحيوا ما خلقتم وإن الملائكة لا تدخل بيتا فيه الصور
Maksudnya: “Bahawa ‘Aisyah telah membeli satu set tempat duduk (bantal / kusyen tempat duduk) yang ada padanya gambar-gambar, (apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pulang), maka Baginda berdiri di pintu dan enggan masuk ke dalam rumah. (Setelah melihat keadaan sedemikian dan dilihat tanda tidak suka di muka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), maka ‘Aisyah berkata: “Aku memohon ampun kepada Allah daripada dosa yang aku lakukan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah tujuan dengan bantal (numruqah) ini?” Jawab ‘Aisyah: “Untuk Tuan hamba duduk dan bersandar” , sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bahawa sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar ini akan diseksa pada Hari Kiamat kelak, dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa yang kamu buat itu, dan sesungguhnya para malaikat (Malaikat Rahmat) tidak akan memasuki rumah yang terdapat padanya gambar-gambar.”


Manakala dalam riwayat Bukhari lagi dengan sanadnya daripada ‘Aun bin Abi Juhaifah daripada bapanya menyebutkan:

أنه اشترى غلاما حجاما فقال إن النبى صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن الدم وثمن الكلب وكسب البغى ولعن آكل الربا وموكله والوشمة والمستوشمة والمصور

Maksudnya: “Bahawa bapa ‘Aun membeli seorang hamba yang mahir dengan kerja-kerja berbekam. Maka katanya: “Bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegah daripada hasil jualan darah, hasil jualan anjing, hasil zina (pelacuran), dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat ke atas pemakanan riba dan pemberi riba dank e atas pembuat tatu (kirung) dan yang meminta supaya dibuat tatu ke atasnya, dan ke atas penggambar gambar (pembuat gambar).”


Daripada beberapa hadits di atas jelas bahawa gambar-gambar benda yang bernyawa yang lengkap dengan segala anggota tubuh badannya tetapi tiada berjisim dan tiada bayang baginya, hukumnya adalah seperti berikut:

(i) Jika diletakkan pada tempat-tempat terhormat dan tidak hina adalah haram. Walau bagaimanapun Imam Nawawi berpendapat adalah tiada beza di antara yang ada baginya bayang dan tiada baginya bayang jika digantung di dinding, di pakaian, di serban atau seumpamanya daripada perbuatan yang tidak dikirakan sebagai menghinakannya adalah haram.

(ii) Jika digunakan sebagai hamparan yang dipijak-pijak atau menjadi hina dengan penggunaannya seperti bantal dan sandaran (penyandar) adalah harus. Kata Imam Nawawi: “Ini adalah pendapat jumhur Ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in dan aia adalah pendapat Imam Tsauri, Malik, Abu Hanifah dan Syafi’e.”

(iii) Jika dipotong-potongkan dan dijadikan seperti bantal dan sebagainya adalah harus.

(iv) Jika tidak dipotong-potong, bahkan masih lengkap dengan sempurna segala anggotanya dan masih dijadikan tempat duduk (numruqah) adalah masih diingkari oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti yang jelas daripada tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi amaran terhadap mereka yang membuat gambar.

Hadits ini ditujukan kepada gambar (numruqah) yang hendak dijadikan sebagai tempat duduk. Di sini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahawa para pembuat gambar-gambar ini (yang dilukis dalam numruqah) akan diazab pada Hari Kiamat kelak dengan dipaksa mereka supaya menghidupkannya, sedangkan mereka tidak mampu menghidupkannya. Ini suatu seksa kepada mereka. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan lagi di sini bahawasanya para malaikat (Malaikat Rahmat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang terdapat padanya gambar-gambar seperti yang terdapat pada (numruqah) iaiatu jisim dan bayang, bahkan gambar lukisan sahaja tidak lengkap. Selain daripada hadits Al-Nadhru yang menceritakan kepada Qatadah darihal Ibnu ‘Abbas yang diminta fatwa terhadap beberapa masalah dan dijawabnya tanpa membawa dalil daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali apabila ditanya mengenai kerja mencari nafkah melalui membuat gambar. Maka di sini Ibnu ‘Abbas menjawab dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan secara umum (man shawwara shûratan…) dapat difahamkan bahawa sebarang kerja membuat gambar bagi benda yang bernyawa, sekalipun tiada berjisimdan bayang, tetapi gambar-gambar itu lengkap dan sempurna dengan segala anggotanya dan walaupun digunakan sebagai tempat duduk atau dijadikan pekerjaan membuatnya sebagai jalan mencari nafkah hidup adalah haram.

Imam Nawawi berkata:

تصوير صورة الحيوان حرام شديد التحريم وهو من الكبائر لأنه متوعد عليه بهذا الوعيد الشديد وسواء صنعه لما يمتهن أم لغيره فصنعه حرام بكل حال, وسواء فى ثوب او بساط او درهم أو دينار أو فلس أو إناء أو حائط أو غيرها. فأما تصوير ما ليس فيه صورة حيوان فليس بحرام.
Ertinya: “Membuat gambar binatang (termasuk manusia kerana maksudnya: Benda yang bernyawa) adalah haram yang bersangatan dan ia merupakan dosa besar, kerana diugut denga ugutan yang kuat. Dan sama ada dibuat gambar itu pada benda yang menghinakan atau lainnya. Membuat gambar adalah haram dalam semua keadaan, dan sama ada dibuat pada pakaian, hamparan, wang derham, dinar, wang tembaga, bijana, di dinding dan lainnya. Tetapi membuat gambar yang lain daripada binatang (binatang bernyawa) adalah tidak haram.”


Manakala Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani pula menyatakan dalam Fath Al-Bâri bahawa ugutan dengan azab yang berat itu ditujukan khas terhadap mereka yang membuat gambar dengan bertujuan menyerupai (yudhâhi) dengan makhluk yang dijadikan Allah (menyerupai Allah dari segi menjadikan sesuatu). Maka jadilah dia kafir dengan niat tersebut, maka kerana inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله

Maksudnya: “Manusia yang paling berat seksanya pada Hari Kiamat ialah mereka yang menyerupai dengan makhluk yang dijadikan Allah.”


Al-Hafiz Al-Asqalani menambah:
“Orang yang lebih berat bagi dosanya (daripada yang tiada niat menyerupai) ialah mereka yang membuat gambar apa-apa suatu yang disembah selain daripada Allah.”


Kata Al-Qurtubi:
“Bahawasanya masyarakat jahiliah membuat berhala dariada apa sahaja yang terdapat, sehingga setengah daripada mereka membuat berhalanya daripada buah tamar ‘ajwah, yang mana apabila dia merasai lapar dimakannya.”


Hukum Gambar Foto (Photograph)

(i) Adapun gambar yang dibuat melalui cahaya matahari seperti gambar-gambar foto itu kata setengah ulama harus dan boleh dibuat dan kata setengah ulama lain haram dibuat.

(ii) Gambar haiwan yang diambil dengan memakai alat foto yang telah berlaku kira-kira pada kurun yang kesembilan Masihi, saya belum berjumpa perkataan alim ulama Syafi’iyyah yang tepat berkenaan hukum mengambil haiwan dengan alat foto sebagaimana yang dibayangkan oleh Al-‘Allâmah Al-Saqqaf pengarang Hâayiah Tarsyih Al-Mustafîdîn ‘ala Fath Al-Mu’în, akan tetapi menurut kumpulan fatwa bagi Al-‘Allâmah Al-Syeikh Husain Al-Maghribi Al-Azahari Mufti Malikiyyah di Makkah Al-Mukarramah dan bagi anaknya Al-‘Allâmah Al-Syeikh Muhammad ‘Abid, Mufti Malikyyah Makkah Mukarramah dan menurut pendapat Al-‘Allâmah Al-Sayyid Muhammad bin Ja’afar gambar yang diambil dengan memakai alat foto adalah ia makruh jika gambar-gambar haiwan itu cukup keadaannya.

Dengan ini jelas daripada pendapat-pendapat ulama di atas seperti berikut:

(i) Membuat patung dengan niat menyerupai Allah dari segi menjadikan sesuatu itu adalah kufur wal ‘yâdzubillâh.

(ii) Membuat patung atau gambar bagi sesuatu yang disembah selain daripada Allah adalah haram dan berdosa lebih besar daripada dosa membuat patung atau gambar bagi yang bukan disembah selain daripada Allah.

(iii) Membuat gambar, lukisan pada benda-benda yang terhormat dan tidak dihinakan adalah haram seperti yang jelas daripada hadits-hadits iaitu qiram, durnûk dan numruqah.

(iv) Jika dibuat atau digunakan dengan cara yang tidak memuliakan, bahkan dihinakan seperti hamparan yang terdapat pada bantal dengan dipotong-potongkan, maka tiadalah haram.

(v) Jika gambar-gambar itu bagi benda-benda yang bernyawa seperti gambar-gambar atau lukisan tumbuh-tumbuhan, maka ini adalah harus seperti kata Ibnu ‘Abbas kepada lelaki tukang kayu. Daripada hadits yang maksudnya: (…Jika terpaksa juga engkau lakukan kerja membuat gambar, maka buatlah gambar-gambar tumbuh-tumbuhan).

(vi) Bagi gambar-gambar itu bukan bagi benda-benda yang bernyawa untuk tujuan-tujuan yang tidak bercanggah dengan syara’ seperti untuk tujuan pengenalan peribadi seseorang seperti yang ditetapkan oleh undang-undang, maka ini adalah harus. Harus gambar-gambar atau lukisan-lukisan yang tiada berjisim dan berbayang untuk dibuat, dimiliki dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak bercanggah dengan syara’.

Rumusan

Dengan ini dapatlah dirumuskan hukum-hukum berkaitan dengan patung atau gambar-gambar seperti berikut:

(i) Patung benda yang bernyawa yang lengkap dengan segala anggotanya adalah haram dengan ijma’, dan wajib dimusnahkan, sama ada patung manusia, binatang, malaikat jin atau binatang yang tiada banding baginya seperti kuda bersayap atau berkepak.

(ii) Patung tersebut di atas yang dipotong bahagian atau anggota yang tidak boleh ia hidup tanpanya adalah harus.

(iii) Patung lengkap seperti (i) di atas bagi tujuan pendidikan atau pengajaran dan pembelajaran adalah harus dibuat, dimiliki dan digunakan.

(iv) Gambar atau lukisan benda bernyawa diletakkan pada tempat-tempat terhormat dan tidak hina adalah haram.

(v) Gambar atau lukisan benda yang bernyawa diletakkan pada tempat-tempat tidak terhormat dan sekalipun menghinakan seperti yang terdapat pada penyandar-penyandar yang dijadikan tempat sandaran atau tempat duduk adalah masih diingkari oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini ditafsirkan oleh setengah ulama sebagai makruh sahaja.

(vi) Gambar atau lukisan benda yang bernyawa itu, jika dipotong-potongkan dan dijadikan seperti bantal dan sebagainya maka ini adalah harus.

(vii) Sebarang patung, gambar atau lukisan bagi benda-benda yang tiada bernyawa adalah harus seperti bukit bukau, gunung-ganang, tumbuh-tumbuhan, lautan, langit dan bumi dan sebagainya.

(viii) Gambar atau lukisan bagi benda yang bernyawa yang diperlukan bagi tujuan-tujuan yang tidak bercanggah dengan syara’ adalah harus, sama seperti patung benda yang bernyawa di atas.

(ix) Gambar atau patung benda bernyawa berjisim dan berbayang atau tidak, jika dibuat dengan tujuan menyerupai Allah dalam menjadikannya adalah kufur wal’iyâdzubillâh.

(x) Jika dibuat gambar atau patung tersebut tanpa niat menyerupai, tetapi gambar atau patung itu ialah sesuatu yang disembah selain daripada Allah, maka hukumnya adalah haram dan dosanya lebih besar daripada dosa membuat gambar atau patung bagi benda yang tidak disembah selain daripada Allah.


وَاللهُ أَعْلَم


Negara asal : Brunei darussalam

Badan yang mengisu fatwa : Jabatan Mufti Kerajaan, Jabatan Perdana Menteri, Negara Brunei Darussalam
Penulis/Ulama : Ustaz Haji Awang Abdul Aziz bin Juned
Tarikh Diisu : 1994-1995

Nota: Fatwa Mufti Kerajaan

Rabu, 2 Jun 2010

Huffaz Yang Mensahihkan Hadith Qunut Subuh

Oleh : Thoriq

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasalam melakukan qunut selama satu bulan, melakukan doa untuk para sahabat beliau di Bi’r Ma’unah, lalu beliau meninggalkannya, akan tetapi qunut waktu shubuh, maka beliau masih melakukan hingga wafat”


Hadits ini berada dalam Syarh Al Kabir (1/151).Hadits diriwayatkan Ad Daruquthni (2/39). Ahmad dalam Musnad (3/162), Hafidz Abu Bakar Khatib, dalam At Tahqiq Ibnu Al Jauzi (1/463), Al Baihaqi dalam Sunan Kubra (2/201).

Mereka yang menshahihkan

Hafidz Ibnu Shalah:
”Hadits ini telah dihukumi shahih oleh lebih dari seorang huffadz hadits, diantaranya: Abu Abdullah bin Ali Al Balkhi, dari para imam hadits, Abu Abdullah Al Hakim, dan Abu Bakar Al Baihaqi.
(Lihat, Badr Al Munir, 3/624).

Al Hafidz Imam Nawawi mengatakan:”
Hadits ini diriwayatkan oleh jama’ah huffadz dan mereka menshahihkannya”. Lalu menyebutkan para ulama yang disebutkan Ibnu Shalah, dan mengatakan,”Dan diriwayatkan Daruquthni melalaui beberapa jalan dengan sanad shahih
(Al Khulashah, 1/450-451).

Al Qurthubi dalam Mafham :
”Yang kuat diperintahkan oleh Rasulullah shalallhualaihi wasalam dalam qunut, diriwayatkan Daruquthni dengan isnad shahih, lalu beliau menyebut hadits itu”
(Badr Al Munir, 3/624).

Hafidz Al Hazimi dalam Nashih wa Mansukh:
”Hadits ini shahih, dan Abu Jakfar tsiqah”
(Al I’tibar, 255).

Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani : Setelah menyebutkan penilaian para ulama terhadap Abu Jakfar, beliau mengatakan,
“haditsnya memiliki syahid (penguat)” lalu menyebutkan hadits qunut shubuh yang diriwayatkan dari Al Hasan bin Sufyan. Ini menunjukkan bahwa beliau menilai hadits ini hasan (Talhis Khabir, 1/443). Penulis Ithaf fi Takhrij Ahadits Al ishraf menyatakan :”Ibnu Hajar menghasankan dalam Talhisnya”.


Di halaman yang sama Ibnu Hajar mengatakan:”
Hadist riwayat Al Baihaqi…dan dishahihkan Hakim dalam Kitab Al Qunut”.


Hafidz Al Iraqi:”
Telah menshahihkan hadits ini Al Hafidz Abu Abdullah Muhammad bin Ali Al Bajili, Abu Abdullah Al Hakim dan Ad Daruquthni”
(Tharh Tatsrib,3/289).

Perawi yang Disoroti dalam Hadts ini adalah Abu Jakfar Ar Razi

Mengenai Abu Jakfar Ar Razi. Pendapat Imam Ahmad tentang Abu Jakfar, ada dua riwayat. Pertama. Diriwayatkan Hanbal dari Ahmad bin Hanmbal:”Shalih hadits” (haditsnya layak). Kedua, dari Abdullah, anaknya:”Laisa bi qawi (tidak kuat). Al Hazimi dalam Nashih wa Manshuh mengatakan: “Riwayat pertama lebih utama (Al I’tibar, 256).

Adapun penilaian Yahya bin Ma’in, ada beberapa riwayat:1, dari Isa bin Manshur, “Tsiqah”. 2, dari Ibnu Abi Maryam , “hadistnya ditulis, tapi ia sering salah”. 3, diriwayatkan Ibnu Abi Khaitsamah,”shalih”. 4, diriwayatkan oleh Mughirah,”tsiqah” dan ia salah ketika meriwayatkan dari Mughirah. Daruquthni mengatakan:”Dan hadits ini tidak diriwayatkan dari Mughirah”. 5, diriwayatkan As Saji “Shoduq wa laisa bimuttaqin, ( hafalanya tidak terlalu tepat)” Nampaknya karena periwayatan dari Yahya bin Ma’in lebih banyak ta’dilnya, maka-allahu’alam-para ulama yang menshahihkan merajihkan riwayat ta’dil.

Ali bin Al Madini: Ada dua riwayat darinya tentang Abu Jakfar. Salah satu riwayat mengatakan,”Ia seperti Musa bin Ubaidah, haditsnya bercampur, ketika meriwayatkan dari Mughirah dan yang semisalnya. Dalam riwayat yang berasal dari anak Ibnu Al Madini, Muhammad bin Utsman bin Ibnu Syaibah,”Bagi kami ia tsiqah”. Ibnu Al Mulaqqin mengatakan,”lebih utama riwayat dari anaknya (anak Ibnu Al Madini).

Muhammad Bin Abdullah Al Mushili mengatakan:”Tsiqah”. Bin Ali Al Falash mengatakan:”Shoduq, dan dia termasuk orang-orang yang jujur, tapi hafalannya kurang baik”. Abu Zur’ah mengatakan:”Syeikh yahummu katisran (banyak wahm). Abu Hatim mengatakan:”Tsiqah, shoduq, sholih hadits”. Abnu Harash:”Hafalannya tidak bagus, shoduq (jujur)”. Ibnu ‘Adi:”Dia mimiliki hadits-hadits layak, dan orang-orang meriwayatkan darinya. Kebanyakan haditsanya mustaqim (lurus), dan aku mengharap ia la ba’sa bih (tidak masalah). Muhammad bin Sa’ad:”Dia tsiqah”, ketika di Baghdad para ulama mendengar darinya”. Hakim dalam Al Mustadrak:”Bukhari dan Muslim menghindarinya, dan posisinya di hadapan seluruh imam, adalah sebaik-baik keadaan”, di tempat lain ia mengatakan:”tsiqah”. Ibnu Abdi Al Barr dalam Al Istighna:”Ia (Abu Jakfar) bagi mereka (para ulama) tsiqah, alim dalam masalah tafsir Al Qur’an.. Ibnu Sahin menyebutnya dalam “Tsiqat”. Al Hazimi dalam Nasikh dan Mansukh:”Ini hadist Shahih, dan Abu Jakfar tsiqah”. Taqiyuddin Ibnu Daqiq Al Ied dalam Al Ilmam, setelah menyebutkan hadits, ia mengatakan:”Dalam isnadnya Abu Jakfar Ar Razi. Dan ia ditsiqahkan, lebih dari satu ulama. Nasai mengatakan:”Laisa bil Qawi” (ia tidak kuat hafalannya).

Kritikan untuk Ibnu Al Jauzi

Al Hafidz Ibnu Mulaqqin mengatakan:
“Adapun Ibnu Al Jauzi hanya menukil riwayat yang menjarh saja, dari Ahmad, Ibnu Al Madini Dan Yahya bin Ma’in untuk menolong madzhabya. Orang munshif tidak akan berbuat sperti ini”.


Rujukan

Badr Al Munir :Ibnu Mulaqqin (guru Ibnu Hajar), Talhis Khabir (ringkasan Badr Al Munir): Ibnu Hajar. Tharh Tasrib: Hafidz Al Iraqi, Ithaf fi Tahrij Ahadist Al Ishraf (Takhrij hadist kitab fiqih Maliki “Al Ishraf”, dalam bimbingan Syeikh Al Muhadist Nur Syaif)